Narasi Busuk Subjek-Objek

Non Fiksi, Opini

Semua manusia pasti punya rasa bosan, sama denganku, aku juga punya rasa bosan, bosan pada hidup, bosan pada kehidupan, bosan pada sekitar, dan masih banyak lagi macam bosan yang aku punya. Kehidupan tak sama dengan yang ada di TV, bagaimana di sana sering digambarkan betapa indahnya arti hidup, atau hidup itu adalah patualangan, semua itu hanyalah stimulus untuk menarik penonton, aku pikir orang-orang yang nongol di TV itu, mereka adalah orang-orang yang memiliki fasilitas, mereka adalah orang-orang yang justru meremehkan kehidupan itu sendiri, bagaimana tidak? Di saat mereka tampil di TV dengan pernak-pernik dan retorika yang menggairahkan, mereka telah menghilangkan apa yang kita sebut sebagai proses kehidupan. Menurutku lebih tepat menyebut perkara itu Pengingkaran kehidupan,, bukan maksudku menjastifikasi atau semacamnya, tapi mari kita tarik penglihatan kita pada struktur, bagaimana kamu mengartikan TV? Pasti kebanyakan kita akan menjawab:
a. Media informasi
b. Hiburan
c. Alat elektronik

Kebanyakan, setelah aku bertanya pada orang di desaku, begitulah inti dari jawaban mereka, tapi apakah kita pernah berpikir, bahwa TV adalah sebuah lahan bisnis? Oke, makin seru kayaknya. TV dari sudut pandang fingsi memang berperan sebagai media informasi, dan kita juga banyak mendapat pengetahuan dari sana, misal, berita BBM, perkembangan global, fashion, dll, tapi, (hehe, sekali lagi harus ada tapi) marilah dengan dewasa dan kritis kita membuka pikiran kita untuk melihatnya bukan dari apa yang disampaikannya yang menurutku hanya sebuah dongeng dan buaian yang berlarut-larut, kita juga harus melihat “apa yang disembunyiannya”, marilah kita mulai melihatnya lebih secara khusus dan dari strukutur untuk bisa membongkar apa tujuan dari TV itu sendiri.

Pertama, TV adalah sebuah alat elektronik yang diproduksi oleh pabrik, dan ketika kita membelinya posisi kita adalah sebagai konsumen, jika dibuat sebuah susunan kalimat maka akan jadi begini:
“Seorang pengusaha mempunyai pabrik TV dan kita membeli TV dari pabrik itu”
Seorang pengusaha (Subjek)
mempunyai pabrik TV (Ket)
dan kita membeli TV dari pabrik itu (Objek)
Artinya apa? Kita menempati posisi objek yang sebenarnya sedang ia tindas apabila kita membeli TV, tanpa kita tau apa manfaat dari TV itu sendiri, dan hanya membelinya karena merupakan suatu kelumrahan jaman sekarang, yang katanya harus serba canggih, tapi secara tidak langsung malah membuat kita malas dan mancet. Dengan membeli TV, kita juga semakin membuat si pemilik pabrik semakin kaya, dan itu akan menjadi penindasan jika setelah membelinya kita tidak mendapatkan nilai guna. Kalau kita gunakan gagasan Kautsky tentang Rezim wacana, manusia sebagai obyek yang dikendalikan oleh rezim wacana tersebut, rezim wacana adalah identifikasi anggapan-anggapan wacana (manusia modern harus punya TV, blacberry, android, motor, dsb) yang kemudian anggapan-anggapan tersebut mengendalikan pola pikir kita, menguasai kita, dan kita senantiasa menjadi obyek olehnya.

Ke-dua jika kita melihat TV kita juga harus melihat kepentingan-kepentingan yang ada di dalam (di badan perusahaan TV) tersebut, kalau cara pandang kita sudah bisa melihatnya dari struktur yang pertama tadi, tentu akan lebih mudah untuk kemudian melihatnya dari struktur media dari unsur kepentingannya. Dalam ilmu jurnalistik yang saya ikuti, dosen saya pernah menjelaskan, seorang jurnalistik (pencari berita) pasti akan berhadapan dengan dua pilihan yaitu antara tetap bersikukuh dengan ideologinya sendiri dengan kosekuensi ia dikaluarkan dari perusahaan, atau menurut pada kemauan pemodal media agar ia tetap bisa bekerja. Dari penjelasan tersebut kita tentu dapat memahami bahwa orientasi media bukanlah pada ‘keaslian berita atau manfaat tayangan’ tetapi adalah kepentingan yang dibawanya dalam artian keuntungan yang diperolehnya. Kalau kita bicara keuntungan pasti kita bicara tentang orang kaya, dan siapa orang kaya di negara kita? Pastinya adalah pengusaha, pejabat, dan mereka yang punya status-status penting di tata pemerintahan negara ini. Kalau kita susun struktur perusahaan media dengan TV dan dengan posisi kita dalam bentuk kalimat maka akan berbentuk sbb:
“Stasiun TV menayangkan berita Gayus Tambunan, dan kita yang melihatnya menjadi sangat murka”
1. Stasiun TV (Subyek)
2. Menayangkan berita Gayus Tambunan (Prediket)
3. Kita yang melihatnya (Obyek)
4. Menjadi sangat murka (Ket)

Kepentingan apa yang dapat kita lihat dari situ? Apakah media ingin kita memusuhi jayus, apakah media adalah musuh koruptor? Apa? Kepentingan apa yang dibawa oleh berita tersebut? Apakah media ingin menunjukkan kebenaran bahwa koruptor jahat? Jangan terjebak oleh pesan-pesan yang berlarut-larut semacam itu, tapi marilah kita bertanya kenapa media menayangkan berita Gayus Tambuanan? Apa yang disembunyikan di balik itu semua? Kalau menurut saya, media berusaha mengalihkan perhatian masyarakat terhadap kasus yang lebih besar seperti kasus Bank Century, kasus-kasus perampokan dan ulah-ulah mafia kalas kakap. Kalau kita melihat posisi Gayus pada syair lagu Iwan Fals, ia hanya sebagai ‘kecoa’ bukan ‘si Bento’, tetapi lihatlah kepiawaian media mengolah wacana Gayus tersebut, sangatlah berhasil, bahkan sampi muncul lagu-lagu dari orang-orang kritis yang keblinger, dan lagu-lagu tersebut langsung laris manis karena ketenaran ‘wacana Gayus’.

Begitulah yang aku pahami dan aku tau, Sekali lagi, aku bukan ingin meluncurkan roket fitnah atau apalah itu, tapi marilah kita membuka pikiran kita dengan dewasa dan terbuka, agar kita tidak lagi menjadi obyek-obyek yang selalu dijajah oleh subyek-subyek sialan itu. Dari dua contoh di atas, kita dapat melihat relasi pokok yang sengaja di bangun, yaitu (S)-(O), (S) sebagai “penguasa” dan (O) sebagai yang “dikuasai” Marilah kritis dan tanpa rasa puas untuk terus belajar, atau jangan belajar juga nggak apa-apa, terserah diri masing-masing, toh, itu tubuh adalah milik kalian sendiri, hehe, tapi kita juga harus tau, tidak semua media seperti itu, banyak media-media jujur yang ada, tapi mereka berada di bawah tanah, di lorong-lorong gelap, mereka menjadi kaum minoritas di khalayak dunia media, tapi kita juga harus ingat, meskipun begitu, kita juga tidak boleh berhenti meluncarkan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka, hehehe. Salam nakal!.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *