Pistol Perdamaian

Cerpen, Fiksi

Pistol Perdamaian

Ayah memberi tahu bahwa sudah sampai waktunya membuka-buka peti Kakek untuk membagi warisan. Ada satu peti berisi penuh senjata, seperti keris, cundrik, dan ujung tombak. Saya segera menyiapkan tempat. Maksud saya, senjata-senjata itu dapat sebagai hiasan jika ditaruh dengan baik ditembok. Tapi istri saya keberatan untuk menaruh senjata dikamar tidur, kamar tamu, kamar makan, dan ruang keluarga. Di kamar tidur, katanya ia takut kalau saya tiba-tiba bangun dan membawa senjata itu. Tentu saja ia enggan menyebutkan bahwa saya tiba-tiba terbangun dan membabat istri. Di kamar tamu, katanya tidak baik orang tahu kalau kami menyimpan senjata. Di kamar makan, katanya tidak enak makan sambil membayangkan peperangan. Di ruang keluarga, katanya tidak baik untuk pendidikan anak-anak, karena anak-anak tidak boleh tumbuh dengan budaya kekerasan. Alasan saya bahwa di TV juga banyak ditayangkan budaya kekerasan, ditolak oleh istri saya, karena senjata-senjata itu terlalu konkret. Dengan kata lain, istri saya takut senjata. Alasan bahwa saya sudah cukup umur untuk memiliki senjata, karena saya sudah dituakan oleh masyarakat dan diangkat jadi ketua RW, juga ditolaknya dengan dalih saya tidak boleh berubah, sebab senjata tajam tidak termasuk dalam perjanjian perkawinan.
Akhirnya, disepakati bahwa saya akan menaruh senjata-senjata warisan Kakek di kamar perpustakaan lantai atas. Saya akan menyimpannya di salah satu rak buku. Ada dua keuntungan: senjata-senjata itu akan terbebas dari debu, karena mereka akan bersemayam di dalam kaca, dan mudah dijangkau, sehingga aku dapat melihatnya. Seperti diketahui, senjata-senjata tajam termasuk barang langka yang diminati orang saat ini. Hanya saya syaratnya ada, yaitu harus cocok antara pemakai dengan barangnya. Seorang birokrat harus memakai keris pengabdian, pasti ia akan disukai atasan dan disenangi bawahan. Seorang guru jangan memakai logam mulia seorang pemberontak, sebab ia akan selalu berselisih. Demikianlah salah pakai bisa berakibat bencana, kalau tidak bagi pemakainya, ya bagi orang-orang sekitarnya.
Untuk mengetahui cocok-tidaknya senjata harus ditayuh, artinya kita harus tidur dengan senjata itu. Nanti akan dapat impian, misalnya seakan-akan disananya kita didatangi orang yang minta ikut kita. Kalau yang datang itu anjing atau harimau itu tandanya senjata itu akan membuat kita suka cakar-cakaran atau suka berkelahi persis seperti watak yang datang dalam impian. Jangan sampai lupa menayuh, sebab kelalaian itu akan berakibat tidak cocoknya senjata. Saya hanya pamit istri kalau akan menginap di desa, dan tidak mungkin istri ikut, karena paginya ia harus bekerja. Tentu saja saya tidak menceritakan pada istri bahwa saya akan menayuh. Dapat diduga istri saya akan melarang saya dengan alasan itu takhayul yang pasti tidak benar, syirik yang tak diampuni dosanya, atau hanya akan mengundang jin saja. Saya juga tidak percaya hal-hal yang gaib, tetapi saya melakukannya sebagai adat. Jadilah saya tidur dengan sebilah keris, sebuah ujung tombak, dan sebuah pistol. Saya terima pistol itu karena saudara yang lain menolak. Kata mereka, untuk apa barang pabrik yang tak berguna itu. Mainan anak mereka malahan lebih seram. Macam-macam cerita saudara-saudara saya. Ada yang bercerita didatangi laki-laki tua, ada yang bercerita didatangi perempuan tua, ada yang bercerita didatangi gadis kencur. Adapun saya tidak mimpi apa-apa, barangkali saya terlalu rasional atau karena saya hafal satu per satu riwayat senjata-senjata itu, karena saya rajin membantu Kakek ketika pada bulan Suro ia membersihkan.

Saya pulang dengan keris, tombak, dan pistol. Terus saja saya menyimpannya sitempat yang sudah kusiapkan, yaitu di perpustakaan. Sebenarnya agak sayang barang-barang sebagus itu — pikiran saya ialah pada keris yang punya pegangan bertatahkan berlian itu — tidak diketahui orang. Keputusan istri saya rupanya tidak bisa ditawar lagi. Ia dulu belajar pendidikan, jadi bisa dimengerti kalau tidak suka dengan hasil-hasil kesenian atau sejarah. Katanya, “Tidak ada seni kekerasan. Tidak ada sejarah peperangan. No way.”
Memang benar bahwa itu semua senjata. Tetapi tidak benar bahwa semua senjata itu berdarah. Misalnya keris itu. Keris itu sering dipakai ayah kakekku untuk ke keraton. Pada suatu hari, entah apa sebabnya, keris itu sudah bertengger di puncak pohon kelapa yang dekat dengan pendapa. Tahu-tahu ada orang lain yang kehilangan keris. Rupanya keris ayah kakek saya sedang berpacaran dengan sesama keris di puncak pohon kelapa. Begitu hebatnya kesaktian keris itu. Tetapi istri saya berpendapat lain, katanya, “Itu menunjukkan bahwa raja itu berkuasa. Baru senjata eyang buyut saja sudah sakti, apalagi milik raja.” Keris itu bernama Kiai Samudra, kabarnya dapat mendatangkan hujan. Adapun ujung tombak itu terbungkus dalam kain putih yang setiap tahun selalu diganti. Dulu di tombak itu juga ada rambutnya di pangkal ujungnya, tapi rambut itu sudah tidak ada lagi. Ini baru kisah tentang kekerasan. Entah zaman siapa, mungkin ayah ayah ayah ayah Kakek ada orang tiba di gapura kademangan dan menantang perang. Ayah ayah ayah ayah Kakek meladeni tantangan itu. Singktnya, orang itu kalah dan tombaknya dirampas. Orang itu boleh pergi, tapi sebagian rambutnya dipotong. Karena orang itu dari desa Sela, di celah antara Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, tombak itu disebut Kiai Sela. Tombak itu ternyata berjasa. Ketika ada kerbau mengamuk dekat jembatan pinggir desa, ayah ayah ayah ayah Kakek mendengar suara bahwa kerbau itu hanya dapat dikalahkan oleh orang yang membawa tombak Kiai Sela. Maka tombak itu dipinjamkan orang. Kerbau yang kulitnya kebal dari pukulan dan senjata tajam itu tidak tahan pukulan Kiai Sela. Tapi ada saja cara istri saya untuk merendahkan tombak itu, katanya, “Itu sisa-sisa budaya agraris.” Lanjutnya, “Dalam budaya agraris, kerbau melambangkan orang kuat karena kulitnya tebal atau orang jahat atau pemberontak karena warnanya hitam.” Ternyata ia tahu banyak. Ketika saya tanyakan dari mana ia tahu, jawabannya, “Tahu begitu saja.”
Sekarang riwayat pistol itu. Adapun pistol itu datang sendiri. Waktu itu zaman Jepang. Kakek sedang duduk di kantor kelurahan. Tiba-tiba ada orang ribut-ribut. Ada orang sedang membuang sebuah barang. Orang banyak sedang bergantian membuang sebuah pistol. Kakek mendekat dan kata seorang, “Bapak Lurah menjadi saksi, ini bukan pistol saya.” Waktu zaman itu orang dilarang punya senjata tajam, apalagi sebuah pistol. Barang itu hanya dimiliki tentara, kalau tidak akan dituduh sebagai pemberontak. Kakek segera memungut benda itu dan menyimpannya. Melaporkan pada pemerintah hanya berarti cari gara-gara. Demikianlah selama revolusi Kakek selalu membawanya, tanpa harus mengurus isinya. Tidak seorang pun tahu kalau pistol itu kosong. Pada tahun 1965, pistol itu selalu dibawa Kakek meronda dan ternyata desa kami aman, tidak ada yang terbunuh, tidak ada pembunuhan. Dengan bangga Kakek menyebutnya pistol perdamaian.
Tetapi rupanya istri saya takut. Memang ada peraturan bahwa memiliki senjata api harus dengan izin khusus. Istri saya mengatakan bukan peraturan itu yang membuatnya takut. Tetapi suara. Suara ? Menurut istri saya, ada suara gaduh di perpustakaan pada malam hari. Menurut dia, itu pasti ulah keris dan tombak yang berkelahi dengan pistol. Saya mengira ada tikus di perpustakaan, tapi tidak. Kata istri saya suara itu terulang lagi, hampir tiap malam. “Begitu konkret, tidak mungkin itu hanya ilusi.” Saya memang sering menuduhnya berpikir dengan perasaannya, tidak dengan nalar. Tetapi subjektif atau tidak, kalau taruhannya adalah ketentraman rumah tangga, saya akan mengalah.
“Keris dan tombak itu budaya agraris, sedangkan pistol itu budaya industrial. Dengan keris dan tombak orang mesti kenal dengan terbunuh, sedangkan pistol orang dapat membunuh dari kejauhan.”
“Tapi dalam darah kita mengalir dua jenis budaya. Ini menurut orang sekolahan.”
“Mana ada keris masuk sekolah. Mana ada tombak belajar matematika.”
Istri saya begitu yakin dengan ketidaksesuaian antara keris dan tombak di satu pihak dengan pistol di pihak lain. Diputuskan bahwa salah satu harus dibuang. Dengan cepat saya memilih keris dan tombak, karena tidak ada pabrik yang membuat barang-barang itu lagi, sedangkan pistol selain masih dibuat juga banyak yang lebih canggih. Walhasil, saya bertugas membuang pistol itu. Sebenarnya sayang juga. Apalagi warisan itu amanat. Tetapi apa boleh buat.
Malam hari, saya bungkus pistol itu dan saya buang di bak sampah. Saya kira tugas sya selesai dan rumah kami terhindar dari suara-suara. Tapi tidak. Pagi-pagi datang Pak RT dan dus orang tukang sampah. Dua orang itu bersumpah-sumpah tidak memiliki barang terlarang. Ternyata bungkusan pistol saya ditemukan dua tukang sampah itu. Pistol itu diserahkan pada saya untuk diproses sesuai prosedur yang berlaku. Setelah mereka pergi, saya tunjukkan pistol itu pada istri. Katanya, saya membuangnya kurang jauh. Setelah sungguh-sungguh berusaha, baru boleh bilang itu takdir. Saya disuruhnya lagi membuang, kali i ni lebih ajuh lagi. Maka kembali saya harus mencium pistol itu dan mengucapkan good luck di luar perumnas pada malam hari. Untuk beberapa hari kami terhindar dari pistol itu. Untuk beberapa hari !
Dalam rapat kelurahan, setelah saol KTP dan PBB selesai dibicarakan, Pak Lurah membuka kertas koran dan berkata tanpa interupsi, “Sebaiknya barang ini saya serahkan pada teman kita yang ahli sejarah.” Dia memberikan bungkusan itu pada saya. Isinya sebuah pistol, masya Allah. Jadi, pistol yang saya buang ke kelurahan juga jatuhnya.
Saya tunjukkan pistol itu pada istri saya dengan ucapan bahwa barangkali sudah takdir untuk menyimpan pistol itu. Anehnya, suara-suara di perpustakaan itu menghilang.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *