Meditasi Ala Koe

Editor Picks, Non Fiksi, Opini
my photo
Smile indicates the real Power of Meditation

Marham J. Hadi
Wollongong, NSW, Australia

Hari itu, Minggu tanggal 6 Oktober 2013 merupakan hari yang penuh makna dan menginspirasi dan saya memilih untuk mensyukurinya. Alhamdulillah Ya Allah for Such an inspiring and meaningful day, Kenapa? karena pada hari itu saya bertemu dengan dengan dua moment yang membuat saya menyadari bahwa sholat adalah metode meditasi yang sangat ampuh.

Kajool, Si Wanita India
Siang itu, cuaca agak sediki panas. Sayapun berangkat menuju halte bus yang tidak jauh dari rumah kontrakan saya. Ketika sampai di halte tersebut, tiba-tiba saya mendengar seseorang memanggil nama saya. Oh…ternyata dia adalah salah Mas Rahman (bukan nama Asli). Dia bersama seorang perempuan, dan sayapun langsung di perkenalkan dengannya oleh Mas Rahman. Namanya adalah Kajool. Dari raut wajahnya saya bisa menebak kalo perempuan itu berasal dari India. Diapun agak terkejut dengan tebakannya saya. Setelah diperkenalkan dengannya, mas Rahman pun meninggalkan kami karena dia harus balik ke rumahnya setelah setengah hari pergi ke pantai dan shopping bersama Kajool (bukan nama asli).

Pada hari biasa bis gratis akan datang setiap 10 menit menuju kampus saya, namun karena itu adalah hari minggu, maka kami harus menunggu sekitar 20 sampai tiga puluh menit. Karena tidak ingin menunggu bis terlalu lama, akhirnya saya memutuskan untuk memilih jalan ke kampus. Ternyata Kajool juga mau ke kampus untuk mengerjakan tugas kuliahnya, sama seperti saya. Memang di universitas-universitas Australia, perpustakaan biasanya buka dari jam 9 pagi sampai jam 6 sore. Kesempatan itu biasa dimanfaatkan oleh para mahasiswa untuk mengerjakan tugas-tugas mereka yang sudah diburu deadline.

Kamipun berjalan di bawah terik matahari yang cukup panas diringi oleh suara burung di sepanjang jalan utama menuju kampus. Tidak tahu kenapa, tiba-tiba Kajool mengeluhkan panasnya siang itu, padahal bagi saya cuacanya cukup bersahabat. Menyambung pembicaraan, sayapun menanyakan tempat tinggalnya. “Saya tinggal di Perumahan mahasiswa”, jawabnya. Kemudian dia mulai menceritakan kekecewaannya tentang akomodasi tersebut. Menurutnya, tempat tersebut kurang menarik karena sangat sepi. Dia juga mengeluhkan telpon kamar yang tidak bisa dipakai serta peralatan-peralatan yang tidak berfungsi. Diapun mengucapkan kalimat sumpah serapah karena ditempatnya seringkali banyak penghuni kamar yang mabuk dan terkadang ribut kalo sedang ada party (pesta).

Keluhannyapun tak berhenti sampai disitu. Diapun mengeluhkan mahalnya biaya akomodasinya yang mencapai 4000 dollar Australia atau setara dengan 42 juta dalam jangka enam bulan. Diapun menceritakan ketidak nyamananya di tempat itu. Saya hanya mendengarkan keluhannya sepanjang jalan sambil memberikan sedikit komentar. Akhirnya dia berkata “saya harus pindah ke Sydney”. “Saya sudah bosan, jenuh dan frustasi dengan kota kecil ini”. “saya stress dengan kehidupan di akomodasi tersebut’. “Bulan depan saya harus pindah, dan saya sudah mengajukan hal tersebut kepada universitas, tetapi mereka tidak mau memberikan sisa sewa yang belum terpakai”.” Brengsek!!!” teriaknya”. Diapun melanjutkan perkataannya “Tapi saya harus bertahan dalam penderitaan selama satu bulan kedepan ini”.

Saya hanya mendengarkan semua keluhan-keluhannya. Maklum saya hanya baru kenal beberapa menit yang lalu. Akan tetapi, saya bisa memahami keluhannya karena tantangan studi di luar negeri cukup berat apalagi bagi mahasiswa yang kuliah dengan biaya sendiri atau dengan dukungan orang tua.

Mendengar keluhannya tersebut, sayapun berusaha untuk memberikan solusi. Saya menyarankan agar dia mencari seseorang untuk bisa dijadikan tempat curhat. Jawabanya cukup mengagetkan, “Saya punya banyak teman diskusi, tetapi ketika mereka pergi, sayapun kembali dipenuhi rasa frustasi”. Mendengar hal tersebut sayapun berusaha mengingatkan bahwa masalah yang dia hadapi bisa mempengarahui proses studinya. Diapun mengakui hal tersebut “ betul” katanya. “saat ini kuliah saya sangat terganggu, bahkan saya hawatir tidak bisa lulus satu mata kuliah”, lanjutnya. Untuk diketahui, mengulang satu mata kuliah dikampus kami berarti harus membayar sekitar 2,500 sampai 3,000 dollar (setara dengan 25 jt rupiah). Biaya yang sangat memberatkan.

Karena kami sudah hampir sampai di perpustakaan, sayapun akhirnya memberikan saran terakhir kepadanya karena belum tentu kami bisa bertemu lagi. Saya katakan padanya, “ mungkin selama ini, kamu tidak bisa menerima kenyataan yang ada”. Dia menjawab “iya”. Saya pun menambahkan “mungkin kamu juga memiliki ekpektasi/ keinginan yang agak tinggi, namun tidak sesuai dengan apa yang kamu alami sekarang ini”. Diapun menjawab “ benar”. Akhirnya, saya mengatakan kepadaya “saya rasa masalah mu ini bisa diselesaikan dengan mengurangi keinginanmu yang terlalu besar”. “ kamu juga harus mengingat tujuan utama kamu studi di sini”. “Dan yang terpenting, bisakah kamu mengurangi kalimat2 keluhan sperti stress, frustasi, bosan dan lain-lain?, Mungkin itu bisa mengurasi permasalahanmu”.

Sebelum berpisah, sayapun menyempatkan diri bertanya kepadanya, tepat di pintu perpustakaan, “kenapa kamu tidak ikut meditasi Yoga? Itu kan sangat terkenal di India?”. Dengan singkat menjawab “Bagi saya itu kurang berhasil”.

Ngo, Kandidat Doktor dari Vietnam
Sayapun meninggalkannya dan langsung ke ruangan perpustakaan, menuju barisan komputer menyelesaikan tugas reviu jurnal yang harus dikumpulkan besok. Setelah sekitar dua jam bergulat dengan aktifitas mengedit isi, tata bahasa, penulisan referensi serta pemikiran kritis terhadap dua jurnal tesebut, alhamdulillah, tugas tersebut bisa saya selesaikan dan langsung di kirim online, via email. Memang begitulah pola perkuliahan kami disini yaitu baca jurnal, review, menulis draft, revisi dan berakhir pada penyerahan/ submission secara online. Karena waktu sepertinya sudah menjelang ‘ashar, sayapun meninggalkan library dan hendak kembali ke rumah untuk sholat ashar.

Begitu sampai pintu keluar, tiba dari jauh ada seorang mahasiswa Doktor, dari vietnam yang memanggil saya. Namanya Ngo. Sayapun menolehnya dan menyapa. Saat mendekat, kelihatannya dia agak kecapean dan sedikit kurang ceria. Saya menanyakan kenapa dia demikian. Ternyata dia juga mengeluhkan tentang masalah tugas perkuliahan yang terlalu berat. Saya pun mengaminkan kata-katanya karena memang begitulah adanya. Keluhannya juga terkait dengan masalah perpisahan dengan keluarga yang sekarang ada di Vietnam.
Karena diajak ngobrol, sayapun tidak langsung pulang. Seperi biasa dia akan bertanya apakah saya pernah kangen dengan rumah, rindu sama keluarga, atau pernah jenuh dengan kondisi perkuliahan. Saya mengerti maksud pertanyaannya. Maksudnya adalah bagaimana saya menghadapi situasi-situasi tesrsebut.

“Kamu kok selalu tampak ceria setiap kali kita bertemu? Sepertinya kamu sangat terbiasa mengatur perasaan/ emosimu?”. Pertanyaan tersebut sudah diucapkan berkali-kali dan jawaban sayapun tidak jauh berbeda dari biasanya. Saya menyarankan dia melakukan variasi kegiatan dan menghubungi keluarganya jika dia sedang merasa tidak mood. Saya juga menyarankan agar dia mengikuti program meditasi di salah satu Kuil Budha terbesar di bumi bagian selatan, yaitu kuil Nan Tien. Kuil tersebut berada d wilayah New South Wales Australia.

“memang saya sudah berusaha melakukan saran2 tersebut dan sayapun terkadang bermeditasi sambil berjalan2 ditaman”, tuturnya. Tetapi meskipun demikian, sepertinya masalah yang terkait dengan merasa tidak mood , tetap saja tampak jelas di sorot matanya.

Ada apa dengan dirinya?. Sekilas pertanyaan itu muncul di pikiran saya. Dia khan seorang mahasiswa Doktor, yang secara akademis sedang mempelajari sesuatu yang sifatnya abstrak, konsep dan halus atau filsafat. Di dalam hati, sayapun bertanya? Dia seharusnya mampu mengatasi hal-hal demikian.

Pelajaran dari dua cerita tersebut.
Dari dua kejadian riil tersebut sayapun mengambil beberapa pelajaran. Pertama, seringkali kita merasa kecewa oleh diri kita sendiri. Yaitu, saat apa yang kita ingingkan tidak sesuai dengan harapan. Yang biasa dilakukan oleh kebanyakan orang-orang yang saya anggap tenang dalam hidupnya adalah dengan berusaha menjaga keseimbangan dalam dirinya. Yaitu dengan berusaha mengurangi keinginan yang terkadang terlalu besar.

Kedua, saya melihat pada kasus si Kajool, ternyata keluhan membuat masalahnya semakin besar. Semakin dia mengucapkan kata-kata negatif, berarti dia semaking membuat dirinya menjadi lebih frustasi. Meskipun dia memiliki teman-teman curhat namun tetap saja perasaannya tidak berubah karena dia tidak berhenti mengeluh. Menjawab permasalahan ini, saya pernah mendengar sebuah pengajian yang mengatakan “banyak bersyukur akan membuat kita lebih tenang”. Dalam artian, seandainya si Kajool tadi mensyukuri apa yang telah dia miliki, berupa tempat tinggal yang menurut saya sudah sangat bagus, serta suasana belajar yang tidak ribut, mungkin dia bisa lebih tenang.

Ketiga, apabila perasaan sudah terganggu seringkali fungsi logika kita untuk berpikir terkadang tidak optimal. Pada kasus si Kajool dan si Ngo, mereka tidak bisa mengerjakan tugas-tugas kuliah dengan optimal saat dilanda perasaan yang tidak tenang. Meskipun keduanya telah mengetahui dan mempraktikkan meditas Yoga dan Budha, namun ketenangan belum saja sepenuhnya mereka raih. Untuk mengatasi masalah ketiga ini, saya meyakini firman Allah yang mengatakan: “‘Ala bizikrillahi tatma’innal Qulub’. Maknanya hati akan menjadi tenang dengan mengingat Allah SWT.

Zikir sebagai sebuah meditasi
Menurut saya, meditasi Yoga maupun Budha yang dipraktikkan oleh banyak orang, bahkan ada juga yang muslim, masih memiliki kelemahan meskipun ada kesamaan dalam metode dengan praktik kita umat islam. Yaitu menfokus hati dan pikiran pada satu titik. Tetapi perbedaan terbesarnya adalah pada titik apa kita menfokuskan pikiran dan hati kita?. Apakah titik hampa? Beruntunglah sebagai umat Islam, kita telah diajarkan untuk mengarahkan hati dan pikiran, jiwa dan raga pada satu titik yaitu Titik Allah SWT atau the GOD’s SPOT.

Saya memperkirakan bahwa meskipun orang mempraktikkan berbagai meditasi selain meditasi islam (zikir), mereka memang akan menemukan ketenangan yang kemungkinan berujung pada titik hampa. Karena titik fokus mereka adalah pada sesuatu yang terbatas. Sedangkan kita umat Islam, kita menfokuskan hati dan pikiran kita pada yang maha tak terbatas serta menciptakan batas-batasan. Kita terhubung dengan sumber ketenangan, rasa aman, nyaman, tentram, bahagia (hasanah).

Untung kita diperintah sholat.
Dalam praktik Islam, kita dianjurkan untuk berzikir karena dengan itu kita meraih ketenangan. Salah satu cara berzikir yang paling effektif, menurut saya, adalah dengan berdo’a. Apa yang terjadi saat kita berdo’a? . Saat itu kita sedang menfokuskan jiwa raga kita kepada sang Maha Pencipta sambil berkata di dalam hati “ Iyya kana’ budu waiyya kanasta’in” (hanya (satu titik) kepadaMulah kami menyembah dan hanya (satu titik) kami mohon pertolongan). Dan do’a kita akan benar2 khusuk/ fokus adalah ketika kita sholat. Sholat adalah perpaduan antara menyembah dan meminta kepada satu titik, yaitu titik Allah SWT Sebagaiman yang tertuang dalam salah satu rukun sholat yaitu membaca surat Alfatihah.

Saat kita mengucapkan niat, maka kita sudah mulai memasang fokus dan begitu kalimat “Allahu Akbar” terucap oleh lidah dan terdengar oleh telinga, maka saat itu, hati dan pikiran harus sudah difokuskan ke titik Allah SWT. Pada saat itulah kita sudah mulai terkoneksi dengan zat Pencipta kita

Berkenaan dengan hal tersebut Almagfurullah Maulana Syaikh TGKH. Abdul Madjid* mengatakan di dalam wasiatnya** (1981, h.45):

“Kosongkan dirimu di kala ‘ibadah
Menghadap qiblat menghadap Ka’bah
Duduk bersimpuh di atas sajadah
Mohon mendapat khusnul khotimah”

Pesan tersebut mungkin terkesan seperti sebuah bait biasa, tetapi kalau di gali secara mendalam, maka kita akan menemukan sesuatu yang begitu luar biasa. Meditasi membutuhkan pengosongan pikiran, serta fokus pada satu titik. Biasanya dilakukan dengan duduk. Bukankah apa yang dikatakan oleh Maulana Syaikh tersebut sudah sangat jelas mengandung konsep meditasi, yang sudah ribuan tahun dipraktikkan oleh Agama hindu dan Budha. Perbedaannya yang paling utama antara konsep Islam dengan meditasi non Islam adalah pada kalimat terakhir “mengharap khusnul khotimah”. Yaitu mengharapkan kebahagian, bukan hanya saat hidup, atau dimasa-masa tua tetapi juga saat kita sudah berada di hari kemudian.

Akhirnya, semoga cerita ini bisa memberikan manfaat bagi kita semua. Jika ada kesalahan konsep, maka itu sepenuhnya merupakan kelemahan saya pribadi.

Catatan:
*Pendiri organisasi Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah (NWDI), Nahdlatul Banat Diniyah Islamiyah (NBDI), Nahdlatul Wathan (NW) serta merupakan pejuang kemerdekaan di Pulau Nusa Tenggara Barat. Saat ini, organisasi yang telah memiliki ribuan pondok pesantren yang tersebar di seluruh Nusantara.

** Wasiat yang dikarangnya bernama Wasiat Renungan Masa. Sebuah kumpulan tulisan yang berisi pengalaman hidup, sejarah perjuangan, ilmu pengetahuan baik bidang, agama, pendidikan, sosial, dakwah serta mengandung rahasia-rahasia berupa hikmah filsafat yang menjadi pedoman pengembangan islam melalui organisasi yang telah didirikannya sejak 10 tahun sebelum kemerdekaan RI.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *