prisoners movie 1

Menjelajah Labirin yang Tak Berakhir

Editor Picks, Film, Resensi

Muh. Ardian Kurniawan
Peneliti LITERASI dan Bergiat di Komunitas Ujung Pena, Ampenan

 

 

Perayaan hari Thanksgiving yang dilakukan keluarga Dover dan Birch tidak bertahan lama. Suasana bahagia yang semestinya dirasakan oleh kedua keluarga itu lenyap manakala masing-masing anak dari dua keluarga ini tiba-tiba hilang di tengah suasana hangat antarkeluarga itu. Anna Dover (Erin Gerasimovich) berusia enam tahun dan Joy (Kyla Drew Simmons) berusia tujuh tahun yang keluar rumah untuk mencari peluit Anna yang hilang tidak kembali sampai jauh hari.

Sontak, kedua keluarga ini menjadi panik. Polisi dihubungi. Satuan pencari dikerahkan. Tiga hari berlalu tanpa kepastian. Anna dan Joy tidak memperlihatkan tanda-tanda akan pulang.

Detektif Loki (Jake Gyllenhaal) yang ditugaskan menangani kasus ini terus mengupayakan, berusaha mencari petunjuk sekecil mungkin. Ia mulai dengan menangkap dan menahan seorang pemuda bernama Alex Jones (Paul Dano), pengendara mobil RV yang diduga sebagai pencuri kedua anak itu. Usaha itu tidak menunjukkan tanda-tanda kemajuan. Setelah sepuluh jam menjalani interogasi, Loki harus puas bahwa pemuda itu tidak bersalah. Tak ada bukti yang menjelaskan keterkaitan Alex dengan kasus kehilangan tersebut. Alex pun dibebaskan dengan catatan bahwa IQ pemuda itu sama seperti anak usia sepuluh tahun.

Detektif Loki tidak berhenti hanya di situ. Namun, beberapa temuan selanjutnya tetap tidak mengarahkannya pada pencarian pelaku yang sebenarnya. Setelah Alex, ia menangkap seorang pastur pemabuk karena diketahui menyimpan seseorang mayat tak dikenal dalam kondisi terikat di ruang bawah tanah miliknya. Suatu ketika, Loki hampir saja berhasil memecahkan kasus ini. Seorang pemuda misterius penggambar labirin yang ia duga sebagai pelaku berhasil ia tangkap. Di rumah pemuda itu, dijumpai beberapa potong pakaian yang diduga sebagai milik Anna dan Joy. Sayangnya, lagi-lagi, ketika diinterogasi, si pemuda tidak banyak membantu. Justru, di tengah rasa depresi dan frustrasinya, sang pemuda berbuat nekat mengakhiri hidupnya.

Di tempat berbeda, Keller Dover (Hugh Jackman) yang pantang menyerah, terus mencari tahu keberadaan anaknya. Pencariannya lantaran dirongrong rasa sayangnya kepada sang istri, Grace Dover (Maria Bello) yang berubah murung pascakehilangan Anna. Satu pernyataan Alex yang keluar secara spontan menjadi pangkal pijakannya mendalami pencarian. Alex ia sekap di sebuah rumah kosong, tanpa sepengetahuan Detektif Loki. Di sana, ia menganiaya sang pemuda sebagai teknik interogasi. Mulai dari pukulan tangan sampai ke penyekapan dalam ruang tertutup yang bisa mengeluarkan air panas. Franklin Birch (Terrence Howard) pun dilibatkan, menyusul kemudian istri Franklin, Nancy Birch (Viola Birch).

Usaha Keller hanya menemukan jalan buntu karena Alex tak banyak bicara. Bahkan, dalam satu kesempatan, Alex hampir kabur dan melukai Keller. Sampai suatu waktu, ketika Keller sudah menyerah dan Alex sudah lemah, terucaplah beberapa patah kata lagi dari Alex yang membawa Keller pada titik terang kasus ini. Loki sendiri bangkit usai pemuda misterius penggambar labirin bunuh diri. Ia datangi beberapa lokasi yang ada kaitannya dengan pemuda misterius. Dari sinilah misteri terkuak.

Pada akhirnya, kisah ini harus berakhir dengan sebuah misteri baru. Keller Dover yang keras kepala justru tak diketahui rimbanya lagi, sementara Anna dan Joy berhasil ditemukan.

Labirin Prisoners

Sebagai film bergenre detektif yang investigatif, Prisoners mampu hadir sebagai sebuah tanda tanya sampai ujung. Seperti namanya, film ini akan menawan penonton untuk tidak beranjak dari tempat duduk mereka. Prisoners menjaga pikiran penonton untuk dirangsang berpikir keluar dari labirin praduga-praduga yang sudah ditelusuri sebelumnya. Semua itu akan bermuara pada satu pencarian, siapakah pelaku sebenarnya dari kesemua tokoh yang ada.

Sebab, kekuatan film ini terletak pada jalinan misteri yang dibuat seolah-olah tidak berkaitan satu sama lain. Sejumlah fragmen dibangun oleh penulis skenario, Aaron Guzikowski, untuk hadir sebagai dirinya sendiri dan menceritakan peristiwa yang mengalienasi fragmen lainnya. Bagaimana para tokoh dihadirkan, tidak memberikan solusi dari pertanyaan sebelumnya. Sehingga, kehadiran tokoh-tokoh ini—berbeda dari film detektif kebanyakan—tidak membantu penonton merangkai peristiwa-peristiwa yang ada. Penonton diombang-ambingkan dalam ketidakpastian itu. Sampai mendekati akhir, barulah identitas yang tersamarkan itu terbongkar.

Sorotan lainnya patut diberikan kepada penjelajahan watak para tokoh. Tokoh-tokoh yang ada adalah mereka yang tertawan oleh visi yang mereka ciptakan sendiri. Keluarga korban yang tertawan oleh harapan-harapan yang sedikit demi sedikit berubah menjadi frustrasi yang mengarah pada keputusasaan. Polisi tertawan oleh pandangan tentang prosedur dasar investigasi. Dan tokoh-tokoh lain yang menciptakan sendiri ruang psikologis yang tidak gampang dimengerti. Maka, wajar saja jika kemudian pemeran tokoh-tokoh ini pun masuk dalam nominasi Academy Awards dan Golden Globe Awards.

Apresiasi patut diberikan kepada sutradara Dennis Vileneuve yang mampu mengemas film ini dengan sangat apik sehingga tidak terjatuh ke dalam skema biasa pada film bergenre sejenis. Bahkan, secara kemasan, film ini lebih berhasil daripada garapan Clint Eastwood di film Changeling (2008). Meskipun sama-sama mengisahkan tentang pencurian anak, namun konflik yang dibangun Vileneuve dalam Prisoners lebih realistis dibandingkan yang terdapat dalam Changeling.

Namun, tetap saja, di beberapa hal, film ini masih memiliki kekurangan. Beberapa tokoh yang sebenarnya bisa memperkuat cerita ini tidak mendapat menit bermain lebih. Ini membuat mereka seperti tokoh tanggung. Padahal, durasi film ini terbilang panjang, sekitar 150 menit. Selain itu, musik sebagai instrumen tambahan pun tidak dimaksimalkan sebagai penambah intensivitas ketegangan. Di beberapa adegan yang mestinya dapat disisipi musik sebagai elemen penguat suasana dibiarkan kosong.

Mau tidak mau, harus diakui bahwa orang yang mau berusaha lebihlah yang akan mendapatkan hasil yang lebih baik. Keller, di tengah frustrasi dan emosi yang meledak-ledak, tetap mencoba menggali setiap informasi dari Alex yang ia anggap sebagai tokoh kunci yang akan membawa dia kepada Anna, anaknya. Detektif Loki pun demikian, keluar dari langkah prosedural dan terus mencari tanda-tanda untuk menuntunnya pada akhir kasus. Mereka yang menyerah pada keputusasaan hanya akan menikmati kesenangan dan kesedihan, tanpa mengerti arti dari kehilangan. Oleh karena itu, mereka pun tidak akan paham dengan harga dari sebuah usaha dan kerja keras.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *