Nyongkolan, kini!

Non Fiksi, Opini

Nyongkolan, kini!

Perjalanan pulang dari mataram sering terganggu terutama hari minggu sore, karena sering sekali saya jumpai prosesi atau acara nyongkolang di jalan. acara ini sebenarnya adalah rangkain adat merariq (pernikahan) ala suku sasak. yakni proses pengantin perempuan yang akan mendatangi rumah orang tua si perempuan dan sekaligus sebagai pengumuman di masyarakat daerahnya bahwa mereka sudah menikah. meski sudah terjadi pergeseran tata cara namun tetap saja acara nyongkolang ini banyak peminat terutama di daerah pedesaan.
Sekarang nyongkolang isinya hanya hura-hura, banyak pengiring lelaki tidak memakai pakaian adat sesungguhnya dan terkadang banyak yang minum Tuak (minuman keras) sebelum pergi nyongkolang. begitu juga dengan perempuan, kostumnya tidak seperti nyongkolang dahulu yang memakai baju khas suku sasak Lambung ( sejenis baju dengan bahan kain hitam dan kain sesekan /songket) sekarang yang terlihat adalah dandanan menor, tanpa hiasan kepala (isen dan bunga seroja ) yang ada sekarang rambut dibiarkan terurai dengan baju model ketat berbahan kain berokat yang jarang sekali, menampilkan lekuk dan tonjolan tubuh secara berlebihan. bahkan sepintas lalu mirip dengan penari-nari dangdut atau organ tunggal yang hanya mengeksploitasi tubuh mereka.
selain itu juga musik pengiring nyongkolang yang dulunya adalah gendang beleq kini berubah menjadi Kecimol, sejenis cilokaq yang dilengkapi dengan alat musik modern seperti gitar listrik dan keyboard. isinya pun sama parah, diisi oleh dominan lagu pop, dangdut koplo ataupun dangdut sasak, kemudian ada penari yang menemani yang disebut dancer kecimol, perempuan muda yang terkadang disawer dan berjoget erotis. dan pengiring lainnya yang lelaki biasanya mabuk-mabukan atau minum tuak sebelum nyongkolang sehingga tak heran sering kita jumpai keributan di tempat nyongkolang.
dan, pada akhirnya orang sasaklah ( Lombok) yang rugi dengan semua ini, konotasi jelek pun menempel, selain membuat jalan macet hingga berkilo meter namun prosesi yang terlihat di jalan pun sudah jauh dari esensi awal sebuah adat budaya yang mengakar yang menjunjung adat dan norma kesopanan yang alami.
Lantas siapakah yang bertanggung jawab terhadap semua ini?, tidak serta merta menyalahkan siapapun, ada banyak factor yang berpengaruh dalam hal ini. yang pertama. untuk mengatasi kemacetan seharusnya peran polisi lebih dioptimalkan untuk mengatur arus allu lintas dengans istem buka tutup dan kemacetan bisa diminimalisir atau dikurangi meski tidak bisa dihilangkan. selanjutnya dalah mengenai baju atau pakaian, musik pengiring dan lainnya, peran orang tua, pemangku adat dan stakeholder adat lainnya bisa membantu dengan mengarahkan bagaimana kostum yang seharusnya digunakan. walau perkembangan zaman begitu deras, namun peran-peran terkait di atas bisa ckup menolong. hal ini bisa dibicarakan saat ada pertemuan kampung (sangkep).
memang kondisi pergeseran ini juga terpengaruh oleh zaman yang kian maju dan globalisasi dimana arus informasi begitu deras mengalir dan mudah diakses oleh siapapun. sekarang tinggal kita sebgai generasi muda bagaimana membentengi diri dan menyadari nilai-nilai kearifan local adat istiadat yang tidak boleh dihilangkan untuk menunjukkan eksistensi kita sebagai bangsa yang bermartabat.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *