MEMBACA SASTRA SEBAGAI PERKEMBANGAN KARAKTER BANGSA

Non Fiksi, Opini

MEMBACA  SASTRA  SEBAGAI PERKEMBANGAN  KARAKTER  BANGSA

Kegiatan membaca pada umumnya banyak orang yang berpandangan bahwa membaca adalah kegiatan yang membosankan dalam malah apalagi kalau kita sudah melihat buku-buku tebal yang harus kita baca demi kewajiban seperti siswa mahasiswa bahkan para guru.

Dalam kondisi seperti ini tentunya sangan memprihatinkan. Tentunya banyak solusi supaya kita gemar membaca. Membaca sastra misalnya. Membaca sastra yaitu kegiatan membaca yang berhubungan dengan seni atau keindahan. Dalam membaca sastra, pembaca dituntut untuk mengaktifkan daya imajinasinya dan kreativitasnya agar dapat memahami dan menghayati isi bacaan. Setelah membaca karya sastra pembaca akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman melalui karya sastra yang dibacanya. Disinilah letak kelebihan pembaca karya sastra dibandingkan karya-karya lain. Dari itulah kita akan memahami betul bahwa pentingnya kehidupan dengan banyak membaca sastra. Sastra menjadi suatu nilai yang real sastra banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sastra membuat hidup kita semakin berwana. Perlu kita ketahui bahwa telah membawa kita kedalam perubahan zaman dengan beberapa perubahan dan pergantian periode. Sastra sebagian dari nilai budaya yang harus tetap kita junjung nilai leluhur dari nenek moyang hingga pada perubahan ini. Membaca sebagai perkembangan karakter suatu bangsa dapat kita tanamkan supaya bisa terealisasikan dengan beriringnya waktu, yang menjadikan bangsa kita semakin berkembang dengan karakter-karakter yang dimiliki orang semua individu.

Mengembangkan karakter seseorang agar gemar membaca karya sastra tidaklah sulit. Buku Sastra telah menghadirkan bacaan yang asik dan menarik alias tidak membosankan. Dampaknya mereka selain akan kecanduan membaca merekapun akan mencoba membuat sebuah karya untuk dijadikan sebuah bacaan. Dari sinilah karakter seseorang akan dibangun menjadi manusia yang berwawasan luas akan ilmu bacaannya.
Perlu kita ketahui karya-karya sastra mencoba melukiskan hidup senyata-nyatanya,sedangkan cerita-cerita hiburan sering menghindarkan kenyataan-kenyataan itu, menutup-nutupinya, dengan maksud mengajak si pembaca melupakan kenyataan-kenyataan itu.

Uraian Singkat

Kegiatan membaca sastra harusnya menjadi suatu kebutuhan pokok kita khususnya sebagai bangsa Indonesia yang bermartabat dan berbudaya. Kecintaan terhadap membaca sebuah karya sastra akan menumbuhkan kehidupan kita menjadi lebih baik menjadi manusia yang mempunyai karakter dan wawasan yang sangat luas sehingga tidak tertinggal jauh oleh Negara lainnya.

Melalui membaca, seorang akan merasakan perubahan pada dirinya. Karena salah satu fungsi bacaan adalah mampu mempengaruhi orang-orang yang membacanya. Membaca buku bisa mempengaruhi dan mengubah pola pikir dan pola tindak seseorang. Seperti diungkapkan Widodo (2006) bahwa seorang sudah bisa dikatakan pembaca yang “berhasil”, bila terjadi perubahan pada dirinya. Perubahan itu mengarahkan seseorang menjadi penulis. Jadi jelaslah bahwa dengan membaca seseorang akan mempunyai pola pikir yang berbeda dengan yang lainnya dengan membaca dia akan merubah karakternya, dan tidak memungkiri kemungkinan setelah dia banyak membaca buku sastra dan sebagainya dia akan menjadi penulis. Itu adalah perubahan dari sebuah perubahan karakter seseorang dalam hidupnya yaitu dengan membaca buku baik sastra dan lainnya.

Manfaat yang dihasilkan dari makalah ini secara teoretis dan praktis adalah diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan bagi kehidupan berbangsa khususnya siswa, mahasiswa dan masyarakat Indonesia dan dengan dukungan teori-teori yang sudah ada sebelumnya, dan diharapkan dapat digunakan sebagai acuan pembelajaran siswa, mahasiswa dan umumnya bahwa membaca sastra adalah kegiatan membaca yang berhubungan dengan seni atau keindahan. Dalam membaca sastra, pembaca dituntut untuk mengaktifkan daya imajinasinya dan kreativitasnya agar dapat memahami dan menghayati isi bacaan. Setelah membaca karya sastra pembaca akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman melalui karya sastra yang dibacanya

Landasan teori dan konsep-konsep
Terdapat pengertian tentang pengertian membaca sastra dalam perkembangan karakter bangsa ini. Menurut Guntur Tarigan membaca sastra adalah suatu karya sastra dapat dikatakan indah apabila baik dari segi bentuknya maupun dari segi isinya terdapat keserasian, keharmonisan yang satu dengan yang lainnya. Apabila seorang dapat mengerti seluk-beluk bahasa dalam suatu karya sastra maka semakin mudah dia memahami isinya serta menikmati keindahannya.
Pengertian membaca sastra digolongkan kedalam membaca estetis yaitu membaca yang berhubungan dengan seni atau keindahan. Dalam membaca sastra, pembaca dituntut untuk mengaktifkan daya imajinasinya dan kreativitasnya agar dapat memahami dan menghayati isi bacaan. Setelah membaca karya sastra pembaca akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman melalui karya sastra yang dibacanya. Disinilah letak kelebihan pembaca karya sastra dibandingkan karya-karya lain.
Saya berpendapat bahwa sastra adalah nilai budaya yang lebih komplit dan etis, mengandung realita yang tidak bisa kita pungkiri, berkembangnya peradaban bangsa Indonesia telah mengandung sejarah panjang dalam perjalanan dunia sastra, membaca sastra telah mengajarkan kita kedalam kehidupan bangsa yang lebih bermartabat sehingga akan mengembangkan perkembangan karakter seseorang dalam kehidupannya. Membaca adalah keperluan jiwa yang harus kita tekankan dalam kehidupan, dengan membaca sastra kita akan mengetahui perkembangan budaya, seperti zaman dulu saat kita belum mengenal tulis-menulis ceritanya melalui mulut-kemulut (leluri) hingga sampai ini kehidupan yang semakin maju dan berkembang, tentunya sastra telah menghadirkan manusia yang cerdas dan kreatif dan akan membawa perubahan karakter anak bangsa yang gemar membaca sastra sebagai kebutuhan pokok hidupnya.
Banyak yang telah mengartikan pengertian tersebut dengan persepsi yang berbeda-beda, dengan tujuan yang sama. Karena dengan banyak membaca buku sastra kita akan menambah wawasan yang lebih luas dibandingkan orang yang tidak suka membaca. Denga membaca sesuai dengan judul makalah yang dibuat akan menguatkan kita pada kamajuan bangsa yang mempunyai karakter yang lebih dasyat lagi, karena sastra telah banyak menghadirkan suatu yang realistis yang real tentang kehidupan sehari-hari. Banyak difinisi dari berbagai para ahli bahwa kegiatan membaca itu sangat penting untuk menunjang pola pikir seseorang dalam proses perubahan karakter.

Uraian Pemecahan Masalah
Sejarah sastra berdasarkan perkembangan karakter bangsa
Dahulu kala orang belum kenal tulis menulis, ceritanya disampaikan dengan tutur kata. Tiap-tiap ceritanya secara turun temurun diceritakan dari mulut ke mulut.
Suatu keanehan yang terdapat pada cerita lama itu adalah seperti berikut:
Cerita itu pada umumnya cerita-cerita tentang kepercayaan kuno, sehingga orang tidak boleh dengan sekehendak hati saja menuturkan atau menjanjikannya sebab perbuatan demikian dapat menimbulkan amarah dewa-dewa. Jadi tiap-tiap cerita itu harus diturunkan ketika pada waktu yang baik dalam waktu tertentu.
Pantang besarnya misalnya, menuturkan cerita atau doa mati pada sewenang-wenang, sebab bila ada orang lalai berbuat demikian, laknat dan kutuk akan menimpa dirinya dan keluarganya (kepercayaan orang toraja). Sebab bukankah cerita itu menuturkan tentang perihal dewa-dewa, hantu, peri, arwah-arwah orang tua. Pendeknya makhluk bertubuh halus yang tidak dapat diperolok-olokan.
Walaupun wujud cerita itu real dan sepintas lalu ditilik sebagai cerita dongen belaka, tetapi makhluk yang tersebut dalam cerita tersebut adalah dewa, jin, peri, pendeknya makhluk yang bertubuh halus, yang harus dihormati.
Pada umumnya kebanyakan suku-suku bangsa di Nusantara di masa purba tidak mengindahkan sejarah atau perhitungan tahun. Kelalaian ini Nampak pada sebuah sastra lama. Tiap-tiap gubahan atau cerita lama tidak diberi berangka tahun, sehingga orang tidak dapat tahu, ketika karangan itu digubah atau dikarang. Bagi orang dahulu angka tahun tidak begitu penting. Begitu pula nama pengarang tidak pernah dibubuhi, sebab persorangan atau individu tidak begitu terbilang dalam kerukunan di Nusantara purba dan apabila ada nama pengarang dibubuhi, belum tentu buah tangan ciptaannya.

Lagi pula menceritakan atau menjalin suatu cerita yang dikarang oleh seorang tidak dipandang sebagai suatu kesalahan. Tiap-tiap orang bebas menjalin sebuah cerita dan ketika menjalinnya isi dan bahasa cerita asli itu terkadang di tambah atau di kurangi menurut banyak sedikitnya angan-angan menjalin cerita tersebut. Dan indah buruknya hikmat kata tergantung pada kepetahan lidah penjalin atau pencerita. Semua itu tidak dipandang sebagai curian sastra kesalahan kekurang jujuran, malahan hal demikian dipandang sebagai tanda keahlian pengarang. Misalnya saja persamaan dongeng si Katan dan Maling Kundang tentang seorang anak yang durhaka terhadap orangtuanya. Isinya sama, tujuan dan ajaran sama hanya selaputnya berlainan.
Begitulah jadinya “kepandaian bersama yang tidak hanya nyata pada isi, tetapi juga, pada
bahasa dan gaya bahasanya, yang sekali-kali tidak membayangkan curahan hati individu, tetapi golongan orang yang menurut suatu tradisi. Sastra lama terpencar dari masyarakat, hidup ditengah masyarakat dan adalah milik masyarakat. Kebiasaan mengikat jiwa masyarakat, akibatnya masyarakat menjadi statis, sukar melepaskan diri dari kebiasaan kuno dan kalau hendak mengadakan suatu perubuhan, mereka menoleh dahulu kepada adat-istiadat nenek-moyangnya, supaya jangan sampai mereka dibuang keluar golongannya.
Dengan demikian tidak mengherankan, jika bentuk puisi yang dipancarkan pada zaman itu bersifat statis pula, mempunyai bentuk yang ditetapkan lebih dahulu menurut aturan-aturan yang dilazimkan. Segala perasaan takluk kepada bingkaian kelaziman, kiasan yang sudah ditetapkan.
Setiap penciptanya tidak akan dapat melepaskan diri dari ikatan-ikatan lama ini, dalam mengeluarkan perasaannya. Begitulah masih kita dapati sekarang bentuk puisi lama, yang tidak begitu banyak lagi dipakai, yang akan dibicarakan menurut ikatannya, corak dan isinya.

1. Ikatan-ikatan Puisi di Masa Lama
Pengaruh asing beradab-adab merajalela di Nusantara dan teristimewa pengaruh India pada mulanya. Bangsa Hindu datang ke Indonesia ini kurang lebih pada abad ke-11 sesudah masehi. Pengaruh india dalam kebudayaan dan masyarakat besar sekali di Nusantara ini.
Bangunan, agama dan kesusastraan menunjukan pengaruh peradaban Hindu itu, teristimewa di pulau Jawa. Meskipun begitu tidak dapat dikatakan, bahwa bangsa Indonesia sebelum datangnya bangsa Hindu tidak berkesusastraan.
Dahulu kala sebelum terpengaruh sastra asing, bangsa Indonesia sudah mempunyai cerita dan dongeng yang mengenai dewa-dewa manusia dan binatang, lepas dari tiap-tiap pengaruh. Dam disamping itu boleh dikatakan, bahwa kesusastraan yang tertua yang berbentuk puisi juga sudah ada. Diantaranya puisi lama itu seperti dibawah ini:
a. Bidal-bidal
Yakni kalimat-kalimat singkat yang mengandung suatu pengertian atau membayangkan sindiran dan kiasan sebagai tangkisan bagi ahli sastra. Bidal-bidal ini mempunyai gerak lagu dan irama yang tertentu, meskipun sifat itu sangat meminta saja. Jelas jugalah bagi tiap-tiap pendengar, bahwa dengan adanya irama inilah bidal menjadi puisi yang tertua dalam kesusastraan Indonesia.
Ingat juga kepada anak-anak kecil di Sekolah Taman Kanak-kanak, pertama-tama mereka diajarkan bernyanyi (Puisi), sebab gerak lagu yang tertentu memudahkan anak-anak itu mengingat kata-katanya. Ikatan serupa itu diatas inilah yang banyak terdapat pada bangsa-bangsa yang bersahaja (Frimitip). Bidal inilah ikatan Indonesia yang terkuno.
1) Bidalah yang dikatakan puisi yang tertua dalam sastra tiap bangsa, yang biasanya menjadi cermin daripada keadaan masyarakat dimana bidal itu terjadi.
Kumpulan bidal yang sebanyak itu memang ada asal kejadiannya. Jadi dapat jugalah dia diadakan beberapa pembagian, misalnya:
Saya sengaja memberikan dua contoh bidal yaitu :
a) Bidal dikalangan guru
Kalau guru makan berdiri, maka murid makan berlari.
b) Bidal kalangan rumah-tangga
Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah.

b. Pantun
Dalam kesusatraan Indonesia lama terdapat sebuah ikatan yang bernama pantun. Arti pantun adalah misal, seumpama, ibarat dan tamsil. Adapun ikatan pantun pada masa dahulu sangat banyak dipakai, karena susunan dan isinya sangat baiknya. Pantun itu juga adalah kepandaian bersama yang tidak dapat diketahui siapa pengarangnya.
Ikatan pantun dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu:
1) Sampiran
2) Isi
Contoh :
Berakit-rakit ke hulu
Berenang-renang ketepian
Bersakit-sakit dahulu
Besenang-senang kemudian

c. Talibun
Pada pantun kita lihat bahwa bilangan baris ada empat. Kalau bilangan itu lebih dari empat, tetapi genap jumlahnya, maka pantun itu disebut talibun.
Contoh :
Kalau anak pergi kelempau
Yu beli belanakpun beli
Ikan panjang beli dahulu.
Kalau anak merantau
Ibu cari sanakpun cari
Induk semang cari dahulu

d. Gurindam
Gurindam ialah suatu ikatan yang timbul setelah ada pergaulan dengan orang-orang hindu. Ikatan bernama gurindam ini berasal dari tamil. Bilangan berisinya dua dan bersajak sempurna atau pun tidak sempurna. Keistimewaan gurindam tersimpul dalam isinya yakni berisi nasihat, bersifat mendidik, serta banyak berisikan masalah agama. Lagi pula kedua baris itu membentuk suatu kalimat majemuk dan biasanya diperhubungkan menurut sebab-akibat.
Contoh:
Kurang pikr, kurang siasat
Tentu dirimu kelak tersesat
e. Syair
Syair berasal dari bahasa Arab. Arti kata Arab syair, yang berarti penggubah atau pengikat sastra. Jadi syair terdapat dalam kesusastraan Indonesia setelah masuknya agama Islma. Syair terdiri dari empat baris dalam setiap barisannya. Dilihat dari jumlah barisnya syair hampir sama dengan pantun. Perbedaannya terletak pada persajakannya yaitu aa-aa.
Contoh :
Ya illahi khalikul bahri
Nasibku malang tidak pergi.
Ditinggalkan istri seorang diri
Bekal sengsara setiap hari.

2. Masa Periode Kesusastraan Lama
Pada masa periode ini terbagi menjadi beberapa bagian yaitu sebagai berikut:

a. Masa ABM (Abdullah bin Abdulkhadir Munsyi)
Abdullah lahir pada abad ke-18 (1797) dan meninggal pada tahun 1853 di jedah, ayah neneknya seorang arab, kawin dengan seorang perempuan india. Ia mengagumi orang yang berkulit putih, mengagumi kepandaian-kepandaian dan sifat-sifat mereka yang dianggapnya baik, selain menjadi juru bahasa mereka, dia juga menulis beberapa buku, buah karya Abdullah dianggap bercorak baru. Tokoh Abdullah menarik banyak perhatian peneliti. Karena pembaruan yang dibawanya, dia dianggap sebagai yang telah memelopori munculnya sastra baru yang tidak lagi bersifat istanasentris, yang tidak hanya lagi menulis cerita-cerita khayal yang tak berjejak pada dunia kenyataan.

b. Masa Balai Pustaka
1) Pada awala masa Balai Pustaka setelah lahirnya ABM pada mulanya tahun 1908 tanggal 14 september, dengan ketetapan gubernemen no.12, didirikan sebuah Badan Penerbit dengan nama “Taman Bacaan Rakyat”. Dibawah pimpinan G.A.J Hazeu. Pada tahun 1917 namanya diganti menjadi Balai Pustaka, sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan usahanya.

2) Syarat-syarat penerbitan Balai Pustaka
Karena Balai Pustaka dibawah aturan aparatur pemerintahan penjajah, maka tuntunlah harus tunduk pada ketentuan-ketentuan pemerintah. Ketentuan yang menjadi pegangan Balai Pustaka dalam menerbitkan sebuah buku (karangan) ialah :
a) Karangan tidak boleh menyinggung-nyinggung soal politik.
b) Karangan janganlah sampai menyinggung-nyinggung perasaan segolongan orang dalam masyarakat sehingga dengan demikian keamanan negeri terganggu.
c) Jangan pulalah hendaknya karangan-karangan itu sampai menyinggung perasaan seorang dari agama yang dianutnya.
Buku-buku atau karangan yang tidak memenuhi syarat-syarat diatas tentulah takan diterbitkan oleh balai pustaka.

Dibawah ini secara sederhana saya telah mencantumkan beberapa karya sastra dalam bentuk roman terbagi menjadi beberapa periode diantaranya:
(1) Pada periode 1920
Dalam roman Azab dan Sengsara diceritakan nasib buruk seorang gadis yang tidak berkesampaian menikah dengan lelaki yang dicintai.
(2) Pada periode 1922
Dalam roman Siti Nurbaya cerita ini merupakan kritik terhadap berbagai kehidupan kuno berkenaan dengan perkawinan.
(3) Pada periode 1936
Dalam roman di Bawah Lindungan Ka’bah ini menceritakan tentang kehidupan seorang anak bernama hamid yang telah ditinggalkan ayahnya dari kecil, hamid di rawat dan dibersarkan oleh seorang saudagar kaya bernama H.Ja’far sampai tamat diploma, setelah tamat diploma hamid melaksanakan rukun iman yang ke lima yaitu haji. Sayangnya dalam perjalanan disana hamid meninggal.

c. Masa Pujangga Baru
Pujangga baru munculnya hanyalah nama sebuah majalah bahasa dan sastra yang mulai diterbitkan pada bulan juli 1933. Nama majalah inilah yang kemudian dipakai untuk menamai segolongan pujangga muda mengambil inisiatif penerbitan majalah itu, serta pujangga-punjangga yang terus menerus memelihara tumbuhnya dengan sumbangan karangan-karangan mereka baik puisi maupun prosa. Adapun pelopor-pelopor pada masa pujangga baru yaitu Mr.St.Takdir Alisjahbana, Armijn Pane, dan Amir Hamzah. Merekalah penanda tangan manifest pujangga baru yang mengajak pujangga muda untuk bersatu memajukan bahasa, sastra dan kebudayaan Indonesia.

Kemajuan utama ialah kemajuan bahasa dan budaya Indonesia harus dapat maju dapat kita lihat apa sebenarnya tujuan dari masa pujangga baru, yaitu : “Membimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan baru, kebudayaan Indonesia”. Dasar yang dipakai ialah mencontoh sebanyak-banyaknya apa yang dapat dicontoh dari dunia luar terutanama dunia barat dengan tidak mengabaikan kebudayaan sendiri.

d. Masa Angkatan 1945
Munculnya Chairil Anwar dalam panggung sejarah sastra Indonesia memberikan suatu yang baru. Sajak-sajak Amir Hamzah yang betapapun masih mengingatkan kita kepada sastra Melayu, meskipun sajak-sajak Amir itu memang indah dan bernilai tinggi. Tidak dapat dibantah pula bahwa sajak-sajak Chairil Anwar bernilai, bahkan bernilai tinggi. Bahasa yang dipergunakannya ialah bahasa yang hidup, berjiwa. Bukan lagi bahasa baku, melainkan percakapan sehari-hari yang dibuatnya bernilai sastra. Karena ada itulah ada orang-orang yang berpendapat bahwa baru dengan sajak-sajak Chairil Anwarlah sebenarnya bahwa sastra Indonesia lahir.

Dengan munculnya kenyatan itu, maka banyaklah orang yang berpendapat bahwa suatu angkatan kesusastraan baru telah lahir. Pada mulanya angkatan ini disebut dengan berbagai nama, ada menyebutnya angkatan sesudah perang, ada yang menamakannya angkatan Chairil Anwar, angkatan kemerdekaan dan lain-lain. Baru pada tahun 1948, Rosihan Anwar menyebut angkatan ini dengan nama angkatan 45. Nama ini segera menjadi popular dan dipergunakan oleh semua pihak sebagai nama resmi.

3. Periode sastra saat ini secara global
Pada Era Globalisasi dan perkembangan zaman serta teknologi yang semakin merajai serta berkembang dengan pesat. Karya sastra tetap berekspresi dan narsis dalam dunia yang semakin berkembang ini, karena karya sastra menjadi suatu wadah seoarang penulis untuk menuangkan segala imajinasinya. Hal tersebut dituntut untuk menjadi seorang penulis yang baik harus menuangkan segala imajinasi yang tertuang pada dirinya baik pengalaman yang sudah dijalaninya maupun hanya sekedar imajinasi atau khayalan semata saja. Berdasarkan perubahan zaman hingga saat ini sastra masih tetap banyak dinikmati oleh berbagai kalangan khususnya pencinta sastra baik dalam bentuk prosa maupun puisi. Prosa terbagi menjadi dua yaitu prosa fiksi dan non fiksi, puisi juga terbagi menjadi dua yakni puisi lama dan puisi baru.
Terkadang saya berpikir mengapa sebagian atau banyak orang yang tidak peduli terhadap sastra baik itu puisi, cerpen dan sebagainya. Sastra adalah sebagian dari kebudayaan Indonesia yang harus kita kembangkan bukan terasingkan, miris dengan keadaan ini. Didunia yang sangat modern ini sering kita menemukan dan melihatnya sebuah karya sastra dalam bentuk novel yang akhirnya di buat film itu adalah bentuk karya sastra yang real dan bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. Sering kita jumpai dalam film-film yang diangkat dari sebuah novel seperti, ayat-ayat cinta, ketika cinta bertasbih, wanita berkalung sorban, cinta suci zahrana, 5 cm, perahu kertas, sang penari, habibi dan ainun. Itu adalah sebagian dari karya sastra yang akhirnya bisa kita nikmati. Jelas sastra mempunyai nilai dan daya tarik yang lebih bagi kebudayaan kita dan berpengaruh terhadap dunia perfilman Indonesia. Banyaknya perubahan dan aturan-aturan dalam kesusastraan dan meninggalkan sejarah panjang pada dunia kesusastraan hingga saat ini
Melihat uraian masalah dalam polemik saat ini, melihat sejarah perkembang zaman periode demi periode yang telah diuraikan diatas menurut saya telah terjadi perubahan karakter suatu bangsa bahwa kita mempunyai budaya leluhur dari nenek moyangpun masih ada hingga saat ini. Nilai budaya yang begitu luas terkadang orang menyepelekannya, sedangkan perkembangan karakter Indonesia harus betul-betul dirubah dari yang tadinya malas membaca seharusnya diperbanyak untuk membaca. Membaca sastra pada umumnya akan menghadirkan warna baru dalam kehidupan seseorang dan setiap individunya itu sendiri. Merubah pola pikir seseorang dengan kreatifitas dan kemampuannya serta minat baca yang tinggi akan menyelesaikan semua permasalahan yang kita hadapi. Pendidikan di Indonesia tidak akan tertinggal jauh kalau anak bangsa banyak membaca khususnya ilmu sastra yang secara tuntas memberikan wahana perubahan karakter yang lebih baik bukan hanya sastra saja yang harus dibaca tetapi semua bacaan wajib kita baca. Kenyataan saat ini banyak siswa maupun mahasiswa malas untuk membaca karena beberapa faktor. Maka dari itu mulai saat ini kita harus mengajak mereka untuk lebih giat lagi membaca.
Lantas apa yang menjadi pertanyaan kita untuk bangsa kita untuk menjadi bangsa yang memiliki karakter yang akhirnya akan merubah seseorang dari yang tidak gemar membaca akhirnya gemar membaca. Dibawah ini ada beberapa persoalan.
Bagaimana dengan Indonesia? Beberapa sekolah masih melaksanakan bacaan-bacaan wajib. Tetapi secara umum, siswa-siswa Indonesia hanya sekali, dua kali atau bahkan ada yang sama sekali belum pernah membaca karya sastra. Taufik ismail lebih menyukai istilah “bangsa yang rabun membaca dan pincang mengarang” untuk menggambarkan situasi pembelajaran sastra di Indonesia.
Secara lebih rinci, Taufik Ismail (2003) menyebutkan setidaknya 35 permasalahan dalam pembelajaran sastra di Indonesia. Permasalahan itu diantaranya adalah merosotnya minat masyarakat secara umum untuk membaca karya sastra. Memang ada beberapa fakta yang dapat membantah pernyataan ini. Terbukti novel-novel seperti lascar pelangi atau ayat-ayat cinta laris dipasaran.
Masalah-masalah lain masih banyak tetapi pokok permasalahan dari semua persoalan itu terletak pada merosotnya wajib baca buku sastra, bimbingan mengaranga dan pengajaran sastra di sekolah dan kampus harus lebih ditingkatkan supaya bisa mencapai suatu karakter seseorang yaitu generasi penerus bangsa yang unggu dan berkarakter hebat.

Simpulan
Pengertian membaca sastra digolongkan kedalam membaca estetis yaitu membaca yang berhubungan dengan seni atau keindahan. Dalam membaca sastra, pembaca dituntut untuk mengaktifkan daya imajinasinya dan kreativitasnya agar dapat memahami dan menghayati isi bacaan. Setelah membaca karya sastra pembaca akan memperoleh pengetahuan dan pengalaman melalui karya sastra yang dibacanya. Disinilah letak kelebihan pembaca karya sastra dibandingkan karya-karya lain.
Sejarah sastra berdasarkan perkembangan zaman terhadap karakter bangsa terbagi menjadi beberapa perubahan diantaranya latar belakang kesusastraan lama, ikatan-ikatan puisi lama, dan periode kesusastraan lama berdasarkan perkembangan karakter bangsa dengan perubahannya.

Perubahan karakter suatu bangsa dapat dikembangkan melalui kegiatan membaca buku sastra dan buku yang lainnya yang akan menambah ilmu wawasan yang lebih luas lagi serta dapat menumbuhkan karakter individu yang lebih baik lagi demi bangsa Indonesia tercinta ini.

Rekomendasi
Semoga makalah yang saya buat dapat memberikan manfaat yang baik untuk semua kalangan dan semestinya dari mulai saat ini bangsa ini kita rubah dengan perbanyak membaca karya sastra dan buku lainnya yang akan menambah wawasan serta ilmu pengetahuan demi menghadirkan karakter suatu bangsa itu sendiri.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *