Pasifnya Kreatifitas Guru Mengaktifkan Kebiasaan Buruk Siswa

Non Fiksi, Opini, Pendidikan

Pasifnya Kreatifitas Guru Mengaktifkan Kebiasaan Buruk Siswa

Berlakunya Kurikulum 2013 sejak beberapa waktu yang lalu membuat banyak guru merasakan dampak yang sangat serius, khususnya bagi guru dengan kualitas sekolah yang standar maupun di bawahnya. Dampak yang dirasakan adalah guru merasakan sakit di kepala yang sangat luar bisa. Sakit ini dirasakan karena banyakanya guru yang mengaku bahwa kurikulum ini begitu rumit bagi siswa. Padahal gurulah yang merasa rumit akan kurikulum tersebut. Kerumitan ini didasari oleh rendahnya keinginan pada diri seorang guru untuk mau belajar sedikit lebih keras untuk mempelajari bagaimana muatan sesungguhnya dari kurikulum tersebut.

Jadi siapakah yang sebenarnya merasa rumit? Siswa atau gurukah?

Kenyataan yang ada saat ini adalah guru merasa enggan untuk mengimplementasikan muatan dari kurikulum 2013. Jelas hal ini terjadi sebab guru tidak mau direpotkan karena kurikulum yang terus berganti dan banyaknya guru yang sebenarnya belum sepenuhnya mengerti akan kurikulum ini. Hal ini menyebabkan masih terlaksananya pembelajaran yang monoton, pembelajaran yang masih berpusat pada guru yang seharusnya siswa menjadi subjek didik, dan pembelajaran yang tidak menjadikan lingkungan sebagai fasilitas belajar karena hanya fokus terhadap apa yang sudah tertulis. Permasalahn ini akan mengakibatkan beberapa dampak bagi siswa. Dampak yang sangat terlihat akan pasifnya kreatifitas guru dalam proses pembelajaran tersebut, misalnya siswa akan merasa bosan, tidak ada motivasi dalam diri siswa untuk ikut serta dalam proses pembelajaran, hasil pembelajaran yang tidak baik karena proses dalam menerima informasi pun juga tidak baik, sehingga karakter dari siswa pun tidak akan pernah muncul.

Dalam menjalani proses pembelajaran harusnya guru sebagai fasilitator memilki kecerdasan untuk menjadi kreatif. Guu yang kreatif tidak hanya milik bagi guru-guru yang ada di kota atau guru-guru yang ada pada sekolah yang berkualitas baik. namun, kratifitas ini juga menjadi hak bagi guru yang ada di sekolah pinggiran atau sekolah-sekolah yagn dibawah standar. Kreatifitas guru dalam proses pembelajaran tentunya dapat menekan kebiasaan buruk siswa. Kebiasaan buruk siswa tersebut adalah siswa tidak dapat berpikir dan bekerja secara mandiri.

Kurikulum 2013 ini sebenarnya lebih mengarah pada bagaimana siswa mampu memecahkan masalahnya sendiri bukan hanya mampu menjawab permasalahan saja seperti yang ada pada kurikulum sebelumnya. Untuk dapat membentuk kemandirian siswa dalam berpikir dan bekerja dalam memecahkan sebuah masalah, guru pertama-tama harus memahami bahwa penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang. Hal ini tentu memperlihatkan kita pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya.

Dalam proses pembelajaran guru harus mampu mengaktifkan siswa. Keaktifan siswa dapat dilakukan dengan melakukan pancingan terhadap siswa untuk bertanya dalam setiap langkah pembelajaran agar rasa ingin tahu siswa terus terasah. Selain memunculkan rasa ingin tahu siswa guru juga harus mampu membuat sebuah pembelajaran yang cooperative untuk menumbuhkan rasa kerja sama siswa yang tinggi dalam memecahkan masalah. Membuat sebuah pembelajaran yang kominikatif dan menyenangkan adalah salah satu strateginya.

Pembelajaran komunikatif, pembelajran model ini dapat guru aplikasikan dengan membuat suasana kelas menjadi lebih hidup. Menghidupkan suasana kelas tidak hanya dengan melakukan diskusi antara guru dengan siswa, tapi hal yang paling utama adalah bagaimana menerapkan cooperative learning pada siswa. Pembelajaran yang melatih siswa untuk bekerja sama, mampu melakukan tanya jawab dengan teman, bertukar pikiran, serta melatih daya pikir, daya nalar, dan daya argumentasi siswa sehingga mampu menjadikan siswa lebih aktif.

Pembelajaran menyenangkan, pembelajaran ini tentunya dapat guru aplikasikan dengan pembelajaran yang dikaitkan dengan lingkungan sekitar sesuai dengan kurikulum yang ada. Pembelajaran akan menjadi lebih bermakna jika pembelajaran sesuai dengan lingkungan sosial budaya tempat siswa melakukan aktifitas serta keterlibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran tersebut.
Melihat hal di atas, guru harus memperhatikan beberapa poin penting sebagai suatu pemahaman dalam memandang subjek didik agar guru dapat memiliki ide untuk mengembangkan kreatifitasnya dalam merancang suatu proses pembelajaran sehingga proses pembelajaran tersebut menjadi lebih bermakna dan mampu menjadikan siswa lebih mandiri dalam berpikir, bernalar, mengungkapkan ide dan gagasan, serta mampu memiliki argumentasi yang kuat. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu tokoh Konstrutivistik Driver dan Bell (Thobroni 2012:111), bahwa:

1) siswa tidak dipandang sebagai sesuatu yang pasif, tetapi memilki tujuan

2) belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan siswa

3) pengetahuan bukanlah sesuatu yang datang dari luar, melainkan dikonstruksi secara personal

4) pembelajaran bukanlah transmisi pengetahuan, melainkan melibatkan pengaturan situasi kelas

5) kurikulum bukanlah sekedar dipelajari, melainkan seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.

Sesuai dengan hal di atas, sebagai guru atau sebagai mahasiswa yang nantinya insya Allah menjadi seorang guru. Tentunya kita harus menjadi guru yang kreatif untuk menjadikan siswa yang lebih aktif dan mandiri. Sebelumnya guru juga harus menanam mindset bahwa siswa bukanlah sesuatu yang pasif dan sebagai guru tidaklah salah jika kita berusaha lebih keras untuk memahami sesuatu demi mencerdaskan anak didik yang sejatnya adalah aset masa depan negara.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *