Foto0934 1

Misteri Kokoh Pengempel

Kepenulisan, Non Fiksi, Opini

Foto0934

 

            Sakra adalah nama sebuah desa sekaligus menjadi kota kecamatan Sakra yang berada di daerah Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat. Masyarakat Sakra cukup dikenal baik dari bahasa dan dialek bicara yang digunakan, sama halnya dengan tempat-tempat lain Sakra juga mempunyai berbagai kebudayaan yang bernilai seni budaya seperti Cilokaq, Rudat, Gendang Beleq, dan lain-lain. Di samping itu ada beberapa tempat di Sakra yang dianggap bertuah (maliq) dan misteri, salah satunya adalah “Kokoh Pengempel”.

            Dalam bahasa Sakra “kokoh” berarti sungai atau kali, sedangkan “pengempel” berarti bangunan yang membendung aliran air sungai yang dibuat dari bahan baku semen dan batu pasir. Pengempel yang ada di Sakra yang membendung sungai itu dibangun oleh pemerintah zaman penjajahan Belanda.

            Kokoh Pengempel itu digunakan masyarakat sebagai irigasi tempat mencuci, mandi, dan tak jarang juga pasirnya diambil untuk dijual oleh masyarakat setempat sebagai bahan baku bangunan. Ada tempat-tempat di Kokoh Pengempel itu yang dianggap bertuah (maliq) oleh masyarakat seperti; Lingkoq Pengempel, dan Lingkoq Dewe Pakoq. Untuk kedua tempat itu kita akan membongkar suatu misteri yang terkandung di dalamnya.

            Lingkoq Pengempel, lingkoq berarti sebuah sumur yang berukuran sangat kecil, dinamakan Lingkoq Pengempel karena lingkoq itu letaknya tepat di bagian pinggir bawah tebing dinding pengempel sungai itu. Airnya sangat jernih dan dapat diminum, konon kata orang-orang setempat Lingkoq Pengempel dijaga oleh seekor ular yang sangat besar. Airnya dari mata air setempat. Konon juga di sebuah kampung di desa Sakra yang bernama kampung Sawo, di sana ada seseorang sesepuh masyarakat yang berilmu tinggi memelihara makhluk halus sebangsa jin (samar) yang pada zaman dahulu kala ada yang mau mengganggu keamanan di Sakra akan dijaga oleh jin (samar). Nah, untuk air minum jin (samar) itu hanya mau diambilkan dari lingkoq pengempel, dan harus diambilkan oleh seseorang perempuan yang bersih (tidak sedang datang bulan atau haid). Karena dianggap bertuah (maliq) di tempat sekitar lingkoq pengempel itu kadang-kadang ada orang-orang tertentu yang bersemedi (bertapa) dengan membakar kemenyan untuk sesuatu hal yang diinginkan. Adapun waktu bertapa itu ketika tengah malam yang sungai sepi dan tidak boleh dilihat orang.

            Di sekitar tempat itu juga ada mata air yang dinamakan Pancoran yaitu air yang memancar dari mata air dan tidak pernah kering walaupun kemarau panjang, di mana sumur-sumur masyarakat kering tetapi air pancoran itu tidak pernah kering sehingga masyarakat banyak yang menggunakan air pancoran itu tempat mandi dan mencuci.

            Sekitar seratus meter dari tempat Lingkoq Pengempel itu terdapat Lingkoq Dewe Pakoq yang juga dianggap bertuah (maliq). Dewe adalah sebangsa makhluk halus yang mendiami suatu tempat atau benda-benda tertentu, sedangkan Pakoq artinya tidak bisa bicara (bisu). Konon Lingkoq Dewe Pakoq itu didiami oleh makhluk halus (jin) yang bisu. Ukuran Lingkoq Dewe Pakoq ini lebih kecil dari Lingkoq Pengempel, garis tengah atasnya sekitar 50 cm, kedalamannya sekitar 75 cm. Keanehan lingkoq dewe pakoq ini, walau air sungai pengempel banjir melimpah, lingkoq dewe pakoq terbenam, ketika air reda, air lingkoq dewe pakoq yang dari mata airnya sendiri tidak bisa bercampur dengan air sungai.

            Menurut penuturan masyarakat setempat Lingkoq Dewe Pakoq pada zaman dahulu sering didatangi orang untuk menyampaikan nazar, mereka datang dengan membawa makanan (nasi beserta lauk) untuk makan bersama. Tapi sebelum itu mereka berdoa mengambil air lalu mencuci muka (berseraup) dan membasahi kepala (bepupuk). Konon juga ada yang dinazarkan orang kalau ananknya sewaktu masih kecil (bayi) sulit dapat bicara supaya tidak bisu (pakoq).

            Selain itu juga di zaman dahulu ramai dikunjungi anak-anak sekolah dasar ketika selesai acara kenaikan kelas, mereka pergi ke sana sebagai tanda suka cita dan mengambil air muka dan kepalanya (bepupuk) secara bersama-sama. Di samping Lingkoq Dewe Pakoq terdapat sebuah batu yang permukaannya lempeng (rata) bentuk dan ukurannya tidak tentu, keanehan batu itu konon kata orang apabila ada sejenis hewan jantan, misalnya ayam jantan yang naik ke atas batu, pertanda ayam jantan itu mempunyai kelebihan tersendiri.

            Sama hanya dengan Lingkoq Pengempel, di sekitar tempat Lingkoq Dewe Pakoq itu juga kadang-kadang didatangi oleh orang lalu melakukan semedi (bertapa) dengan membakar kemenyan untuk mendapatkan sesuatu, dan biasanya orang melakukan semedi pada waktu malam hari dalam keadaan sunyi sepi tidak diketahui oleh siapapun.

            Kalau kita mau ke tempat Lingkoq Dewe Pakoq itu letaknya tidak jauh dari jalan raya, sekitar 1 km ke arah tenggara dari pasar umum Pegondang Sakra, kita melalui jalan biasa sekitar 100 m lalu melalui lorong kecil sampai ke tepi sungai dan berjalan menelusuri tepi sungai sampai ke tempat Lingkoq Dewe Pakoq.

            Nah, begitulah misteri-misteri yang terkuak di dalam Kokoh Pengempel yang terdapat di desa Sakra Kecamatan Sakra.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *