Mariana

Cerpen, Fiksi

539121_401931436532743_348343120_n - Copy
Sebuah Cerpen
Ichwanus S

***
Aku adalah pecinta kebebasan, perempuan yang kehilangan akte kelahiran. Kucintai kebebasan, karena kebebasan tidak pernah memilikiku. Belum sempat berujar tanya pada hembus angin kemana ia ingin. Entah pada pagi, ketika matahari membuka kelopak matanya. Lalu kicau, dan sayap – sayap burung mencumbu kehangatannya. Atau barangkali pada senja yang bermukim dalam syahdu langit sore. Sebab kedua jingga itu terlalu manis sekaligus getir untuk ku miliki.

Aku mengatakan diriku perempuan paling mulia atas keanggunanku. Tapi orang – orang menamakanku dengan sebutan pelacur. Terserah, biarlah, mungkin itu hak bagi mereka yang terlanjur memiliki status sejak lahir. Keluarga, senyuman ayah – ibu ketika kau menangis pertama kali. Rasa haru, rasa bangga dari kakek – nenekmu. Ya, itu hak bagi dirimu, dirinya, atau siapapun mereka yang telah memiliki status, menyebutku pelacur. Aku tak perduli.

Tapi pernahkah kamu merasa, kamu hanya dilahirkan dari rahim kesepian. Tak bernama, tak berupa, yang ada hanya tanya. Tanya ketika aku bersedih; “apakah benar aku berasal dari kota ini.?”, di saat mata kecilku menatap tirus wajah-Nya yang serupa senja menutup jendela panti asuhan.

Mariana, orang – orang memanggilku waktu itu, gadis kecil yang tak berbapak, besar tanpa ibu. Makan, tidur, dan minum di panti asuhan. Sampai suatu hari aku di adopsi ketika usiaku baru sepuluh tahun. Oleh seorang wanita bertato kupu – kupu di bagian paha yang selalu mengenakan celana mini. Mamah Fly, aku memanggilnya begitu. Ketika pada awalnya pihak panti asuhan meragukan wanita itu untuk megadopsiku. Tapi karena jumlah uang yang membuat mata siapapun menjadi berbinar, maka jadilah aku anak gadis bayarannya.

Mamah Fly, wanita itu merawatku begitu apik. Ia benar – benar memahami masa transisi keremajaanku. Dari gadis panti asuhan yang tak tahu apa – apa, di mana selalu ku kenakan pakaian longgar seadanya. Telah mengajarkanku selalu menata diri dengan pakaian – pakaian mini. Setiap hari minggu selalu mengajakku pergi shopping. Membeli baju celana ukuran kecil, dengan harga yang tidak kecil. Demi mengetahui perkembangan mode, katanya.

Mamah Fly yang hedonis telah membesarkanku menjadi seorang perempuan sensual. Hingga aku terbiasa dengan gaya hidup dari didikannya. Bermanja untuk merawat kuku, rambut, luluran, dan spa. Demi menjaga keanggunanku sebagai perempuan katanya. Pernah ku tanya yang mana suaminya, ketika itu merayakan ulang tahun ke tujuh belasku. Tapi ia hanya menjawab sambil cekikikan karena mabuk, “milikilah kebebasan yang tidak ingin memilikimu, Marijuana.!”

Mamah Fly yang mabuk lalu masuk ke dalam kamar bersama seorang lelaki yang usianya lebih muda darinya. Bang Hendrik, aku mengetahui nama itu disaat ia keluar dengan dada berotot, hanya mengenakan kolor dari kamar Mamah Fly, lalu menuangkanku segala bentuk luka dalam dentingan gelas kaca yang beradu dengan mulut botol. Lalu ia berbuih serupa buih tangis yang tak sampai pada lautan. Barangkali memang cukup, selarut tangis telah ku reguk dalam secangkir bir malam itu. Aku sudah tidak perawan lagi.

***
Dua musim berlalu semenjak itu, mamah Fly semakin memperhatikan setiap inci dari diriku, “kamu cantik alami kalau baru selesai mandi, hanya mengenakan handuk yang menutupi setengah bagian dada, dan paha, kamu anggun nak.!”. Lantas ia menyuruhku menanggalkan handuk itu, bercermin menemukan diriku serupa bayi tanpa busana. Aku tinggi semampai, tubuhku ideal, tidak kurus tidak juga gemuk, mulus. Aku tersenyum pada cermin, senyuman itu manja seperti mendamba seorang pria yang memasangkan ikat rambutku dari belakang, sambil menyelimuti tubuhku dengan pelukan.

Bagiku kini, tiada yang lebih indah selain menerima kebebasan hidup. Ya, inilah aku sekarang, Mariana yang tidak lagi bertanya – tanya tentang dari mana ia berasal. Menatap dari balik jendela panti asuhan setiap pagi dan senja hari. Mariana yang tidak pernah dimiliki oleh satu lelaki. Dan kota adalah kemajuan sekaligus jawaban. Mariana, tidak lagi ia bulir – bulir padi, melainkan menjadi bungkusan – bungkusan roti siap saji.

Hidup telah membiasakanku menepis pandangan – pandangan sinis setiap orang yang tidak mengerti duniaku. Lalu bertanya balik pada mereka dalam hatiku “apakah diriku tidak lebih baik dari kalian, hanya karna dunia ini berhak di miliki oleh kalian yang terlanjur memiliki status sejak lahir.?, Tidak, dunia ini tidak hanya berisi kalian saja, yang memberi lalu mengharap di beri kembali. Tersenyum lantas tersinggung, sebab senyuman kalian hanya di balas dengan tatapan sinis. Dari orang – orang suci yang menganggap kalian kotor.!”

Aku tidak akan menaruh dendam hanya karna hal – hal konyol semacam itu. Sebab ketidakadlian sudah cukup menyakitkanku sejak kecil. Kini, akulah keanggunan itu sendiri, hidup untuk orang – orang yang berwajah munafik. Mereka bukan kekasihku, hanya saja mereka adalah kebosanan nafsu yang berlari pada tubuhku, berusaha mengacuhkan istri mereka yang mulai keriput.

***
Keanggunan akan sia – sia bila tidak mengenal amal ku rasa. Ya, dengan tubuhku aku beramal, agar pelacur—atau wanita jalang seperti kata mereka—tidak hanya menjadi bentuk dari kesepian yang lain. Maka akupun pergi mengunjungi panti asuhan, di mana dulu aku pernah diajarkan hal – hal baik di sana, dan mendapatkan nama Mariana. Membawa beberapa uang untuk di sumbangkan. Tatapan – tatapan sinispun menghujam kedatanganku silih berganti, mengapa ada perempuan berbuasana serba mini dilingkungan panti asuhan?.

Kira – kira begitulah, sambutan tersirat ku rasakan. Bunda Darmi, wanita pemilik panti menyambutku dengan mata berbinar. Menatap tubuhku inci demi inci, dari ujung kaki sampai ujung kepala. Wanita yang selalu membelai kepalaku dulu, jika aku sering termangu menatap senja di daun jendela, lantas menyuruhku mengambil air wudhu shalat maghrib.

Ia hanya duduk di atas korsi roda, terbata – bata ingin bicara “Bunda Darmi.!, ini aku, Maria.!”, aku merangkul perempuan itu, menangis, ku kecup kening dan kedua pipinya yang tesayat keriput. Hangat, bau kulitnya yang tua mengingatkanku pada jeda perjumpaan yang begitu lama, sepuluh tahun. Terasa tangan wanita itu begitu lamban membelai ubun – ubunku. Bahwa usia telah benar – benar menjadi berkarat dalam dirinya, tangisku kian tumpah dalam sujud di atas pahanya yang tertekuk lusuh.

Dari tangisanku yang jalang, wanita tua itu ikut menangis mengecup kepalaku. Mengingatkan, bahwa aku pernah satu syaf shalat berjamaah dengannya di panti asuhan dulu. Mengajarkanku IQRA’ hingga aku bisa mengaji membaca ayat – ayat suci-Nya, “kamu pulang nak, apa kamu sudah bisa menghatamkan ALQURAN.?” Kini giliran aku yang terbata – bata menjawab itu semua, malah bertanya kembali pada hati sendiri, “Tapi akankah ini menjadi kepulangan sebenarnya.?”

“Entahlah Bunda, karena aku pulang hanya sebentar. Membawakanmu sekoper uang dari hasil amalan laki – laki belang berdasi pada kemaluanku. Dan kau tak perlu tahu, dari jalan apa Tuhan menitipkan rizki-Nya untukku.!”. Masih terisak diriku, bunda Darmi memecahkan hatiku yang masih menggerutu dengan pertanyaan konyol “Mariana, kamu tumbuh cantik nak, apa kamu sudah menikah.?”

Aku diam, merasakan angin sore membelai tengkukku. Bunda Darmi menatapku begitu khidmat, membelai kedua pundakku dengan tangan keriputnya. Wanita itu tersenyum, senyuman hangat yang masih ku hafal dan selalu membuatku tenang. Nampak bibirnya bergetar seperti ingin bercerita. Lagi – lagi ia terisak memelukku, seperti isakan anak kecil meminta pengampunan.

“Ini semua salah bunda nak.!, dua belas tahun silam, waktu kamu masih belum tahu apa – apa. Perempuan germo itu datang ingin mengadopsi salah satu dari kalian. Aku hanya bisa menatapnya berdiri di gerbang panti, dari balik jendela kamar, sambil menyeka darah yang keluar dari batukku. Aku harus berobat nak.!” Wanita tua itu makin terisak seakan menahan beban masa lalu, beban yang berisi dosa “semangat hidup akan sirna bagi siapapun yang digerogoti penyakit seperti diriku waktu itu, terlebih aku harus hidup untuk kalian anak – anakku yang terlanjur memiliki dan dimiliki oleh kasih sayang. Dan satu – satunya anak penurut adalah kamu Maria. Dengan begitu gampang mengiyakan dirimu untuk di adopsi. Lalu perempuan germo itu menyanggupi segala biaya berobatku. Dengan Syarat kau harus di besarkan olehnya, sampai menjadi saat sekarang ini.!”

“Maafkan, maafkan Bunda, Maria.!” Hangat, bulir – bulir air mata bening mengalirkan sungai penyesalan pada ubun – ubunku. Bagaimanapun harus aku terima, agar penyesalan ini tidak menjadi beban. Lantas ku peluk wanita tua itu, bangkit mengecup keningnya. Berusaha mengurai senyum dalam kalimat “terima kasih bunda, terima kasih.!, aku tidak akan menjadikan ini sebuah dendam. Tidak bunda, sebab semua telah ku terima menjadi jalanku, jalan di mana Tuhan menitipkan rizki untukku, untuk bunda, dan untuk saudara – sudariku di panti ini.!, dan sekarang, kedatanganku ini untuk mengamalkan rizki itu. Dan semoga menjadi halal dengan keikhlasan kita bersama untuk bersyukur. Bunda jangan menangis atas penyesalan masa lalu lagi, semua itu telah menjadi takdir kita masing – masing.

Aku lalu bersijingkat mundur dengan sepatu hak tinggi yang menopang tumitku, membuka tas selempangan berkulit putih, mengeluarkan sepuluh ikat lembaran uang satu juta rupiah. Ini terimalah bunda, atas nama anakmu yang sudah kau beri jalan kebebasan ini.!”
Bunda Darmi seketika menunduk memijat – mijat ujung kebayanya yang longgar. Ia tak berkata, lalu menatap sekeliling orang yang manggut – manggut ikut berurai air mata. Para anak – anak panti melongo, beberapa yang sudah remaja dari mereka sayup – sayup berbisik “mulus, seksi, putih, aku pengen punya istri kayak dia.!”, “Iya dia begitu baik, aku ingin seperti dia kalau sudah besar.!” Seorang gadis berjilbab, suaranya ikut nyeletuk namun sayup di antara keramaian.

Aku tersenyum pada bunda, berbisik meminta bunda memanggil mereka. Wanita tua itupun mengerti, menoleh ke arah kerumunan “Ramdan, Siti, Gembul, kemari kalian nak.!”. Langkah mereka tersuruk – suruk keluar dari kerumunan. Satu orang remaja tambun dengan peci miring dikepala, ada yang bertubuh cungkring mengenakan baju koko dengan sarung di kalungkan. Satunya seorang gadis manis, jilbabnya belum benar ia kenakan.
Aku melemparkan senyuman akrab kepada mereka, dua laki – laki remaja itu malah melongo menatapku, dari ujung kaki sampai ke ujung kepala. “dia kakakmu, mendekatlah kalian, jangan kaku seperti itu.!”. “wajar mereka kaku bunda, karena sedang menahan libido terhadap lawan jenisnya.!”. Mereka saling berpandangan satu sama lain, yang gadis malah bertanya “apa itu libido kak.?”.

Aku mengayun langkah seperti di atas cat walk mendekati mereka. Nampak Ramdan, remaja cungkring itu tidak sadar menggigit sarung yang ia kalungkan. Sementara Gembul si remaja tambun memijat – mijat perutnya sendiri sambil menggaruk peci. Dan Siti, gadis semampai itu membalas dengan senyuman akrab.
Sekarang jarak kami hanya selangkah, lantas ku ulurkan tangan untuk salaman. Merasakan dua tangan remaja lelaki itu bergetar dingin akan keringat.

“Mariana.!”
“a..aku Ramdan.!”
“ss..saya Ahmadi alias, garis miring, Gembul.!”
“Namaku siti, dan Libido itu apa kak.?”
“Libido itu, kalau kalian rajin shalat tahajjud pada seperempat malam. Merasakan kepuasan tersendiri setelah berdo’a kepada Tuhan. Entah adik – adik akan menangis, menyesal, tersenyum, dan tertawa di sana. Dan itu rasanya seperti pelukan-Nya, kalian faham.!?”
“Mungkin kak, karna saya belum pernah shalat tahajjud.!” Jawaban Siti begitu polos, bunda jadi tertawa memamerkan gigi – giginya yang rapuh. Lantas aku membenarkan posisi jilbab yang ia kenakan, mengusap ubun – ubunnya. Sementara Gembul, seperti sengaja menjatuhkan pecinya sambil berdehem – dehem bukan karna batuk, dan Ramdan malah bertudung dengan sarung.

Sekarang giliran aku yang tertawa menatap mereka, kemudian menjelaskan “Ramdan, Gembul, kalau kalian mau pacaran, silahkan. Dan carilah pacar yang tidak seperti aku, tapi seperti Siti yang baru belajar memakai jilbab, dan ingin shalat tahajjud nanti malam.!, benar kan Siti.?”

“mungkin kak, kalau ada yang bangunin.!” Sontak, mulai dari bunda, aku, dan kerumunan jadi terbahak. “ya sudah biar kakak yang bangunin kamu melalui telfon, karna sekarang kakak harus cepat pulang.!”

Menyadari warna senja membias di setiap kaca jendela panti. Dan kamarku entah yang mana, semua berubah setelah jeda sepuluh tahun itu. Sepuluh tahun yang mengaratkan usia bunda Darmi, dan membesarkanku menjadi pelacur dalam keanggunan. Tapi kenangan itu memutar, kembali menemukanku di sini. Di antara bunda, anak – anak panti—bahwa aku sadar, bukan hanya aku yang tidak memiliki status kelahiran.

***
Pelukan keihlasan telah melepasku kembali. Sebab mereka bukan Ibu, Ayah, saudara ataupun saudariku. Tapi mereka hanya bulir – bulir padi yang terserak dan di lupakan. Lalu di ingat kembali oleh seorang pemilik Tua bernama Bunda Darmi.

Dan kini ku temukan diriku kembali menjadi sayap kupu – kupu malam. Lepas terbawa angin, membentang menjadi bunga di atas ranjang. Pukul dua kosong – kosong dini hari, ada janji yang harus ku tepati, Siti. Menatap ponselku, gadis itu harus bangun shalat tahajjud.

***
Seperempat malam telah menaiki tangga firdaus. Entah dari sudut dunia mana, dosa juga pahala terus saling berkelindan. Serupa bunga raflesia juga kuntuman mawar di kedalaman hutan. Sama – sama indah, beraroma liar menusuk alam bebas. Yang tidak pernah memilikiku.

Mataram 10 – 14 Juni 2014.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *