PENGGABUNGAN TEORI BELAJAR KOGNITIF DENGAN TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME 1

PENGGABUNGAN TEORI BELAJAR KOGNITIF DENGAN TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME

Non Fiksi, Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

  • Latar Belakang

Belajar merupakan proses perkembangan atau perubahan tingkah laku bagi manusia yang dimiliki secara individu. Melalui belajar seseorang dapat memahami suatu pengetahuan yang baru dari hasil belajar tersebut, hal ini dapat terlihat dari perubahan sikap, tingkah laku serta keterampilan yang dimiliki.

Istilah “Cognitif” berasal dari kata “Cognition” yang padanannya “Knowing”, berarti menge­tahui. Dalam arti luas, cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan dan penggunaan penge­tahuan (Neissser, 1976). Dalam praktek belajar, teori kognitif terwujud dalam: “tahap-tahap perkembangan belajar” oleh Jean Piaget, “belajar ber­makna” oleh Ausuber, dan “belajar penemuan secara bebas” (free discovery learning) oleh Jerome Bruner. Ini mendasari ilmu pengetahuan yang menurut kognitifist dibangun dalam diri se­se­orang me­lalui proses interaksi dengan lingkung­an yang ber­ke­sinambungan. Proses ini tidak terpisah-pisah, tetapi merupakan proses yang meng­alir serta sambung-menyambung, dan me­nyeluruh.

Sedangkan, pandangan teori belajar konstruktivisme bukanlah hal yang baru, akan tetapi merupakan penggabungan dari berbagai pendekatan (Bednar, dkk, dalam Duffy & Jonassen, 1992). Dalam Khadijah, (2006: 69), Fosnot (1996) mengatakan konstruktivisme adalah teori tentang pengetahuan dan belajar, yang menguraikan tentang apa itu “mengetahui” (knowing) dan bagaimana seseorang “menjadi tahu” (comes to know) . Kontruktivis memandang ilmu pengetahuan bersifat non-objective, temporer, dan selalu berubah.

Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget yang merupakan bagian dari teori kognitif juga. Peran guru dalam pembelajaran menurut teori kontruktivisme adalah sebagai fasilitator atau moderator. Pandangan tentang anak dari kalangan konstruktivistik yang lebih mutakhir yang dikembangkan dari teori belajar kognitif Piaget menyatakan bahwa ilmu pengetahuan dibangun dalam pikiran seorang anak dengan kegiatan asimilasi dan akomodasi sesuai dengan skemata yang dimilikinya.

  • Rumusan Masalah
  • Bagaimanakah aplikasi teori belajar konstruktivisme dalam pembelajran bahasa Indonesia?
  • Bagaimanakah konsep pembelajaran berbicara?
  • Bagaimanakah aplikasi teori belajar kognitif dan teori belajar konstruktivisme dalam pembelajaran berbicara?
  • Bagaiamankah contoh aplikasi (silabus dan Rpp)?

 

  • Tujuan
  1. Untuk mengetahui konsep teori belajar kognitif.
  2. Untuk mengetahui konsep teori belajar konstruktivisme.
  3. Untuk mengetahui aplikasi teori belajar kognitif dalam pelajaran membaca.
  4. Untuk mengetahui aplikasi teori belajar konstruktivisme dalam pelajaran membaca.
  5. Untuk mengetahui konsep pembelajaran membaca.
  6. Untuk mengetahui aplikasi pelajaran membaca.
  7. Untuk mengetahui contoh aplikasi (silabus dan RPP).

 

  • Manfaat
    • Siswa
  1. Siswa mampu memproses informasi dalam perkembangan kognitif yang dimiliki.
  2. Siswa dapat mempraktekkanpelajaran yang diperoleh dari proses pengajaran dengan perkembangan konstruktivisme yang berkembang secara langsung.
  1. Adanya perubahan sikap siswa terhadap perkembangan pengetahuan yang dihasilkan dalam proses belajar.

1.4.2Guru

Adapun manfaat dari guru itu sendiri pada pemerolehan pembahasan ini adalah diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan ajaran atau informasi bahwa siswa itu sebenarnya bukanlah seperti kertas putih yang kosong yang di mana guru bisa secara bebas membentuk pengetahuan siswa, tapi siswa adalah merupakan manusia yang sudah mempunyai pengetahuan yang mereka peroleh dari pengalaman lingkungan mereka sehari-hari. Sehingga guru dapat memberikan arahan yang positif dari pengalaman yang dipeoleh oleh siswa pada lingkungannya tersebut.

 

  • Mahasiswa
  1. Dapat membantu mahasiswa menjadi bahan pertimbangan yang positif bagi pelaksanaan proses pembelajaran dalam dunia pendidikan.
  2. Sebagai informasi yang nantinya dijadikan bahan pengajaran ketika telah menjadi tenaga pengajar yang sebenarnya.

 

  • Lembaga Pendidikan

Mengetahui informasi dalam dunia pendidikan untuk memahami setiap konsep-konsep yang nantinya dapat di pergunakan demi memajukan generasi baru untuk lebih berkulitas dalam pendidikan yang lebih maju dan berkembang.

 

BAB II

LANDASAN TEORI

  • KONSEP BELAJAR TEORI KOGNITIF

Teori belajar kognitif lebih menekankan pada belajar merupakan suatu proses yang terjadi dalam akal pikiran manusia. Seperti juga diungkapkan oleh Winkel (1996: 53) bahwa “Belajar adalah suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan pemahaman, ketrampilan dan nilai sikap. Perubahan itu bersifat secara relatif dan berbekas”.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.

Para pakar teori kognitif seperti Piaget, Bruner, dan Ausubel memberikan makna tersendiri tentang teori kognitif. Menurut Piaget kegiatan belajar terjadi seturut  dengan pola tahap-tahap perkembangan  tertentu dan umur seseorang, serta melalu proses asimilasi, akomodasi dan equilibrasi.

 

TOKOH-TOKOH TEORI BELAJAR KOGNITIF

  1. JEAN PIAGET

Menurut Piaget setiap anak mengembangkan kemampuan berpikirnya menurut tahap yang teratur. Pada satu tahap perkembangan tertentu akan muncul skema atau struktur tertentu yang keberhasilannya pada setiap tahap amat bergantung pada tahap sebelumnya. Adapun tahapan-tahapan tersebut adalah

  1. Tahap Sensori Motor(dari lahir sampai kurang lebih umur 2 tahun)

Dalam dua tahun pertama kehidupan bayi ini, dia dapat sedikit memahami lingkungannya dengan jalan melihat, meraba atau memegang, mengecap, mencium dan menggerakan. Dengan kata lain mereka mengandalkan kemampuan sensorik serta motoriknya. Beberapa kemampuan kognitif yang penting muncul pada saat ini. Anak tersebut mengetahui bahwa perilaku yang tertentu menimbulkan akibat tertentu pula bagi dirinya. Misalnya dengan menendang-nendang dia tahu bahwa selimutnya akan bergeser darinya.

  1. Tahap Pra-operasional ( kurang lebih umur 2 tahun hingga 7 tahun)

Dalam tahap ini sangat menonjol sekali kecenderungan anak-anak itu untuk selalu mengandalkan dirinya pada persepsinya mengenai realitas. Dengan adanya perkembangan bahasa dan ingatan anakpun mampu mengingat banyak hal tentang lingkungannya. Intelek anak dibatasi oleh egosentrisnya yaitu ia tidak menyadari orang lain mempunyai pandangan yang berbeda dengannya. (benda padat tenggelam).

  1. Tahap Operasi Konkrit (kurang lebih 7 sampai 11 tahun)

Dalam tahap ini anak-anak sudah mengembangkan pikiran logis. Dalam upaya mengerti tentang alam sekelilingnya mereka tidak terlalu menggantungkan diri pada informasi yang datang dari pancaindra. Anak-anak yang sudah mampu berpikir secara operasi konkrit sudah menguasai sebuah pelajaran yang penting yaitu bahwa ciri yang ditangkap oleh pancaindra seperti besar dan bentuk sesuatu, dapat saja berbeda tanpa harus mempengaruhi misalnya kuantitas. Anak-anak sering kali dapat mengikuti logika atau penalaran, tetapi jarang mengetahui bila membuat kesalahan. (tidalk belajar ujiannya jelek)

  1. Tahap Operasi Formal (kurang lebih umur 11 tahun sampai 15 tahun)

Selama tahap ini anak sudah mampu berpikir abstrak yaitu berpikir mengenai gagasan. Anak dengan operasi formal ini sudah dapat memikirkan beberapa alternatif pemecahan masalah. Mereka dapat mengembangkan hukum-hukum yang berlaku umum dan pertimbangan ilmiah. Pemikirannya tidak jauh karena selalu terikat kepada hal-hal yang besifat konkrit, mereka dapat membuat hipotesis dan membuat kaidah mengenai hal-hal yang bersifat abstrak. (korupsi tidak sesuai dengan norma-norma dimasyarakat, sosiologi)

Berdasarkan uraian diatas, Piaget membagi tahapan perkembangan kemampuan kognitif anak menjadi empat tahap yang didasarkan pada usia anak tesebut.

  1. BRUNER

Menurut Bruner, jika seseorang mempelajari suatu pengetahuan (Misalnya mempelajari suatu konsep Matematika), pengetahuan itu perlu dipelajari  dalam tahap-tahap tertentu, agar pengetahuan itu dapat diinternalisasi dalam pikiran (struktur kognitif) orang tersebut.  Proses internalisasiakan terjadi secara sungguh-sungguh (yang berarti proses belajar  terjadi secara optimal) jika pengetahuan  yang dipelajari itu dipelajari dalam tiga tahap, yang macamnya dan urutannya adalah sebagai berikut (dalam Suwarsono,2002;26) :

  1. Tahap enaktif, yaitu  suatu tahap pembelajaran  sesuatu pengetahuan  di mana pengetahuan itu dipelajari secara aktif, dengan menggunakan benda-benda kongkret atau menggunakan situasi yang nyata.
  2. Tahap ikonik, yaitu suatu tahap pembelajaran sesuatu pengetahuan di mana pegetahuan itu direpresentasikan (diwujudkan) dalam bentuk bayangan visual (visual imagery), gambar, atau diagram, yang menggambarkan kegiatan konkret atau situasi konkret yang terdapat pada tahap enaktif tersebut di atas.
  3. Tahap simbolik, yaitu suatu tahap pembelajaran di mana pengetahuan itu direpresentasikan dalam bentuk simbol-simbol abstrak (Abstract symbols yaitu simbol-simbol arbiter yang dipakai berdasarkan kesepakatan orang-orang dalam bidang yang bersangkutan), baik simbol-simbol verbal (Misalnya huruf – huruf, kata – kata, kalimat – kalimat) lambang-lambang matematika, maupun lambang-lambang abstrak lainnya.

 

  1. AUSUBEL

Menurut Ausubel bahan subjek yang dipelajari siswa mestilah “bermakna” (meaningfull). Pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif ialah fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa.

Pembelajaran bermakna adalah suatu proses pembelajaran di mana informasi baru dihubungkan dengan struktur pengertian yang sudah dimiliki seseorang yang sedang melalui pembelajaran.

Pembelajaran bermakna terjadi apabila siswa boleh menghubungkan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Artinya, bahan subjek itu mesti sesuai dengan keterampilan siswa dan mesti relevan dengan struktur kognitif yang dimiliki siswa. Oleh karena itu, subjek mesti dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah dimiliki para siswa, sehingga konsep-konsep baru tersebut benar-benar terserap olehnya. Dengan demikian, faktor intelektual-emosional siswa terlibat dalam kegiatan pembelajaran.

Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Sifat-sifat struktur kognitif menentukan validitas dan kejelasan arti-arti yang timbul waktu informasi baru masuk ke dalam struktur kognitif itu; demikian pula sifat proses interaksi yang terjadi. Jika struktur kognitif itu stabil, dan diatur dengan baik, maka arti-arti yang sahih dan jelas atau tidak meragukan akan timbul dan cenderung bertahan. Tetapi sebaliknya jika struktur kognitif itu tidak stabil, meragukan, dan tidak teratur, maka struktur kognitif itu cenderung menghambat belajar.

Menurut Ausubel, seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punya. Dalam proses itu seseorang dapat memperkembangkan skema yang ada atau dapat mengubahnya. Dalam proses belajar ini siswa mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri.

Teori Belajar bermakna Ausuble ini sangat dekat dengan Konstruktivesme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah dipunyai. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru kedalam konsep atau pengertian yang sudah dipunyai siswa. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif.

Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar- akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.

Langkah-langkah yang biasanya dilakukan guru untuk menerapkan belajar bermakna Ausubel adalah sebagai berikut: Advance organizer, Progressive differensial, integrative reconciliation, dan consolidation.

Empat type belajar menurut Ausubel , yaitu:

  1. Belajar dengan penemuan yang bermakna yaitu mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dengan materi pelajaran yang dipelajari itu. Atau sebaliknya, siswa terlebih dahulu menemukan pengetahuannya dari apa yang ia pelajari kemudian pengetahuan baru tersebut ia kaitkan dengan pengetahuan yang sudah ada. (langsung berhadapan dengan bendanya, konkret, siswa langsung menemukan maksud dalam pembelajaran).
  2. Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna yaitu pelajaran yang dipelajari ditemukan sendiri oleh siswa tanpa mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya, kemudian dia hafalkan.
  3. Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir, kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki.
  4. Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna yaitu materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir , kemudian pengetahuan yang baru ia peroleh itu dihafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan lain yang telah ia miliki.

Oleh karena itu para ahli teori belajar psikologi kognitif berkesimpulan bahwa salah satu faktor utama yang mempengaruhi keberhasilan proses pembelajaran di kelas ialah faktor kognitif yang dimiliki oleh  peserta didik. Faktor kognitif merupakan jendela bagi masuknya berbagai pengetahuan yang diperoleh peserta didik melalui kegiatan belajar mandiri maupun kegiatan belajar secara kelompok.

  • KONSEP BELAJAR TEORI KONSTRUKTIVISME

Salah satu prinsip psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak begitu saja memberikan pengetahuan kepada siswa, tetapi siswa yang harus aktif membangun pengetahuan dalam pikiran mereka. Tokoh yang berperan pada teori ini adalah Jean Piaget dan Vygotsky. Teori Konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Beda dengan aliran behavioristik yang memahami hakikat belajar sebagai kegiatan yang bersifat mekanistik antara stimulus respon, kontruktivisme lebih memahami belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti:

1)     Pelajar aktif membina pengetahuan berasaskan pengalaman yang sudah ada.

2)      Dalam konteks pembelajaran, pelajar seharusnya membina sendiri pengetahuan mereka.

3)     Pentingnya membina pengetahuan secara aktif oleh pelajar sendiri melalui proses saling mempengaruhi antara pembelajaran terdahulu dengan pembelajaran terbaru.

4)     Unsur terpenting dalam teori ini ialah seseorang membina pengetahuan dirinya secara aktif dengan cara membandingkan informasi baru dengan pemahamannya yang sudah ada.

5)     Ketidakseimbangan merupakan faktor motivasi pembelajaran yang utama. Faktor ini berlaku apabila seorang pelajar menyadari gagasan-gagasannya tidak konsisten atau sesuai dengan pengetahuan ilmiah.

6)     Bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai perkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat pelajar.

 

TOKOH-TOKOH TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME

  1. JEAN PIAGET

Dalam otaknya, manusia memiliki sistem yang akan memaknai sesuatu (pengetahuan) yang berbeda dengan individu manusia lain. Pemaknaan yang berbeda ini akan dihubungkan dengan pengalaman dalam memori struktur otak. Pada saat belajar (pemaknaan pengetahuan), terjadi dua proses, proses organisasi informasi dan proses adaptasi

  • Proses konstruktivisme Jean Piaget

proses organisasi, proses ketika otak manusia menghubungkan informasi yang diterima dengan struktur pengetahuan/memori yang sudah ada sebelumnya. Proses ini mampu memahami informasi baru dan menyesuaikannya dengan memori sebelumnya.

Proses adaptasi, Pertama : mengabungkan/mengintegrasikan pengetahuan yang diterima/asimilasi. Kedua : Mengubah struktur pengetahuan yang sudah dimiliki dengan struktur pengetahuan baru, sehingga terjadi keseimbangan (proses asimilasi dan proses akomodasi). Proses ini ada dalam empat konsep dasar : skemata, asimilasi, akomodasi, keseimbangan (equilibrium).

  • Empat konsep dasar
  • Skemata : kumpulan konsep/kategori yang digunakan individu ketika ia berinteraksi dengan lingkungan, tujuannya untuk beradapatasi dengan lingkungan, semakin tua semakin berkembang dan kompleks skematanya, intinya “tingkah laku & cara berpikir”.
  • Asimilasi : proses kognitif & penyerapan pengalaman baru ketika memadukan stimulus/persepsi ke dalam skemata secara kontinu, tujuannya bukan mengubah skemata, tetapi mempengaruhi.
  • Akomodasi : proses struktur kognitif yang berlangsung sesuai dengan pengalaman baru, menghasilkan skemata baru & berubahnya skemata lama, perubahan secara kualitatif.
  • Keseimbangan : terjadi keseimbangan antara proses asimilasi & proses akomodasi untuk mencapai struktur skemata yg stabil.

 

  1. LEV VYGOTSKY

Dari Piaget ke Vygotsky ada pergeseran konseptual dari individu ke kolaborasi, interaksi sosial, dan aktivitas sosiokultural. Dalam pendekatan konstruktivisme Piaget, murid mengkonstruksi pengetahuan dengan menstransformasikan, mengorganisasikan, dan mengoraginsasi pengetahuan sebelumnya. Konstruktivisme Vygotsky menekankan bahwa murid mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi sosial dengan orang lain. Isi dari pengetahuan ini dipengaruhi oleh kultur di mana murid tinggal, yang mencakup bahasa, keyakinan, dan keahlian/ketrampilan.[15] Maka bagi Vygotsky, ada dua prinsip penting berkenaan dengan teori konstruktivisme sosialnya, yaitu:

  1. Mengenai fungsi dan pentingnya bahasa dalam komunikasi sosial yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda (sign) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan,
  2. Zona of proximal development. Pendidik sebagai mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani siswa dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan kompetensi.

Konstruktivisme Vygoskian memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses dalam kognisi diarahkan memulai adaptasi intelektual dalam konteks sosial budaya. Proses penyesuaian itu equivalent dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni melalui proses regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis Vygotskian lebih menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individual.

Salah satu prinsip kunci yang diturunkan teori Konstruktivisme sosial adalah penekanan pada hakikat sosial dari pembelajaran. Vygotsky mengemukakan bahwa siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu. Berdasarkan teori ini dikembangkanlah pembelajaran kooperatif, yaitu siswa lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang sulit jika mereka saling mendiskusikan masalah tersebut dengan temannya.

Selain itu, Vygotsky mengemukakan tiga kategori pencapaian siswa dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu (1) Siswa mencapai keberhasilan dengan baik, (2) Siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan, (3) Siswa gagal meraih keberhasilan. Jika siswa tidak mampu memecahkan masalahnya, maka guru/pendidik harus menggunakan scaffolding. Scaffolding, berarti memberikan kepada seorang individu sejumlah besar bantuan selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan pembelajar dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.

Teori Konstruktivisme Vygotsky yang lain mengatakan bahwa siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam daerah perkembangan terdekat atau zone of proximal development siswa. Daerah perkembangan terdekat adalah tingkat perkembangan sedikit di atas tingkat perkembangan seseorang saat ini. Tingkat perkembangan seseorang saat ini adalah tingkat pengetahuan awal atau pengetahuan prasyarat itu telah dikuasai, maka kemungkinan sekali akan terjadi pembelajaran bermakna.

Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat pembelajaran sosiakultural. Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran. Menurut teori Vygotsky, fungsi kognitif manusia berasal dari interaksi sosial masing-masing individu dalam konteks budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka.

Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi bila seseorang terlibat secara sosial dalam dialog dan aktif dalam percobaan-percobaan dan pengalaman. Pembentukan makna adalah dialog antar pribadi dalam hal ini pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman fisik tetapi juga interaksi dengan pengalaman yang dimiliki oleh individu lain. Karena menurut teori ini bahwa belajar bagi anak dilakukan dalam interaksi dengan lingkungan sosial maupun fisik. Penemuan atau discovery dalam belajar lebih mudah diperoleh dalam konteks sosial budaya seseorang. Dalam penjelasan lain, mengatakan bahwa inti konstruktivis Vigotsky adalah interaksi antara aspek internal dan ekternal yang penekanannya pada lingkungan sosial dalam belajar.

 

  • KONSEP PEMBELAJARAN BERBICARA
  1. PENGERTIAN BERBICARA

Setiap manusia memiliki kebutuhan untuk berkomunikasi dengan orang lain; salah satu alat atau cara berkomunikasi adalah berbicara. Berbicara adalah pengungkapan gagasan melalui ungkapan verbal. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Moeliono, dkk., 1998:114) dinyatakan bahwa berbicara adalah berkata; bercakap; berbahasa; melahirkan pendapat dengan perkataan, tulisan dan sebagainya atau berunding. Tarigan (1981:15) berpendapat bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Berbicara disebut sebagai suatu alat untuk mengkomunikasikan gagasan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan si pembicara.

Pada hakikatnya berbicara merupakan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang dalam bentuk bunyi-bunyi bahasa. Kemampuan berbicara adalah kemampuan mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima pesan atau informasi melalui rangkaian nada, tekanan, dan penjedaan.

Kemampuan berbicara merupakan tuntutan utama yang harus dikuasai oleh seorang guru. Jika seorang guru menuntut siswanya dapat berbicara dengan baik, maka guru harus memberi contoh berbicara yang baik. Guru di samping harus menguasai teori berbicara juga terampil berbicara dalam kehidupan nyata. Guru yang baik juga harus dapat mengekspresikan pengetahuan yang dikuasainya dalam bahasa lisan yang baik.

 

  1. JENIS – JENIS KEGIATAN BERBICARA

Berbicara terdiri atas berbicara formal dan berbicara informal. Berbicara informal meliputi bertukar pikiran, percakapan, penyampaian berita, bertelepon, dan memberi petunjuk.  Sedangkan berbicara formal antara lain, diskusi, ceramah, pidato, wawancara, dan bercerita (dalam situasi formal). Pembagian atau klasifikasi seperti diatas bersifat luwes. Artinya, situasi pembicaraan yang akan menentukan suasana formal dan suasana informalnya. Misalnya: penyampaian berita atau memberi petunjuk dapat juga bersifat formal  jika berita itu atau pemberian petunjuk itu berkaitan dengan situasi formal, bukan penyampaian berita antarteman atau bukan pemberian petunjuk kepada orang  yang  tersesat di jalan.

 

  1. KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN BERBICARA

Kegiatan berbicara dapat berlangsung jika setidak-tidaknya ada dua orang yang berinteraksi, atau seorang pembicara menghadapi seorang lawan bicara. Dengan kemajuan teknologi, kegiatan berbicara dapat berlangsung tanpa harus terjadi kegiatan tatap muka, misalnya pembicaraan melalui telepon. Bahkan melalui layar telepon seluler 3 G, tanpa bertemu langsung  dua orang yang sedang berbicara dapat saling melihat. Kegiatan berbicara yang bermakna juga dapat terjadi jika salah satu pembicara memerlukan informasi baru atau ingin menyampaikan informasi penting kepada orang lain.  Berikut disajikan sejumlah karakteristik yang harus ada dalam kegiatan pembelajaran berbicara antara lain:

  1. harus ada lawan bicara
  2. penguasaan lafal, struktur, dan kosa kata
  3. ada tema/topik yang dibicarakan
  4. ada informasi yang ingin disampaikan atau sebaliknya ditanyakan
  5. memperhatikan situasi dan konteks.

 

  1. RELEVANSI BERBICARA

Keterampilan berbicara merupakan suatu keterampilan menyampaikan pesan secara lisan kepada orang lain. Penggunaan bahasa secara lisan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang secar praktis langusng bisa kita simak: (a) pelafalan; (b) intonasi; (c) pilihan kata; (d) struktur kata dan kalimat; (e) sistematika pembicaraan; (f) isi pembicaraan; (g) cara memulai dan mengakhiri pembicaraan; dan (h) penampilan.

Segi pelafalan amat erat kaitannya dengan kemampuan fonologi, segi intonasi bersinggungan dengan sisi sintaksis, segi pilihan kata berkaitan dengan sisi semantik bahasa, sisi struktur kata berhubungan dengan linguistik dan sintaksis. Dari segi sistematika dan isi pembicaraan berkaitan dengan kompetensi wacana. Keterampilan berbicara juga berkaitan dengan keterampilan analisis. Kesalahanhal tersebut sering membuat kita melakukan kesalahan pelafalan, intonasi, pilihan kata, struktur kata, dan kalimat.

  1. Korelasi Keterampilan Berbicara dengan Menyimak

Kegiatan berbicara dan menyimak merupakan dua kegiatan yang secara praktis berbeda, namun saling kait erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbicara sehingga kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan. Di sisi lain kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi. Orang berbicara membutuhkan orang yang menyimak. Begitu juga sebaliknya, orang bisa menyimak ada orang yang berbicara. Melalui kegiatan menyimak kita mengenal ucapan kata, struktur kata, dan struktur kalimat, dan bahkan logika seseorang.

  1. Korelasi Keteramlpian Berbicara dengan Membaca

Keterampilan berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana, dan fungsi. Kegiatan berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi, sedangkan kegiatan membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi.

Namun, kita mengetahui bila mayoritas bahan pembicaraan sebagian besar diperoleh melalui kegiatan membaca. Semakin banyak membaca semakin banyak informasi yang diperoleh seseorang hingga akhirnya bisa menjadi bekal utama bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.

  1. Korelasi Keterampilan Berbicara dengan Menulis

Kegiatan berbicara maupun kegiatan menulis bersifat aktif produktif-ekspresif. Kedua kegiatan itu berfungsi sebagai penyampai informasi, pikiran-gagasan, maupun konsep/ide. Keduanya hanya berbeda dalam media yang digunakan. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis.

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

  • APLIKASI TEORI BELAJAR KOGNITIF DALAM BELAJAR BAHASA INDONESIA

Bahasa memiliki peran sentral dalam perkembangan intelektual, sosial, dan emosional siswadan merupakan penunjang keberhasilan dalam mempelajari semua bidang studi (BSNP, 2006). Pembelajaran bahasa Indonesia berfungsi membantu siswa untuk mengemukakan gagasan dan perasaan, berpartisipasi dalam masyarakat dengan menggunakan bahasa tersebut, dan menemukan serta menggunakan kemampuan analitis dan imajinatif (Depdiknas, 2006).
Fatoni (2009) Pembelajaran bahasa Indonesia terdapat empat keterampilan berbahasa yang menjadi sasaran pokok, yaitu menyimak, berbicara, menulis, dan membaca. keterampilan menyimak dan berbicara dikategorikan dalam keterampilan berbahasa lisan, sedangkan keterampilan menulis dan membaca dikategorikan dalam keterampilan berbahasa tulis.

Pembelajaran bahasa Indonesia yang sangat krusial dalam kehidupan sehari-hari perlu adanya adanya teori-teori pembelajaran yang digunakan sebagai pendekatan dalam kegiatan pembelajaran. Pada tahun 60-an golongan kognitivistik mencoba mengusulkan pendekatan baru dalam studi pemerolehan bahasa. Pendekatan tersebut mereka namakan pendekatan kognitif. Jika pendekatan kaum behavioristik bersifat empiris maka pendekatan yang dianut golongan kognitivistik lebih bersifat rasionalis.

Konsep sentral dari pendekatan kognitivistik yakni kemampuan berbahasa seseorang berasal dan diperoleh sebagai akibat dari kematangan kognitif sang anak. Mereka beranggapan bahwa bahasa itu distrukturkan atau dikendalikan oleh nalar manusia. Oleh sebab itu perkembangan bahasa harus berlandas pada atau diturunkan dari perkembangan dan perubahan yang lebih mendasar dan lebih umum di dalam kognisi manusia. Dengan demikian urutan-urutan perkembangan kognisi seorang anak akan menentukan urutan-urutan perkembangan bahasa dirinya.

 

  • APLIKASI TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME DALAM BELAJAR BAHASA INDONESIA

Dalam teori belajar konstruktivisme, pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari pikiran guru ke pikiran siswa. Artinya, bahwa siswa harus aktif secara mental membangun struktur pengetahuannya berdasarkan kematangan kognitif yang dimilikinya. Dengan kata lain, siswa tidak diharapkan sebagai botol-botol kecil yang siap diisi dengan berbagai ilmu pengetahuan sesuai dengan kehendak guru.

Tasker (1992: 30 dalam http/www.akhmadsudrajat.wordpress.com, 2008) mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai berikut. Pertama adalah peran aktif siswa dalam mengkonstruksi pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara gagasan dengan informasi baru yang diterima. Wheatley (1991 : 12 dalam http/www.akhmadsudrajat.wordpress.com,2008) mendukung pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif siswa. Kedua, fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui pengalaman nyata yang dimiliki anak.

Kedua pengertian di atas menekankan bagaimana pentingnya keterlibatan anak secara aktif dalam proses pengaitan sejumlah gagasan dan pengkonstruksian ilmu pengetahuan melalui lingkungannya. Bahkan secara spesifik Hudoyo (1990: 4) mengatakan bahwa seseorang akan lebih mudah mempelajari sesuatu bila belajar itu didasari kepada apa yang telah diketahui orang lain. Oleh karena itu, untuk mempelajari suatu materi yang baru, pengalaman belajar yang lalu dari seseorang akan mempengaruhi terjadinya proses belajar tersebut.

Tahap-tahap dalam teori belajar konstruktivisme, Hanbury (1996 : 3 dalam http/www.akhmadsudrajat.wordpress.com,2008) mengemukakan sejumlah aspek dalam kaitannya dengan pembelajaran, yaitu (1) siswa mengkonstruksi pengetahuan dengan cara mengintegrasikan ide yang mereka miliki, (2) pembelajaran menjadi lebih bermakna karena siswa mengerti, (3) strategi siswa lebih bernilai, dan (4) siswa mempunyai kesempatan untuk berdiskusi dan saling bertukar pengalaman dan ilmu pengetahuan dengan temannya.

Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar konstruktivisme, Tytler (1996:20 dalam http/www.akhmadsudrajat.wordpress.com,2008) mengajukan beberapa saran yang berkaitan dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada siswa untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, (2) memberi kesempatan kepada siswa untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga menjadi lebih kreatif dan imajinatif, (3) memberi kesempatan kepada siswa untuk mencoba gagasan baru, (4) memberi pengalaman yang berhubungan dengan gagasan yang telah dimiliki siswa, (5) mendorong siswa untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan (6) menciptakan lingkungan belajar yang kondusif.

Dari beberapa pandangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran yang mengacu kepada teori belajar konstruktivisme lebih menfokuskan pada kesuksesan siswa dalam mengorganisasikan pengalaman mereka. Bukan kepatuhan siswa dalam refleksi atas apa yang telah diperintahkan dan dilakukan oleh guru. Dengan kata lain, siswa lebih diutamakan untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan mereka melalui asimilasi dan akomodasi.

 

  • APLIKASI TEORI BELAJAR KOGNITIF DAN TEORI BELAJAR KONSTRUKTIVISME DALAM PEMBELAJARAN BERBICARA

Pembelajaran berbicara harus berorientasi pada aspek penggunaan bahasa, bukan pada aturan pemakaiannya. Berdasarkan hal tersebut, pembelajaran berbicara di kelas semestinya diarahkan untuk membuat dan mendorong siswa mampu mengemukakan pendapat, bercerita, melakukan wawancara, berdiskusi, bertanya jawab, dan berpidato dan sebagainya.

Metode pengajaran yang selama ini kita ketahui adalah ceramah, tanya jawab, demonstrasi, penugasan, diskusi, karyawisata, dan sosiodrama. Namun, untuk mengembangkan kemampuan menggunakan bahasa, diperlukan metode pembelajaran berbicara yang sesuai, yang menekankan pada siswa aktif atau berpusat pada siswa. Oleh karena itu, dalam kegiatan belajar mengajar di kelas harus banyak kegiatan siswa berlatih atau praktik berbicara sehingga diketahui kemajuan kemampuan berbicaranya.

Untuk menentukan metode yang cocok dalam mengembangkan kemampuan berbicara, guru harus mengacu pada kurikulum (Standar Isi). Semua kompetensi dasar berbicara pada kurikulum harus dilihat, dicocokkan dengan metode dan model pembelajarannya. Jika metode yang dipilih sesuai dan benar-benar dapat mengembangkan keterampilan berbicara setiap siswa, maka pembelajaran berbicara akan disukai siswa. Apalagi jika guru dapat memvariasikan kegiatan (tidak monoton) dan pengelolaan kelas, diharapkan siswa lebih termotivasi untuk terus berlatih berbicara.

Berikut ini adalah beberapa metode pembelajaran yang dapat diterapkan  di sekolah antara lain: lihat-ucap, deskripsi, menjawab pertanyaan, bertanya menggali, memerikan, melanjutkan, menceritakan kembali, bercakap-cakap, paraphrase, menerka cerita gambar, bercerita, melaporkan, bermain peran,wawancara, diskusi, bertelepon, dramatisasi.

  1. Lihat-ucap

Metode ini digunakan untuk merangsang siswa mengekspresikan hasil pengamatannya, berupa gambar, benda nyata, yang dekat dengan kehidupan siswa.

  1. Deskripsi

Deskripsi berarti menggambarkan/melukiskan atau memerikan sesuatu secara verbal. Metode  ini digunakan untuk melatih siswa berbicara atau mengekspresikan hasil pengamatannya terhadap sesuatu.

  1.  Menjawab pertanyaan

Metode digunakan untuk melatih siswa yang malu-malu. Melalui pengajuan sejumlah pertanyaan dan kesempatan untuk menjawab guru dapat memancing ekspresi lisan siswa.

Misalnya:

Guru       : Siapa namamu?

Siswa     :  Nina

Guru       : Di mana kamu tinggal

Siswa     : Jalan Bunga

Guru       : Kamu punya adik?

Siswa     : Punya.

Guru       : Siapa namanya?

Siswa     : Iin

Guru       : Bagus, terima kasih.

  1. Bertanya Menggali

Pertanyaan menggali dimaksudkan supaya siswa lebih banyak berpikir. Pertanyaan menggali membutuhkan  jawaban yang berupa penjelasan dan bukan jawaban  ya atau tidak. Pertanyaan  juga untuk mengetahui pemahaman siswa terhadap sesuatu.

Misalnya:Guru     :  Bapak lihat kamu, Dina, sering melamun. Ada masalah?

Dina     :  Tidak Pak.

Guru     :   Jika ada masalah, sebaiknya jangan disimpan di hati. Bapak yakin setiap  masalah pasti ada jalan keluarnya.

Dina     :   Sebenarnya begini Pak,  saya sedang mendapat musibah.

Ibu saya sakit, bapak saya tidak bekerja karena di PHK.

Guru     :   O, begitu masalahnya.

Dialog ini dapat kita kembangkan lebih lanjut.

 

  1. Melanjutkan

Dalam metode ini, Kita dapat membuat suatu permainan cerita. Siswa disuruh menceritakan suatu cerita kemudian siswa yang lain diminta untuk melanjutkannya.

Misalnya:Guru           :  Bangunan sekolah kita berlantai yang terdiri atas ruang kelas, ruang guru, ruang kepala sekolah, dan ruang tata usaha.

Siswa  A    :   Di samping itu, ada juga ruang perpustakaan, dan kamar kecil.

Siswa B     :  Di ruang perpustakaan  tersedia ruang baca.

  1. Bercakap-cakap

Percakapan adalah pertukaran pikiran atau pendapat mengenai sesuatu antardua orang atau lebih. Pada kegiatan ini biasanya dalam suasana akrab dan sopan.

Misalnya:Saat guru masuk kelas, siswa baru saja menerima raport.

Guru       :  Bagaimana  nilai  raport kalian?

Siswa      :  Alhamdulillah, lumayan.

Guru       :  Dina dan Iin, coba kalian percakapkan nilai rapor kalian.

Dina        :  In  bagaimana nilai rapormu?

Iin            :  Ya, pokoknya lumayan, tidak ada nilai limanya

Raport kamu gimana, Dina?

Dina        : Sama seperti rapor kamu, yang pentingkan tidak ada nilai  enamnya.

Guru memberi motivasi kepada siswa.

 

  1. Memberi petunjuk

Memberi petunjuk merupakan keterampilan berbicara taraf tinggi, sebab memberi petunjuk berarti berbicara secara jelas dan terarah. Memberi petujuk sering dilakukan orang dalam kehidupan sehari-hari.

  1. Bercerita

Bercerita adalah suatu keterampilan yang semua orang pkitai bercerita. Pembawa cerita harus membawakan cerita sesuai dengan isinya, dapat menirukan suatu perilaku tokohnya. Akan lebih baik lagi apabila pembawa cerita dapat melibatkan emosi, imajinasi pendengar terhadap cerita yang disampaikan. Pada  metode  ini, kita dapat meinta siswa untuk memilih cerita yang menarik  baik tentang dirinya, tentang orang lain atau tentang apa saja. Kemudian siswa menceritakan cerita itu. Kegiatan cerita ini akan menuntun siswa  menjadi pembicara yang baik.

  1. Melaporkan

Melaporkan artinya menyampaikan gambaran, lukisan atau peristiwa terjadinya sesuatu secara lisan. Kegiatan melaporkan  dapat dilakukan dalam hal, perjalanan, pembacaan cerpen, dan sebagainya. Selain itu kegiatan melaporkan juga dapat dilakukan dalam wujud pidato.

  1. Bermain Peran

Teknik bermain peran adalah suatu cara penguasaan bahan pelajaran melalui pengembangan penghayatan dan imajinasi siswa. Dalam pengajaran bahasa teknik bermain peran sangat cocok digunakan untuk menghayati dan menggunakan berbagai ragam bahasa. Cara berbahasa setiap orang berbeda karena setiap orang berbeda dalam perannya. Bermain peran hampir sama dengan percakapan. Hanya saja dalam percakapan seseorang memerankan dirinya masing-masing sedangkan dalam bermain peran seseorang memerankan orang lain.

  1. Wawancara atau interview

Wawancara atau interview adalah salah satu kegiatan dalam bentuk tanya jawab yang terarah. Melaui metode ini siswa dilatih menyusun pertanyaan yang terarah, mengajukan pertanyaan dengan ucapan yang jelas dan intonasi yang tepat.  Wawancara  adalah kegiatan  percakapan dalam situasi formal, orang yang diwawancarai biasanya orang yang berprestasi, ahli, atau istimewa. Dalam situasi informal wawancara dapat berlangsung antarteman.

  1. Diskusi

Diskusi adalah proses pelibatan dua orang atau lebih yang berinteraksi  secara verbal dan tatap muka mengenai  tujuan yang tertentu, melalui cara tukar menukar infomasi untuk memecahkan masalah.

  1. Bertelepon

Melalui metode ini, Kita dapat meminta siswa untuk mendemonstrasikan  berbicara melalui telepon. Dalam bertelepon pembicaraan harus jelas, lugas dan singkat karena waktu sangat diperhitungkan dalam bertelepon. Di sini dapat digunakan media telepon mainan. Satu hal yang harus diingat dalam bertelepon seseorang itu berbicara, bukan bertatap muka. Oleh karena itu, kalimat yang tepat untuk meminta seorang berbicara adalah: “ dapatkah saya berbicara dengan  Bu …. atau Pak….?

  1. Dramatisasi

Dramatisasi  atau bermain drama lebih kompleks daripada bermain peran karena guru dan siswa harus mempersiapkan skenario, pelaku, dan perlengkapan.

Dalam hal ini skenario dapat dibuat oleh guru dan siswa atau menggunakan skenario yang sudah ada. Dengan dramatisasi ini, siswa dilatih mengeklspresikan perasaan dan pikiran tokoh dalam bentuk bahasa lisan.

 

  • CONTOH APLIKASI (SILABUS dan RPP)

SILABUS

Nama Sekolah : SMA

Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia

Kelas               : XI

Semester          : 1

Standar Kompetensi : Berbicara

Mengungkapkan secara lisan informasi hasil membaca dan wawancara.

Kompetensi Dasar Materi Pembelajaran Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian AlokasiWaktu Sumber/Bahan/Alat
Menemukanperbedaan

paragraf induktif

dan deduktif

melalui kegiatan

membaca

intensif

Paragraf yangberpola deduktif dan

induktif

Kalimat utama

Kalimat penjelas

Kalimat

kesimpulan

Ciri paragraf

deduktif/ induktif

Perbedaan

deduktif dengan

induktif

Membaca paragrafberpola deduktif dan

induktif

Mengidentifikasi ciri

paragraf induktif dan

deduktif

Menjelaskan perbedaan

antara paragraf deduktif

dengan induktif

Mengidentifikasi frase

nominal dalam paragraf

induktif dan deduktif

Menemukan kalimatyang mengandung

gagasan utama pada

paragraf

Menemukan kalimat

penjelas yang

mendukung gagasan

utama

Menemukan paragraf

induktif dan deduktif

Mengidentifikasi ciri

paragraf induktif dan

deduktif

Menjelaskan perbedaan

antara paragraf induktif

dengan induktif

Mengidentifikasi frase

nominal dalam paragraf

induktif dan deduktif

Jenis Tagihan:tugas individu

tugas kelompok

ulangan

Bentuk Instrumen:

uraian bebas

pilihan ganda

jawaban singkat

4 Komposisioleh Gorys

Kerf

artikel/

berita dari

media

cetak/

elektronik

Kompetensi Dasar Kompetensi Dasar Kegiatan Pembelajaran Indikator Penilaian AlokasiWaktu Sumber/Bahan/Alat
Membacakanberita dengan

intonasi, lafal,

dan sikap

membaca yang

baik

Naskah beritaCiri-ciri naskah

berita

Lafal

Tekanan

Intonasi

jeda

rangkuman isi

Berita

Membacakan naskahberita dengan

memperhatikan

penggunaan lafal,

intonasi, kejelasan

ucapan, tatapan mata,

dan sikap membaca yang

benar *

Mendiskusikan

pembacaan berita yang

dilakukan teman

Membacakan naskahberita dengan

memperhatikan

penggunaan lafal,

intonasi, kejelasan

ucapan, tatapan mata,

dan sikap membaca

yang benar

Membahas pembacaan

berita yang dilakukan

teman

Jenis Tagihan:tugas individu

Bentuk Instrumen:

performansi

format

pengamatan

4 Berita darimedia

cetak/

elektronik

 

RPP (RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN)

NAMA SEKOLAH               : SMA
MATA PELAJARAN                        : Bahasa dan Sastra Indonesia
KELAS                                   : XI

SEMESTER                            : 1 (Ganjil)
ASPEK PEMBELAJARAN  : Berbicara
TOPIK                                                : Mengungkapakan secara lisan informasi hasil membaca dan wawancara

 

  1. KOMPETENSI DASAR
    1. Memahami struktur-struktur dalam pembelajaran wawancara.
    2. Mempunyai pemahaman konsep dasar dari ilmu jurnalistik.
    3. Mampu menginterpretasi materi apa saja yang terkandung dalam ilmu berwawancara itu sendiri ( jurnalistik).

 

  1. TUJUAN PEMBELAJARAN

Siswa mampu memahami struktur-struktur dalam pembuatan pertanyaan berwawancara serta dapat mempraktikan kegiatan tersebut.

 

  1. MATERI PEMBELAJARAN
  2. Pengenalan tahap-tahap berwawancara.
  3. Pengenalan unsur dan struktur berwawancara .
  4. Pemahaman terhadap penyusunan data hasil dari berwawancara.
  5. Pemahaman tentang fakta dan opini.
  6. Pengembangan dan pelakasanaan terhadap ilmu jurnalistik itu sendiri.

 

  1. ALOKASI WAKTU 4 x 45 menit ( 2 pertemuan)

 

  1. METODE PEMBELAJARAN
  2. Diskusi Kelompok
  3. Praktek Lapangan
  4. Presentasi
  5. Pemeragaan siswa di depan kelas.
  6. SUMBER BELAJAR
  7. Media massa
  8. Media elektronik (internet, tv, radio)
  9. Buku-buku yang berkaitan dengan jenis kegiatan tersebut.

 

  1. KEGIATAN PEMBELAJARAN
Kegiatan Awal
  1. Guru memperkenalkan materi berwawancara di depan kelas kepada siswa.
  2. Siswa dapat memahami materi yang disampaikan.
Inti
  1. Siswa mencatat pokok-pokok materi secara garis besar.
  2. Siswa menanggapi penjelasan dari guru tersebut.
  3. Guru memberikan kesempatan bagi siswa untuk bertanya atau menanyakan materi yang belum dipahami siswa.
  4. Siswa melengkapi catatan materi yang dianggap kurang.
Penutup
  1. Guru mengulas kembali materi yang disampaikan secara mendetail kepada siswa.
  2. Guru memberikan tugas kepada siswa.
  3. Guru merencanakan tindakan pembelajaran selanjutnya.

 

 

  1. PENILAIAN
  2. Keaktifan siswa.
  3. Penilaian sikap.
  4. Penilaian tugas individu.
  5. Penilaian ujian akhir semester.

 

BAB IV

PENUTUP

  • Simpulan

Diantara para pakar kognitif terdapat 3 pakar terkenal yaitu Piaget, Bruner dan Ausubel. Ketiga tokoh aliran kognitif diatas secara umum memiliki pandangan yang sama yaitu mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar.Sedangkan teori kontruktivisme adalah sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Salah satu teori atau pandangan yang sangat terkenal berkaitan dengan teori belajar konstruktivisme adalah teori perkembangan mental Piaget yang merupakan bagian dari teori kognitif juga.

Adapun aplikasi dari kedua teori ini dalam pembelajaran berbicara pada pelajaran bahasa Indonesia ialah berupa metode pembelajaran yang dapat diterapkan  di sekolah antara lain: lihat-ucap, deskripsi, menjawab pertanyaan, bertanya menggali, memerikan, melanjutkan, menceritakan kembali, bercakap-cakap, paraphrase, menerka cerita gambar, bercerita, melaporkan, bermain peran,wawancara, diskusi, bertelepon, dramatisasi.

 

  • Saran

Untuk mengajar dengan baik, guru harus memahami model-model mental yang digunakan para siswa untuk mengenal dunia pendidikan mereka dan penalaran yang dikembangkan. Pemahaman dari proses pembelajaran siswa dapat dilihat dari praktek langsung dalam kehidupan sehari-hari yang berupa perkembangan secara teori konstruktivisme.

Siswa perlu memproses pemahaman terhadap masing-masing materi yang disampaikan oleh guru dalam mengajar, bukannya langsung memindahkan pengetahuan begitu saja tanpa melalui proses yang terjadi terhadap siswa, namun disini guru haruslah dapat menciptakan situasi bagi siswayang dapat membantu perkembanganmental siswa dalam pemahaman proses belajar-mengajar serta mampu memberikan motivasi-motivasi yang diperlukansiswa agar dapat lebih bersemangat dalam menuntu ilmu.

BAB V

DAFTAR PUSTAKA

Chaplin, J. P. 1972.DictionaryofPsycology. New York: Dell Publishing Co. Inc.

Gino, dkk. 1997. Belajar Dan Pembelajaran. Surakarta : UNS Press. Disadur dari : Sarlito W. Sarwono, 2002, Berkenalan dengan ALiran-Aliran dan Tokoh-tokoh Psikologi, (PT Bulan Bintang: Jakarta).

 

Hamid, Abdul, (2009). TeoriBelajardanPembelajaran.Medan: –

 

http://asnawirija2.blogspot.com/2013/06/teori-belajar-kognitif-dan-pendekatan.html

 

Konsep belajar Konstruktivisme

 

http://keterampilanbicara.wordpress.com/2009/08/21/konsep-dasar-bicara/

 

http://makalahmajannaii.blogspot.com/2012/07/teori-belajar-konstruktivisme.html

 

http://wulandhary.blogspot.com/2012/06/teori-belajar-konstruktivisme.html

 

Warsita, Bambang. 2008. TeknologiPembelajaran, LandasandanAplikasinya. Jakarta :RinekaCipta.

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *