PERGESERAN GENDANG BELEK DALAM BUDAYA SASAK DI ERA GLOBALISASI

Budaya & Folklor, Non Fiksi, Opini

Budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok oarng dan diwariskan dari generasi ke generasi. Seperti halnya dengan budaya adat sasak yakni gendang beleq. Gendang belek merupakan alat music tradisional suku sasak yang dimainkan dengan cara ditabuh. Dan dimainkan secara berkelompok. Music tradisional ini biasanya dimainkan bersamaan dengan alat music lainnya seperti gong, terumpang, seruling. Gendang beleq di suku sasak biasanya digunakan sebagai pengiring uapacara adat pernikahan suku sasak yang disebut dalam istilah bahasa sasak yakni (nyongkolan).Akan tetapi perkembangannya saat ini, gendang beleq sudah jarang terlihat digunakan pada upacara-upacara pernikahan nyongkolan di Lombok ini disebabkan Karena di era globalisasi banyak muncul musik yang diistilahkan dalam suku sasak yakni kecimol. Kecimol merupakan kesenian musik sasak modern (cilokak ) yang menggabungkan antara music tradisional dengan musik modern. Musik kecimol membuat music gendang beleq tergeser.

Pergeseran ini disebabkan karena persaingan zaman yang semakin menantang. Maka kreatifan manusia semakin bertambah untuk menduduki kemenangan dalam bersaing. Namun dibalik tergesernya gendang beleq masyarakat sasak mempunyai alasanya imusik kecimol lebih tergolong murah dan bervariatif. Namun di balik kata murah. Music kecimol juga memiliki dampak yang negative, dan pergeseran nilai seperti para anak muda berjoget dengan sesukanya didepan kecimol karena pengaruh minuman keras sehingga terjadinya kemacetan jalan. Jika masyarakat suku sasak memperhatikan adat dan budayanya. Maka sangat disayangkan jika budayanya yang semula lebih baik dan kini menjadi tergeser karena pengaruh persaingan zaman. dan hampir punah karena pergeseran budaya akibat masyarakat sasak tidak memperdulikan adat-istiadat dari leluhurnya.

Jika dibandingkan Gendang beleq lebih menjamin dari pada kecimol karena meskipun alat musiknya masih tergolong tradisional tetapi budayanya masih terbilang sangat baik dan lebih memanusiakan karena jarang terjadi kerusuhan seperti misalnya anak muda tidak terlihat urak-urakan, joget-joget karena pengaruh minuman keras, pada saat mengiringi pengantin pria waktu perjalanan menuju kerumah pengantin wanita. Hal ini harus diperhatikan lagi oleh masyarakat Lombok.Pergeseran ini juga terlihat jelas pada saat upacara khitanan atau sunattan disuatu daerah bagian Lombok barat ada perubahan budaya sasak karena dalam tradisi khittanann atau yunatan di suku sasak.

Jika ada seorang anak akan disunat maka masyarakat sasak mengadakan pesta atau istilahnya dalam bahasa sasak yakni dinamakan (begawe nyunatan) begawe nyunatan ini dilakukan dengan cara sang anak yang akan disunat harus menaiki kuda buatan dari kayu dengan ditopang oleh masyarakat setempat yang terdiri dari empat orang. Dengan cara mengilingi daerah setempat agar sang anak merasa tidak takut pada saat disunat. Dan diiringi oleh music gendang beleq. Namun dengan seiringnya perkembangan zaman maka ada perubahan yang terjadi yaitu music gendang beleq diganti dengan musik dangdut modern yang banyak di senangi para pemuda dizaman ini. Maka dari itu sebagai masyarakat suku sasak hendaknya budaya dan adat istiadat harus tetap dipegang agar warisan leluhur atau nenek moyang kita tetap terjaga dan tidak melanggar dari norma-norma.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *