POTRET KEBERAGAMAN GUMI PAER LOMBOK BARAT

Artikel, Non Fiksi

keberagaman

Patut Patuh Patju sebagai semboyan Gumi Paer Lombok Barat. Mari kita bahasa sepintas makna dari semboyan di atas. Dalam bahasa Sasak kata Patut berarti baik, pantas, benar, cocok, wajar, sesuai, tawadduk. Kata Patuh berarti akur, rukun, damai, persaudaraan, rasa kebersamaan, toleransi, tolong menolong, rasa saling memiliki, saling menghargai. Sedangkan kata Patju memiliki arti rajin, ulet, kerja keras, tidak kenal putus asa, konsisten, kreatif, selalu berkarya. Semboyan ini merupakan semangat bagi masyarakat Lombok Barat, masyarakat yang senantiasa mencerminkan nilai-nilai dari semboyan. Dalam semua asfek kehidupan masyarakat saling menebar kebaikan, saling menghargai didalam ajaran budaya, agama, damai dan hidup akur serta merasa slaing memiliki.

Nilai-nilai yang terkandung dalam semboyan Patut Patuh Patju akan membentuk satu kesatuan nilai. Dalam filsafat, terdapat pemaknaan secara hierarkis dan sistematis, kesatuan makna yang terbentuk dari bebera komponen nilai dan norma, Nilai dasar yang pertama harus ditanamkan adalah nilai-nilai kebaikan, kebenaran, sehingga akan membentuk pribadi yang sadar, cerdas, peka, menge melihat kondisi social masyarakat. Nilai dasar inilah yang membentuk kesadaran nilai patuh dalam masyarakat Lombok Barat yang beraneka ragam, baik dari elemen social, budaya bahasa, keyakinan, dan lain sebagainya, yang menciptakan rasa kebersamaa, persaudaraan dan akur. Tingkatan kesadaran yang dicapai dari keseimbangan nilai patut dan patuh adalah membentuk pribadi masyarakat yang patju.

  1. H. Zaini Arony yang saat ini menjabat sebagai orang nomor satu di Kabupaten Lombok Barat untuk kedua kalinya patut diacungi jempol karena kepemimpinannya dinilai berhasil dan dipercaya masyarakat untuk memimpin dan mengelola Lombok Barat sebagai salah satu kebupaten di provinsi NTB ini. DR.Zaini Aroni dan Pemerintahannya telah menunjukkan kemajuan diberbagai sector, sperti pembangunan daerah, social-budaya, social-politik, ekonomi, keagaamaan, infrastruktur, sumberdaya dan lain sebagainya, berkat kerjasama dan etos kerja yang cukup maksimal sehingga ia telah membuktikan bahwa Lombok Barat mampu bangkit dan menciptakan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat Lombok Barat khususnya dan bagi provinsi NTB umumnya.

Lombok Barat merupakan Kabupaten yang cukup heterogen, dimana terdapat beberapa jenis suku yang tiggal dan bermukim . Dari data yang diperoleh berdasarkan Profil Kabupaten Lombok Barat, bagian Statistik Penduduk menurut jenis kelamin, penduduk di kabupaten ini pada tahun 2007 berjumlah 796.107 jiwa. Suku yang tinggal di kabupaten ini cukup beragam dengan Suku terbesar adalah Suku Sasak dengan presentase 85%, mereka merupakan suku asli dari kabupaten Lombok Barat khususnya dan Pulau Lombok Pada umumnya dan tersebar merata di Kabupaten ini. Selain suku Sasak, ada juga beberapa suku seperti suku Bali yang cukup banyak mencapai (-+) 10% yang bertempat tinggal di daerah Narmada, Lingsar, Suranadi, Desa Jagerage, Desa Tambing Eleh, Desa Bangket Kaoh, Desa Rincong dan daerah-daerah lain secara tidak merata. Suku-suku lain sebanyak 5% seperti suku Jawa, suku cina,dan arab. Selain suku asli yaitu suku Sasak, Suku Bali merupakan Suku pendatang yang masuk ke pulau Lombok seiring dengan masuknya agama Hindu. Suku-suku lain seperti Suku Jawa yang awalnya beridentitas sebagai perantau, kemudian menetap dan menjadi penduduk di Kabupaten Lombok Barat, selain sebagai perantau, ada juga yang disebabkan oleh perkawinan, suku Sasak yang menikah dengan gadis suku Jawa kemudian menetap sebagai penduduk dan berdomisili di Lombok Barat atau sebaliknya. Seperti halnya dalam unsur suku bangsa, unsur lainnya juga saling berkaitan dan saling mempengaruhi. Jika dalam suatu daerah terdapat suku yang mendominasi maka suku tersebut akan mempengaruhi unsur-unsur lain seperti unsur agama, bahasa, dan kebudayaan. Seperti halanya suku sasak yang mendominasi kabupaten Lombok Barat, dalam hal agama juga di dominasi oleh penganut Agama Islam, karena sebagian besar suku Sasak menganut agama Islam, kemudian disusul dengan Agama Hindu, yang dianut oleh suku Bali.

Meskipun Kabupaten Lombok Barat di dominasi oleh Suku Sasak, akan tetapi keberagaman sangat jelas terlihat dari segi agama, bahasa, dan kekbudayaan. Ini menunjukkan kepribadian daerah yang merupakan jati diri dan tidak dapat di pisahkan dengan dearah tersebut, sehingga akan melekat dan menjadi ciri khasnya. Seperti yang saya jelaskan di atas bahawa unsur pembentuk identitas yang satu akan mempengaruhi unsur yang lain. Ketika terjadi dominasi Suku Sasak di Pulau Lombok umumnya dan Kabupaten Lombok Barat khususnya otomatis dari unsur kebudayaan pun akan di dominasi oleh kebudayaan Suku Sasak. Suku Sasak merupakan suku asli nenek moyang di Pulau Lombok. Suatu suku tidak akan berkembang tanpa kebudayaan dan tradisinya oleh sebab itu pendominasian oleh Suku Sasak terhadap suku-suku lainnya tidak mempengaruhi kehidupan berbangsa dan bernegara, perbedaan suku tidak terlalu menyulut adanya konflik antar penduduk, kesadaran menjaga keamanan dan ketertiban serta saling bertoleransi cukup di jaga oleh masyarakat Lombok Barat sehigga daerah ini sangat minim konflik antar suku dan etnis. Suku Sasak dengan Suku Bali selalu berusaha hidup damai berdampingan dengan saling toleransi guna membangun integritas internal dan eksternal. Meskipun ada suku-suku lain yang jumlahnya tidak banyak tetapi tetap hidup damai dan saling menghormati sebagai masyarakat berbangsa dan bernegara.

Begitu juga halnya dengan keberagamaan masyarakat di Kabupaten Lombok Barat sangat menjaga toleransi. Toleransi ini perlu karena suatu perbedaan mendasar terutama masalah keyakinan tidak dapat diganggu gugat. Saya, misalnya, beragama Islam dan sangat yakin dengan agama saya, begitu juga yang dirasakan oleh teman lain yang berbeda agama dengan saya, dia juga sangat yakin dengan agamanya. Keyakinan itu tidak bisa dipaksakan, telah mendarah daging dalam hati dan pribadi seseorang. Di Kabupaten Lombok Barat sangat jarang ditemukan konflik antar umat beragama sehingga ini sangat mendukung dalam menciptakan masyarakat yang bersatu dan menjunjung tinggi perdamaian. Di Lombok Barat hingga saat ini toleransi antar umat yang berbeda agama terus dijaga. Baik masyarakat maupun pemerintah terus menjaga dan mengembangkan toleransi. Dalam sejarah kehidupan Umat Hindu dan Islam di Lombok Barat, telah terbangun toleransi sejak ratusan tahun silam. Ketika umat Islam sedang melaksanakan kegiatan keagamaan seperti hari-hari besar Islam, atau tradisi-tradisi keberagamaan tidak pernah dihalangi atau di persulit oleh agama lain. Begitu juga dengan agama lain seperti Agama Hindu ketika melaksanakan prosesi keagamaan seperti Hari Raya Nyepi, Galungan, prosesi Maturan dan tradisi-tradisi Hindu lainnya tidak pernah di halangi atau di persulit oleh penganut Agama Islam, terjadi simbiosis mutualisme antar kedua umat ini. Contohnya ketika para penganut Agama Hindu akan merayakan Hari Raya meraka membeli perlengkapan seperti buah-buahan di pedagang yang beragama Islam. Seperti halnya yang terjadi di keluarga saya, saya juga tidak terlalu faham bagaimana kisah dan alur ceritanya hingga di silsilah keluarga ada yang beragama hindu sampai sekarang saya masih belum menemukan penjelasan yang memuaskan. Salah satu keluarga yang sering saya panggil Memeq dan Ajiq ( artinya Ibu dan Bapak) memiliki keterkaitan keluarga dengan saya dari sejak kakek buyut saya masih hidup tetapi tidak pernah terjadi konflik di keluarga perihal keyakinan akan tetapi kami saling menghormati dan menghargai hak masing-masing serta tidak pernah membatasi dalam melaksanakan kewajiban. Toleransi ini juga sangat terlihat dalam unsur-unsur yang lain seperti kebudayaan Misalnya Tradisi Perang Topat di Kecamatan Lingsar yang melibatkan Umat Hindu dan Islam adalah satu contoh jelas dari telah terbangunnya kerukunan antar dua umat yang berbeda keyakinan ini. Setiap tahun pada Purnama ketujuh menurut penanggalan Sasak dan Purnama keenam menurut penanggalan Bali atau sekitar Bulan Desember diadakan Perang Topat yang diiringi Upacara Pujawali Umat Hindu di Pura Lingsar. Meskipun terdengar menyeramkan karena ada kata “perang”, namun bukan “perang” konvensional yang menimbulkan korban baik harta maupun jiwa. Perang ini adalah perang perdamaian, senjata yang digunakan berperang bukan berpeluru tajam, revolver atau rudal atau jenis-jenis senjata mematikan lainnya. Senjata yang digunakan hanya berupa ketupat kecil berukuran dan kira-kira seberat buah rambutan. Sehingga, bila ‘musuh” terkena, bukan teriakan kesakitan yang terdengar tapi teriakan dan sorak-sorai kegembiraan. Begitu juga dengan kebudayaan dan tradisi lainnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *