NARASI DAN CONTOH WACANANYA 1

NARASI DAN CONTOH WACANANYA

Non Fiksi

NARASI DAN CONTOH WACANANYA 

Narasi biasa dikenal dengan cerita. Pada narasi ada momen atau perihal dalam urutan waktu. Didalam perihal itu ada juga tokoh yang menghadapi satu konflik. Ketiga unsure berbentuk perihal, tokoh, serta konflik merupakan unsur pokok suatu narasi. Bila ketiga unsure itu dimaksud plot atau alur. Lantas narasi yaitu cerita yang di uraikan menurut plot atau alur.

Narasi bisa diisi fakta atau fiksi. Narasi yang diisi fakta dimaksud narasi ekspositoris, namun narasi yang diisi fiksi disebut sugestif. Perumpamaan narasi ekspositoris yaitu biografi, autobiografi, atau cerita pengalaman. Namun perumpamaan narasi sugestif yaitu novel, cerpen, cerbung, maupun cergam.

Pola narasi dengan sederhana berupa susunan dengan urutan awal-sedang-akhir.

  • Awal narasi umumnya diiisi pengantar yakni memperkenalkan situasi serta tokoh. Sisi awal mesti dibikin menarik supaya bisa mengikat pembaca.
  • Sisi sedang merupakan sisi yang memunculkan satu konflik. Konflik lantas diarahkan menuju klimaks, dengan berangsur-angsur cerita dapat mereda.
  • Akhir cerita yang mempunyai langkah mengungkapkan berbagai macam. Ada yang menceritakannya dengan panjang, ada yang singkat, ada juga yang berupaya menggantungkan akhir cerita memperilahkan pembaca untuk menebaknya sendiri.

Langkah-langkah yang digunakan dalam menyusun narasi (terlebih dahulu berupa fiksi) dan sering dikerjakan melalui ide yang kreatif, diawali dengan melacak, mendapatkan, serta menggali ide oleh karena itu, cerita dirangkai menggunakan rumus 5 w + 1 , yang biasa disingkat dengan adik samba.

  1. (what) apa yang dapat dikisahkan.
  2. (where) dimana seting/lokasi ceritanya.
  3. (when) kapan peristiwa-peristiwa berjalan.
  4. (who) siapa pelaku ceritanya.
  5. (why) kenapa peristiwa-peristiwa itu bisa berlangsung.
  6. (how) bagaimana cerita itu diuraikan.

 

Contoh wacana narasi fakta:

KESIALANKU

Pas jam 11.00 wib pecan lantas, saya baru pulang dari kampus. Dan biasanya saya pulang kerumah naik ojek yang berada didepan kampusku. Kebetulan waktu itu matahari amat terik-teriknya hingga udara panas menyelimuti tubuhku serta lagi ditambah rasa lapar yang sejak tadi tadi menghantuiku, bikin situasi waktu itu tidak mengenakkan untukku.

Diperjalanan menuju kerumah terselip perihal lucu, nyatanya ojek yang saya naiki salah salah jalur. Semula saya pernah kesal tetapi sesudah ia berbicara untuk bertanya jalur yang benar, ia memakai logat bahasa jawa yang tidak ku tahu. Tanpa sengaja saya tertawa kecil. Tetapi saya nalar saja maksudnya yaitu menanyakan jalur yang benar. Perihal tersebut cukup bikin ku geli disaat terik matahari yang semakin menusuk tubuhku.

Sesampainya dirumah kesialan kembali menerpaku. Nyatanya rumahku masih terkunci, tidak seorangpu yang ada di dalam tempat tinggal serta kebetulan waktu itu saya tidak membawa kunci cadangan. Kembali saya jadi amat kesal waktu itu. Selanjutnya saya menanti untuk sebagian menit sampai orang tua ku kembali, 10 menit pertama sudah berlalu, saya masih duduk di kursi teras depan rumahku, 10 menit selanjutnya lalu sudah jalan tanpa kusadari, lagi-lagi tidak kujumpai orang tua ku kembali.

Sesudah hamper 40 menit saya menanti dengan rasa jenu. Terbesit sekilas dalam pikiranku untuk menghubungi orang tua ku. Selanjutnya saya menghubungi orang tua ku. Saya heran kenapa perihal ini tidak terpikirkan olehku sejak tadi, barangkali dikarenakan terlampau emosi hingga perihal sekecil itu tidak terpikirkan olehku.

 

 

 

 

Contoh wacana narasi fiksi:

Saya tersenyum sembari mengayunkan langkah. Angin dingin yang menerpa, bikin tulang-tulang di sekujur tubuhku bergemeretak. Kumasukkan kedua telapak tangan ke dalam saku jaket, coba memerangi rasa dingin yang merasa demikian menyiksa.

Wangi kayu cadar yang terbakar di perapian menyambutku saat eriza membukakan pintu. Wangi yang kelak dapat kurindui saat saya sudah kembali ke tanah air. Namun wajah ayu dihadapanku, akankah kurindui juga?

Ada yang berdegup keras didalam dada, tetapi kuusahakan untuk menepiskannya. Janganlah, bowo, sergah hati kecilku, janganlah biarkan hatimu terbagi. Ingatlah ratri, dia sedang menanti kepulanganmu dengan seluruh cintannya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *