MELATIKU BUAT SAHABATKU

Cerpen, Fiksi

 

Pagi itu matahari menembus jendela kamarku, menghangatkanku. Aku terbangun lesu. Suasana di rumahku seperti biasa, kicauan burung yang terdengar di telingaku begitu merdu,seakan memanggil-manggilku. Kicauan dari ranting pohon yang penuh dengan daun hijau. Waktu itu ku mulai aktivitasku seperti hari-hari biasanya, lari pagi. Sambil mendengarkan lagu kesukaanku, dari band Kotak. Ya waktu itu sepupuku sebut saja Ery. Ery adalah orang yang baik, tapi agak gak peduli gitu. Ia adalah cowok yang keren, biasa- biasa aja, tidak mau tau tentang orang, dan dia cowok yang pekerja keras. Cita-citanya ingin pergi ke Jepang. Dia sekolah di sekolah bahasa Jepang. Pagi itu kami pergi lari pagi, seperti biasanya.  Di tengah perjalan kami mengobrol, ya biasalah ngomongin cewek, kalok gak cewek pasti tentang status di facebook. Dia memulai perbincangan.

“eh sodara kemarin saya ketemu sama dia.”

“Dia siapa?” Memperlambat lari.

“Dia, teman chatingan mu itu.”

“Cewek yang mana?” Mempertegas.

Dan Ery berhenti, menjelaskannya.

“Si Dewi. Siapa lagi teman chat mu, yang dulu itu kalau bukan dia.”

“oh Dewi, apa dewi bilang.?” Penuh harap.

“gak ada, dia Cuma Tanya tentang kamu.” Sambil tersenyum.

Dan aku kembali berlari. Seolah-olah tidak peduli dan tidak mau tau tentang dewi. Tadi pagi sebelum aku beranjak berlari aku dan dewi saling telponan. Seperti biasa, kami bercanda, bergurau.

Aku teringat saat pertama kali kenal sama Dewi. Aku dan dewi sudah kenal semenjak aku masih duduk di bangku SMA. Waktu itu Dewi masih kelas 3 SMP. Aku kenal dengan Dewi lewat facebook. Pas pertama-tama kenal yang namanya facebook. Masih demam gitu. Waktu itu aku iseng, karena habis putus sama pacarku. Aku buat status di facebook. Aku bialang “semua cewek ternyata sama saja, selain mementingkan diri sendiri juga tukang penjilat”. Lewat statusku itu dewi mengomentari.

Dewi “tidak semua cewek seperti itu mas.”

“ah sama aja menurutku, selain penjilat, munafik pula.”

Dewi langsung merespon komentarku “itu cewek yang mas kenal, belum tentu kan cewek lain juga seperti itu. Malahan menurut aku ya, mungkin masnya aja yang gak pernah perhatiin ceweknya, makanya begitu.”

“aku slalu perhatian, slalu ngasih apa yang dia inginkan, eh malah selingkuhin aku. Siapa cobak yang gak sakit.”

Dewi kemudian tertawa “hahaha…. Di selingkuhin tuh. Pantesan sampai statusnya kayak gitu. Mas.. mas.. cinta memang begitu.”

“bagaimana nggak sakit cobak, selingkuhnya sama temen aku sendiri. Saking jengkelnya lagi temen aku itu tau kalau dia adalah pacarku.”

 

Kemudian dari waktu itu aku saling berkirim pesan lewat facebook, dan bertukaran no hp. Aku dan dewi saling bercerita tentang kehidupan kami masing-masing. dewi begitu terbuka kepada ku dan aku pun demikian. Seiring berjalannya waktu pada akhirnya aku ketemu sama Dewi.

Sore itu aku janjian di sebuah taman yang sangat indah. Taman itu di hiasi dengan bunga- bunga yang sangat cantik, dengan harum aroma alami yang keluar dari kembang di taman. Membuat suasana menjadi lebih indah seindah senja pada sore itu. Kupu-kupu bertebrangan hinggap di kembang yang mekar. Dengan penuh pesona, dengan penuh warna warni yang menghiasi taman. Aku terbuai dalam keindahan. Terduduk termangu dalam penantian. Waktu sudah menunjukkan pukul 05:30 PM Dewi belum juga datang. Aku mencoba menghubunginya tapi tidak di angkat. Aku membatin “ternyata cewek itu sama saja”. Hanya penyesalan yang ada dalam hati. Aku pun memutuskan untuk pergi, walau terasa berat untuk melangkahkan kaki. Aku mondar mandir seperti orang kebingungan. Orang-orang di sekelilingku mulai beranjak pergi seiring dengan matahari yang semakin tenggelam, melenyapkan semua yang ada di depannya. Aku melangkahkan kaki ku, lalu berenti sejenak mamandangi bangku yang ada di tengah taman. Ku melihat seorang gadis yang sedang duduk sendiri dengan rambut terurai panjang. Aku terdiam sejenak memandangi gadis itu. Dalam hati aku curiga “apakah dia Dewiku”. Kemudian gadis itu memandangiku dengan curiga. Tubuhku seakan kaku melihat gadis itu. Aku menghampirinya.

“hay… sendiri?” bertanya agak gugup.

Gadis itu terdiam dan menoleh memendangku.

Aku pun bertanya lagi kepada gadis itu. “hay..sendiri. Lagi tunggu siapa?”

Ia menjawab dengan lesu.”saya lagi tunggu seseorang.”

“oh.. pacarnya?”

“bukan” dengan lantang gadis itu menjawab.

Dan aku menegaskan lagi “kalau bukan pacarnya siapa lagi.”

Gadis itu terdiam dan aku bertanya kepadanya “kamu sudah hubungi dia”

Gadis itu mengelengkan kepalanya.

“kenapa gak di hubungi? Bagaimana bisa kamu tau orang itu datang atau tidak.”

Kemudian gadis itu memandangku dengan tajam, seakan dia kesal kepadaku.

Kemudian aku bergurau. “ya memang menunggu itu sangatlah membosankan. Apalagi kita menunggu sesuatu yang gak jelas gitu. Sama halnya dengan ku. Ah begitu bodohnya diriku yang begitu mudah percaya sama seseorang sampai aku menunggu seperti ini. Sudah aku hubungi dia tapi gak diangkat-angkat. Dan sekarang ak……uu

Gadis itu memotong. “emangnya kamu lagi tunggu siapa?”

Aku pun menjawabnya “aku lagi menunggu seseorang yang baru aku kenal lewat facebook.”

Gadis itu kelihatan bingung “sudah di hubungi?”

“sudah, tapi tidak di angkat-angkat dari tadi.” Dengan nada yang sedikit rendah

Gadis itu sambil menunduk berkata “Oh.. sama ya nasip kita”

Setelah beberapa menit kami berdua terdiam. Suasana di taman hening. Kupu-kupu yang beterbangan sudah mulai menghilang. Bunga di taman semakin mengeluarkan harum kembangnya yang di tiup angin yang begitu lembut.

Secara bersamaan kami berkata “ nama kamu siapa?”

“mm maaf, kamu duluan” aku menyuruhnya bertanya duluan.

Kemudian gadis itu balik menyuruhku duluan. “kamu dah yang duluan”

Aku menjawab “dahulukan perempuan dulu.”

Gadis itu kemudian bertanya “nama kamu siapa?”

Dan aku menjawabnya “aku Rio.”

Dia terdiam terbengong, sambil menatapku dengan sangat dalam.

“hay.. kamu kenapa?” tanyaku.

“ah gak apa-apa” gadis itu menjawab dengan gugup.

“oh ya.. kalok kamu siapa?” tanyaku ingin tau.

Gadis itu menjawab dengan gugup “a…a…a….ku..uu…. d…d…d..dewi..iii”

Aku terdiam, terbengong dan tidak menyangka kalau dia adalah gadis yang aku tungu-tunggu.

Kami berdua bercerita banyak hal di taman. Sampai terdengar kumandang adzan magrib. Kami pun pulang. Setiba di rumah aku langsung ke rumah sepupuku dan menceritakan semua kejadian tentang pertemuanku dengan Dewi. Aku menceritakan semunya. Setibaku di rumah sepupuku yang berada di dekat rumah. Aku kemudian menceritakan pertemuanku dengan Dewi, gadis yang membuatku tergila-gila. Aku yang memang sudah lelah, kemudian berbaring di sampingnya.

Ery,, tahu nggak, tadi aku ketemu sama Dewi cantik banget, kayaknya aku suka  sama dia.

”Ketemu di mana?tanya Ery, antusias. Perasaan lelah itu hilang seketika, tergantikan olah semangat yang baru. Karena baru kali ini Aku bertemu dengan gadis secantik dan seanggun Dewi. Baru kali ini aku merasakan jatuh cinta yang luar biasa.

“Aku ketemu Dewi di taman tadi.”

beneran?!” tanya Ery, tak percaya.

“Ya beneran! Ah pokoknya pertemuanku sama dia itu sangat konyol. Pokoknya seru.” Sambil tersenyum.

 

Semenjak pertemuan itu aku dan Dewi sering jalan-jalan berdua. Bahakan tidak jarang juga aku bertamu ke rumahnya. Tapi walaupun kami sering berdua hubungan kami masih berteman biasa. Aku sebenarnya jatuh cinta kepadanya tapi takut mengungkapkannya. Bukan karena takut di tolak tapi aku takut terjatuh dalam cinta. Kami berdua seperti layaknya sepasang kekasih yang takkan bisa terpisahkan.

Seiring berjalannya waktu, aku tidak menyadari bahwa sepupuku sering mengirimi Dewi pesan singkat, bahkan dia telpon-telponan. Dan hatiku begitu hancur ketika mengetahui hal itu. Tanpa sepengetahuanku Dewi kemudian menghubungiku. Malam itu dengan suasana yang indah, rembulan malam dan bintang-bintang yang berkelap kelip dengan suasana malam yang dingin berubah begitu saja saat mendengar penjelasan Dewi kepadaku, bahwa mereka berdua telah berpacaran. Malam kelam mencekam. Malam menjadi gelap gulita. Kabut hitam mulai menyelimuti langit jiwaku. Seakan aku bermimpi dan tidak mempercayai semua yang terjadi. Kini aku sendiri terdiam dan mengis dalam sepi. Hancur, remuk dan lebur rasaku. Aku terdiam, seakan dunia tidak berpihak kepadaku. Aku mencaci memaki diriku sendiri. Dan kini ku terbelenggu dengan perasaanku sendiri.

Hari-hariku sepi, tidak lagi ada yang menyapaku. Dewiku telah dimiliki orang. Dewiku yang kujaga dengan rasa cinta dan kasih saying telah di ambil sepupuku sendiri. Ku coba bertahan dalam kesendirian jiwa, aku tidak lagi menginginkan gadis lain untuk menyinggahi hatiku. Aku coba mengiklaskan Dewi dengan sepupuku. Seperti puisi sayap-sayap patah Khalil Gibran. Cinta sejati adalah ketika kamu meneteskan air mata. Adalah ketika dia bersama orang lain dan kamu masih perduli terhadapnya dan kamu masih biasa tersenyum dan berkata “aku turut berbahagia”. Dan “jika cinta memisahkan mu di masa ini, tentulah cinta yang akan menyatukanmu di masa yang akan datang”.

Beberapa bulan kemudian aku tidak lagi perduli kepada mereka berdua. Karena aku memutuskan untuk focus kepada kuliahku. Dan tiba-tiba waktu itu Ery menyuruhku ke taman , dimana tempat pertemuan pertama aku dengan Dewi. Aku melihat mereka berdua lagi duduk. Kemudian aku membalikkan badanku dan beranjak untuk pergi. Ketika aku melangkahkan kakiku. Ery memanggilku.

“Rio, mau kemana kamu?”

Aku berhenti dan menoleh tanpa kata.

Ery pun langsung menghampiriku. Dia menjelaskan semua tentang hubungan mereka. Dan pada akhirnya aku mengerti. Akulah yang sebenarnya salah paham tentang mereka. Semenjak itulah aku dan Dewi kembali saling menghubungi. Aku bisa memahami bahwa cinta itu tidak untuk di pendam. Tidak hanya perasaan aja. Tapi bagaimana kita mengungkapkannya. Dan akhirnya aku dan Dewi kembali bersama, tidak sebagai teman biasa tapi sebagai pacar.

 

Tidak terasa aku dan Ery telah sampai dirumah. Aku menjalani rutinitasku seperti biasa. Membersihkan kandang burung, memberi makan dan seteh itu aku sarapan. Selesai sarapan aku mandi dan pergi ke rumahnya Dewi. Kami selalu jalan berdua, susah senang kami jalani bersama sampai saat ini.

 

~~sekian~~

 

 

Lalu Muh. Sukandar

E1C112064

A/VI

 


Lalu Muh. Sukandar

Just Love Writing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *