PEMBINAAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA PADA SISWA TINGKAT SEKOLAH DASAR

Artikel

  Pembinaan bahasa indonesia

A. PENDAHULUAN

Bagaimana manusia memperoleh bahasa merupakan satu proses yang sangat mengagumkan. Pelbagai teori dari bidang disiplin yang berbeda telah dikemukakan oleh para ilmuwan untuk menjelaskan bagaimana proses ini berlaku pada anak-anak.

Peristiwa yang menakjubkan ini telah berlaku dan terus berlaku dalam lingkungan masyarakat dan budaya. Secara empiris, terdapat dua teori yang membicarakan pemerolehan bahasa, yaitu: Teori yang pertama, bahwa bahasa itu diperoleh manusia secara alamiah. Teori ini diperkenalkan dan dikembangkan oleh Noam Chomsky.Teori yang kedua, bahwa bahasa itu diperoleh manusia karena dipelajari.Teori ini dicetuskan untuk pertama kali oleh B. F Skinner (1957). Oleh karena itu, pemerolehan bahasa sering dikaitkan dengan cara-cara penguasaan bahasa anak-anak.

Dalam hal pemerolehan bahasa, tentu saja berbagai aspek dalam lingkungan sangat mempengaruhi proses pemerolehannya. Faktor lingkungan yang dimaksud dalam hal ini adalah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Lingkungan sekolah yang mempunyai pengaruh strategis bagi perkembangan pemerolehan bahasa anak tunarungu adalah semua komponen sekolah yang terdiri dari kepala sekolah, guru, sarana prasarana dan lingkungan sosial sekolah. Interaksi sosial akan sangat mendukunng proses pemerolehan bahasa tersebut. Dalam hal ini, peran media komunikasi dalam proses pemerolehan bahasa anak menjadi perhatian utama dalam penyusunan makalah ini.

Pemerolehan bahasa dan perkembangan bahasa anak mendasari kemampuan mengajarkan bahasa dan sastra Indonesia kepada siswa di sekolah dasar terutama siswa di kelas rendah. Karakteristik setiap anak tidak sama sehingga dengan mempelajari pemerolehan dan perkembangan bahasa anak, guru dapat mengatasi perbedaan perkembangan bahasa pada siswanya. Siswa sekolah dasar pada umumnya berlatar belakang dwi bahasa bahkan multi bahasa, sehingga dengan mempelajari materi pemerolehan dan perkembangan bahasa anak, guru dapat benar-benar memahami konteks sosial budaya lingkungan anak didiknya dan menghargai keragaman budaya tersebut.

Batasan masalah dalam penelitian ini berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar pada siswa tingkat sekolah dasar, dalam penyusunan makalah ini penulis tertarik untuk meneliti penggunaan bahasa Indonesia pada siswa SDN 3 TETEBATU. Penulis juga akan membahas tentang bahasa sehari-hari yang digunakan oleh siswa-siswa tersebut dalam linkungan sekolah, serta bagaimana pembinaan penggunaaan bahasa Indonesia dari pihak sekolah terhadap siswa.

B. LANDASAN TEORI

Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional dan sebagai bahasa Negara. Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa nasional sejak dicanangkannya sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Kedudukan Bahasa Indonesia sebagai bahasa Negara di tetapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945, Bab XV pasal 36.

Dalam kedudukannya sebagai bahasa nasional, bahasa nasional berfungsi sebagai:

  1. Lambang kebanggan nasional.
  2. Lambing identitas nasional.
  3. Alat pemersatu seluruh warga Negara yang mempunyai ragam bahasa dan kebudayaan.
  4. Alat penghubung antar budaya antar daerah.

Dalam kedudukannya sebagai bahasa Negara Bahasa Indonesia berfungsi sebagai:

  1. Bahasa resmi kenegaraan.
  2. Bahasa pengantar resmi lembaga pendidikan.
  3. Bahasa resmi dalam perhubungan tingkat nasional untuk  kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan serta pemerintahan.
  4. Bahasa resmi di dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfataan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Sebagai bagian atau alat pendidikan nasional, pengajaran bahasa Indonesia bertugas membimbing siswa atau pelajar bahasa Indonesia agar :

  1. Memiliki pengetahuan yang shahih (valid) tentang Bahasa Indonesia.
  2. Terampil menggunakan Bahasa Indonesia.
  3. Ikut serta dalam pertumbuhan dan perkembangan bahasa Indonesia.

Penguasaan Bahasa Indonesia yang benar sesuai dengan kaidah yang ada merupakan kunci kelancaran dan kesempatan proses komunikasi.

Fungsi bahasa  adalah sebagai alat kamunikasi dan bermasyarakat karena bahasa  hanya dimiliki oleh manusia yang merupakan sebuah anugrah dari Yang Maha Pencipta. Dalam kegiatan berbahasa baik secara lisan maupun tulisan keduanya mempunyai kedudukan yang sejajar. dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menggunakan bahasa lisan sebagai alat komunikasi yang sering dipengaruhi bahasa daerah. Seperti  suku sasak, secara otomatis dalam kehidupan atau cara bergaul dengan teman atau rekan sedaerah akan menggunakan bahasa sasak sebagai alat komunikasinya.

Hal ini berbeda dengan lingkungan formal, seperti lembaga sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Bahasa lisan yang digunakan adalah bahasa Indonesia. Hal ini karena bahasa Indonesia  sesuai dengan tuntutan kebutuhan siswa. Adapun tujuan Bahasa Indonesia diberikan kepada siswa terampil menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lain halnya dengan lingkung  masyarakat dikeluarga bahwa orang yang menggunakan Bahasa Indonesia dalam pergaulannya di anggap sombong.

Perkembangan bahasa Indonesia berada pada kondisi masyarakat Dwibahasa yang bersifat dinamis. Perkembangan tersebut juga dikendalikan oleh perubahan zaman sesuai dengan tuntutan era globalisasi. Kondisi tersebut sudah hampir dipastikan memberikan dampak kepada pendidikan yang dilaksanakan saat ini. Permasalahan yang diakibatkan oleh kondisi tersebut senantiasa muncul dan berpengaruh kepada pencapaian hasil yang diharapkan.

Sebagai upaya sadar untuk menyiapkan sumber daya manusia yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, maka diperlukan solusi untuk berhadapan dengan masalah tersebut. Salah satu solusinya adalah pemerintah membuatkan kebijakan untuk melandasi perkembangan yang perlu dipertimbangkan melalui pendidikan; termasuk perkembangan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, perkembangan bahasa Indonesia yang dilaksanakan melalui tataran pendidikan harus memedomani kurikulum.

Program pembinaan dan pengembangan bahasa merupakan upaya yang tidak akan pernah berhenti. Hal ini sejalan dengan perkembangan kebutuhan dari masyarakat penuturnya akan sebuah bahasa yang bias dijadikan sebagai sarana untuk komunikasi secara efektif dan efisien.

Untuk jenjang pendidikan sekolah Dasar (SD) pengembangan bahasa Indonesia harus memedomani kurikulum mata pelajaran bahasa Indonesia. Sebagai pelaksana pendidikan di SD, guru mengembangkan bahasa Indonesia kepada peserta didik dengan berpedoman kepada kurikulum. Ada sejumlah pertimbangan menurut kurikulum yang harus dilaksanakan oleh guru di SD, sehingga perkembangan bahasa Indonesia pada masyarakat dwibahasa mencapai hasil yang optimal.

1. Prinsip-prinsip Pengembangan

Prinsip-prinsip pengembangan bahasa Indonesia menurut kurikulum pendidikan di Sekolah Dasar disesuaikan dengan tuntutan perubahan masyarakat dan kebijakan pemerintah Republik Indonesia. Dalam rasional Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, dijelaskan bahwa perubahan paradigma penyelenggaraan pendidikan dari sentralisasi ke desentralisasi mendorong terjadinya perubahan dan pembaruan pada beberapa aspek pendidikan, termasuk kurikulum. Dalam kaitan ini, kurikulum sekolah dasar pun perlu mengalami perubahan-perubahan sesuai dengan paradigma tuntutan saat ini.

Pengembangan kurikulum, menurut peraturan pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 bahwa Kurikulum Satuan Pendidikan pada jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah mengacu kepada Standar Isi dan Standar Kompetensi lulusan serta berpedoman pada panduan dari Badan Standar Nasional Pendidikan. Atas dari itu, pengembangan kurikulum, khususnya perihal pengembangan bahasa Indonesia untuk jenjang pendidikan sekolah dasar mengacu kepada standar isi dan standar lulusan serta panduan dari Badan Standar Nasional Pendidikan.

Prinsip-prinsip pengembangan, menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP, 2007: 3-4) adalah:

  1. Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
  2. Beragam dan terpadu.
  3. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.
  4. Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
  5. Menyeluruh dan berkesinambungan.
  6. Belajar sepanjang hayat.
  7. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah.

Apabila prinsip-prinsip tersebut dihubungkan dengan perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua maka pembelajaran bahasa Indonesia yang dilaksanakan di Sekolah Dasar (SD) harus memenuhi prinsip-prinsip tersebut. Apabila hal tersebut dihubungkan dengan peserta didik atau siswa SD yang menjadi subjek perkembangan bahasa Indonesia, maka bahasa Indonesia harus dikembangkan sesuai dengan tuntutan kebutuhan anak usia sekolah dasar.

Berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan tersebut, maka ada sejumlah pertimbangan untuk pengembangan bahasa Indonesia pada jenjang pendidikan Sekolah Dasar, antara lain:

  1. Bahasa Indonesia dikembangkan untuk meningkatkan potensi siswa dalam perkembangan intelektual, sosial dan emosional serta menunjang keberhasilan siswa dalam mempelajari ilmu pengetahuan atau mata pelajaran di Sekolah Dasar.
  2. Bahasa Indonesia dikembangkan kepada siswa untuk mendukung perilaku berbahasa lisan (menyimak dan berbicara) maupun berbahasa tulis (membaca dan menulis).
  3. Bahasa Indonesia dikembangkan kepada siswa untuk mediasi dalam mengenal dirinya sendiri, budayanya dan budaya orang lain.
  4. Bahasa Indonesia dikembangkan kepada siswa untuk media analisis dan antisipasi tentang persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.
  5. Bahasa Indonesia dikembangkan kepada siswa untuk keperluan penyebarluasan penggunaan bahasa Indonesia yang berkaidah baik dan benar serta sikap positif terhadap bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bangsa Indonesia.

Dengan diajarkan bahasa Indonesia kepada siswa di sekolah dasar, perkembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua dapat diupayakan. Siswa sebagai peserta pembelajaran dipandang sebagai agen pengembangan bahasa Indonesia. Dengan pembelajaran bahasa Indonesia, perkembangan bahasa Indonesia dapat terus dilanjutkan sehingga dicapai kebanggaan terhadap bahasa Indonesia.

2. Penerapan Prinsip Pengembangan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Pembelajaran bahasa Indonesia merupakan upaya pengembangan bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Menurut Undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, dijelaskan bahwa pembelajaran adalah suatu proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar. Untuk pembelajaran bahasa Indonesia dipandang sebagai suatu proses interaksi peserta didik (siswa Sekolah Dasar) dengan pendidik (guru Sekolah Dasar) dan sumber belajar (bahasa Indonesia) dalam suatu lingkungan belajar. Bahasa Indonesia merupakan sumber belajar yang menjadi fokus perhatian dalam pembahasan ini.

Sumber belajar harus dipilih berdasarkan prinsip-prinsip pengembangan. Apabila sumber belajar dipilih berdasarkan pertimbangan prinsip-prinsip pengembangan, maka pembelajaran bahasa Indonesia dapat berfungsi sebagai pengembang potensi siswa sekaligus pengembang bahasa Indonesia. Menurut BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan, 2007), pengembangan pembelajaran bahasa Indonesia dilaksanakan berdasarkan standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan mata pelajaran bahasa Indonesia. Untuk itu, sumber belajar dikembangkan dengan pertimbangan kompetensi menurut kurikulum.

C. PEMBAHASAN

Pemerolehan bahasa merupakan salah satu cara pandang dalam pengembangan bahasa selain pembelajaran. Pemerolehan bahasa adalah cara individu mengembangkan bahasa secara tidak disadari dan alamiah melalui keterlibatan secara langsung dalam lingkungan bahasa. Dalam keterlibatan interaksi tersebut, individu menggunakan pengetahuan dan pengalamannya untuk berinteraksi dengan individu lain.

Pemerolehan bahasa Indonesia dapat digunakan oleh siswa sekolah dasar dalam meningkatkan potensi dirinya dalam berbahasa. Pemerolehan bahasa dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk: (1) pembanding, (2) pengoreksi, dan (3) penyusun strategi atau teknik kompetensi kebahasaan maupun performasi berbahasa. Untuk itu, pemerolehan bahasa dapat dipandang sebagai strategi atau cara pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia dan perkembangan bahasa Indonesia di sekolah dasar.

Oleh karena itu, pengembangan dan penggunaan bahasa anak harus benar-benar diperhatikan, apalagi dalam hubungannya dengan penggunaan bahasa Indonesia. Sebagai mana kita ketahui bahwa anak tingkat sekolah dasar sekarang ini sangat pasif dalam berbahasa Indonesia, terlebih-lebih di daerah pedesaan, masih banyak anak sekolah dasar yang belum mengerti atau belum paham betul bahasa Indonesia, sehingga proses pembelajaran akan terhambat dan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran pun akan sulit. Disini dibutuhkan kreatifitas guru sebagai tenaga pengajar, bagaimana peran guru tersebut agar para peserta didik lebih memahami bahasa negara dan mampu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Dalam hal ini, kita dapat mengambil sebuah contoh dari salah satu sekolah dasar yang ada di Lomok Timur, yaitu SDN 3 Tetebatu sebagai obyek penelitian pengembangan bahasa indonesia pada lingkungan sekolah.

Pada dasarnya sekolah ini berada pada salah satu pelosok desa di Lombok Timur yang keadaan sosial penduduknya masih tergolong primitif. Penggunaan bahasa Indonesia di desa ini masih dianggap sebagai kesombogan sosial, kelas sosial dan strata sosial, sehingga sulit untuk berkomunikasi dalam bahasa Indonesia di daerah ini. Hal ini berakibat fatal pada anak-anak, selain mengalami kemunduran dalam proses pembelajaran, juga keterlambatan dalam mengikuti perkembangan global, dan akibatnya anak hanya dapat meniru apa yang dilihat dan didengar tanpa memahami lebih jauh hal tersebut.

Dalam proses belajar-mengajar, guru sering kali menggunakan bahasa daerah setempat untuk menerangkan pelajaran yang diajarkan kepada siswanya, hal ini disebabkan karena para siswa masih sulit untuk menanggapi dan merespon pelajaran dengan kosakata-koskata baru yang menggunakan bahasa Indonesia. Bukan hanya dalam proses belajar-mengajar, dalam beromunikasipun demikian. Namun ada kalanya siswa tersebut malu untuk menggunakan bahasa Indonesia ketika berkomunikas karena tergantung pada pandangan masyarakat, sehingga komunikasi dalam bahasa indonesia tidak berjalan baik, akibatnya guru juga sulit mengembangan penggunaan bahasa Indonesia pada siswa.

Dalam hal ini, diperlukan kreatifitas guru bagaimana cara menyiasati agar proses belajar-mengajar dan komunkasi dalam bahasa Indonesia di lingkugan sekolah maupun masyarakat bisa berjalan sebagaimana mestinya. Guru bisa saja membuat suatu program khusus untuk menyiasati hal tersebut. Misalnya, guru memberlakukan program wajib berbahasa Indonesia di linkungan sekolah dengan membayar denda sebagai sanksi atas pelanggaran yang dilakukan siswa yang tidak mengikuti dan mematuhi program tersebut.

Program ini dipertimbangkan atas dasar kebiasaan siswa sekolah dasar. Sebagian besar siswa sekolah dasar datang ke sekolah untuk bermain dan berbelanja bersama teman-temannya, karena pada dasarnya siswa sekolah dasar masih suka mengikuti temannya, selalu meninginkan apa yang dimiliki oleh temannya, dan selalu ingin mendapatkan yang lebih baik dari teman-temannya.

Oleh karena itu, para siswa tersebut tidak akan rela apabila harus kehilangan uang, sehingga mereka mau mengikuti program tersebut. Hasilnya terjadilah arus timbal-balik antara siswa yang satu dengan yang lain dalam berbahasa Indonesia dan akhirnya menjadi kebiasaan dalam berkomunikasi. Hal ini adalah awal yang baik untuk pengebangan bahasa Indonesia ditingkat sekolah dasar, dan pada akhirnya akan terlihat pula peningkatan pada hasil belajar siswa. Hasil ini tiak hanya baik bagi sekolah, namun juga baik bagi perkembangan bangsa dalam menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Namun perlu kita ketahui, pengembangan bahasa harus sesuai dengan prinsip-prinsip yang ada. Pengembangan bahasa disesuaikan dengan tuntutan dan perkembangan masyarakat setempat serta kebijakan pemerintah. Kita tidak seharusnya memberlakukan program pengembangan yang dianggap merugikan masyarakat dan melanggar ketentuan hukum yang berlaku. Yang harus kita ingat bahwa progranm pengembangan bahasa diberlaukan untuk perkembangan dan pengenalan diri siswa dada lingkungan sekitar, budaya sosial, serta perkembagan gobal, sehingga siswa tidak terjerums pada pengaruh globalisasi.

PENUTUP

  1. Simpulan

Pemeolehan bahasa merupakan suatu cara pandang yang baik untuk pengmbangan bahasa anak, terutama dalam bahasaindonesia. Pemerolehan bahasa Indonesia dapat digunakan oleh siswa sekolah dasar dalam meningkatkan potensi dirinya dalam berbahasa. Pemerolehan bahasa dapat dimanfaatkan oleh siswa untuk: (1) pembanding, (2) pengoreksi, dan (3) penyusun strategi atau teknik kompetensi kebahasaan maupun performasi berbahasa. Untuk itu, pemerolehan bahasa dapat dipandang sebagai strategi atau cara pengembangan kemampuan berbahasa Indonesia dan perkembangan bahasa Indonesia di sekolah dasar.

Namun pada kenyataannya, anak tidak mampu mengembangkan apa yang diperoleh, ini dikarenakan faktor lingkungan sosial dan pergaulan anak tersebut, akibatnya anak tidak dapat mengembangkan potensi diri dengan baik, hal ini biasanya terjadi pada siswa sekolah dasar di daerah pedesaan.

  1. Saran
  • Guru harus kreatif dalam usaha pengebangan bahasa siswanya, seperti menghimbau siswanya untuk bersaing dengan sekolah yang lebih maju dalam berbagai bidang agar para siswa tersebut antusias dalam mengikuti program yang telah ditetapkan.
  • Guru harus menjaga komunikasi dengan siswanya, agar siswa tidak terlihat pasif ketika berhadapan dengan gurunya. Dalam berkomunikas engan muridnya, guru harus mengguakan bahasa yang komunikatif, yang mudah imengerti oleh anak-anak. Guru hendaknya cendrung menggunakan menggunakan bahasa aak-anak dalam berkomunikasi agar terjalin komunikasi yang kondusif.
  • Guru hendaknya mengadakan program rutinitas yang bersifat komunikatif, agar siswa dapat berkomunikasi dengan siswa yang lainnya, sehingga menjadi awal yang baik bagi pengembangan baasa Indonesia para siswa tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. (1994). Pembelajaran Terpadu sebagai Bentuk Penerapan Kurikulum 1994 Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Dalam Vocal, V (1): 1-5.

Alwasilah, A. Chaedar. (1985). Sosiologi Bahasa. Bandung: Angkasa.

Hidayat, Kosadi; Jazir Burhan; Undang Misdan. (1990). Strategi Belajar– Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung: Bina Cipta

Tarigan, Guntur H. (1990). Pengajaran Kompetensi Bahasa. Bandung: Angkasa.

Drs. Indihadi, Dian, M.Pd. makalah Perkembangan Bahasa Indonesia dalam Tataran Kebijakan. BBM 10.

Zuchdi, Darmiati dan Budiasih. 1997. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Kelas Rendah. Jakarta: Depdikbud

Pusat Kurikulum, Balitbang Dinas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2003. Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta: Depdiknas.

http:/edukasi.kompas.com/read/2012/10/29/12205328/Masa.Emas.Belajar.Bahasa

http://zhuldyn.wordpress.com/materii=lain/perkembangan=peserta=didik/perkembangan-bahasa-anak-sd/


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *