Pariwisata Sumbawa Besar Riwayatmu Kini

Opini, Pariwisata

         sumbawa2

         Sejuk angin pesisir terkadang membawa kita terbuai dalam kenyamanan dari pantai. Aroma amis laut dari deburan ombak membuat suasana menjadi berbeda dari tempat lainnya. Mata kita juga dimanjakan dengan pemandangan pantai yang menyejukan. Masih tentang air, kita berpindah sedikit menuju sungai di pegunungan. Kicauan burung yang masih liar yang menandakan kealamian sekitar dan air sungai yang begitu jernih hingga mata bisa melihat ke dasar sungai tersebut seakan menarik kita untuk merasakan segarnya air sungai di pegunungan.

            Namun semua hal tersebut saya rasakan saat masih duduk di bangku sekolah dasar. Semua berubah ketika terakhir kali saya pergi untuk sekedar menikmati kedua tempat favorit saya tersebut. Yang dulunya ketika saya pergi ke pantai, saya masih bisa menikmati aroma khas dari amisnya laut, sekarang malah bau sampah dari pengunjung pantai tersebut. Belum berhenti sampai disitu, saya berpindah ke pantai yang lain. Tidak kalah dari pantai sebelumnya, saya juga merasakan hal yang sama. Sampah di mana-mana seperti telah menjadi manik-manik pasir laut yang sudah tak putih lagi. Sah sah saja ketika itu adalah sampah dari dedaunan yang gugur di sekitar pantai, namun bukannya sampah laut, tapi malah sampah yang berbahan dasar plastik yang malah mendominasi manik-manik pasir laut.

            Ketika saya sudah bosan dengan sampahnya laut, saya bergerak menuju ke pegunungan untuk berharap menemukan sungai yang saya idam-idamkan. Selama perjalanan, saya sudah membayangkan bagaimana segarnya air sungai dan kicauan burung- burung hutan yang akan menjadi backsound ketika saya menikmati segarnya air sungai. Namun ketika sampai di tempat tujuan, bukan sungai yang seperti saya harapkan, malah sampah-sampah masyarakat yang memanfaatkan sepinya sungai dipegunungan untuk “berekreasi” tanpa malu terhadap pengunjung lain. Selain sampah masyarakat, di sana juga tidak kalah kotornya dengan pantai yang sebelumnya saya kunjungi. Aduh mak e.

            Ooooh, saya harus mengadu kepada siapa ? pemerintah ? mana mungkin. Yang mengotorinya kan masyarakat, masa saya ingin menyalahkan pemerintah ? Hanya orang bodoh saja yang menyalahkan pemerintah atas perbuatan dirinya sendiri. Contohnya saja seperti hal-hal yang sudah saya paparkan sebelumnya. Saya bukannya sok suci dan merasa paling benar, saya juga sering buang sampah, tapi pada tempatnya. Saya juga sering mengotori alam, namun setelah saya kotori, saya bersihkan kembali.

         Mungkin kita terlalu banyak meminta kepada pemerintah. Seperti minta naik gaji, minta jalan diperbaiki, minta bangunan diperbaiki, minta ini minta itu namun tanpa sadar orang-orang yang sudah diberikan hal-hal tersebut oleh pemerintah, malah dirusak atau disalah gunakan. Apa salahnya kita memberi, tidak perlu memberikan uang, cukup dengan merawat, menjaga dan menggunakan sebagai mana mestinya saja sudah cukup memberi kepada pemerintah.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *