Meningkatkan kemampuan menulis cerpen dengan model pembelajaran Menulis Tujuh Menit Tanpa Mengangkat pensil (MT-MT-MP)

Artikel, Belajar Menulis, Kepenulisan, Non Fiksi

Meningkatkan kemampuan menulis cerpen dengan model pembelajaran Menulis Tujuh Menit Tanpa Mengangkat pensil (MT-MT-MP)

Menulis cerpen sering dianggap sebagai suatu kegiatan yang sulit dan kurang menyenangkan, terutama bagi siswa yang memang kurang menyukai bidang sastra. Selain itu rendahnya minat dan pengetahuan tentang kosakata membuat siswa semakin enggan berlatih menulis cerpen. Apalagi jika guru hanya menugaskan siswa untuk menganalisis cerpen, seperti menentukan unsur-unsurnya (instrinsik dan ekstrinsik). Tugas-tugas semacam itu cenderung membosankan dan monoton, hal yang perlu dilakukan guru adalah menantang kemampuan dan keterampilan siswa dalam menciptakan sebuah karya.
Untuk menciptakan sebuah karya sastra, dalam hal ini difokuskan pada cerpen tentu tidak mudah. Siswa perlu diberi latihan-latihan yang merangsang daya pikir dan kreativitas mereka untuk menuangkan perasaan dan ide ke dalam bahasa tulis. Oleh karena itu model latihan sederhana dan menyenangkan yang dapat diterapkan guru di kelas adalah model pembelajaran Menulis Tujuh Menit Tanpa Mengangkat Pensil.
Model MT-MT-MP ini dapat pula disebut teknik kata mengalir. Teknik ini dikatakan teknik kata mengalir karena dalam prosesnya kata yang diproduksi mengalir sampai membentuk sebuah kalimat. Tujuan yang ingin dicapai dari teknik kata mengalir adalah cara pembelajaran yang menarik, menyenangkan, dan menantang dapat tercapai.Teknik ini menekankan pada adanya batas waktu dalam penulisan cerpen, sehingga siswa dibebaskan untuk menuliskan apa saja yang ada di pikiran mereka.
MT-MT-MP termasuk salah satu model latihan penulisan cerpen yang unik. Pada awalnya mungkin akan menegangkan bagi para siswa, tapi untuk seterusnya akan menyenangkan. Siswa bebas menuangkan kata-kata yang ada dalam pikiran mereka tanpa harus mengkhawatirkan apakah cerpen mereka benar atau salah, masuk akal atau tidak, indah atau biasa saja. Mereka hanya harus menulis selama Tujuh menit.
Model ini bertujuan utama untuk melatih kebebasan berekspresi siswa dan untuk mengukur sejauh mana penguasaan kosakata mereka. Dengan model ini diharapkan untuk selanjutnya siswa mampu menuangkan pikiran mereka dengan bebas, tentunya dengan pilihan kata/diksi yang lebih sesuai dengan gaya bahasa cerpen.
Model pembelajaran MT-MT-MP ini menekankan pada aspek kebebasan dan kreativitas siswa dalam menuangkan pikiran mereka ke dalam bahasa tulis. Model ini tidak memaksa siswa untuk menentukan objek, tema, dan unsur-unsur pembentuk cerpen pada umumnya. Guru hanya melatih siswa untuk bebas berekspresi dan menuliskan pikiran mereka dalam waktu yang singkat. Berikut ini adalah langkah-langkah penerapan model MT-MT-MP di kelas:
1. Guru menjelaskan tujuan dan tatacara model pembelajaran MT-MT-MP.
2. Guru menyiapkan kondisi kelas yang tenang dan nyaman.
3. Guru memotivasi dan merangsang siswa agar bersemangat melakukan tugas mereka.
4. Siswa bertanya jika ada hal yang kurang dipahami mengenai tatacara MT-MT-MP.
5. Siswa diminta menyiapkan selembar kertas dan pulpen di atas meja.
6. Siswa mulai menulis ketika guru memberi tanda.
7. Guru menghitung waktu (Tujuh menit).
8. Siswa melepas pulpen setelah Tujuh menit dan tidak boleh menulis lagi.
9. Siswa membacakan hasil tulisan mereka di depan kelas secara bergantian.
10. Guru menyimpulkan hasil pembelajaran hari itu dan memberi penilaian.
11. Guru menyampaikan apresiasi terhadap kerja keras dan kreativitas siswa.
12. Guru menyampaikan informasi tentang persiapan pembelajaran selanjutanya.
13. Penutup.
Demikian teknik pembelajaran menulis cerpen dengan menggunakan MT-MT-MP. Teknik yang sangat sederhana dalam pembelajaran menulis cerpen yang unik dan menyenangkan. Dengan model pembelajaran ini, diharapkan siswa tudak memandang pelajaran sastra khususnya menulis cerpen sebagai pelajaran yang sulit dan membosankan.
Teknik ini bukanlah hal akhir yang akan menentukan kemampuan siswa dalam menulis cerpen, tetapi setidaknya pelatihan sederhana ini dapat memotivasi dan merangsang siswa untuk bebas menuangkan pikiran mereka dalam bahasa tulis. Diharapkan setelah melaksanakan latihan berkali-kali, siswa akan lebih mudah dalam merangkai kata-kata berdasarkan pengalaman maupun pemahaman mereka dan mengembangkan kemampuan mereka secara maksimal dalam kaitannya dengan penulisan cerpen.

Contoh cerpen yang ditulis dengan model MT-MT-MP:

Aku duduk baik-baik sebagai orang baik-baik memikirkan apa yang baik ditulis tapi belum ketemu apa yang baik ditulis tapi aku terus saja menulis tanpa berhenti kalau berhenti nanti tulisan ini berlubang bolong begitu dan bagaimana nanti menutup kebolongan itu tiba-tiba aku teringat ada sapi melompat ke bulan lalu terjatuh di atas pabrik kasur per yang menjual impian itu lho lalu di bulan Ramadhan terjadi gerhana matahari gerhana bulan gerhana bintang tiga sekaligus three in one begitu lalu banjir Nabi Nuh berulang lagi satu juta kecoak berenang bersama satu juta tikus got bersama satu juta biawak semua masuk satu juta layar televisi hitam putih dan masuk satu juta halaman koran akhirnya ya begini ini capek!

Tahap-tahap Pembelajaran (RPP dan Silabus)

Teknik ini sangat bagus untuk menguras isi pikiran siswa, bahkan jika bisa apa yang ada di dasar pikiran siswa dapat terungkapkan dalam puisi yang mereka tulis. Tahapan dalam MT-MT-MP secara umum dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:
1. Tahap Persiapan
 Guru menjelaskan kepada siswa pengertian dan tujuan model pembelajaran MT-MT-MP
 Guru memotivasi dan merangsang siswa untuk menuangkan pikiran mereka dengan bebas tanpa hambatan.
 Guru menjelaskan tata cara pelaksanaan model pembelajaran MT-MT-MP

2. Tahap Pelaksanaan
 Guru meminta siswa untuk menyiapkan kertas dan pulpen di atas meja.
 Guru mengarahkan siswa agar fokus dan berkonsentrasi.
 Siswa diminta mulai menuliskan pikiran mereka secara bebas.
 Guru menghitung waktu (kegiatan berlangsung selama tiga menit).
 Setelah selesai, guru meminta siswa untuk membacakan hasilnya di depan kelas secara bergantian.

3. Tahap Penilaian dan Persiapan pembelajaran selanjutnya.
 Setelah siswa membacakan hasil tulisan mereka, guru dapat menilai kemampuan siswa. Hal-hal yang dinilai adalah kosakata yang dikuasai siswa dan pilihan kata yang digunakan. Selain itu dengan pelatihan ini, guru dapat mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam merangkai kata-kata menjadi kalimat yang berhubungan dalam waktu yang singkat.
 Untuk kegiatan selanjutnya siswa diminta untuk mulai menulis dengan menghubungkan kata-kata yang satu dengan yang lainnya agar tercipta puisi yang harmonis.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *