Perbandingan novel A Boy from Makkah dengan novel Sang Pemimpi

Buku, Non Fiksi, Resensi

Perbandingan novel A Boy from Makkah dengan novel Sang Pemimpi

Ada beberapa hal yang sama dalam novel ini

Tema dalam kedua novel ini hampir sama dan sudah mirip, yaitu sama-sama membahas tentang perjuangan hidup. Perjuangan hidup yang keras untuk mengubah sebuah nasib. Hanya saja pada novel A boy fro Makkah yang menjadi titik usahanya adalah cinta, dan menomorduakan pendidikan. Sedangkan novel Sang Pemimpi yang paling utama menjadi titik usahanya adalah pendidikan.

  1. Tokoh

Tokoh yang sama dalam novel ini adalah Ikal dengan Ahmad bin Ayda. Mereka sama-sama dilatarbelakangi dengan keluarga sederhana dan kurang mampu. Mereka sama-sama bekerja keras untuk mandiri. Ikal bekerja keras untuk pendidikannya, dan Ahmad bekerja keras untuk penghidupannya di tanah orang lain.

Selain Ikal dan Ahmad, tokoh yang sama karakternya adalah Syaikh Abdul Hamid dengan Pak Balia (guru bahasa Indonesia SMA Bukan Main). Syaikh Abdul Hamid adalah sosok orang yang sangat baik kepada semua orang khususnya Ahmad, dialah yang menjadi motivator Ahmad untuk bisa berpendidikan, motivator dari segi nasihat maupun material. Sama halnya dengan pak Balia, dia adalah seorang guru motivator bagi semua siswa sekolah SMA Bukan Main, dan juga sebagai salah satu motivator dalam mengejar mimpi yang diukir oleh Ikal dan Arai yang ingin bersekolah di luar negeri.

Selanjutnya Syaikh Ba Qays dengan pak Mustar (kepala sekolah SMA Bukan Main). Kedua tokoh ini memiliki sikap yang sama, yaitu bengis dan pemarah. Sekalipun demikian merka juga berhati baik dibalik kengisannya itu.

  1. Latar belakang tokoh

Tokoh utama yang diperankan oleh laki-laki yang sederhana dalam novel A Boy from Makkah tidak lepas dari latar belakang Dr. Muhammad Abdo Yamani yang berasal dari keluarga sederhana tapi berprestasi. Hal inilah yang menjadi cerminan dari pengarang itu sendiri. Begitu juga halnya dengan Andrea Hirata, dia juga berasal dari keluarga yang sangat sederhana, maka melalui novelnya Sang Pemimpi ini dia mencerminkan bagaimana kerasnya kehidupan yang dialaminya sejak kecil dan bagaimana ia menjadi sukses seperti sekarang.

Mengenai tokoh pendukung, gaya bahasa, alur cerita dan setting, kedua penulis ini memiliki gaya tersendiri yang khas baik yang dilatar belakangi oleh bahasa daerahnya masing-masing. Dalam novel A Boy from Makkah dengan jelas bisa diketahui gaya bahasa yang digunakan. Begitu juga dengan novel Sang Pemimpi, dengan khas bahasa belitong membuat novel ini semakin menarik.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *