mengenang ayah

Mengenang Ayah

Fiksi, Cerpen, Editor Picks

“Ibu menyayangimu, nak” Perempuan itu merancau lagi. Hampir dua bulan dia selalu murung. Tapi hari ini ia merasa sangat bahagia. Sedari semalam ia selalu mengulangi kata-kata yang sama dan cerita dengan alur yang sama. Hampir-hampir ia tak pernah pergi dari tempat duduknya sepanjang hari. Yang ia kerjakan hanya bercerita. Rumahnya juga sudah sangat bau. Campuran bau bawang, tai kucing dan darah menyatu menjadi bau yang tak bisa ditahan. Tapi perempuan itu tahan. Ia tahan selama berhari-hari disana.

“Ayahmu adalah orang yang tinggi tegap, kulitnya putih dan berbulu. Kau pasti sangat mirip dengannya. Ya, dapat ku pastikan kau sangat mirip, Nak.” Ia terus bercerita dengan menghadap segala arah. Seolah-olah rumah kecil itu bisa berubah warna dan tempat.

“Dulu, ibu sering sekali di datangi ayahmu kemari. Kami terus saja membicarakanmu. Kami berdebat kau akan mirip siapa. Ibu selalu mengalah karena ibu sangat mencintainya. Ibu biarkan saja dia membayangkan kamu sangat mirip dengannya” tawanya lepas, terdengar ringan dan renyah.

“ibu bertemu dengannya saat ibu di kampus dulu. Duh, saat itu ayahmu sangat menawan. Ia datang dengan gaya laki-laki modern saat itu. Ibumu yang cantik ini tentulah juga kepincut dengannya. Siapa yang tahan dengannya. Badan tegapnya membuat ibu merasa berjalan dengan polisi. Aman dan terlindungi” ada hening yang masuk disela cerita, diam yang tanpa arti. Tak ada yang bisa membaca pikiran dan arti garis wajah wanita itu.

“Dia datang dengan sangat pelan. Maksud ibu, dia datang bukan bermaksud mendatangi ibu. Dia datang sebagai teman yang baik. Yang dengannya ibu dapat menumpahkan segala perasaan ibu. Ayahmu juga demikian. Ia sering bercerita tentang bagaimana ia mencintai gadis-gadisnya. Bayangkan, Nak. Ayahmu sangat penyanang. Siapa kira dibalik tegap dan sigap badannya, ia mampu mencintai dengan sangat sempurna. Meski waktu itu yang ia cintai bukan ibu, tapi dari cerita-ceritanya, ibu tahu ia sangat penyayang. Oh, ayahmu, Nak” Ia tersenyum dan melihat sekeiling. Tembok yang terkelupas, pecahan piring dan gelas karena kucing dan anjing bebas berlarian, serta kaca yang mengembun dan menyublim sangat sering, hingga diatasnya tumbuh semacam jamur yang berbentuk noda tak beraturan. Perempuan itu melihat semuanya. Satu persatu dan tersenyum.

“Kami berteman sangat lama. Sampai kami lupa bahwa kami tengah berteman. Sebenarnya dulu ibu mempunyai pacar. Dia baik dan sangat tampan. Kau boleh menyebutnya paman, Nak. Pamanmu sangat menyayngi ibu. Dia tak akan pernah membuat ibu menangis. Ia tak tega melihat air mata ibu jatuh setitikpun.  Dia juga sangat taat beragama. Dengannya ibu selalu di ingatkan untuk sembahyang dan berdoa. Saat makan ia akan memimpin doa dan ia akan memastikan makanan itu baik untuk ibu. Karenanya, ia selalu menyuap pertama kali. Saat ia yakin makanan itu baik, Ia akan memerintahkan ibu untuk memakannya. Dulu ibu pikir dialah yang akan menikahi ibu. Tapi kau ada disini sekarang, jadi ibu tidak menyesal meninggakannya”

“Pamanmu orang baik. Ibu sering menangis sendiri saat ibu meninggalkannya sendiri di ruangan itu. Saat itu, ibu telah tahu kau ada. Sebagai perempuan, ibu tidak akan tenang jika menikahi orang terlalu baik seperti dia. Sebagai perempuan, kadang ibu juga butuh hidup yang tidak tertebak. Dengannya hidup ibu terlalu teratur, Nak. Ibu tak suka. Dia terlalu menganggapku lemah. Padahal ibu tidak merasa lemah dan sangat merasa kuat. Jadi ibu memilih meninggalkannya.

Ia tak pernah membiarkan ibu melakukan pekerjaan ibu. Katanya laki-laki lebih kuat dan bertanggung jawab memelihara kelembutan tangan perempuan. Ibu tak di izinkannya bekerja untuk kesenangan ibu. Padahal ibu sangat senang berpikir dan bekerja. Jika pamanmu jadi menikahi ibu, pastilah sekarang ibu sudah menjadi perempuan yang sangat cantik dan lembut kulitnya. Ia tak akan membiarkan ibu terpapar sinar matahari walau sedetikpun. Ia akan bekerja keras untuk melindungi ibu. Pamanmu baik, Nak. tapi ibu meninggalkannya.

Kau harus tetap menyebutnya paman. Bagaimanapun, ia juga turut andil dalam kehidupanmu. Maksud ibu, dia sudah sangat lama menemani ibu. Selama tiga tiga tahun ia setia dan melabuhkan hatinya hanya untuk ibu. Tidak ada yang lain di hati dan pikirannya. Semuanya untuk ibu. Karena dia baik, maka kau harus tetap memanggilnya paman. Mungkin suatu hari ia akan kerumah kita. Dan tentu saja kau harus bersikap hormat padanya. Ibu akan menhargai itu.”

Perempuan itu tiba-tiba diam. Ia terlihat mengamati sekelilingnya. Beberapa saat kemudian suara gaduh terdengar di salah satu sisi rumah. Sang perempuan menjerit-jerit. Ia tidak terlihat takut. Tapi mungkin ia hanya ingin menjerit, dan suara gaduh itu adalah perantaranya untuk menjerit. “Siapa itu bangsat? Jangan dekati saya lagi. Bangsat kau..” suara gaduh itu hilang. Perempuan yang tadi berteriak-teriak juga diam. Ia kembali merancau.

“tenang, jangan takut. Ibu disini. Siapapun tak berhak menyakitimu. Siapapun tak akan bisa melukaimu. Siapa saja yang akan melukaimu akan kubunuh. Akan kubunuh mereka semua”

Perempuan tadi berdiri. Setelah berjam-jam hanya duduk dan merancau. Ia bangun juga. Ia menenangkan sesuatu yang ada di tangannya. Sambil sesekali menciuminya. Genggamannya penuh darah entah dari mana. Ia mengoyang-goyangkan diri. Ia meninabobokan apa yang tengah ia peluk. Pelan sekali. Perempuan itu sangat bahagia. Sunggingan senyum dari bibir kotornya adalah bukti bahwa ia tengah menyayangi sesutatu. Atau seseoraang.

“Ssssst, kau sudah aman dipelukanku. Tidak ada yang akan menyakitimu” setelah merasa cukup, ia duduk kembali ke posisi semula. Menggeletakan apa yang ia baru saja pegang. Kemudian tidur disampingnya dan menggerai-geraikan rambutnya keatas seolah-olah rambutnya bisa terbang. “lihat, rambut ini sangat disenangi ayahmu. Ia sangat senang mencium rambut ibu. Katanya rambutku selalu harum. Ia menyukainya.” Diciuminya rambutnya sendiri seperti menciumi kenangan manis di suatu masa.

Hening itu datang lagi. Kepalanya tiba-tiba kosong tak berisi apapun. Yang ia ingat hanya masa ketika laki-laki tegap dan putih itu menciuminya di segala tempat. Bahkan ia pernah mencuri-curi waktu menciumi bibirnya di saat sedang kuliah dengan dosen yang sangat pemarah. Betapa perempuan itu sangat menikmatinya. Rasanya, memiliki rambut yang disenangi laki-lakinya adalah hal terindah yang ia bisa rasakan.

Ia menatap langit-langit rumah sederhana itu. Rasanya, baru kemarin ia tertawa-tawa dengan kekasihnya di bawah langit-langit itu. Mereka bercumbu-cumbu sampai petang. Setelah petang mereka tak bercumbu-cumbu lagi. Mereka menutup pintu kamar dan tak keluar lagi sampai esok pagi. Apa yang dipikirkan perempuan itu tidak perah diketahui orang-orang. Dia hanya tinggal dengan bayangannya sendiri.

“Tapi ayahmu tak senang kau ada disini” perempuan itu diam lagi. Tak lama setelah  itu, suara gaduh itu datang lagi. Perempuan yang sedari tadi terlhat tenang mulai terihat gelisah. Suara gaduh itu makin riuh. Ia sangat ketakutan. Bukan takut dicelakai jiwanya, namun takut apa yang ia paling sayangi disakiti.

Perempuan itu mundur dari tempat duduknya. Ia mencari-cari tembok di belakannya sambil memeluk bungkusan putih. Ia terus berjalan sambil duduk. Tangan kirinya memeluk erat bungkusan putih, sedang tangan kanannya mencari-cari tembok di belakanngnya. Perempuan itu tak jua menemukan sandaran. Sementara suara Gaduh makin riuh saja terdengar.

Ia panik. Ia ingin menangis. Tapi ibu tak boleh menangis. Ibunya juga tak pernah menangis. Jadi ia rasa, seorang ibu tak boleh menangis. dadanya ingin meledak. Ia tak tahu lagi ketakutan apa yang paling menakutkan dari suara gaduh itu. Kata ibunya dulu, kalau ia takut pada sesuatu, ia harus menghadapinya. Manusia adalah makhluk paling kuat dan tak terkalahkan.

Perempuan itu setuju jika ketakutan harus dihadapi. Tapi ia tak pernah setuju mengatakan manusia adalah makluk paling kuat. Ia merasa manusia adalah makhluk paling pasrah. Manusia menggantungkan diri pada takdir tanpa tahu esok ia akan menjadi apa. Manusia hanya hidup sehari. Ia tak pernah tahu esok hari ia akan menjadi apa. Sedangkan ayam sudah pasti jadi kentucky atau opor. Kangkung pun demikian, ia sudah terbiasa melihat kawannya direbus dan menjadi sayur wajib di warteg. Sedang manusia. Terlalu banyak kemungkinan yang akan terjadi padanya.

Ada yang mati disungai terseret arus. Ada yang sukses sampai bisa membeli apapun. Ada yang miskin sampai harus memungut sisa makanan dari tong sampah. Ada yang suka makan apel. Ada yang berselingkuh dengan pacar orang. Ada yang sukses dari jeri payah orang tua. Ada juga yang berdiri di kaki sendiri walau harus berdarah-darah menanggung beban hidup. Kehidupan manusia serba tidak pasti. Ketidakpastian adalah satu-satunya ketakutan yang tak bisa dikalahkan. Sama ketika perempuan itu mendengar suara gaduh. Suara gaduh itu adalah ketidakpastian yang kejam.

Ia tak tahu apa yang diinginkan suara gaduh darinya. Ia tak tahu apakah suara gaduh di depan sana membawa petaka atau keberuntungan. Ketidakpasian memang adalah satu-satunya kemelaratan yang diturunkan untuk manusia. “Pergi kau bangsat” perempuan itu mulai berteriak. “jangan dekati rumah ini lagi. Bangsat kau. Pergi. Jangan kemari lagi. Jauhi rumah ini. Dirumah ini tidak pernah ada apa-apa” Ia mengatakannya dengan menjerit-jerit ketakutan. Air matanya meleleh di pipi kotor tempat darah kering menempel itu.

Suara itu makin dekat. Sementara perempuan yang tadi berteriak makin menjadi-jadi. “tolong jangan mendekat. Jangan mendekat tolong” suara lantangnya perlahan-lahan mengecil dan parau. Ia sudah sangat ketakutan dan putus asa. Manusia memang dilengkapi dengan alat sensor yang canggih. Ketika kau ketakutan, sensor berbunyi di dalam dadamu. Dadamu akan bergetar hebat yang kemudian tiba-tiba mencekik lehermu. Kemudian suara akan tiba-tiba hilang dan sensor terakhir yang akan tersisa adalah otak. Jika kau percaya bahwa ketakutan itu bisa kau lewati, maka otak tak akan berhenti. Jika tidak, kau akan terkulai lemas. dan tak sadarkan diri.

“Jangan dekat-dekat. Pergi menjauh. Pergi!” wanita itu meronta lagi. Suara yang sedari tadi menganggunya kini ada di depan mata.

“Jangan sakiti saya. jangan sakiti saya. jangan sakiti saya” kata-kata itu tetap dirapalkan. Suara yang sedari tadi ditakutinya makin dekat. “Ambil apa saja yang kau mau. Tapi jangan sakiti saya” Perempuan itu menyodorkan satu-satunya benda yang ada di tangannya.

“Jangan sakiti saya. ambil saja. Ambil saja!” katanya semakin panik. Suara itu sangat dekat dari tangan perempuan itu. Sampai ia tak tahu lagi harus berbuat apa. “Ya. Kau ambil saja. Tapi jangan dekati saya lagi. Saya takut” suara itu kini di depan mata. Wanita itu dengan cepat melemparkan sesuatu dari tangannya ke sembarang arah. Ia tahu bahwa suara itu tak menginginkanya, suara itu hanya menginginkan apa yang sedari tadi di bawanya.

Suara itu menjauh. Perempuan tadi sedkit tenang. Ia tak lagi di dekati suara yang ia takuti. Ia melihat asal suara-suara itu menjauh dan mendekati sesuatu yang dilemparnya tadi. Ia lega. Ia tenang karena ketakutan tak lagi menyelimutinya.

Ada bau darah yang kemudian mengalir dari titik suara berasal. Ada wangi kematian dan kesedihan yang di bawa oleh suara-suara yang kemudian menjauh. Perempuan itu terdiam. Matanya kembali basah lalu kemudian pipi dan seluruh wajahnya juga basah. Ia melihat suara itu kini berbentuk nyata. Ia menyeret gumpalan berbentuk darah di mulut yang ditumbuhi gigi graham yang kuat. Pipi perempuan itu kembali dialiri air. Hanya basah. Tanpa raungan, teriakan atau suara apapun. Ia hanya ingin menangis. basah dan diam.

“Anak ku di makan anjiiiing.. Anakku dimakaaan anjiiingg”

Lembar 2015


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *