Nasi Bungkus Nenek Sari 1

Nasi Bungkus Nenek Sari

Cerpen, Fiksi

Nasi Bungkus Nenek Sari

Nasi Bungkus Nenek Sari
karya Za Sistra Rinjani
Pagi itu nenek sari bangun kembali dengan langkah pelan ia pun menyusuri petak rumahnya menuju sebuah kamar yang berada di pojok rumah itu. suasana hari itu masih remang-remang dan tidak begitu jelas, namun ia tetap berjalan ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat shubuh, karena dari kejauhan memang terdengar sayup-sayup adzan yang merupakan panggilan Tuhan untuk menghadap dan bersujud padaNya. dengan tangan yang keriput nenek sari mengambil timba dan mulai menimba air dari sumur tua yang berada di kamar mandi itu juga, suara kerekan pengambil air yang berkarat menambah suasana miris dan sendu bagi yang mendengarnya. setelah beberapa kali timba nenek sari pun berwudhu dari tempat penampungan air itu. dinginnya air tak menyurutkan niatnya untuk mengambil air wudhu dan segera menunaikan kewajibannya sebagai manusia yang tahu rasa bersyukur pada Illahi.
Setelah berwudhu nenek sari kembali ke kamarnya dan sholat shubuh dua rakaat, setelah itu di penghujung sholat ia tampak khusyuk dalam doa yang diucapkan lirih di antara isak tangisnya. ya, nenek sari menangis dan memang selalu begitu setelah sholat ia akan selalu menangis, menangisi banyak hal tentunya. menangisi anaknya yang meninggal, menangisi menantunya yang entah dimana dan meninggalkan cucunya tanpa alasan yang jelas, menangisi kemiskinan yang tak kunjung berakhir, menangisi suaminya yang telah meninggal terlebih dahulu, menangisi cucunya yang begitu sayang padanya dan menangisi hidupnya. Setelah larut dalam isak dan doa maka nenek pun segera beringsut bergegas ke kamar dalam, tempat cucu laki-lakinya yang masih pulas tertidur, Nampak pulas dan lelah, dengan langkah pelan nenek sari menghampiri tempat tidur cucunya dan berkata “ Gus,,, bagus ,,, bangun nak”. “ sudah shubuh nak, sholat dulu ntar keburu habis waktu”
“ hemmm,,,, emak, masih ngantuk mak”. kata Agus sambil masih menarik selimutnya kian erat.
“kalau dituruti emang ngantuk nak, tapi ingat sholat shubuh adalah wajib dan wujud syukur kita nak, karena pagi ini masih diberi nafas oleh Allah anakku” kata nenek sari melanjutkan. “ udah,,,, bangun ya,,, nenek mau ke dapur dulu mau masak ya” kata nenek sari sambil berlalu.
Setelah neneknya pergi pelan-pelan mata Agus terbuka dan ia pun segera terbangun dengan masih terduduk di tempat tidurnya dipandangnya neneknya yang berjalan ke dapur dan Nampak sibuk dengan pekerjaan dan rutinitas paginya. ia pun bergegas bangun dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan mengambil air wudhu. dan ia pun bergegas sholat shubuh, karena ia teringat begitu banyak yang harus ia lakukan pagi ini dan sungguh tak adil jika dia bermalas-malasan begitu sementara sang nenek yang begitu tua saja, gesit dan cekatan pagi itu.
Sementara itu nenek sari tengah memasak nasi di atas tungku kayu, dia mempersiapkan lauk-lauk yang akan dijadikan sandingan dari nasi bungkusnya. Ya, nenek sari berjualan nasi bungkus. itulah rutinitas paginya setiap hari hampir 2 tahun ini. nasi bungkus harga dua ribu limaratus dan berisi nasi, tempe atau tahu bacem, kacang goreng atau kelapa serondeng dan tumis kacang panjang. sebuah nasi bungkus yang sangat sederhana dan murah dan sebanding dengan isinya. padahal mungkin di luar sana sudah tidak bisa didapatkan lagi nasi bungkus seharga itu. namun syukurnya nasi ini memiliki langganan khusus, para buruh angkut dan buruh bangunan ujung jalan yang selalu menanti dengan setia. nasi bungkus nenek sari. dan selama ini Agus lah sang cucu yang selalu sukarela menjajakannya sebelum berangkat ke sekolah ataupun sambil berjalan ke sekolah. dan begitupun pagi itu setelah selesai memasak dan membungkus, 20 bungkus nasi bungkus nenek sari pun merapikan dan menaruhnya dalam sebuah keranjang dari anyaman rotan yang tampak tua namun kuat. karena nanti setelah pagi jam 6 sang cucu akan membawa keranjang itu untuk berjualan. sementara tadi nenek memasak biasanya Agus akan merapikan rumah, mencuci pakaian, mengisi bak mandi hal ini dilakukan agar begitu nenek nanti ditinggalkan saat sekolah tidak perlu lagi menimba air dan lain-lain. Karena agus kadang sangat kasian melihat sang nenek yang menimba air dan beres-beres rumah padahal sang nenek sakit-sakitan.
Pukul enam pagi pun tiba. Agus telah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumahnya dan berpakaian. ia pun berpamitan pada sang nenek.
“gus pergi dulu mak, emak jangan kerja berat lagi semua nanti pekerjaan agus kerjain kalau sudah pulang sekolah ya mak” pinta agus seraya mencium tangan keriput si nenek.
“ iya,, nak, udah jangan gusarkan hal itu terus ya, yang penting kamu sekolah sana, jualan itu sudah, berapapun yang laku, berarti itulah rizki dari Allah” kata nenek sari sambil mengusap rambut sang cucu.
“ iya mak…. Agus berangkat dulu,, Assalamualaikum” kata agus sambil berjalan menjauh dari rumah itu, di mana sang nenek berdiri di ambang pintu .
Dan dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara teriakan Agus “ nasi bungkus,,, nasi bungkus,, dua ribu lima ratus, nasi bungkus dua ribu lima ratus, nasi bungkus enak, nasi bungkus murah “ . dan lagi-lagi airmata itu menggenang lagi di pelupuk mata nenek Sari memandang cucunya Agus yang kian menjauh dari pandangan matanya yang tua. ia tak henti berucap syukur, dari sudut bibirnya “ Alhamdulillah ya rabbi, Alhamdulillah ya Rabbi”.
Agus sang cucu adalah bocah laki-laki berumur 10 tahun yang kini kelas 4 di sekolah dasar. cucu dari anak perempuannya yang meninggal 9 tahun lalu saat Agus baru berumur satu tahun karena kolera, sementara ayah agus, hilang entah kemana tahun setelah istrinya meninggal dengan alasan mengadu nasib ke Batam namun hingga 9 tahun berlalu tiada kabar ataupun berita. dan utnuk menyambung hidup nenek sari pun melakukan berbagai pekerjaan mulai dari jadi buruh angkut pasar hingga pembantu rumah tangga, tapi itu dulu sewaktu penyakit asam urat belum menderanya dengan parah. setelah itu ia menjadi buruh serabutan bahkan pemulung. penghasilannya pun tidak seberapa namun tetap ia lakoni demi sang cucu. apalagi setelah sang cucu masuk sekolah, ya memang tidak berbiaya namun tetap saja terkadang ia perlu mengeluarkan uang untuk membeli buku atau seragam sang cucu.
Banyak tetangga kadang menganggapnya gila dengan menyekolahkan agus, namun biasanya hanya ia tanggapi dengan senyum simpul dan tidak pernah ia ladeni karena bagi si nenek sari pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan,. ini pun dia dapat dulu ketika ia mendengar seorang di televisi yang ada di depan warung tempat seseorang membeli nasi bungkusnya. ia lupa nama orang di TV itu, namun kata-kata laki-laki di TV itu sangat membekas di hatinya. sang tokoh yang menjadi menteri padahal dulunya hanya anak orang miskin dan selalu di bilang “anak singkong”.
Dan kata- kata tokoh itu ibarat lampu bohlam 100 watt yang menyala dalam otak nenek sari yang bertekad bulat untuk mnyekolahkan sang cucu supaya sang cucu bisa keluar dari kemiskinan yang melandanya , agar sang cucu tak menjalani kehidupan sulit lagi. meski ia tahu keterbatasan dirinya namun ia tetap berusaha karena ia yakin di mana ada kemauan di situ ada jalan.
Lamunan nenek sari di ambang pintu berangsur memudar seiring menghilangnya punggung dan suara teriakan “ nasi bungkus agus” . ia pun melangkah ke dalam dapur lagi untuk merapikan bekas memasak tadi. dipandangnya bekas memasaknya yang telah usang dan berwarna hitam semua, ya karena semua peralatan yang digunakan memang sudah tua dan telah berusia puluhan tahun lamanya. semua yakni panci, wajan, nampan banyak yang telah penyak penyok di sana-sini. dengan telaten ia pun merapikan dan membersihkannya di kamar mandi sekaligus tempat mencuci perabotan dapur. setelah itu beberapa saat kemudian selesai ia pun duduk istirahat di amben tua yang ada di ruangan rumah itu, tak sampai hatinya membiarkan sang cucu lagi yang harus membersihkan peralatan memasak itu, karena itulah ia memutuskan untuk mencucinya meski sang cucu berpesan sebaliknya tadi sebelum berangkat sekolah dan berjualan.
Tak terasa waktu dzuhur pun tiba, nenek sari baru saja selesai sholat dzuhur ketika ia mendengar ucapan salam dari sang cucu agus yang datang dengan wajah yang lemas dan Nampak keranjang nasi bungkusnya menyisakan isi jua.
“ assalamualaikum mak…” kata agus
“ wa’alaikumsalam nak, kenapa mukanya kusut begitu, terus tumben masih ada sisa nasi bungkus juga nak” kata nenek sari seraya memandang sang cucu yang beranjak duduk ke amben tua.
“ya,, mak, tersisa lima bungkus, maaf ya mak,,, agus tidak berhasil menjualnya semua karena,,,,” kata agus lirih
“ kenapa musti harus minta maaf nak, kalau laku segini ya berarti rizki dari Allah ya segini, lumayan kan laku 15 bungkus nak” ungkap nenek sari terus menghibur sang cucu.
“ iya sih nek, tapi……” agus tak meneruskan kata-katanya
“tapi kenapa nak?” kata nenek sari lagi seraya memandang dengan lebih dekat karena ia yakin ada sesuatu yang akan diucapkan oleh sang cucu.
“besok pasti berkurang lagi yang laku, lebih banyak sisa dan lama-lama gak ada yang beli mak…” kata agus.
“loh,,, kok bisa gus? “ Tanya nenek sari heran.
“iya mak… pasti gitu” kata agus
“cerita nak, ada apa sebenarnya, tumben kamu lemas gini, tidak semangat, mudah menyerah dan berputus asa” kata sang nenek pelan.
“ iya mak ,,,,,,,, tadi….” kata agus lirih sambil mulai hendak menangis. “ di ujung jalan dekat toko besar yang di bangun itu ada yang jualan mak, , , berjualan pakai gerobak bagus, terus mereka menggelar tikar yang banyak dengan meja-meja kecil yang tertata rapi mak…” kata agus melanjutkan.
“ terus, ,” kata nenek mendengarkan dengan seksama
“ ya ,,, mak,,, ramai mak, orang makan di sana, enak dan murah mak kata buruh-buruh yang biasa beli di kita mak, banyak lauknya, banyak pilihannya dan gratis minum “. suara agus berhenti dan airmatanya menetes, suaranya serak dan terisak-isak ia melanjutkan “ mereka berebutan beli di sana, harganya Cuma dua ribu mak “
“mereka bilang namanya nasi kucing mak… ” airmata agus bocah Sembilan tahun itu terus menetes sambil melanjutkan ceritanya.
Nenek sari pun terdiam mendengarkan cerita sang cucu, dengan pelan diraihnya sang cucu kemudian didekap dan nenekpun berkata “ nak… kenapa menangis, sudah, tidak apa-apa, biarkan sudah yang berjualan nasi bungkus yang pakai gerobak dan bagus itu, biarkan yang berjualan nasi kucing itukah namanya”. jangan dipikirkan yang penting kamu jualan terus dan besok jangan jualan di daerah itu lagi ya nak” .
“berjualan di mana mak” kata agus sambil menyeka airmata di dalam dekapan sang nenek tercinta.
“ya di tempat yang gak ada yang jualan nasi kucing itu lagi” kata nenek melepaskan dekapannya dan memandang sang cucu dengan mata yang riang.
“bisa seperti itu mak” kata agus memastikan
“ bisalah gus” kata nenek kian bersemangat.
Agus pun berhenti menangis dan memikirkan daerah jualan baru agar tak bertemu dan berebut pelanggan lagi dengan penjual “nasi kucing” itu.
“ trus mak, bagaimana dengan sisa nasi ini “ kata agus memandang sisa nasi di keranjang lusuhnya.
“ kita makan dua bungkus dan sisanya, kamu berikan ke ibu yatno tetangga kita” kata nenek sari mantap.
“ iya mak, mubazir juga” kata agus.
“ baiklah mak, agus mau sholat dzuhur dan langsung ke bu yatno “ kata agus beranjak cepat ke kamar dan mengganti baju kemudian ke kamar mandi mengambil ar wudhu untuk sholat duhur.
Sementara itu nenek sari masih di amben duduk memikirkan kejadian tadi. sebenarnya ia hanya terlihat tegar, padahal di dalam hatinya ia sangat gusar. ia sudah banyak kehilangan pelanggan dari beberapa bulan ini. awalnya dulu ia membungkus hingga 50 bungkus nasi bungkus, kemudian berkurang sedikit-sedikit menjadi 40 bungkus, 35 bungkus, 25 bungkus dan kini hanya tersisa 20 bungkus bahkan hari ini berkurang jadi 15 bungkus saja yang terjual. rasanya sesak dada nenek sari, namun ia tak mau mengeluarkan semua beban ini. ia tak mau semangat cucunya Agus yang tadi layu jika melihat ia sedih. ia tak ingin sang cucu patah semangat.
Dan tentu saja nenek sari yakin, tiap mahluk telah memiliki jatah rizki yang dituntut dengan jalan berusaha dan berdoa. dan ia yakin pula bahwa jatah rizkinya dan cucunya tak mungkin diambil semua oleh “si nasi kucing bermeja banyak dan berharga murah “ seperti yang diceritakan sang cucu. pasti ada yang tersisa.
nenek saripun beringsut dan segera merapikan 3 buah nasi bungkus ke dalam nampan yang akan diantarkan ke bu yatno seorang janda yang memiliki 3 anak kecil-kecil yang suaminya meninggal dua minggu lalu karena terjatuh dari motor.
—————————


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *