Lika-liku-laki-laki

Artikel, Asal Tulis, Fiksi

lakiBerjuta-juta kata yang telah dirapalnya, hingga usianya hampir mendekati  usianya yang sudah berubah dewasa, beban berat di pundak yang di ringan-ringankan semenjak bertahun-tahun bukannya semakin menipis namun malah semakin berat saja, hari-hari yang berganti-ganti menyaratkan sejuta harapan dalam semangatnya.

Langkahnya yang dulu merangkak mulai berdiri tegak hingga berlari menjemput cita-cita bukan semakin merubah penghasilannya namun semakin mebanyaki hutang-hutang dari segala kebutuhannya, bersekolah, mengabdi, berwiraswasta, bahkan bekuli’ dan merantau dalam rumah tangganya adalah rentetan sejarah yang telah berlalu

Terasa bertahun-tahun sudah hanya satu jua tempat kembalinya. kampung halaman yang membesarkan, menghidupi dan memahami jeritan pahit hidupnya, ayah yang bergelar pahlawan adalah panggilan semenjak beranak satu hingga beranak tiga, menjadi pupuk yang menghidupi semangat juangnya.

Semangat yang berkobar menyala-nyala telah membakar dukanya menjadi arang yang hancur dalam hembus nafas juang, deritanya telah lapuk dalam panasnya terik matahari yang memanggang pundaknya yang kekar. Hingga titik hujan pun menyerah menghadapi tegarnya semangat.

Jalan hidup yang dipilihnya sebagai petani mengisyaratkan tanda tanpa henti, karena berhenti adalah mati, hidup mengajarkan semangat bukan menanti keajaiban, berjuang dengan seluruh kemampuan, kemudian berdialog dengan jiwa pasrah pada tuhan yang maha penyayang, lalu kemudian pasrah dalam sebuah pengabdian total.

Kegagalan yang mendera adalah sebuah evaluasi internal untuk mencapai diri yang hakiki dan jiwa sejati, keberanian bukan diarikulasi sebagai bentuk perlwanan terhadap takdirnya namun adalah sebuah proses pematangan potensi yang terpendam dalam segenap jiwa dan raganya.

Langit biru dan awan putih baginya adalah sebuah rutinitas yang bersenyawa sebagai kamuflase, namun yang paling sejati dalam hidupnya adalah berfikir untuk mempertahankan esensi hidupnya, hidup membutuhkan makan namun tak berartoi dengan makan kita bisa hidup sebab makan hanyalah sebuah jalan dan tak selamanya jalan itu adalah sebuah pilihan bila masih ada causalitas lain sebagai piranti.

 

Lotim, 2015-05-16

Abu ikbal


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *