Pelaksanaan Acara Maulid dan Zikiran di Daerah Dasan Agung Yang Kurang Tepat

Kepenulisan, Opini

Pelaksanaan Acara Maulid dan Zikiran di Daerah Dasan Agung Yang Kurang Tepat

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa memperingati hari besar nabi kita nabi Muhammad saw merupakan salah satu tradisi masyarakat islam pada umumnya. Dan sebentar lagi kita juga akan memperingati hari tersebut.Yang jadi permasalahannya disini adalah tentang pelaksanaannya, apakah sudah sesuai atau tidak, atau apakah sudah tepat atau tidak?. Contohnya dalam acara maulid, sejatinya orang islam yang mengetahui apa itu maulid dan bagaimana cara melaksanakannya yang baik dan benar, tentunya sudah tidak asing lagi bilamana dalam memperingati hari besar tersebut diisi dengan hal-hal atau kegiatan-kegiatan islami pada umumnya. Akan tetapi bagaimana jika diisi dengan hal-hal yang kurang tepat atau tidak sesuai dengan tema maulid tersebut ? tentu hal ini menjadi sebuah pertanyaan besar dalam benakku, betapa tidak, ? kegiatan yang seharusnya akan memberikan kesan dan dampak positif, justru memberikan kesan dan dampak negatif. Hal ini dapat dibuktikan ketika masyarakat dasan agung memperingati hari besar nabi Muhammad saw dengan cara berjoged-joged yang diiringi dengan lagu pop, sasak dan sebagainya. Lebih tepat lagi disebut sebagai kecimol. Mereka menggunakan musik kecimol tersebut untuk berjoged di sepanjang jalan, baik cewek maupun cowok, dari kalangan anak-anak hingga dewasa campur menjadi satu aksi, yakni aksi berjoged tersebut. Bahkan seringkali aksi-aksi tersebut menyebabkan kemacetan lalu lintas. Apakah hal tersebut tidak menyimpang ? mengapa tidak diisi dengan kegiatan-kegiatan positif ? seperti baca al-qur’an, atau mungkin bersilaturrahmi dan berziarah ke makam-makam keluarga, atau mungkin ke makam-makam para ulamaq. Jika sudah demikian, setidaknya acara-acara besar islam yang seperti itu sudah mendekati kata tepat atau sesuai dengan tema maulid tersebut.
Kemudian yang selanjutnya ialah acara zikiran, seringkali saya teliti dan perhatikan mengenai acara-acara tersebut, mengapa demikian ? karena pelaksaannya yang kurang tepat, kurang sesuai, dan kurang pas. Sejatinya acara zikiran yang seharusnya untuk memanjatkan do’a dan permohonan kepada sang khalik, justru cenderung kepada hal-hal yang mengundang seribu pertanyaan, mengapa pelaksanaannya demikian,? Apa latarbelakangnya ? dan mengapa pengucapannya berbeda ? bukankah do’a zikiran mengatakan “laailaahaillallah”? tetapi yang saya dengarkan disini justru mengatakan “hillah dan khukhu.” Dan bahkan terkesan berteriak dengan kata-kata tersebut. Apakah hal tersebut tidak menyimpang dari yang sebenarnya ? apa salahnya mengucapkan yang baik dan benar, ucapan yang sesuai dan memiliki arti yang jelas, bagi kaum islam, muslimin dan muslimat sejati, tentunya bisa menilai dan melaksanakannya sesuai dengan petunjuk allah swt.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *