Penderitaan Awal Nopember

Belajar Menulis, Editor Picks, Kesehatan, Romance

Snapshot_20150327

Bismillahirrahmanirrahiim

Ntah apa yang kurasakan, aku tak mengerti dengan segala rasa yang kini selalu setia bertengger di setip ranting hati dan jiwaku, semua rasa itu seolah-olah tak bersahabat.

Rasa rasa itu seolah-olah menggerogoti otak dan jantungku sehingga aku tak bisa lagi berpikir dengan sempurna, memori otakku seakan-akan sudah tak mampu lagi menyimpan memori-memori baru yang bisa kubanggakan, dan jantungku seolah-olah sudah tak mampu bekerja dengan sempurna, Rasa itu yang membuatku semakin menjadi manusia yang tak sempurna.

Aku adalah seorang ibu bagi kedua putra ku, dilain hal aku juga seorang calon ibu bagi cabang bayi yang ada dalam rahimku saat ini, menurut adat dan kebiasaan pada suku sasak cabang bayi yang masih berada dalam rahim yang masih berumur kurang dari Lima bulan disebut ngidam, sedangkan ngidam bagi diriku  adalah penyakit yang tak mampu aku obati.

Tak pernah kutemukan obatnya, ah lucu tapi menyakitkan, ini adalah ngidam yang ketiga yang pernah kurasakan tapi ini adalah ngidam  pertama aku tanpa suami di sampingku, Aku merelakan suamiku pergi meninggalkan aku dengan segala penderitaaanku demi sebuah masa depan yang sudah lama aku dan suamiku impikan.

Sebenarnya aku tidak bisa menjalani semua ini sendiri, aku ingin suamiku selalu menemaniku  tapi di sisi lain ada sesuatu yang tidak memungkinkan aku untuk selalu bersama-sama menjalani semuanya, hanya kepadamulah yaallah aku berserah diri.

Tabahkanlah hatiku untuk menghadapi semuanya, dan ku titipkan suamiku dalam dekapmu, aku selalu percaya dengan janji allah laaatahzan innalllahamaana,

Penyakit yang kuderita  terasa lucu, ketika aku melihat air Aku mau muntah, ketika melihat matahari pusing  kemudian muntah lagi, begitulah seterusnya.

Ah enthlah derita apa lagi yang harus ku alami, rasanya belum cukup penderitaaan ini, dan mungkin derita apalagi yang harus  ku tanggung dalam hidupku, begitu berat namun aku selalu setia, mesti penuh dengan liku-liku dan penuh duri serta dinamika kehidupan dalam hidupku.

 

 

Ummu Ikbal, Awal November 2014


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *