Makanan Tradisional VS Makanan Western ( dan Makanan dari luar )

Non Fiksi, Opini

Makanan Tradisional VS Makanan Western ( dan  Makanan dari luar )

Makanan tradisional konotasinya selalu udik, kampungan, tidak keren, tidak enak dan sederet pelabelan yang aneh lainnya. sementara makanan barat atau makanan dari luar diidentikkan: keren, mantap, enak, gaul meski harga mahal.
makanan semisal sayur asem, sayur lodeh, gudeg, tumis kangkung dan lainnya kini telah kalah atau kurang diminati anak muda dan orang -orang, mereka lebih senang makan capcay, Puyunghai, salad sayuran, padahal salad asli Indonesia berupa lalapan lebih segar, fresh dan alami.
Lalapan dari daun kemangi, mentimun dan selada air dengan sambal kacang, sambal matah, sambal terasi, sambal beberok dan sambal almi khas Indonesia tentu lebih enak dan pas dengan kondisi lambung kita Ketimbang mayonaise, saos, keju, minyak zaitun dan lainnya.
Makanan lain yang berbahan daging yang sudah tergerus misalnya rendang, ayam betutu, sate madura, ayam kalasan, bebek ijo banyuwangi, gulai dan lainnya, telah kalah saing dengan steak, aneka barbeque dan olahan khas barat lainnya.
lantas bagaimanakah dengan jajajan tradisional? nasibnya tidak kalah miris, makanan semisal kelepon, lapis, wajik, jadah ketan, tape ketan, tape ubi dan lainnya telah kalah dengan aneka pancake, cheesecake, rainbowcake, blackforest, coklat cookies, nastar, kastangel dan lainnya.
minuman pun tak kalah miris, nasib wedang jahe, cendol, es dawet dan lainnya jarang terlirik oleh anak muda khususnya, mereka lebih nyaman meminum aneka jus buah impor, milkshake, soda gembira dan aneka minuman ringan yang bejibun jumlahnya.
salah siapakah ini? entahlah,,, makanan khas nusantara penyambung lidah berasal dari kearifan lokal ini kalah telak oleh makan baru yang sebenarnya belum tentu cocok dengan lidah kita namun kita makan pula atas nama gengsi dan status. miris memang namun itulah faktanya.
penyajian dan tata cara makan pun telah berubah, jika dahulu dengan makan bersama ( begibung istilah sasaknya ) kini telah berganti dengan prasmanan dan makan berjalan. padahal saat makan bersama yang dimulai dengan proses memasak bersama adalah awal dari sebuah kebersamaan masyarakat yang akan terus terjalin dan menjadi salah satu sistem pengikat kemasyarakatan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *