maaf kau terlambat 1

Maaf, Kau Terlambat

Cerpen, Editor Picks, Fiksi

Siapa yang bisa menebak apa yang akan terjadi dalam sehari, dua hari, bahkan setahun ke depan. Begitu juga aku. Aku tak pernah membayangkan bisa benar-benar lulus dan diterima di salah satu Universitas terfavorit di negeri ini. Aku mengambil jurusan Ilmu Komunikasi. Jurusan yang kuidam-idamkan sejak dulu. Di kelas, awalnya semua terasa asing dan canggung. Hingga tak berapa lama, perlahan kamipun saling mengenal. Awalnya tak banyak, sampai pada kira-kira semester kedua, kami benar-benar sudah saling mengenal. Kami sering melakukan kehebohan bahkan hal-hal yang mungkin menurut orang “gila” bersama-sama. Tak lupa setiap ada acara pertunjukan di kampus atau di fakultas lain, kami selalu dan tak pernah absen menonton acara atau pertunjukan yang diadakan. Dan pada semester-semester berikutnya kami tetap seperti itu. Selalu bersama dan sudah seperti keluarga.
* * *
Semua berawal ketika kami sudah memasuki semester ketiga. Tak terasa sudah satu tahun lebih kami bersama-sama. Berada di kelas yang sama, mengikuti matakuliah yang sama, bahkan merasakan manis pahitnya perkuliahan bersama-sama. Sejauh ini aku selalu bersikap netral kepada teman-temanku, baik laki-laki maupun perempuan. Maksudku, aku tak pernah memilih-milih teman apakah harus perempuan saja atau laki-laki saja yang akan kujadikan teman bergaul. Aku seperti kataku tadi, netral. Aku tak pernah merasa aneh jika harus duduk-duduk bersama dengan teman lawan jenis. Karena aku memang menganggap mereka semua adalah temanku, saudaraku. Tak perlu takut jika nantinya ada teman yang berpikir bahwa aku memiliki hubungan special dengan salah satu dari mereka, karena itu semua memang tak terjadi. Bahkan akupun sering berkirim sms dengan beberapa dari mereka. Yaa entah menjawab pertanyaan mereka, atau aku yang bertanya kepada mereka. Tentang apa saja, tugas atau hanya sekedar iseng sms-an karena tak ada kerjaan.
* * *
Hingga suatu hari aku mulai sering berkirim sms dengan salah seorang dari teman kelasku tersebut. Seorang laki-laki. Aku tahu, bahkan teman-temanku yang lain pun tahu bahwa dia sudah memiliki kekasih. Yang katanya, mereka sudah berpacaran sejak masih di bangku SMA. Well, aku tidak terlalu peduli akan hal itu. Karena aku dan dia memang sama seperti aku dan yang lainnya, hanyalah teman. Bahkan terkadang kami pun suka bercanda di kelas, suka saling menjahili, padahal kami adalah mahasiswa bukan lagi anak sekolahan. Tapi begitulah kami, terkadang kami bisa menjelma menjadi dewasa dan terkadang kami bisa menjadi layaknya remaja atau bahkan kanak-kanak. Hal itu karena sering kali jika kami sekelas sedang berkumpul di luar jam kuliah, kami terkadang suka memainkan permainan anak-anak yang notabene hanya dimaninkan oleh anak-anak seumuran Sekolah Dasar.

Aku dan seorang temanku itu ternyata dari semenjak awal memasuki perkuliahan memang tanpa disadari sudah sering bersama. Maksudku bersama dalam hal-hal tertentu, entah berada dalam satu kelompok presentasi atau bahkan bergabung dalam kegiatan mahasiswa yang sama. Namanya Danar. Dia berasal dari kota tempatku berkuliah. Sedangkan aku adalah anak rantauan yang berasal dari kota kecil yang jaraknya jauh dari kota tempatku berkuliah. Dia baik, dia menyenangkan, dan dia bisa membuatku nyaman. Hal itu kusadari setelah beberapa lama sering berkirim sms dengannya. Dan terkadang sesekali dan bahkan sering kali dia juga menelponku. Hanya untuk mengobrol biasa, atau sekedar bergurau dan melucu. Dalam hal ini dia jagonya, karena menurutku dia “gila”.

Akhirnya lama-kelamaan aku dan Danar memang benar-benar dekat. Menjadi “teman dekat”. Dan aku merasa kalau aku mulai menyukainya. Aku mulai memiliki rasa. Rasa yang lebih dari sekedar teman. Aku mulai merasakan bahagia yang benar-benar bahagia jika menerima telpon darinya. Dan sebaliknya, sehari tanpa telpon dan smsnya aku merasakan galau dan sepi yang luar biasa. Dan kurasa dia juga menyukaiku. Aku tidak Ge-eR sama sekali. Hal ini kukatakan karena dia terkadang, atau bahkan sering mengirimiku sms dengan ucapan atau kata-kata yang biasanya dikatakan oleh seorang kekasih kepada pasangannya. Bukan hanya karena hal itu yang membuat aku mengambil hipotesis bahwa Danar menyukaiku dan memiliki rasa terhadapku. Pernah sekali dia mengirimiku sms yang berisi kata-kata tentang perasaan. Tentu dia tak langsung bilang bahwa itu perasaannya. Dia menggunakan kalimat-kalimat universal dan dengan kata-kata yang sedikit puitis. Aku suka sekali jika Danar mengirimiku sms-sms yang seperti itu. Hal-hal itulah yang membuatku merasa bahwa Danar memang memiliki rasa yang sama sepertiku. Aku merasa dia memberiku harapan. Menjanjikan sesuatu di balik harapan itu. Menjanjikan sesuatu yang indah yang akan kutemui di akhir cerita ini.
***
Suatu malam Danar menelponku. “Kamu tahu tidak? Sebenarnya kamu memiliki ruang di hatiku”. Aku kaget mendengar kata-kata Danar dari seberang telpon. Rasa tidak percaya bercampur rasa bahagia dan entahlah, semua jadi satu. Aku sejujurnya bahagia karena hipotesisku hampir benar. Tapi aku masih belum percaya, karena aku tahu Danar dan pacarnya masih baik-baik saja. Mereka masih pacaran. “Ruang? Maksudmu ruang seperti apa?”, tanyaku dengan pura-pura tidak mengerti apa maksudnya. “Iya ruang lah pokoknya, aku yakin kamu pasti mengerti. Memangnya nilai bahasa Indonesiamu berapa sih?” katanya dengan sedikit bercanda. Dan kami mulai masuk ke pembicaraan yang agak serius. “Coba jelaskan, ruang yang kamu maksud itu seperti apa?”, aku mendesak agar ia menjelaskan dengan jelas. Aku tentu tak mau dibuat penasaran dengan pernyataan setengah-setengahnya. “Kamu tahu ruang kan? Nah, di hatiku ada banyak ruang, dan salah satunya tersedia untukmu. Kamu yang memiliki ruang itu”, jelasnya lagi. “Bukannya ruang di hati kamu sudah ada yang mengisi, ya?”, aku sedikit menyinggung, tepatnya mengingatkan bahwa ia tentu tak lupa dengan pacarnya. “Maksud aku pacar kamu. Tentunya hati kamu sudah diisi sama dia kan, Dan?”, aku meyakinkan dan mengingatkannnya sekali lagi. Aku tak mau terjebak dalam sesuatu yang tidak pasti. Aku ingin meyakinkan diri bahwa apa yang akan dikatakannya malam ini memang sama dengan hipotesisku. Namun jika tidak, aku tak tahu apa yang akan terjadi. “Iya aku tahu, tapi seperti yang aku bilang tadi, di hatiku ada banyak ruang dan salah satunya kamu yang punya”, jelasnya lagi. “Danar, coba kamu bayangin deh. Ada satu ruangan, yang mana ruangan itu cuma satu-satunya. Terus ada dua kelompok mahasiswa yang mau pakai ruangan itu. Yang satu mau pakai buat belajar bahasa inggris dan yang satunya lagi mau pakai buat belajar kimia. Kan nggak mungkin Dan, ada satu ruangan yang dipakai sama dua jurusan yang berbeda. Nggak akan muat Dan, nggak akan cukup dan nggak bakalan bisa. Salah satu harus ada yang mengalah atau ada yang dikorbankan”. Aku mencoba menjelaskan dengan menganalogikan ruang di hatinya dengan ruang kelas. Danar terdiam di seberang telpon. Aku menunggu jawabnnya. Jawaban pasti. “Yaa terserah lah gimana kamu mau mengartikan kata-kataku tadi. Intinya kamu punya ruang, udah itu aja”. Itu bukan jawaban yang aku harapkan. Jujur aku mengharapkan jawaban pasti. Aku mengharapkan kepastian darinya. Dan setelah mengatakan kalimat tadi Danar menutup telpon. Aku benar-benar bingung dibuatnya. Aku hanya butuh kepastian apakah dia juga memang menyukaiku dan memiliki perasaan yang sama denganku atau tidak. Aku hanya ingin membuktikan bahwa hipotesisku bukan sekedar hipotesis belaka.
***
Setelah acara telpon-telpon-an malam itu, keesokan harinya di kampus aku dan Danar bersikap biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa. Tidak hanya sehari, bahkan hari-hari berikutnya aku dan dia sudah mulai jarang berkirim sms dan saling menelpon, bahkan hampir tak pernah. Kamipun jarang mengobrol secara langsung di kelas, mungkin sesekali saja saat ada keperluan penting. Tak ada lagi basa-basi candaan dan humor darinya. Aku merasa terkatung-katung, mengambang begitu saja bagai botol kosong di atas air. Aku butuh kepastian dari semua itu. Apakah akan ditenggelamkannya aku, atau malah diangkatnya ke daratan. Aku benar-benar merasa terombang-ambing di tengah gejolak perasaan yang kian tak menemukan jawaban pasti. Lama aku menjalani hari-hari seperti itu. Hari-hari berlalu, minggu demi minggu terlewati. Bulan demi bulan, dan semester demi semester telah terlampaui. Dan aku merasa perlahan tapi pasti perasaan itu mulai tekikis. Perlahan tapi pasti. Tahun demi tahun pun berlalu, dan kami memasuki babak akhir masa perkuliahan. Kami lulus, kami tamat dan kami selesai. Dan lebih bahagianya lagi, kami sekelas selesai pada waktu yang sama. Tepat, tak kurang juga tak lebih.
***
Aku memutuskan kembali ke kota asalku setelah lulus kuliah. Berkumpul kembali dengan keluargaku setelah bertahun-tahun terpisah. Memutuskan untuk bekerja di kota kelahiranku, dan mungkin juga menikah dengan lelaki yang berasal dari kota yang sama denganku.
***
Empat tahun berlalu semenjak lulus kuliah. Aku sudah bekerja di kota asalku. Sudah kembali berkumpul bersama keluargaku dan orangtuaku. Dan aku sudah menemukan seseorang sebagai calon belahan jiwaku. Namanya Ziyad, dia adalah lelaki yang baik. Dan aku yakin dia bisa menjadi imam yang baik bagiku kelak. Beberapa minggu lalu, dia melamarku di kantor tempat kami bekerja. Aku dan dia bekerja di tempat yang sama. Aku menerima lamarannya yang sontak membuat wajahnya langsung sumringah dan berseri bak mendapat durian runtuh. Orangtua kamipun sudah melakukan pertemuan, dan kami telah sepakat untuk melangsungkan pertunangan. Tiga hari yang lalu, pertunangan itu berlangsung di kediamanku. Aku bahagia, dia bahagia, keluarga kamipun bahagia. Kami semua berbahagia. Aku bersyukur sudah menemukan pengganti dari apa yang dulu tak sempat kumiliki.
***
Kemarin malam setelah makan malam bersama keluargaku di rumah, aku dikejutkan oleh deringan handphone-ku setibaku di kamar. Ternyata nomor baru, aku tak kenal sama sekali dengan nomor itu. Kucoba menjawab telpon itu, dan ternyata yang menelpon adalah orang yang tak pernah kubayangkan sama sekali. Tak pernah kuharapkan akan kembali, dan tak pernah kusangka-sangka. Danar. Dia menelponku setelah sekian tahun kami tak mengetahui kabar satu sama lain, setelah sekian tahun kami tak bertemu dan bertatap muka, setelah sekian tahun perasaan itu telah sempurna menghilang. Dia mengatakan ingin bertemu denganku. Sebagai teman lama yang sudah lama tak berjumpa, aku mengiyakan keinginannya untuk bertemu. Siang tadi aku dan dia bertemu di salah satu tempat makan di kotaku. Kami hanya berdua, tanpa membawa pasangan atau teman sebagai pendamping. Ya hitung-hitung reuni kecil-kecilan, pikirku. Dia tak berubah, masih seperti yang dulu. Hanya saja raut wajah humorisnya sedikit menghilang, di lebih terlihat serius saat ini. Aku menanyakan kabarnya, dari mana dia mendapatkan nomor telponku, dan bagaimana dia bisa sampai ke kotaku. Dia menceritakan semuanya. “Butuh perjuangan dan perjalanan yang panjang”, katanya. Dia bercerita panjang lebar, hingga akhirnya dia sampai pada tujuan utamanya. Pembicaraan inti yang ingin ia bicarakan padaku. “Sejujurnya, saat masih kuliah dulu, aku memang menyukaimu. Aku memiliki rasa itu, dan oleh karena itu kusediakan ruangan khusus di dalam hatiku untukmu”. Aku menelan ludah, memperhatikan dan menyimak setiap kata yang ia ucapkan. “Aku memang bodoh, aku pengecut. Aku tak berani mengatakannya secara langsung saat itu, karena kau tentu tahu saat itu aku masih memiliki kekasih”, lanjutnya. “Aku tak ingin kau berpikir aku hanya pemberi harapan palsu, atau aku hanyalah lelaki ganjen yang walaupun sudah memiliki kekasih tapi masih saja merayu wanita lain. Itu sebabnya kupendam saja rasa itu, kukatakan padamu dengan mengatakan bahwa kau memiliki ruang di hatiku tanpa memberi penjelasan pasti”. Aku masih terdiam, mendengarkan setiap kata dan kalimat yang diucapkannya. “Sekarang aku datang setelah sekian lama aku lelah memendam semuanya. Aku datang mengatakan yang sebenarnya, aku datang menemuimu untuk mengungkapkan semuanya padamu. Dan kau harus percaya, saat ini aku tak memiliki kekasih bahkan semenjak sebelum kita lulus kuliah. Maafkan aku yang tak pernah memberi kepastian. Maafkan aku yang tak berani berkata jujur. Maafkan aku yang tak bisa bersikap tegas waktu itu”. Aku masih mendengarkannya. Ia tertunduk, lama. Aku menanti kalimat selanjutnya yang akan ia ucapkan. “Sekarang, maukah kau menerimaku? Maukah kau bersamaku? Menua dan menghabiskan sisa usia bersamaku, maukah kau?”, ia mengangkat kepalanya. Dan sekarang aku yang tertunduk mendengar kata-katanya. Lama, aku mencoba menata hatiku, menenangkan perasaanku dari rasa kaget, merangkai kata-kata yang akan kukatakan padanya. “Danar, kaupun mungkin tahu saat itu aku memang memiliki rasa terhadapmu. Walaupun aku tahu saat itu kau sudah memiliki kekasih. Mustahil bagiku untuk mengatakannya terlebih dahulu, karena aku adalah wanita yang kodratnya hanyalah menunggu. Akupun tak mau merusak hubunganmu dengannya”. Aku terdiam, dia menunggu kalimatku selanjutnya. “Setelah sekian lama, aku mencoba mengubur semuanya. Menata kegamangan hatiku yang tak jua mendapatkan kepastian. Dan semua memang perlahan sudah terkikis dan menghilang dengan sendirinya. Sekarang, aku tak pernah menyangka bahwa semua rasa itu sempurna telah hilang. Aku sekarang sudah bertunangan, dan dalam waktu beberapa bulan ke depan aku akan menikah dengan lelaki pilihanku”. Aku terdiam, Danar pun terdiam. Lebih tepatnya dia kaget mendengar jawabannku. Sepertinya dia tidak percaya dengan apa yang aku katakan. Kutarik nafas dan perlahan kuembuskan. “Danar, maaf, kau terlambat”.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *