Pemuda Beruntung dan Toko Bunga

Editor Picks, Fiksi, HIburan

Tesebutlah sebuah Toko Bunga yang terkenal di sudut kota Kembang. Toko ini terkenal dengan koleksinya yang unik dan lengkap, hampir semua jenis bunga di seluruh dunia ada di sana mulai dari mawar, bugenvil, petunia, azalia, dan sebagainya. Sungguh tempat yang luar biasa, apalagi bagi mereka yang menyukai bunga.

Suatu ketika, dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Kembang yang kesekian kalinya, toko ini bermaksud memberikan hadiah kepada para pembelinya, yaitu dengan memberikan diskon bahkan bunga gratis kepada pengunjung yang beruntung pada hari itu.

Demi mendengar berita itu, penduduk pun berbondong-bondong untuk mengunjungi toko itu, bahkan tidak sedikit yang datang dari luar Kota Kembang. Semua orang berharap untuk mendapatkan kesempatan yang langka tersebut.

Beragam cara pun dilakukan, ada yang menginap dan membangun tenda di depan toko, ada juga yang bahkan rela tidak tidur sepanjang malam menjelang dibukanya program spesial itu. Tidak ada satu pun yang tahu, bagaimana ciri-ciri pengunjung yang beruntung itu, karena pemilik Toko tidak memberikan petunjuk sedikitpun soal itu. Kebanyakan dari mereka beranggapan bahwa pengunjung yang beruntung adalah yang datang paling pertama, atau pengunjung nomor kesekian yang itupun mereka tidak bisa memastikan.

Keesokan harinya toko itu pun dibuka menjelang pagi. Seketika itu juga pengunjung yang membangun tenda di depan toko langsung berlari kedalam, berharap ia menjadi pengunjung pertama di hari itu. Ia pun mulai berkeliling toko, udara pagi yang segar dan hawa yang sejuk membuatnya semakin menikmati kunjungannya.

Namun, menjelang siang ketika toko itu sudah dipenuhi pengunjung, ia tidak mendapatkan apa yang diharapkannya, karena begitu masuk tengah hari, pemilik toko itu mengumumkan bahwa pengunjung yang beruntung adalah pengunjung termuda di hari itu, ia yang sudah hampir paruh baya itu pun kecewa dan pulang dengan tangan hampa.

Hampir semua pengunjung di toko itu adalah orang dewasa, bahkan sebagian juga sudah memasuki usia paruh baya yang hobi mengoleksi bunga untuk menemani sisa hidupnya. Namun tidak disangka, ada seorang pemuda yang juga datang ke toko itu, sungguh beruntunglah ia. Akhirnya ia pun dipanggil oleh pemilik toko untuk diberikan hadiah.

Awalnya pemuda itu enggan menerima hadiah itu, karena sebenarnya ia tidak berniat sedikitpun membeli atau membawa pulang bunga dari toko itu, ia hanya sekedar mampir untuk melihat karena penasaran dengan toko yang dipenuhi pengunjung itu.

Namun setelah beberapa saat, ia pun berubah pikiran, ia teringat kekasihnya di kampung halamannya, dan ingin membawakan bunga untuk kekasihnya tersebut.

“Lumayan, dapat bunga gratis, bagus-bagus lagi,” pikirnya. Ia pun menerimanya, dan pemilik toko mempersilahkan pemuda itu untuk berkeliling memilih apa saja bunga yang ia inginkan.

Satu hal menarik dari toko bunga ini adalah penataan koleksinya, dimana toko itu berbentuk seperti labirin satu arah yang hanya bisa dilewati satu kali, sehingga setiap orang yang sudah berjalan melihat-lihat tidak boleh kembali lagi ke belakang. Lagipula, hari itu toko dipadati pengunjung, jika kita berbalik ke belakang dan melawan arus itu akan mengganggu pengunjung lain.

Dengan senyum bahagia dan penuh semangat, ia pun mulai menyusuri lorong-lorong koleksi bunga di toko itu, ia sangat ingin mempersembahkan yang terbaik untuk kekasihnya itu.

“Aku harus memilih yang terbaik, yang paling indah, paling wangi, dan—,“ gumamnya. Akhirnya ia pun menemukan satu bunga yang menurutnya cocok.

Segera ia ambil bunga itu dan berjalan untuk menyerahkannya sebagai pilihannya, namun baru beberapa langkah ia berjalan, hatinya gelisah dan mulai berpikir, “Toko ini kan punya semua macam bunga di seluruh dunia, pasti banyak bunga yang lebih bagus dari ini.”

Ia pun tidak jadi membawa bunga itu dan meletakannya kembali, kemudian kembali menelurusi lorong mencari bunga yang lain.

Kembali ia berhenti ketika melihat bunga yang menarik perhatiannya, kali ini bunganya lebih besar dan mengeluarkan wangi yang sangat harum. “Wah, ini pasti bunga langka, aku belum pernah melihatnya sekalipun! Aku ambil ini saja!” gumamnya. Namun, di lorong itu hampir semua bunga sejenis berjajar rapi dalam susunan warna yang pasti memanjakan mata, ia pun bingung lagi hingga menimang-nimang banyak bunga sekaligus. Tapi tak satupun ia ambil, kembali ia yakin bahwa pasti ada bunga yang lebih baik lagi di sisi lain toko itu.

Begitu seterusnya, ia berjalan sedikit, lalu berhenti ketika melihat bunga yang menarik, memegangnya sebentar sambil tesenyum, lalu terdiam dan meletakkan bunganya kembali. Ia sangat  bingung untuk memilih, karena ia takut bunga yang ia pilih bukanlah bunga terbaik.

Hingga tanpa disadari, ia hampir mendekati pintu keluar toko dan koleksi bunga yang bisa dipilih pun mulai berkurang. Ia pun panik, karena belum satupun ia menjatuhkan pilihan yang artinya ia akan pulang tanpa membawa satu bunga pun. Ia pun menengok ke kiri dan kanan, berlari kesana-kemari, kebingungan. Hampir saja ia berlari kebelakang karena bermaksud mengambil bunga yang ia temui pertama kali tadi, sayangnya ia ingat kalau ia tidak bisa kembali.

Akhirnya dalam kondisi seperti itu, ia pun memilih apa saja yang bunga yang didapatnya, tanpa menimbang-nimbangnya lagi. Ia pun pasrah, dan menunjukkan bunga pilihannya kepada sang pemlik toko. Tahukah apa yang ia pilih? Ia mengambil bunga kaktus yang kecil dan hampir layu, karena terlanjur bingung.

Sungguh Pemuda yang “beruntung”….

**

Mungkin diantara kita sudah pernah mengetahui tentang cerita ini, dan bisa menebak apa hikmah dari cerita tersebut. Namun, ada satu hikmah tersembunyi yang mungkin berbeda dari biasanya.

Cerita tersebut menggambarkan kondisi kita sebagai pemuda, yang diberi kesempatan yang besar untuk menuntut ilmu, mendapatkan pengalaman baru, dan mewarnai hidup kita dengan prestasi. Hadiah itu adalah kesempatan hidup kita, yang hanya didapat sekali, dan itu diberikan kepada kita secara cuma-cuma oleh Allah.

Lorong itu adalah waktu kita hidup di dunia, yang senantiasa berlalu dan kita lewati tanpa bisa kita kembali ke belakang lagi.

Bunga itu adalah ilmu, yang bisa kita dapat di sekitar kita, bisa kita raih dengan cara apapun, kita bebas memilih apa yang ingin kita pelajari. Ilmu itu bermacam-macam bentuknya, manfaatnya, tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Kebanyakan kita tidak puas, atau cepat sekali bosan dengan ilmu yang sedang kita pelajari, padahal mungkin belum sepenuhnya kita pahami. Lalu ilmu itu kita tinggalkan, dan ingin mencari ilmu lain yang kita anggap lebih baik dan lebih cocok untuk kita. Atau dalam kasus lain, ketika ada kesempatan kita untuk mendapat pengalaman di suatu bidang, belum lama kita ada di dalamnya, bahkan kita baru melihat orang melakukannya saja kita sudah tidak berminat dan mengira masih banyak yang lebih besar manfaatnya dan lebih cocok untuk kita.

Akhirnya, tidak sedikit dari kita yang kemudian menyesal, mungkin tidak sekarang, tapi nanti ketika kita sudah berusia lanjut dan tidak punya waktu dan tenaga lagi untuk melakukan hal-hal yang tadinya bisa kita lakukan, dan kita berkesempatan besar mendapatkannya.

Kita sibuk mencari dan terus mencari yang “sempurna” untuk kita jadikan pesembahan, kita terjebak dengan angan-angan, tanpa mengambil kesempatan belajar walaupun sedikit. Padahal, sekecil apapun ilmu itu, ketika kita dengan sungguh-sungguh dan ikhlas mempelajarinya, yakinlah manfaatnya akan besar sekali.

Hal yang sama pun bisa berlaku dalam memilih pasangan hidup. Berapa banyak yang terlalu pilih-pilih, sibuk mencari yang paling sempurna, tolak sana-sini karena mengharapkan ada yang lebih baik lagi nantinya. Sampai akhirnya kehabisan waktu karena usia yang tak semakin muda. Hingga akhirnya asal pilih saja, siapapun yang mengajukan pun diterima.

Ketika kita berjalan, ambillah ilmu yang bisa kita dapat sekecil apapun, simpan dan jangan lupakan. Sehingga semakin hari ilmu kita semakin bertambah, dan di ujung kehidupan nanti kita bisa mengumpulkan bekal ilmu yang sangat banyak yang bisa kita wariskan kepada anak-cucu kita.

Saya teringat pesan Ayah saya, “Ambillah kesempatan itu selama kamu bisa.”

Ya, karena kesempatan itu bisa jadi tidak datang dua kali.

Bandung, 21 Maret 2012

Sumber

Oleh: Iqbal Arubi | Facebook | Twitter | Blog


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *