PENDEKATAN FORMAL DAN PENDEKATAN FUNGSIONAL

Artikel, Non Fiksi, Pendidikan

PENDEKATAN FORMAL DAN PENDEKATAN FUNGSIONAL

A.Pengertian Pendekatan

Pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang menangani hakikat pengajaran dan pembelajaran bahasa. Pendekatan bersifat aksiomatik. Metode merupakan rencana keseluruhan bagi penyajian bahanbahasa secara rapi dan tertib, yang tidak ada bagian-bagiannya yang berkontradiksi dan kesemuanya itu didasarkan pada pendekatan terpilih. Kalau pendekatan bersifat aksiomatik, maka metode bersifat prosedural. Sedangkan teknik bersifat implementasional yang secara aktual berperan di dalam kelas. Teknik merupakan suatu muslihat, tipu daya atau penemuan yang dipakai untuk menyelesaikan serta menyempurnakan suatu tujuan langsung. Teknik ini harus konsisten dengan metode dan oleh karena itu harus selaras dan serasi juga dengan pendekatan.

 

Pendekatan Formal

     Semi (1993) menyatakan bahwa pendekatan formal merupakan pendekatan klasik dan tradisional dalam pembelajaran bahasa. Pendekatan ini menganggap pembelajaran bahasa sebagai suatu kegiatan rutin yang konvensional, dengan mengikuti cara-cara yang telah biasa dilakukan berdasarkan pengalaman. Oleh karena itu, pembelajaran tidak mempunyai latar belakang teoritis. Prosedur pembelajarannya pun hanya berdasarkan atas pengalaman pengajar dan apa yang dianggap baik oleh umum.

Pendekatan formal dipakai dalam dua metode pembelajaran bahasa, yaitu metode terjemahan tatabahasa dan metode membaca.

  1. Metode terjemahan tatabahasa mengutamakan pemberian pola-pola tatabahasa dengan menterjemahkan contoh-contoh pemakaiannya. Metode ini cendrung menghasilkan lulusan yang tahu tentang bahasa, tetapi tidak berkemampuan untuk menggunakan dalam berkomunikasi.
  2. Metode membaca menggunakan bahasa tulis sebagai sarana belajar bahasa sehingga analisis dilakukan melalui teks bacaan yang akhirnya menimbulkan kebosanan. Metode ini mudah, namun pada akhirnya dapat mengurangi motivasi karena peserta didik merasakan tidak banyak guna.

B. Pendekatan formal menurut para ahli

1.Pendekatan konsep dari J. Bruner (1960)

            Pendekatan ini merupakan suatu model instruktional kognitif. Pendekatan tersebut dalam pembelajaran dapat di laksanakan bila guru melaksanakannya denganteknik inquiri. Pendekatan inquiri adalah salah satu pendekatan yang berorientasi bahwabelajar adalah suatu pengembangan intelektual.Melalui proses inquiri orang dapat menemukan hal-hal yang baru.

Menurut D.Ausubel belajar berlangsung pada struktur kognitif yang ada.Belajar menurut D. Ausubel di klasifikasikan dalam 2 dimensi sebagai berikut:

Dimensi I : yaitu berhubungan dengan cara informasi di berikan. Ada 2 carayaitu :

  1. Melalui Penerimaan
  2. Melalui Penemuan

Dimensi II : yaitu berhubungan dengan bagaimana siswa dapat mengaitkan informasibaru ke dalam struktur kognitif yang ada, ada dua jenis.

  1. Belajar hafalan
  2. Belajar bermakna,Belajar bermakna terjadi apabila ada suatu proses yang mengaitkan informasi baru padakonsep yang relevan yang ada sebelumnya pada struktur kognitif seseorang. Dalam belajar bermakna informasi yang baru di asimilasikan pada sub sumber yang relevan yangtelah ada dalam struktur kognitif, dengan kata lain belajar bermakna terjadi bila konsepyang baru dapat di kaitkan pada konsep yang tersimpan dalam otak.Berbeda dengan belajar hafalan proses tidak ada, melalui belajar hafalanumumnya siswa tidak mengerti apa yang mereka pelajari. Banyak bukti yang mengatakanbahwa dengan cara menghafal, siswa tidak bisa mengaplikasikan konsep yang di perolehdalam memecahkan masalah yang di hadapinya.

 

  1. Pendekatan Tingkat Perkembangan dari Piaget

Teori ini beranggapan bahwa belajar adalah merupkan pengembangan aspek kognitif sebagai bekal untuk memecahkan persoalan yang di hadapi siswa dalam kehidupannya dan untuk mengembangkan kehidupan yang lebih baik.

 

3.Pendekatan Induktif –Deduktif dari Hilda Taba

Pendekatan Induktif-Deduktif data pembelajaran adalah salah satu pendekatanyang berorientasi pada faham bahwa belajar pada dasarnya adalah pengembangan intelektual. Pengembangan intelektual sesorang akan berkembang melalui dua cara:Secara Induktif : jika teori yang di peroleh menjadi generalisasi dan faktor-faktor empiris.Dengan pendekatan Induktif orang mulai dari teori-teori kecil yang telah diujiberkali-kali kemudian disusun ke atas menjadi suatu generalisasi.Secara Deduktif : Teori di bangun dengan dasar logis kemudian diuji berkali-kali melalui eksperimen yang sifatnya di tentukan oleh teori tersebut. Dalam teori semacam itu dirumuskan sekumpulan asumsi-asumsi dasar atau postulat-postulat dengan memperhatikan faktor-faktor yang telah dikenal sebelumnya.

 C. Aplikasi pendekatan formal

  1. Guru menerjemahkan kosa kata yang baru, kemudian menugaskan siswa untuk menghapal vocabulary itu dan meminta untuk diperdengarkan kembali pada hari berikutnya;
  2. Guru meminta sebagian siswa untuk membaca teks dan mengoreksinya. Kemudian guru membaca teks tersebut kalimat per kalimat, kemudian meminta salah seorang siswa yang pandai untuk menerjemahkan kalimat itu atau guru itu sendiri yang menerjemahkannya;
  3. Guru mengeluarkan kaidah-kaidah nahwu dari teks tersebut kemudian menjelaskannya dengan penjelasan yang terperinci, begitu juga terkadang bisa meminta siswa untuk menyusun kalimat yang sesuai dengan kaidah tersebut, dan selanjutnya siswa memulai untuk menjawab latihan soal-soal;
  4. Guru memberi tugas kepada siswa untuk menghapalkan tata bahasa di luar kepala dan memperdengarkannya pada kesempatan/jam pelajaran yang akan datang;
  5. Terkadang siswa menerjemahkan teks dengan terjemahan bebas.

D. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Formal

Kelebihan diantaranya :

  • Metode ini memandang bahasa dengan pandangan yang /universal dan dengan metode yang /integral, metode ini mementingkan pada semua kemampuan (menyimak, menuturkan, membaca dan menulis).
  • Menjadikan siswa lebih /partisipasipatif dan /potensial/aktif di dalam ruang belajar, metode ini menghilangkan /dua fenomena rasa malu dan takut.
  • Variasi tehnik-tehnik dan latihan-latihannya menghilangkan rasa kebosannjenuh yang ada pada siswa.
  • Sesungguhnya metode ini pertama sekali memperhatikan bahasa yang hidup dan nyata dalam kehidupan sehari-hari, kemudian berpindah kepada bahasa-bahasa kebudayaannya.

Kekurangan diantaranya :

  • Dari satu segi metode ini banyak pengulangan yang terkadang mengakibatkan kejenuhan dan dari segi yang lain meniru persis dengan apa yang ditiru (seperti burung Beo).
  • Lebih memusatkan pada segi lisan daripada yang lainnya.
  • Terkadang metode ini tidak cocok digunakan oleh yang sudah berusia tua, metode ini hanya sesuai dengan anak-anak saja.

 E. Pendekatan Fungsional

Pengertian fungsional ialah usaha memberikan materi pembelajaran menekankan kepada segi kemanfaatan bagi peserta didik dalam kehidupan sehari-hari sesuai dengan tingkatanperkembangannya. Materi yang dipelajari oleh anak di sekolah bukanlah hanya sekedar melatih otak tetapi diharapkan berguna bagi kehidupan anak, baik dalam kehidupan individu maupn dalam kehidupan sosial. Dengan pendidikan anak-anak dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Dengan demikian, dengan pendekatan fungsional berarti anak dapat memanfaatkan pengetauan yang dperoleh di lingkungan pendidikan dapat di amalkan dalam kehidupan sehari-hari, baik kehidupan individu maupun kehidupan masyarakat.

Menurut semi (1993), pendekatan ini menyarankan apabila mempelajari bahasa sebaiknya melakukan kontak langsung dengan masyarakat atau orang yang menggunakan bahasa itu. Dengan demikian peserta didik menghadapi bahasa yang hidup dan mencoba memakainya sesuai dengan keperluan komunikasi.

Lebih jauh ia mengutarakan bahwa pendekatan ini memunculkan berbagai metode mengajar bahasa, antara lain:

  • Metode langsung
  • Metode pembatasan bahasa
  • Metode audio-visual
  • Metode linguistik

 

  • Metode Langsung

Penggunaan metode langsung didasarkan pada asumsi bahwa penguasaan bahasa dan pengembangan rasa bahasa secara instingtif berakar dalam hubungan langsung antara pengalaman dan ekspresi. Karena itu tidak diperkenankan penggunaan bahasa perantara, penguasaan bahasa lisaan diutamakan, pembelajaran dilaksanakan seperti anak belajar bahasa ibunya, waktu terbanyak digunakan untuk latihan bahasa lisan, pola-pola dan struktur kalimat diajarkan secara induktif, gairah belajar harus tumbuh dalam pelajaran itu.

Ciri-ciri utama ML adalah sebagai berikut

  • Belajar bahasa hendaklah mulai dengan situasi “di sini-dan-kini” dengan memanfaatkan objek-objek kelas dan tindakan-tindakan atau perbuatan – perbuatan sederhana.
  • Pelajaran dalam ML kerapkali berkembang di sekitar gambar – gambar yang dibuat secara khusus menggambarkan kehidupan di negara pemakai bahasa sasaran.
  • Dari permulaan pengajaran, para siswa mendengarkan kalimat-kalirnat sempurna dan bermakna di dalam wacana sederhana, yang kerapkali menggunakan bentuk pertukaran-pertukaran tanya-jawab.
  • Ucapan yang tepat dan benar merupakan suatu pertimbangan penilaian penting. dalam pendekatan ini, dan penekanan ditempatkan pada pengembangan ucapan yang tepat dalam permulaan pengajaran. Catatan atau notasi fonetik kerap kali digunakan untuk mencapai tujuan itu.
  • Kaidah-kaidah tata bahasa tidak diajarkan secara eksplisit, kaidah-kaidah itu diharapkan dapat dipelajari melalui praktek-praktek dan latihan.
  • Aneka tujuan membaca juga dicapai melalui pemahaman “langsung” terhadap        naskah bacaan tanpa penggunaan kamus atau terjemahan.
  • Kelebihan metode Langsung adalah
  • peserta didik aktif berbahasa,
  • peserta didik langsung diajak menggunakan bahasa target yang merupakan penerapan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi,
  • pemahaman peserta didik terhadap bahasa tidak verbalistis.
  • Kelemahan metode Langsung adalah
  • tidak semua kata dapat dijelaskan dengan menghiubungkan kata-kata dengan benda, gerakan, gambar, atau tiruan,
  • peserta didik cenderung menerjemahkan secara diam-diam,
  • kesulitan dalam mmenjelaskan nbentuk kata-kata
  • pelajarann membaca permulaann lambat karena peserta didik harus mendengarkan bahasa target yangn menekanlan pada bahasa lisan,
  • membebani guru (guru kelelahan).

 

  • Metode Pembatasan Bahasa

Metode ini adalah metode bahasa yang menekankan perlunya pembatasan dan penggradasian kosa kata dan struktur bahasa yang akan diajarkan. Atau dengan kata lain, metode ini menekankan pada pembatasan dan penggradasian kosakata dan struktur bahasa yang akan diajarkan. Pembatasan itu dalam hal kekerapan atau penggunaan kosakata dan urutan penyajiannya. Kata-kata dan pola kalimat yang tinggi pemakaiannya di masyarakat diambil sebagai sumber bacaan dan latihan penggunaan bahasa.

Arti yang terkandung dalam kata-kata atau kalimat-kalimat diajarkan melalui peragaan/perbuatan, benda asli, benda tiruan gambar dan alat-alat visual lainnya. Metode pembatasan bahasa dapat digunakan dalam pembelajaran bahasa lisan atau tulis. Prinsip yang mendasari metode ini adalah mencari jalan terpendek dan terifisien agar waktu singkat dan jalan yang mudah siswa menguasai sejumlah kata dan pola yang terbatas, tetapi mempunyai manfaat yang besar dalam kehidupannya. Dengan jalan demikian, diharapkan waktu yang relatif singkat siswa mampu menggunakan bahasa itu untuk keperluannya di masyarakat (Kosadi Hidayat, 1990 : 93)

Adapun langkah-langkah yang digunakan dalam metode pembatasan bahasa adalah sebagai berikut.

  • Pola-pola kalimat yang diajarkan adalah yang sering digunakan dalam pemakaian baahsa itu. Kata-kata dan pola diambil dari berbagai sumber bacaan.
  • Banyaknya pola dan kata yang diajarkan tidak dianggap penting. Yang penting adalah bahwa kata dan pola kalimat itu sering digunakan atau dipakai luas ddalam masyarakat.
  • Disamping faktor keseringan dalam memilih kata-kata dan pola-pola ini, adapula landasan nilai strukturalnya, yaitu keumumannya dalam lingkungan pemakaian bahasa itu, penyebaran dari berbagai bahan, nilainya dalam memberikan definisi terhadap kata-kata lain, daya mampunya dalam membentuk kata-kata baru dan fungsi stilistiknya. (Kosadi Hidayat, 1990 : 1990:94).

Metode ini menekankan pada pembatasan dan penggradasian kosakata dan struktur bahasa yang akan diajarkan, kata-kata dan pola kalimat yang tinggi pemakaiannya dimasyarakat diambil sebagai sumber bacaan dan latihan penggunaan bahasa.

 

  • Metode Linguistik

Metode linguistik juga disebut metode Oral-aural Method. Metode ini dipandang sebagai metode modern karena berdasar pada pendekatan ilmiah.

Prinsip-prinsip pembelajarannya:

  • bahasa yang akan diajarkan didasarkan pada analisis deskriptif dan analisis kontrastifnya dengan bahasa ibu siswa,
  • sistem bunyi bahasa diajarkan terlebih dahulu,
  • pola struktur kalimat diajarkan setelah siswa memahami sistem bunyi,
  • pelajaran tentang kata dipadukan dengan pembelajaran bunyi dan pola struktur kalimat,
  • pelajaran tata bahasa dapat dikjelaskan dengan bantuan bahasa ibu siswa dan dijalinkan dalam latihan pemakaian bahasa,
  • pembelajaran bahasa ditekankan pada penguasaan bahasa lisan,
  • latihan-latihan dilakukan secara intensif agar siswa terbiasa menggunakan bahasa baru yang diajarkan.

Dalam metode linguistik semua bahasa diperlakukan sama, artinya tidak ada bahasa yang lebih baik/lebih maju daripada bahasa lain.

  • Kelemahan metode linguistic yaitu :
  • mempelajari bahasa lisan telebih dahulu tidak memberikan jaminan pada kelancaran kemampuan membaca dan mengarang,
  • latihan-latihanintensif sering menjenuhkan.

 

  • Metode Audio visual

Media Audio visual adalah media instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman (kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi), meliputi media yang dapat dilihat dan didengar” (Rohani, 1997: 97-98).

Metode audio visual adalah merupakan media perantara atau penggunaan materi dan penyerapannya melalui pandangan dan pendengaran sehingga membangun kondisi yang dapat membuat siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.

Dalam pembahasan ini akan dipaparkan sebagian dari bentuk media audio visual yang dapat diklasifikasikan menjadi delapan kelas yaitu:

  • Media audio visual gerak.

contoh, televisi, video tape, film dan media audio pada umumnaya seperti kaset program, piringan, dan sebagainya.

  • Media audio visual diam.

contoh, film bersuara, slide bersuara, komik dengan suara.

  • Media audio semi gerak.

contoh, telewriter, mose, dan media board.

  • Media visual gerak

contoh, film bisu

  • Media visual diam

contoh microfon, gambar, dan grafis, peta globe, bagan, dan sebagainya

  • Media audio

contoh, radio, telepon, tape, disk dan sebagainya

  • Media cetak

contoh, televisi (Soedjarwono, 1997: 175)

Hal tersebut di atas adalah merupakan gambaran media sebagai sumber belajar, memberikan suatu alternatif dalam memilih dan menggunakan media pengajar sesuai dengan karakteristik siswa. Media sebagai alat bantu mengajar diakui sebagai alat bantu auditif, visual dan audio visual. Ketiga jenis sumber belajar ini tidak sembarangan, tetapi harus disesuaikan dengan rumusan tujuan instruksional dan tentu saja dengan guru itu.

F. Pendekatan Fungsional Menurut Para Ahli

Salah satu aliran psikologi yang berkembang dengan pesat setelah terbitnya ilmu psikologi oleh Wundt adalah aliran fungsional. Dua tokoh besar yang berdiri di balik aliran fungsional ini adalah John Dewey (1867–1949) dan William James (1842–1910). Salah satu hal mendasar yang menjadi titik acuan dari teori fungsional adalah bahwa semua proses psikologi pada manusia dilandasi oleh kesadaran yang senantiasa berinteraksi dengan pengalaman-pengalaman mereka. Kesadaran menjadikan manusia dapat beradaptasi dengan lingkungannya. Hal lain yang juga menjadi prinsip dari teori fungsional adalah kesadaran tidak mungkin dipelajari dalam bagian-bagian yang parsial (terpisah) karena proses yang terjadi dalam kesadaran manusia terjadi secara kompleks dan berkesinambungan (Schunk, 2012).

Kesadaran yang berkesinambungan (bersifat kontinu) bermakna bahwa berbagai peristiwa yang dialami oleh manusia membentuk dan memberi perubahan terhadap kesadaran secara utuh dan terus-menerus. Pengalaman-pengalaman tersebut tidak menjadi memori yang terpisah satu sama lain. Oleh karenanya menguraikan kesadaran menjadi bagian-bagian pengalaman menjadi tidak mungkin. Kesadaran menjadi perangkat utama dalam diri manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya, dan demikian pula sebaliknya interaksi dengan lingkungan menjadi bahan-bahan untuk kedewasaan kesadaran itu sendiri.

 

JOHN DEWEY

Perspektif Mikro dan Makro dalam Proses Belajar

Belajar merupakan proses kompleks yang secara natural memang melekat dalam diri manusia. Dewey menjelaskan secara lebih khusus proses belajar manusia melalui dua perspektif yaitu perspektif mikro (dalam diri) dan makro (interaksi dengan lingkungan luar).

Perspektif Mikro

Karakter dasar anak adalah aktif, oleh karenanya Dewey meyakini bahwa belajar pada diri seorang anak adalah suatu kepastian. Dalam diri mereka terdapat suatu dorongan kuat dan alami untuk mengenal, merasakan dan melakukan berbagai macam hal. Dewey (dalam Simpson dan Liu, 2007) menyatakan bahwa terdapat tiga serangkai yang tak terpisahkan dalam diri anak yang menyebabkan diri mereka aktif belajar yaitu mind, sensation and movement (pikiran, sensasi dan gerak). Ketiga hal tersebut berpadu mewujudkan diri anak yang aktif dan ingin melakukan banyak hal.

Dalam waktu yang cepat, proses berpikir dan memilih segera mengarahkan tubuh mereka untuk bergerak. Berbeda dengan orang dewasa yang lama dalam menentukan pilihan dan memikirkan sesuatu, anak-anak berpikir dan memilih dengan sangat cepat seolah berlomba dengan otot-otot tubuh mereka yang cepat sekali tumbuh. Dewey (1902) menegaskan bahwa dunia bagi anak-anak adalah segala sesuatu yang menarik hati mereka, bukan fakta-fakta obyektif. Mereka mengenali dan mempelajari semua hal melalui sentuhan dan interaksi langsung.

Anak selalu aktif bermain sambil belajar. Berbeda dengan orang dewasa yang belajar melakukan sesuatu (dimulai dengan teori) sebelum melakukan hal tersebut pada kondisi yang sesungguhnya, anak-anak umumnya langsung belajar dengan melakukan pada kondisi yang sesungguhnya. Namun Dewey (dalam Simpson dan Liu, 2007) tetap menekankan pentingnya peran orang tua atau pendidik, karena keaktifan anak untuk bermain dan belajar tidak otomatis mengarahkan mereka pada proses belajar yang baik, bahkan karakter belajar dengan melakukan (learning by doing) seringkali dapat membahayakan. Para pendidik diperlukan untuk memberikan tuntunan pada anak untuk memilih aktivitas yang edukatif dan tidak berbahaya.

 

Perspektif Makro

Belajar dari perspektif mikro menurut Dewey merupakan wujud dari aktifnya tiga serangkai dalam diri anak yaitu pikiran, sensasi dan gerakan. Lebih lanjut belajar juga merupakan proses sosial, dimana anak akan berinteraksi dengan berbagai aspek lingkungan eksternalnya. Interaksi anak dengan dunia eksternal menurut Dewey (dalam Simpson dan Liu, 2007) terjadi dalam pola sebagai berikut:

Dorongan insting anak untuk berinteraksi dengan lingkungan luar akan segera membuat mereka melakukan action dengan cepat. Seringkali ketika melakukan aktivitas tersebut mereka menemui hambatan sehingga membuat suasana menjadi menegangkan dan terjadilah ketidakseimbangan (disequilibrium) dalam diri mereka, baik pikiran maupun perasaan. Selanjutnya mereka akan menjalani suatu proses pemecahan masalah dan penyesuaian diri dengan hambatan yang ada di lingkungan tersebut. Jika proses tersebut berhasil maka anak akan mengalami harmonisasi diri dan penguatan keseimbangan personal (personal equilibrium).

Contoh :

Contoh sederhana dari proses di atas adalah pada seorang anak yang mendapatkan mainan baru berupa sepeda. Tentu dalam diri anak terdapat dorongan kuat untuk memakai dan bermain dengan sepeda barunya. Namun hambatan terjadi ketika dia mendapatkan kenyataan bahwa ia belum bisa menggunakan sepeda tersebut. Terjadilah ketidakseimbangan dalam dirinya (stress dan kecewa), yang akan mengarahkannya untuk melakukan berbagai alternatif seperti menangis pada ibunya untuk membantu menggunakan sepeda atau mencoba-coba sendiri sepeda tersebut. Berbagai alternatif dapat dipilih oleh anak untuk menyelesaikan masalah tergantung pada kebiasaannya. Namun perlahan-lahan mereka akan belajar menggunakan sepeda tersebut sampai bisa. Pada saat itulah mereka akan mendapatkan kembali keseimbangan personal.

Belajar dalam perspektif mikro dan makro merupakan proses yang saling terkait, saling mempengaruhi dan tidak terpisahkan. Secara bertahap aktivitas dan lingkungan tempat belajar mereka akan semakin kompleks dan luas.

William James

Tokoh berikutnya dalam aliran fungsional adalah ahli psikologi dan filsuf Amerika Serikat William James. James menekankan betapa pentingnya para guru untuk mempelajari dan memahami kebutuhan dan minat para siswanya. Dengan memahami keduanya maka menurut James akan lebih mudah mengarahkan siswa untuk mengembangkan perilaku yang baik. Belajar akan lebih efektif jika anak ditempatkan dalam lingkungan yang memberi mereka kebebasan dan motif yang kuat (Pajares, 2009). James menentang peradigma lama yang memperlakukan siswa sebagai pikiran kosong yang harus diisi oleh guru. James memiliki keyakinan bahwa manusia, terutama pikiran dan perasaannya, adalah bersifat aktif serta mengalami perkembangan kompleks dengan perbagai aspek seperti pikiran, perasaan, motif, kekuatan dan juga resistensi yang unik pada tiap individu (Barzun, 2005).

 

Kesadaran (Conciousness) dalam Proses Belajar

Belajar merupakan proses yang meliputi perubahan terutama aspek-aspek internal manusia. James menggunakan kata kesadaran (conciousness) untuk menyebutkan berbagai aspek internal seperti pikiran, perasaan, motif, kemauan dan juga resistensi dalam diri manusia. Kesadaran siswa, menurut William james (1925), merupakan hal utama yang harus benar-benar diperhatikan guru ketika mengajar. Menurutnya kesadaran inilah yang akan mengarahkan manusia pada dua hal yang sangat penting yaitu pengetahuan dan tindakan (action).

Pengetahuan dan tindakan merupakan dua aspek yang membedakan manusia dari makhluk hidup yang lain. Tindakan yang didasari oleh pengetahuan akan menjadi suatu perilaku (behavior) dan jika terjadi secara permanen kita kenal dengan kebiasaan (habit). William James menyatakan bahwa tugas utama para guru adalah melatih perilaku dan kebiasaan (habit) siswa-siswanya dalam arti yang luas. Karena perilaku tidak dapat dibentuk secara tidak sadar (tanpa pengetahuan) maka secara tidak langsung guru harus memulai tugas-tugasnya dengan mengarahkan kesadaran para siswanya melalui pemrosesan berbagai pengetahuan yang sesuai dan terorganisir dengan baik.

Pengetahuan yang dimaksud oleh James (1925) bukan hanya merupakan sekumpulan informasi atau teori yang dihafal oleh siswa. Pembelajaran pada masa tersebut memang masih banyak dilakukan dengan cara membuat siswa menghafal berbagai teori dan ajaran-ajaran tertentu dengan harapan hafalan tersebut akan diaktualisasikan dalam perilaku siswa di kemudian hari. Namun James tidak setuju dengan metode tersebut, ia berpendapat bahwa pengetahuan yang benar-benar akan menjadi bahan dasar dari kesadaran manusia adalah pengetahuan yang dipahami. Pemahaman akan didapatkan oleh siswa melalui aktivitas yang nyata dan menuntut siswa untuk menggunakan pikirannya secara sadar dalam melakukan berbagai aktivitas.

G. Aplikasi Pendekatan Fungsional

 Mengikut Awang Mohammad Amin (Kamarudin, 2001:56) mengatakan dalam proses penguasaan pertama, seorang anak memperoleh kemahiran mendengar dan kemahiran bertutur adalah dari pada orang-orang yang hampir dengan kehidupannya seperti ibu bapak dan kaum keluarga atau penjaganya. Perkara kedua penting ialah karena lisan adalah lebih senang dikuasai daripada perkara-perkara lain yang dipelajari. Selain itu, kemahiran lisan adalah puncak kepada segala kemahiran yang lain. Ini bermakna kemahiran mendengar dan bertuutur adalah asas kepada kemahiran menulis dan membaca.

Bahan-bahan pengajaran hendaklah dipilih, disusun, dikawal dan dipertingkatkan.

(a) Pemilihan bahan-bahan pengajaran
Pemilihan bahan-bahan pengajaran adalah proses mencari bahan-bahan yang dihasilkan iaitu yang sesuai untuk pengajaran bahasa. Pemilihan dipengaruhi oleh tujuan dan guna serta tingkat pencapaian pelajar-pelajar itu.

(b) Penyusunan bahan-bahan pengajaran
Bahan-bahan pengajaran harus disusun supaya perkembangannya maju iaitu secara beransur-ansur dengan tertib dari peringkat awal hingga peringkat akhir. Susunan bahan-bahan pengajaran dapat mengelakkan pengajaran berlaku secarakucar-kacir.
(c) Kawalan bahan-bahan pengajaran
Ini adalah bertujuan supaya bahan-bahan pelajaran bahasa dapat disampaikan secara berseimbangan. Ini bermakna guru harus dapat mengawal masa dan bahan-bahan yang hendak disampaikan sesuai dengan satu-satu waktu mengajar yang ditentukan.

(d) Pemeringkatan bahan-bahan pengajaran
Bahan-bahan pengajaran yang hendak disampaikan itu seharusnya dirancangkan terlebih dahulu karena dari segi latar belakang keluarga, pengalaman, kecenderungan dan kebolehan pelajar-pelajar adalah berbeda. Selain daripada pemilihan dan susunan yang dilakukan, bahan-bahan itu juga perlu diperingkat-peringkatkan mengikuti kesesuaian.

 

H. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan Fungsional

Kelebihan diantaranya:

  1. memperlakukan bahasa sebagai alat untuk menyampaikan dan memahami (transmit) maksud pertuturan.
  2. Pengguna bahasa diutamakan secara lisan dan kontekstual.
  3. Proses komunikasi akan berlangsung jika antarpenutur saling memahami makna tuturan berdasarkan konteks yang ada, yaitu melibatkan lokasi (where), waktu (when), dan kepada siapa tuturan ditujukan (whom).
  4. Selain itu, teori fungsional lebih berkaitan dengan faktor-faktor sosial daripada proses-proses psikologis yang rumit dalam bahasa. Dengan demikian, bahasa memiliki ketergantungan terhadap masyarakat penutur bahasa dan sama sekali bukan tergantung pada sistem yang terkandung di dalamnya.

Kekurangan diantaranya :

  1. keyakinan bahwa bahasa sekedar alat untuk berkomunikasi menggunakan fungsi-fungsi bahasa target, tidak bersifat universal, karena tidak mampu menembus sasaran bahasa isyarat yang diperlukan oleh orang tunarungu. Jenis bahasa ini tidak memerlukan penguasaan bunyi-bunyi bahasa (language sounds) danpengucapannya;
  2. penggunaan bahasanya hanya terbatas untuk kepentingan berkomunkasi secara lisan (spoken language) bagi kalangan penutur level pemula;
  3. bahasa tidak hanya memungkinkan seseorang untuk berkomunikasi, tetapi juga memiliki fungsi daya pikir (mental functions) yang sangat diperlukan untuk memahami sekaligus merefleksi dunia sekelilingnya. Oleh karena itu, kinerja pembelajarannya tidak sesuai dengan tuntunan pembelajaranbahasa mutakhir, yaitupenguasaan empat ketrampilan berbahasa;
  4. nosi penutur hanya terbatas pada kepentingan komunikasi lisan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://guritakucumi.blogspot.com/2013/06/berbagai-pendekatan-dalam-kurikulum.html

http://gede-upadana.blogspot.com/2012/04/metode-pembelajaran-bahasa-indonesia.html

http://www.sarjanaku.com/2011/05/media-audio-visual.htmlendiri.

http://belajar-dan-pembelajaran.blogspot.com/2011/03/kelebihan-dan-kekurangan-teori.html


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *