Rumah Gadang Minang Kabau Gambar Rumah Adat Sumatera Barat

Peran Minang di Kancah Nasional

Politik

ENAM puluh tujuh tahun usia Kemerdekaan RI bertepatan pada 17 Agustus 2012, ada tiga hal yang saya catat sebagai peran Minang (Sumatra Barat) di dalam perjalanan republik ini.

Pertama, empat mantan gubernur Sumbar berkiprah di tingkat nasional, dipercaya memimpin kementerian (dulu departemen), paling banyak dibandingkan gubernur atau mantan gubernur dari provinsi lain.

Kedua, Ranah Minang ada lah provinsi ketiga tempat yang pernah menjadi ibukota RI (di masa perjuangan). Dan ketuga, putra Minang tidak pernah absen dalam kepemimpinan nasional, sejak Indonesia Merdeka diprolamirkan. Bahkan sejak era perjuangan mengenyahkan penjajah, hingga kini. Yang berarti putra Minang selalu ikut memecahkan persoalan bangsa.

Wajib Baca: Sejarah Suku Minang

Empat mantan gubernur yang mendapat kepercayaan di tingkat nasional adalah, Harun Zain sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Azwar Anas selaku Menteri Perhubungan dan Menko Kesra. Keduanya di era Orde Baru. Setelah reformasi, Hasan Basri Durin menjadi Menteri Agraria, dan Gamawan Fauzi, kini menjadi Menteri Dalam Negeri.

Bandingkan dengan provinsi lain. Jawa Tengah dua, Supardjo Rustam dan Murdiyanto yang keduanya pernah menjadi Menteri Dalam Negeri, DI Yogyakarta satu, Sultan Hamengkubuwono IX yang di samping pernah menjadi Wakil Presiden RI, pernah pula menjadi Menko Ekuin dan Menteri Pertahanan pada Kabinet RIS.
Jawa Barat satu, Soewardi SM pernah menjadi Menteri Dalam Negeri. DKI Jakarta satu, Sumarno pernah merangkap menjadi Menteri Dalam Negeri (semasa Orla). Ali Sadikin menjadi Menteri Maritim justru sebelum menjadi Gubernur DKI. Aceh (NAD) satu, yaitu Ibrahim Hasan pernah menjadi Menteri Pangan, dan Gorontalo satu, Fadel Mohammad sebagai Menteri Kelautan.

Baca Juga: Biografi Lengkap Buya Hamka atau Haji Abdul Malik Karim Amrullah

Peran Minang Sebagai Ibukota RI

Ranah Minang bukan saja menyumbangkan putra terbaiknya ikut dalam kepemimpinan bangsa, tetapi pun salah satu nagari di Sumbar pernah menjadi ibukota Republik Indonesia semasa darurat, ketika Belanda melancarkan agresi kedua. Waktu itu Yogyakarta yang ibukota RI sudah dikuasai Belanda.
Jadi Sumatra Barat, tepatnya kenegarian Koto Tinggi (Kab.50 Kota), adalah ibukota RI ketiga setelah Jakarta dan Yogyakarta. Setelah beberapa pemimpin Nasional membentuk Kabinet PDRI di Halaban, Mr.Sjafruddin Prawiranegara yang menjadi Presiden Darurat (istilahnya Ketua PDRI) pada waktu itu, menetapkan Koto Tinggi strategis sebagai Ibukota.

Dari sinilah PDRI mengatur strategi perjuangan dan pemerintahan ke seluruh Indonesia. Sehingga propaganda Belanda yang mengatakan RI sudah berakhir, gagal total. PDRI sangat berhasil mempertahankan RI dan melanjutkan eksistensi Proklamasi 17 Agusutus 1945.

Wibawa PDRI diakui di seantero Nusantara, yang merata melakukan perlawanan terhadap Belanda Perjuangan gerilya dipimpin Jenderal Sudirman dari suatu tempat di Jawa Timur, selalu berkoordinasi dengan pemerintah pusat yang berkedudukan di Koto Tinggi.

Maka amat perlu Monumen Nasional PDRI didirikan, sebagai monumen mengenang sebuah episode perjuangan di dalam sejarah Indonesia.
Putra Minang dalam Kepemimpinan Bangsa.

Saya hanya memiliki data lengkap sampai Kabinet Pembangunan VI di era Orde Baru (medio 1990-an). Maka pada Kabinet Pembangunan VII (72 hari) tidak diketahui ada atau tidak putra Minang di dalamnya, juga pada kabinet yang dipimpin Presiden KH Abdurrahman Wahid.

Posisi puncak yang pernah ditempati putra Minang adalah Wakil Presiden RI, dijabat Dr.Muhammad Hatta selama 11 tahun (1945 s/d 1956). Kepemimpinan dan kenegara wanannya sangat dominan di samping Bung Karno. Jabatan Wakil Presiden ketika itu jauh dari kesan “ban serap”, karena amat berperan dalam pemerintahan. Istilah dwi tunggal atas kedua proklamator itu gambaran keseimbangan peranan keduanya.

Jabatan Presiden (acting) pernah diduduki putra Minang lainnya, Mr.Assaat, dilantik di Yogyakarta 27 Desember 1949. Menggantikan Soekarno yang diangkat men jadi Presiden RIS (Republik Indonesia Serikat) berkedudukan di Jakarta.

RI merupakan bagian RIS, tetapi posisi dan wilayahnya terluas dibandingkan negara bagian lain dan merupakan negara bagian utama.
Jabatan Perdana Menteri (PM) delapan kali dipegang putra Minang. Pertama Sutan Syahrir, menjadi PM tiga kali. Lalu Bung Hatta juga tiga kali, yang dirangkap dengan jabatan Wakil Presiden. Dr. Abdul Halim menjadi PM ketika RI menjadi bagian RIS.

Terakhir, Muhammad Natsir menjadi Perdana Menteri pertama NKRI. Natsir otak yang mengembalikan RIS menjadi NKRI, terkenal dengan mosi integral Natsir di parlemen ketika itu.

Posisi Wakil Perdana Menteri tiga kali dipegang putra Minang. Yaitu Dr.Adnan Kapau Gani menjadi Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Amir Syarifuddin (1947). Lalu Dr. Chaerul Saleh dua kali, masing-masing pada Kabinet Kerja IV (1963) dan Kabinet Dwikora (1964).

Dalam 31 pergantian kabinet, sejak Kabinet Soekarno s/d Kabinet Pembangunan VI, tercatat 32 orang putra Minang menjadi menteri untuk 78 jabatan (kebanyakan dirangkap). Pun satu jabatan menteri dijabat dua putra Minang karena pergantian. Mr.M.Yamin sebagai Menteri Kehakiman mengundurkan diri, digantikan Mr.M.Nasrun.

Yang pertama menjadi menteri, Dr.M.Amir, Menteri Negara pada Kabinet Soekarno, dilantik 19 Agustus 1945.
Sayang karir politiknya cepat berakhir, wafat dalam usia 49 tahun pada 1949. Terakhir putra Minang yang menjadi menteri sampai saat ini adalah, Gamawan Fauzi sebagai Mendagri dan Tifatul Sembiring (Menkominfo).

Baca Juga: Novelis Perempuan Pertama Indonesia dari Minang – Selasih Seleguri ( Sariamin Ismail )

Rincian posisi

Chaerul Saleh menduduki jabatan menteri terbanyak (12 jabatan) di enam kabinet, di luar jabatan Waperdam, karena jabatan rangkap. Bung Hatta dan Sutan Syahrir juga begitu.

Di samping sebagai Wakil Presiden dan Perdana Menteri, keduanya antara lain merangkap jabatan menteri Luar Negeri, Dalam Negeri dan Pertahanan.
Prof.Emil Salim menjadi menteri terlama, 22 tahun (1971-1993) dalam lima Kabinet Pembangunan, sebagai Menteri Negara, Menteri Perhubungan, Menteri KLH (2 kali) dan Menteri LH.

Agus Salim, Muh.Yamin dan Emil Salim lima kali menjadi menteri. Muhammad Natsir, Awaluddin Djamin dan Bustanil Arifin tiga kali. AK Gani, Bung Hatta, Abdul Halim, Bahder Djohan, Azwar Anas dan Syarifuddin Baharsyah masing-masing dua kali.

Yang hanya sekali Dr.M. Amir, Muhammad Syafei, Syahbuddin Latif, St.Muh. Rasyid, Abu Hanifah, Assaat, Mr.M.Nasrun, Prof.SM Abidin, Syamsuddin St.Makmur, Eny Karim, KH Rusli Abd. Wahid, Dahlan Ibrahim, Kol. Nazir, AR Suhud, Harun Zain, Tarmizi Taher dan Abdul Latif.

Sampai Kabinet Pembangunan VI, Menlu dan Menpen ditempati paling banyak delapan kali. Menteri Tenaga Kerja dan Perindustrian 5 kali. Menko, Mendagri dan Menneg tanpa tugas khusus 4 kali. Menteri Pertanian, Koperasi, dan Menteri/Wakil Ketua MPRS masing-masing tiga kali.

Yang dua kali, Menteri Kemakmuran, Pembangunan, Pertahanan, Perburuhan, Perhubungan, KLH dan Urusan Veteran. Yang hanya sekali, Menteri Sosial, Pelayaran, Menneg/Wakil Ketua Bappenas, Menteri Sosio Kulturil, Menteri/Ketua Dewan Perancang Nasional, Lingkungan Hidup, Urusan Minyak dan Gas Bumi dan Menteri Agama.

Baca Juga: Profil Andrea Hirata, Pengarang Novel Laskar Pelangi

Peran Minang Dalam Memimpin di masa sulit

Sutan Syahrir dan Bung Hatta menjadi Perdana Menteri di awal kemerdekaan, benar-benar dalam situasi sulit. Di samping menghadapi penjajah, tantangan dari dalam pun muncul betubi-tubi.

Syahrir menggantikan Soe karno sebagai Kepala Pemerintahan (Perdana Menteri), mengantisipasi tuduhan dunia, Indonesia Merdeka adalah boneka Jepang. Syahrir dianggap tepat, karena semasa pendudukan Jepang dia pemimpin yang bergerak di bawah tanah melakukan perlawanan terhadap Jepang.

Kepemimpinan Bung Hatta berhadapan dengan perlawanan PKI, berpuncak pada pemberontakan PKI Madian (1948). Ketegasan Bung Hattalah yang membuat PKI yang dipimpin Muso kocar kacir. Kenyataan itu menyebabkan PKI sangat membencii Bung Hatta.

Catatan di atas data sampai medio 1990-an di era Orde Baru. Setelah Reformasi, pada Kabinet Reformasi Pembangunan yang dipimpin Presiden BJ Habibie, setidaknya seorang putra Minang ada di dalam kabinet, yaitu mantan Gubernur Sumbar, Hasan Basri Durin yang dipercaya menjadi Menteri Agraria.

Pada Kabinet Gotong Royong yang dipimpin Presiden Megawati, putra Minang yang menjadi menteri adalah Bach tiar Chamsyah sebagai Menteri Sosial, dan Yusril Ihza Mahendra sebagai Menteri Sekretaris Negara.

Yusril Ihza Mahendra yang dikenal sebagai putra Bangka, menurut informasi, dia sebenarnya berasal dari sebuah kenegarian di pedalaman Limapuluh Kota. Kelahiran Bangkinang, Riau, semasa kecil orang tuanya pindah ke Bangka, di sanalah ia tumbuh remaja dan dewasa. Di tengah keluarga dan dengan teman-teman sesama urang awak, sehari-hari Yusril menggunakan bahasa Minang.

Pada Kabinet Indonesia Bersatu I yang dipimpin Presiden SBY, keduanya masih dipercaya menjadi menteri. Bachtiar Chamsyah tetap sebagai Menteri Sosial, tetapi Yusril pindah pos menjadi Menteri Hukum dan HAM, yang di pertengahan periode digantikan Andi Mattalata.

Terakhir pada Kabinet Indonesia Bersatu II, ada tiga putra Minang. Gamawan Fauzi sebagai Menteri Dalam Negeri, Tifatul Sembiring menjadi Menteri Kominfo, dan Patrialis Akbar sebagai Menteri Hukum dan HAM. Ketika ada reshuffle digantikan Amir Syamsuddin.

Mereka putra terbaik bangsa yang lahir dari rahim Ranah Minang, berjuang demi ibu pertiwi, menyumbangkan tenaga dan pikiran bagi kejayaan bangsa.
Mereka ikut membangun republik ketika kesejahteraan rakyat belum terwujud. Merupakan kebanggaan poisitf bagi Ranah Minang, tetapi tidak mengecilkan arti dan peranan putra bangsa lainnya.

Sebagian besar diantara mereka kini sudah tiada, pergi menghadap Tuhan. Semoga amal bakti mereka, mendapatkan pahala yang setimpal, dan ditempatkan di tempat yang mulia di sisi-Nya. Semoga Ranah Minang tetap melahirkan pejuang dan pemimpin masa depan, dalam mewujudkan Indonesia yang jaya dan sejahtera.

(MARWAN ZEIN/singgalang)

Baca Juga: Resensi Novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Karya Buya Hamka


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *