Penerapan Teori Strukturalisme-Genetik Dalam Lakon “Putri Mandalika Mencinta Untuk Menghidupkan”

Kepenulisan, Non Fiksi

lakon putri mandalika

  1. PENGANTAR

1.1 Latar Belakang

Drama adalah suatu karya sastra yang merupakan bagian dari masyarakat. Dalam drama, masalah kehidupan dan kemanusiaan yang dikemukakan biasanya tidaklah terlepas dari aspek-aspek sosial masyarakat dalam hubungan manusia dengan manusia lainnya. Sutradara atau pengarang sebuah naskah membuat dan menyajikan suatu pementasan drama atau teater tidak terlepas dari struktur social dan budaya masyarakat sekitarnya, karena mereka merupakan subjek individual yang mencoba menghasikan pandangan dunianya pada subjek kolektifnya. Sehingga dalam menganalisis suatu pementasan maka kita harus mengetahui hubungan suatu pementasan drama atau teater dengan masyarakat tersebut.

Agar kita dapat mengetahui bagaimana hubungan antara suatu pementasan drama atau teater dengan kehidupan masyarakat sekitanya, kita memerlukan disiplin ilmu tertentu yang mengkaji hubungan antara masyarakat dengan suatu karya sastra. Strukturalisme-genetika adalah salah satu disiplin ilmu yang dapat membantu kita mengenai hal itu.

Strukturalisme- genetika adalah suatu teori yang memandang bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Struktur yang tidak bersifat statis melainkan merupakan produk dari proses sejarah yang terus berkembang.

Untuk mengetahui lebih jauh mengenai teori strukuralisme-genetika, maka kita harus mempelajarinya lebih dalam termasuk bagaimana penerapannya dalam sebuah pementasan drama atau teater. Dalam hal ini penulis akan mengkaji bagaimana penerapan teori strukturalisme-genetik dalam sebuah pementasan teater yang berjudul “Putri Mandalika Mencinta Untuk Menghidupkan” yang disutradarai oleh Syahrul Qodri.

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang dia atas, maka dapat kita tarik sebuah kesimpulan yang menjadi rumusan masalah dalam analisis ini yaitu bagaimana penerapan pendekatan strukturalisme genetic dalam pementasan teater yang berjudul “Putri Mandalika Mencinta Untuk Menghidupkan” yang disutradarai oleh Syahrul Qodri.

  • Tujuan

Adapun tujuan dari analisis ini adalah agar kita mengetahui bagaimana penerapan teori strukturalisme-genetik dalam pementasan teater “Putri Mandalika Mencinta Untuk Menghidupkan” yang disutradarai oleh Syahrul Qodri.

  1. PENDEKATAN

2.1 Defiisi Teater

Teater (bahasa Inggris: theater atau theatre, bahasa Perancis théâtre berasal dari kata theatron (θέατρον) dari bahasa Yunani, yang berarti “tempat untuk menonton”). Teater adalah istilah lain dari drama, tetapi dalam pengertian yang lebih luas, teater adalah proses pemilihan teks atau naskah, penafiran, penggarapan, penyajian atau pementasan dan proses pemahaman atau penikmatan dari public atau audience (bisa pembaca, pendengar, penonton, pengamat, kritikus atau peneliti). Proses penjadian drama ke teater disebut prose teater atau disingkat berteater. Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Teater dalam arti sempit adalah sebagai drama (kisah hidup dan kehiudpan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan orang banyak dan didasarkan pada naskah yang tertulis). Dalam arti luas, teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak contohnya wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.

Arti Drama

  1. Drama berarti perbuatan, tindakan. Berasal dari bahasa Yunani “draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak dan sebagainya.
  2. Drama adalah hidup yang dilukiskan dengan gerak.
  3. Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama.

Dalam bahasa Belanda, drama adalah toneel, yang kemudian oleh PKG Mangkunegara VII dibuat istilah Sandiwara.

 Arti Teater

  1. Secara etimologis: Teater adalah gedung pertunjukan atau auditorium.
  2. Dalam arti luas: Teater ialah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak
  3. Dalam arti sempit: Teater adalah drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas dengan media yaitu percakapan, gerak dan laku didasarkan pada naskah yang tertulis ditunjang oleh dekor, musik, nyanyian, tarian, dsb.

2 Landasan Teoritis Dan Metode Analisis

Teori struktural bertujuan untuk memaparkan dengan cermat makna karya sastra secara menyeluruh. Pendekatan struktural adalah suatu pendekan yang menitik beratkan karya sastra sebagai suatu struktur yang otonom, yang kurang lebih terlepas dari hal-hal yang berada diluar karya sastra (Teww, 1984:36).

Pemahaman tentang hal diluar karya sastra, berangkat dari karya itu sendiri. Teori struktural ini dibutuhkan untuk mengetahui unsur-unsur berdasarkan paradigma pembangun struktur kebahasaannya dan mengetahui pola strukturnya. Tujuan yang lain dari konsep teori struktural adalah untuk menjaga kritik Sastra agar tetap bekerja. Dalam teori struktural berkembang dan dibagi menjadi teori strukturalisme formalis, strukturalisme dinamik, strukturalisme semiotik dan termasuk di dalamnya adalah teori strukturalisme genetik.

Struktural genetik merupakan salah satu pendekatan yang mencoba menjawab kelemahan dari pendekatan strukturalisme otonom. Kelemahan tersebut hanya terletak pada penekanannya yang berlebihan terhadap otonomi karya sastra sehingga mengabaikan dua hal pokok yang tidak kurang pentingnya, yaitu kerangka sejarah sastra dan kerangka sosial budaya yang mengitari karya itu (Faruk dalam Chalima 1994). Pendekatan strukturalisme genetik juga mempercayai bahwa karya sastra itu merupakan sebuah struktur yang terdiri dari perangkan kategori yang saling berkaitan satu sama lainnya sehingga membentuk yang namanya struktularisme genetik kategori tersebut ialah fakta kemanusiaan yang berarti struktur yang bermakna dari segala aktifitas atau prilaku manusia baik yang verbal maupun maupun fisik yang berusaha di pahami oleh pengetahuaan sebagaimana yang telah diungkapkan bahwa dalam teori strukturalisme genetik Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain, kategori-kategori itu adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan.

Teori strukturalisme genetik menjelaskan struktur dan asal muasal struktur tersebut dengan memperhatikan relevansi konsep homologi yaitu kelas sosial yang mempertahankan relevansi struktur dan ia menggunakan metode dialektika yang menekankan dan merpertimbangkan koherensi struktural dalam teori ini menekankan subjek transindividual yang berarti sebagai subjek dalam menciptakan karya sastra yakni penulis harus bisa menyampaikan perasaan dan pikiranya kepada pembaca dalam karya sastra misalnya supaya pembaca bisa memahami dan mengerti apa yang disampaikan penulis dan terjadi sama rasa dan pikiran dalam memahami karya sastra dan pandangan dunia pengarang terhadap subjek kolektif (transindividual subject) dan fakta manusia.

Untuk menopang teorinya tersebut Goldmann membangun seperangkat kategori yang saling bertalian satu sama lain sehingga membentuk apa yang disebut sebagai strukturalisme genetik di atas. Kategori-kategori itu adalah fakta kemanusiaan, subjek kolektif, strukturasi, pandangan dunia, pemahaman dan penjelasan (Faruk dalam Chalima, 1994).

  1. Fakta Kemanusiaan

Fakta kemanusiaan adalah segala hasil aktifitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Fakta ini dapat berwujud aktifitas sosial tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi kultural seperti filsafat, seni rupa, seni patung, dan seni sastra (Faruk dalam Chalima, 1994). Fakta-fakta kemanusiaan pada hakikatnya dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu fakta individual dan fakta sosial. Fakta yang kedua mempunyai peranan penting dalam sejarah, sedangkan fakta yang pertama tidak memiliki hal itu (Faruk dalam Chalima, 1994). Goldmann (Faruk dalam Chalima, 1994) menganggap bahwa semua fakta kemanusiaan merupakan suatu struktur yang berarti. Yang dimaksudkannya adalah bahwa fakta-fakta itu sekaligus mempunyai struktur tertentu dan arti tertentu. Oleh karenha itu, pemahaman mengenai fakta-fakta kemanusiaan harus mempertimbangkan struktur dan artinya. Goldman (Faruk dalam Chalima, 1994) juga mengatakan bahwa fakta-fakta kemanusiaan mempunyai arti karena merupakan respon-respon dari subjek kolektif atau individual, pembangunan suatu percobaan untuk memodifikasi situasi yang ada agar cocok bagi aspirasi-aspirasi subjek itu. Dengan kata lain, fakta-fakta itu merupakan hasil usaha manusia mencapai keseimbangan yang lebih baik dalam hubungannya dengan dunia sekitar .

  1. Subjek kolektif

Subjek kolektif adalah subjek yang berparadigma dengan subjek fakta sosial (historis). Subjek ini juga disebut subjek trans individual. Goldmann mengatakan (Faruk dalam Chalima,1994) revolusi sosial, politik, ekonomi, dan karya-karya kultural yang besar, merupakan fakta sosial (historis). Individu dengan dorongan libidonya tidak akan mampu menciptakannya. Yang dapat menciptakannya hanya subjek transindividual. Subjek transindividual adalah subjek yang mengatasi individu, yang didalamnya individu hanyalah merupakan bagian. Subjek trans individual adalah kumpulan individu-individu yang tidak berdiri sendiri-sendiri, merupakan satu kesatuan, satu kolektivitas.

  1. Struktur Karya Sastra

Struktur karya sastra, dalam hal ini roman, tetap menjadi sesuatu yang penting. Struktur roman merupakan hal pokok yang harus diketahui dan dianalisis lebih dulu sebelum menganalisis pandangan dunia pengarang. Struktur roman adalah hal-hal pokok dalam roman yang meliputi unsur-unsur intrinsiknya. Di dalam esainya yang berjudul The Epistemology of Sociology, Goldmann mengemukakan dua pendapat mengenai karya sastra pada umumnya yaitu pertama bahwa karya sastra merupakan ekspresi pandangan dunia secara imajiner. dan kedua bahwa dalam usahanya dalam mengekspresikan pandangan dunia itu pengarang menciptakan semesta tokoh-tokoh, objek-objek, dan relasirelasi secara imajiner . Dengan mengemukakan dua hal tersebut Goldmann dapat membedakan karya sastra dari filsafat dan sosiologi. Menurutnya filsafat mengekspresikan pandangan dunia secara konseptual, sedangkan sosiologi mengacu pada empirisitas (Chalima dalam Faruk, 1994).

  1. Pandangan Dunia

Goldmann (dalam Endraswara, 2003:57) berpendapat, karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia (vision du monde) penulis, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakat. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa strukturalisme genetik merupakan penelitian sastra yang menghubungkan antara struktur sastra dengan struktur masyarakat melalui pandangan dunia atau ideologi yang diekspresikannya. Oleh karena itu, karya sastra tidak akan dapat dipahami secara utuh jika totalitas kehidupan masyarakat yang telah melahirkan teks sastra diabaikan begitu saja. Pengabaian unsur masyarakat berarti penelitian sastra menjadi pincang.

Pandangan dunia adalah kerucutisasi ide-ide, gagasan-gagasan dari suatu kelompok sosial tertentu dan dipertentangkan dengan ide-ide, gagasan-gagasan kelompok sosial lainnya.

Pandangan dunia menurut Goldmann adalah istilah yang cocok bagi kompleks menyeluruh dari gagasan-gagasan, aspirasi-aspirasi, dan perasaan-perasaan, yang menghubungkan secara bersama-sama anggotaanggota suatu kelompok sosial tertentu dan yang mempertentangkannyadengan kelompok-kelompok sosial lain. Sebagai suatu kesadaran kolektif, pandangan dunia itu berkembang sebagai hasil dari situasi sosial dan ekonomik tertentu yang dihadapi subjek kolektif yang memilikinya.

(Suwardi Endraswara,2003:60) menyatakan bahwa hipotesis Goldmann yang mendasari penemuan world view adalah tiga hal yaitu yang pertama semua perilaku manusia mengarah pada hubungan rasionalitas , maksudnya selalu berupa respon terhadap lingkungannya. Kedua bahwa kelompok sosial mempunyai tendensi untuk menciptakan pola tertentu yang berbeda dari pola yang sudah ada dan yang ketiga perilaku manusia adalah usaha yang dilakukan secara tetap menuju transendensi, yaitu aktivitas, transformasi, dan kualitas kegiatan dan semua aksi sosial dan sejarah. Pada bagian lain, Goldmann (dalam Suwardi Endraswara, 2003:58) mengemukakan bahwa pandangan dunia merupakan perspektif yang koheren dan terpadu mengenai hubungan manusia dengan sesamanya dan dengan alam semesta. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan dunia adalah sebuah kesadaran hakiki masyarakat dalam menghadapi kehidupan. Namun dalam karya sastra hal ini amat berbeda dengan keadaan nyata. Kesadaran tentang pandangan dunia ini adalah kesadaran mungkin atau kesadaran yang telah ditafsirkan bisa dikatakan bahwa karya sastra sebenarnya merupakan ekspresi pandangan dunia yang imajiner.

Metode Penelitian dengan Teori Strukturalisme Genetik

Teori strukturalisme genetik difokuskan pada kajian intrinsik karya sastra, baik secara parsial maupun secara keseluruhan. Kedua, mengkaji latar belakang kehidupan sosial kelompok pengarang, karena ia adalah suatu bagian dari komunitas tertentu. Ketiga, mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang ikut mengondisikan terciptanya karya sastra. Dari ketiga cara tersebut akan diperoleh abstraksi pandangan dunia pengarang yang diperjuangkan oleh tokoh problematik.Suwardi Endraswara mengatakan bahwa penelitian strukturalisme genetik memandang karya sastra dari dua sudut, yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Studi diawali dari kajian unsur intrinsik (kesatuan dan koherensinya) sebagai data dasarnya. Selanjutnya, penelitian akan menghubungkan berbagai unsur dengan relitas masyarakatnya. Karya dipandang sebagai refleksi zaman, yang dapat mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya.

Peristiwa-peristiwa penting dari zamannya akan dihubungkan langsung dengan unsur-unsur intrinsik karya sastra (Suwardi Endraswara, 2003:56). Goldmann memberikan rumusan penelitian strukturalisme genetik, dalam tiga hal (dalam Suwardi Endraswara, 2003:57), yaitu:

  1. Penelitian terhadap karya sastra seharusnya dilihat sebagai satu kesatuan;
  2. Karya sastra yang diteliti mestinya karya sastra yang bernilai sastra yaitu karya yangmengandung tegangan (tension) antara keragaman dan kesatuan dalam suatu keseluruhan (a coherent whole);
  3. Jika kesatuan telah ditemukan, kemudian dianalisis dalam hubungannya dengan latar belakang sosial. Sifat hubungan tersebut:
  4. yang berhubungan dengan latar belakang sosial adalah unsur kesatuan,
  5. latar belakang yang dimaksud adalah pandangan dunia suatu kelompok sosial yang dilahirkan pengarang sehingga hal tersebut dapat dikongkretkan.

Secara sederhana, kerja peneliti strukturalisme genetik dapat dapat diformulasikan dalam tiga langkah.

  1. Peneliti bermula dari kajian unsure intrinsik, baik secara parsial maupun dalam jalinan keseluruhannya.
  2. Mengkaji kehidupan sosial budaya pengarang, karena ia merupakan bagian dari komunitas tertentu.
  3. Mengkaji latar belakang sosial dan sejarah yang turut mengkondisikan karya sastra saat diciptakan oleh pengarang (Suwardi Endraswara, 2003:62). Ada satu langkah yang terlewatkan oleh Suwardi Endraswara dalam penelitian strukturalisme genetik ini, yaitu mengkaji pandangan dunia pengarang, seperti pendapat Iswanto (Racmat Djoko Pradopo, 2007). Pandangan dunia ini merupakan perantara antara struktur dalam karya sastra dengan genetika karya sastra tersebut.

Tahap penelitian dalam mengkaji karya sastra menggunakan teori strukturalisme genetik menurut Goldman ada 3 yaitu;

  1. Tesis merupakan informasi apa yang di perlukan berupa data
  2. Antitesis merupakan pemberian opini terhadap realitas, anti tesis ini melebur dengan tesis dan memeberikan suatu opini pada relitas/sintesis.
  3. Sintesis berupa realitas dan kembali lagi menjadi tesis kembali.

Dan prosedur (metode) teori strukturalisme genetik menurut Goldman terhadap penelitian karya sastra masterpeace (karya sastra besar) adalah sebagai berikut:

Penelitiaan karya sastra dilihat dari satu kesatuaan karya sastra yang dianalisis hanyalah karya yang mempunyai nilai sastra yang mempunyai tegangan (tention) antara keragaman dan kesatuaan dalam sesuatu keseluruhan yang padat (coherent whole) jika kesatuaan telah ditemukan, kemudiaan dianalisis hubungannya dengan latar belakang sosial. Sifat hubungan tersebut, yang berhubungan dengan latar belakang social adalah unsur kesatuaan, latar belakang yang dimaksud pandangan dunia suatu kelompok sosial yang dilahirkan oleh pengarang.

Secara pendeskripsianya adalah seperti berikut:

  1. Menentukan teks yang dipakai sebagai objek kajian dengan membandingkan teks secara filosofis dari awal hingga akhir.
  2. Menentukan fokus objek kajian yaitu makna totalitas teks dengan merumuskan pandangan dunia kemudian menganalisis struktur teks dan menghubungkanya dengan struktur sosial teks.
  3. Melakkukan kajian pustaka (library research) yang mendukung penulisan dan pembahasan mengenai teks seperti buku-buku sosial budaya baik tentang keadaan masyarakat pada masa tersebut, atau karya-karya lain dari pengarangnya untuk mengetahui informasi adanya keterkaitan hubungan antar teks.
  4. Menganalisis
  5. objek kajian dengan teori strukturalisme genetik dan metode dialektis.

Aplikasi kajian teori strukturalisme Genetik:

  1. Struktur teks
  2. Struktur sosial
  3. Pandangan dunia
  4. HASIL ANALISIS

3.1 Latar Belakang Pementasan Putri Mandalika Mencinta Untuk Menghidupkan

Pementasan drama tersebut dilakukan agar kita mengetahui latar belakang budaya sasak, khususnya masyarakat Lombok Tengah yaitu budaya Bau Nyale. Budaya tersebut merupakan upacara yang dilakukan setiap tanggal 20 bulan ke-10 dalam penanggalan sasak atau lima hari setelah bulan purnama, menjelang fajar di pantai Seger Kabupaten Lombok Tengah. Hal tersebut menjadi tradisi turun temurun di pulau Lombok sehingga latar adanya tradisi tersebut yaitu Legenda Putri Mandalika pun menjadi sebuah kesenian dan kebudayaan lokal masyarakat Lombok. Kesenian tersebut berupa sebuah pementasan teater yang dilakukan oleh banyak sanggar ataupun kesenian sekolah atau peguruan tinggi di Lombok, salah satunya yaitu oleh mahasiswa program studi pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah FKIP UNRAM.

  • Sinopsis Pementasan Putri Mandalika Mencinta Untuk Menghidupkan

Pementasan tersebut mengisahkan cerita Putri Mandalika yang cantik jelita, cerdas dan bijaksana dalam mengambil setiap keputusan. Putri Mandalika menjadi rebutan para pengeran dari seluruh negeri yaitu pangaran Sawing dari kerajaan Johor dan pangeran Lipur dari kerajaan Lipur. Para pangeran tersebut ingin mempersunting putri Mandalika dengan maksud untuk memperluas kerajaan dan kekuasaan mereka. Serta menjadi raja yang disegani oleh seluruh rakyat yang berada di bawah kekuasaannya. Namun, putri yang sudah mengetahui tujuan para pangeran tersebut, ia pun menolaknya secara halus. Ia tak memilih satu pun dari pangeran tersebut. Pada akhirnya untuk menciptakan perdamaian di seluruh negeri, putri pun memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan menembakkan dirinya dengan pistol.

  • Struktur Teks Pementasan Putri Mandalika Mencinta Untuk Menghidupkan

Goldmann (dalam Faruk, 2010: 100) menjelaskan strukturalisme genetik itu tidak menempatkan karya sastra hanya sebagai cermin pasif belaka dari sturktur sosial, tetapi memerhatikan pula dan bahkan berangkat dari struktur karya sastra itu sendiri. Oleh karena itu, dalam kajian ini akan terlebih dahulu dibahas struktur teks dalam pementasan “ Putri Mandalika Mencinta Untuk Menghidupkan” yang disutradarai oleh Syahrul Qodri. Berikut analisisny:

  • Tema

Pementasan “ Putri Mandalika Mencinta Untuk Menghidupkan” yang disutradarai oleh Syahrul Qodri mengangkat tema social tentang pengorbanan seorang putri untuk menciptakan perdamaian dia dalam negrinya.

  • Tokoh dan penokohan
  1. Putri

Putri merupakan tokoh utama dalam pementasan tersebut. Putri adalah seorang yang cantik jelita, cerdas, dan bijaksana dalam mengambil keputusan. Hal itu dapat kita lihat dari dialog pangeran Sawing. Berikut adalah kutipan yang menyatkan kecantikan putri:

Pangeran Sawing : Aku memang pernah mendengar kabar tentangmu, bahwa adalah kau sosok gadis jelita yang tiada tiara.

Aku hanya mengatkan apa yang aku lihat dan aku rasakan sorot pandang matamu seolah membelah dadaku dan menusuk-nusuk ke jantungku, menggetarkan keseluruhan jiwaku. Aku kira para bidadari akan cemburu melihat pesona keelokanmu.

Sedangkan kecerdasan dan kebijaksanaan puri tercermin dalam kutipan dialog pangeran Sawing berikut:

Pangeran Sawing : semua orang tahu, kau adalah seorang putri yang cerdas dan bijak dalam mengambil setiap keputusan.


  1. Pangeran Sawing

Pangeran Sawing adalah pangeran yang berasal dari kerajaan Johor (kerajaan Timur). Ia merupakan pangeran yang egois. Ia ingin menikahi putri untuk mendapatkan kekuasaan atau untuk kepentingan dirinya sendiri. Berikut adalah kutipannya:

Pangeran Sawing : Dan bila kau menjadi permaisuriku tentunya aku dapat menggabungkan dua kerajaan besar sehingga kekuasaanku betambah besar dan tidak bia ditaklukan oleh kerajaan mana pun di jagad ini.

  1. Pangeran Lipur

Pangeran Lipur adalah raja Bumbang yang berasal dari kerajaan Lipur. Ia adalah pangeran yang berwatak keras, kasar dan perkasa. Berikut adalah kutipannya:

Pangeran Lipur : Owh, rupanya kau belum kenal keperkasaanku. Apakah aku harus menundukkanmup dengan pedangku ini.

 

  • Latar

Tempat : di sebuah taman istana kerajaan sang Putri Mandalika

Waktu : di senja hari

Suasana : sedih dan tegang. Suasana sedih tergambar ketika Putri duduk termenung sambil meneteskan air mata karena ia tengah bimbang dalam memilih pendamping hidupnya. Sedangkan suasana tegang terjadi ketika pangeran Sawing dengan pangeran Lipur berkelahi untuk memperebutkan sang Putri. Ditambah dengan keikutsertaan Putri dalam perkelahian tersebut. Ia mencoba melerai kedua pengeran tersebut. Ia berhasil menghentikan perkelahian tersebut dengan cara menembak dirinya sendiri dengn pistol.

  • Alur

Alur yang digunakan dalam pementasan tersebut adalah alur maju. Hal tesebut terbukti dari keruntutan cerita dari awal hingga akhir tanpa kembali ke masa lalu yang dilakoni oleh para tokoh.

  • Amanat

Amanat yang terkandung dalam pementasan drama tersebut adalah sebagai pemimpin sebuah negeri atau pemimpin apa pun itu, kita harus mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi. Sehingga akan tercipta permadaiman dan kesejahteraan antara pemimpin dan yang dipimpin.

  • Struktur Sosial Pementasan Putri Mandalika Mencinta Untuk Menghidupkan

Karya sastra merupakan cerminan masyarakat sehingga sesuatu yang terdapat dalam karya sastra tersebut erat kaitannya dengan masyarakat sosial yang membangunnya. Struktur sosial masyarakat yang diciptakan pengarang dalam karyanya atau disebut dengan tokoh fiksi dalam sebuah karya sastra memiliki homologi dengan struktur sosial masyarakat di sekitar lingkungan pengarang.

Latar yang dipilih pengarang dalam naskah yang dipentaskan tersebut adalah alam bebas atau panggung terbuka sehingga lebih memperkuat efek kealamian sebuah taman yang digunakan sebagai taman kerajaan Putri Mandalika. Sutradara juga memasukkan unsur seni tari dalam pementasan tersebut yang digunakan sebagai penanda pergantian adegan. Selain itu, penggunaan pembawa cerita yang mewakili budaya lokal masyarakat sasak yaitu seperti pembacaan lontar yang dibacakan seolah-olah mendendangkan sebuah lagu.Sutradara juga memasukkan unsur budaya modern yang bertolak dari cerita yang sebenarnya, di mana seperti yang kita ketahui bahwa cerita Putri Mandalika hidup dan berkembang pada zaman dahulu yang notabenenya mereka belum menemukan alat pembunuh secanggih pistol. Penggunaan unsur budaya modern tersebut oleh sutradara diguunakan ketika sang Putri mengakhiri hidupnya dengan menembak dirinya dengan pistol tersebut. Selain itu, untuk memeriahkan pementasan, sutradara menggunakan nyanyian anak-anak yang berjudul “Anak Gembala” sehingga membuat penonton tercengang dan tertawa terbahak-bahak.

  • Struktur Pandangan Dunia Pementasan Putri Mandalika Mencinta Untuk Menghidupkan

 

Goldmann (dalam Endraswara, 2003:57) berpendapat, karya sastra sebagai struktur bermakna itu akan mewakili pandangan dunia (vision du monde) penulis, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakat. Berikut adalah paparan mengenai pandangan dunia sutradara dalam pementasn tersebut. Berikut adalah paparannya:

Sutradara dalam pementasan tersebut memiliki pandangan bahwa Raja adalah seorang yang berkuasa dan disegani oleh rakyatnya. Selain itu, pernikahan seorang pangeran dengan putri didasari karena urusan politik, misalnya untuk memperluas daerah kekuasaan suatu kerajaan.

Perebutan seorang putri oleh para pangeran juga merupakan suatu hal yang terdapat dalam masyarakat kerajaan. Sutradara dalam pementasan tersbut juga berpandangan yang sama sehingga pementasan tersebut menghadirkan suatu pertikaian untuk memperebutkan hati sang putri, yaitu pertikaian antara pangeran Sawing dengan pangeran Lipur yang memperebutkan putri Mandalika.

  1. PENUTUP
    • Simpulan

Pementasan teater yang berjudul “Putri Mandalika Mencinta untuk Menghidupkan” Ini merupakan cerminan dari Legenda Putri Mandalika atau yang sering disebut dengan Putri Nyale. Legenda ini berasal dari masyarakat sasak Lombok Tengah. Sehingga pementasan tersebut mengisahkan Legenda Putri Mandalika yang cantik jelita, cerdas dan bijaksana dalam menggambil keputusan sehinnga ia diperebutkan oleh banyak pangeran dari berbagai penjuru. Kaena ia tak bisa memilih ia akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Pementasan di atas memiliki struktur teks yang lengkap yaitu: tema, tokoh atau penokohan, latar, alur, amanat. Struktur social dalam pementasan tersebut sutradanya memakai latar alam bebas, dan memasukkan unsure budaya lokal misalnya pada pembacaan sinopsis ceritanya oleh dalang serta unsur budaya modern yang bertolak dari kisah legenda putri nyale yag sebenarnya.

Sedangkan struktur pandangan dunia sutradara memiliki pandangan bahwa Raja adalah seorang yang berkuasa dan disegani oleh rakyatnya. Selain itu, pernikahan seorang pangeran dengan putri didasari karena urusan politik, misalnya untuk memperluas daerah kekuasaan suatu kerajaan dan Perebutan seorang putri oleh para pangeran juga merupakan suatu hal yang terdapat dalam masyarakat kerajaan.

  • Saran

Dengan adanya makalah mengenai analisis penerapan teori strukturalisme-genetik pada pementasan “ Putri Mandalika Mencinta Untuk Menghidupkan” yang disutradarai oleh Syahrul Qodri dapat memberikan sumbangan pengetahuan kepada masyarakat tentang hal itu, khususnya masyarakat sasak Lombok Tengah sehingga dengan adanya pementasan teater ini kita dapat melestarikan budaya sasak Lombok.

DAFTAR PUSTAKA

Faruk. 2010. Pengantar Sosiologi Sastra (dari Strukturlisme Genetik Sampai Post Modernisme). Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Ratna kutha, nyoman. 2002. Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

file:///D:/materi%20tugas%20semesteran/teori-strukturalisme-genetik.html(10/07/2013)

file:///D:/kajian-strukturalisme-pada-cerpen-dua.html(05/07/2013)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *