indonesia lawak klub ilk trans 7 1

PRINSIP KESANTUNAN BERBAHASA DALAM ACARA INDONESIA LAWAK KLUB

Uncategorized

Oleh: M. Fauzan Hidayat

Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia lawak klub yang meliputi (1) pemakaian prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia lawak klub; (2) penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia lawak klub; dan (3) efek humor yang ditimbulkan oleh penggunaan prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia lawak klub. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Leech tentang prinsip kesantunan berbahasa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode simak dengan teknik rekam, unduh dan catat. Sedangkan metode analisis data yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil dari penelitian prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia lawak klub adalah cukup banyak ditemukan pemakaian prinsip kesantunan berbahasa yang dipakai oleh para peserta ILK ketika mereka bertutur, selain itu juga cukup banyak penyimpangan-penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa yang mereka lakukan dalam bertutur dengan sesamanya. Penyimpangan-penyimpangan dari prinsip kesantunan berbahasa inilah yang dapat menimbulkan efek humor sehingga mampu membuat efek tawa dan tepuk tangan dari peserta lainnya. Namun tidak dipungkiri, pemakaian prinsip kesantunan berbahasa juga mampu menimbulkan suatu efek humor,  tetapi sangat sedikit data yang menunjukkan hal tersebut, hampir semua pemakaian prinsip kesantunan berbahasa tidak menimbulkan suatu efek humor.

 

Kata Kunci : pragmatik, prinsip kesantunan berbahasa

 

  1. PENDAHULUAN

Bahasa merupakan alat atau perantara manusia dalam berkomunikasi dengan sesamanya. Setiap bahasa memiliki keunikan-keunikannya masing-masing yang belum tentu ada dalam bahasa lainnya. Bahasa memberikan kesempatan bagi semua orang untuk dapat berkreasi dan menghasilkan suatu hal yang bermanfaat bagi dirinya maupun orang lain. Bahasa juga memiliki suatu prinsip-prinsip tentang bagaimana penutur dalam berkomunikasi atau bertutur antarsesama dengan santun, yang diatur dalam suatu maksim-maksim tertentu, maupun dalam budaya dan adat yang berlaku di daerah penutur bahasa tersebut.

Ketika kita hendak memberikan pendapat atas sesuatu hal, misalkan saja tentang masakan atau makanan yang kita makan, yang ternyata makanan tersebut tidak enak. Kita tentunya tidak akan mengatakan pendapat secara langsung seperti mengatakan “Masakanmu tidak enak!”, karena ucapan tersebut akan menyinggung perasaan lawan tutur. Tetapi akan lebih sopan apabila kita mengatakan “Masakanmu enak tetapi sedikit kurang garam” atau “Masakanmu kurang enak”. Karena kesopanan ditunjukkan dalam suatu tingkah laku, adat, tata krama seseorang.

Berbagai situasi memengaruhi bagaimana seseorang bertutur, misalnya ketika penutur tertekan atau marah. Ketika seseorang marah ataupun tertekan dapat memengaruhi kesantunannya dalam berkomunikasi atau bertutur. Hal ini yang sering terjadi di lingkungan masyarakat, mereka sering tidak mematuhi prinsip kesantunan karena terpengaruh situasi tutur pada saat itu. Namun pada dasarnya dalam setiap situasi, seorang penutur diharuskan untuk selalu menggunakan bahasa yang sopan untuk mempermudah intreaksi dan memperkecil potensi bagi terjadinya konflik dan konfrontasi yang dapat terjadi ataupun untuk dapat meminimalisirnya.

Setiap penutur memiliki tanggung jawab masing-masing dalam setiap tuturan yang terjadi, baik penggunaan bahasa yang baik dan benar, maupun atas terjadinya penyimpangan yang disengaja maupun tidak disengaja dalam setiap tuturannya. Dalam berkomunikasi juga, penutur dan lawan tutur selain memperhatikan kesantunan dalam berbahasa, juga harus terjalin kerjasama antarkeduanya. Semua itu merupakan hal yang penting untuk diperhatikan ketika berkomunikasi atau melakukan percakapan. Dalam aktivitas berbahasa, penutur menyadari adanya kaidah yang mengatur tindakan, penggunaan bahasa, dan interpretasi-interpretasinya terhadap tindakan dan ucapan lawan tuturnya.

Selain itu, Leech (1993: 206-207) mengatakan bahwa Prinsip kesantunan memiliki beberapa maksim (maxim), yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan, maksim penerimaan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan dan maksim kesimpatian. Semua maksim tersebutlah yang harus dipatuhi dalam melakukan komunikasi atau bertutur.

Dalam acara talk show seperti lawak, penyimpangan prinsip kesantunan paling sering terjadi. Mereka tidak mengindahkan adanya prinsip kesantunan dalam melakukan komunikasi atau percakapan. Mereka hanya mementingkan efek humor yang timbul dari apa yang mereka katakan. Karena bahasa dalam lawak adalah bahasa yang memang disengaja baik itu pelanggaraan atau penyimpangan maupun pemakaian bahasa yang tepat. Walaupun tentunya, ada beberapa tuturan yang akan terjadi dikarenakan hasil dari situasi yang terjadi saat mereka bertutur. Namun hal tersebut hanya terjadi dalam acara lawak dan tidak terjadi dalam buku-buku lawak. Karena dalam pementasan ataupun acara lawak dapat terjadi improvisasi dari situasi atau tuturan-tuturan yang tidak semestinya ada, namun timbul sebagai hasil dari situasi tutur pada saat itu.

Dalam suatu komunikasi, selain memerhatikan kesantunan juga sangat memerlukan kerja sama antarpenutur. Dalam beberapa konteks situasi tutur, misalkan saja dalam suatu acara talk show sepertia acara lawak. Dalam acara lawak, selain pelanggaran prinsip kesantunan, pelanggaran prinsip kerja sama juga sering terjadi. Mereka sering tidak mengindahkan maksim-maksim tentang prinsip kerja sama hanya untuk memperoleh efek humor dari setiap tuturan yang mereka lakukan. Hal tersebut juga sering didasari oleh pelanggaran maupun kepatuhan pada prinsip kesantunan yang kemudian disandingan dengan pelanggaran prinsip kerja sama tersebut. Namun pelanggaran prinsip kesantunan adalah yang cukup sering dan menjadi hal yang menimbulkan efek humor yang lebih banyak, saling menghina, mengolok, merendahkan dan lain halnya tidak dipandang sebagai suatu hal yang buruk, tetapi hanya dianggap sebagai suatu hal yang dapat menimbulkan humor semata.

Pada dasarnya prinsip kesantunan inilah yang menjadi pedoman dalam berkomunikasi sehingga tuturan-tuturan yang disampaikan oleh penutur dapat diterima secara efektif oleh lawan tutur. Apabila terdapat penyimpangan prinsip kesantunan, maka komunikasi antara penutur dan lawan tutur tidak akan berjalan lancar dan tuturan-tuturan yang disampaikan oleh penutur tidak dapat diterima secara efektif oleh lawan tutur. Namun dalam lawak, penyimpangan tersebut sengaja dilakukan untuk menimbulkan efek humor yang diharapkan penutur dalam komunikasi mereka.

Beberapa pokok uraian di atas, maka hal-hal yang ingin dipecahkan dalam penelitian ini yaitu: (1)Bagaimanakah pemakaian prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia Lawak Klub?; (2) Bagaimanakah penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia Lawak Klub?; (3) Bagaimanakah efek humor yang ditimbulkan oleh penggunaan prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia Lawak Klub?. Adapun tujuan penelitian ini yaitu (1) Mendeskripsikan pemakaian prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia Lawak Klub; (2) Mendeskripsikan penyimpangan prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia Lawak Klub; (3) Mendeskripsikan efek humor yang ditimbulkan oleh penggunaan prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia Lawak Klub.

 

  1. KAJIAN PUSTAKA

Kajian tentang pragmatik telah beberapa kali dilakukan oleh peneliti lainnya, baik tentang deiksis, tindak tutur, implikatur maupun prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan. Khususnya prinsip kesantunan telah beberapa kali dilakukan penelitian sebelumnya oleh beberapa peneliti dengan objek yang beragam, diantaranya :

Baiq Trisna Jayanti (2011) meneliti tentang “Relasi Penggunaan Prinsip Kerja sama dengan Prinsip Kesantunan Berbahasa pada Transaksi Jual Beli di Pasar Tradisional Pagutan Presak Timur (Sebuah Kajian Sosio-Pragmatik)”. Penelitiannya meyimpulkan bahwa penggunakan prinsip kesantunan di pasar tradisional Pagutan Timur cukup baik terutama untuk orang-orang yang berusia 25 tahun keatas, sedangkan pemakaian prinsip kerja sama cenderung dipatuhi oleh orang-orang berusia dibawah 25 tahun.

Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Baiq Trisna Jayanti dengan penelitan yang dilakukan oelh peneliti di sini adalah objek penelitian yang diambil, bila Trisna memilih objek penelitiannya transaksi jual beli di pasar tradisional Pagutan Timur, peneliti memilih Indonesia Lawak Klub sebagai objek penelitian. Dalam penelitian Trisna juga menkaji dua hal yakni prinsip kerja sama dan kesantunan secara bersamaan sedangkan peneliti memilih mengkaji prinsip kesantunan saja, hal ini dipilih untuk lebih dalam lagi membahas tentang prinsip kesantunan berbahasa tersebut.

Anand Firmansyah (2011) juga melakukan penelitian tentang “Penyimpangan Prinsip Kerja sama dan Prinsip Kesopanan dalam Wacana Humor Verba Tulis pada Buku Mangkunteng”. Penelitiannya tersebut menghasilkan bahwa kelucuan atau humor dalam buku mangkunten tersebut diakibatkan oleh penyimpangan prinsip kerja sama dan prinsip kesopanan.

Anand Firmansyah melakukan penelitian pada wacana humor verba tulis sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti di sini pada acara lawak (talk show). Dalam wacana humor verba tulis, penyimpangan yang timbul hanya akan terbatas pada apa yang sudah diatur oleh penulisnya, sedangkan dalam acara lawak seperti talk show ini, selain karena hal yang sama dengan verba tulis tadi, juga akan timbul penyimpangan dari situasi pada saat tuturan itu terjadi sebagai efek dari improvisasi para penutur (pemain/pelawak) dalam acara tersebut.

Mussallimah (2010) juga melakukan penelitian untuk tesis yang berisikan tentang penyimpangan aspek pragmatik dengan judul “Analisis Penyimpangan Maksim dalam Wacana Humor Opera Van Java Pada Media Televisi”. Hasil penelitiannya menyatakan bahwa dalam wacana humor Opera Van Java ditemukan penyimpangan aspek pragmatik sebagai sarana untuk mengungkapkan aspek kelucuannya.

Mussallimah menganalisis maksim-maksim baik maksim dalam prinsip kesantunan dan prinsip kerja sama. Ia mengkaji kedua-duanya secara langsung. Berbeda dengan peneliti di sini, peneliti memfokuskan pada satu aspek saja, yaitu aspek kesantunan berbahasa.

Selain menarik, dalam beberapa penelitian tersebut tampak fokus kajiannya masih pada kedua prinsip, baik prinsip kerja sama dan prinsip kesantunan secara bersamaan, beberapa penelitian mengkaji wacana humor tulis dan ada juga yang menerapkan kedua prinsip tersebut dalam suatu pembelajaran di sekolah. Hal inilah yang membedakan penelitian yang peneliti lakukan dengan yang dilakukan sebelumnya oleh penelitian lainnya. Dalam beberapa penelitian di atas juga memperlihatkan bahwa belum dilakukan penelitian tentang prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia Lawak Klub yang peneliti angkat.

III. METODE PENELITIAN

Dalam Penelitian ini, metode pengumpulan data yang peneliti gunakan adalah metode Simak. Metode penyediaan data ini diberi nama metode simak karena cara yang digunakan untuk memperoleh data dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa. Sedangkan teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik rekam, unduh dan catat. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif, Selanjutnya, dilakukan analisis terhadap data dengan menggunakan metode padan pragmatik. Hasil analisis data dapat disajikan dengan menggunakan metode formal dan informal.

  1. PEMBAHASAN

Pada bab ini, membahas secara runtun mengenai pemakaian prinsip kesantunan berbahasa dan pelanggaran prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia Lawak Klub, yang terdiri atas 6 maksim kesantunan Leech, yaitu maksim kebijaksanaan, maksim kemurahan, maksim penerimaan, maksim kerendahan hati, maksim kecocokan dan maksim kesimpatian.

  1. Pemkaian Prinsip Kesantunan Berbahasa

Pemakaian Maksim Kebijaksanaan

Konteks tuturan ini adalah tuturan Cak Lontong yang hadir sebagai reaksi dari tuturan Ari Kirana yang menerjemahkan tuturan Desta ke dalam bahasa Indonesia karena permintaan akbar yang tidak mengerti bahasa Inggris, kemudian Cak Lontong menerjemahkan tuturan Desta yang menggunakan bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris
Desta : Ndak usah terjemahin!

Pada D1 di atas, Desta telah mematuhi prinsip kesantunan berbahasa tepatnya maksim kebijaksanaan. Desta telah memperkecil kerugian yang akan diderita oleh Cak Lontong dengan mengatakan ndak usah. Hal tersebut membuat kerugian yang diderita Cak Lontong atau lawan tutur (menerjemahkan bahasa yang digunakan Desta ke dalam bahasa Inggris) berkurang dan dengan begitu Desta telah mematuhi maksim kebijaksanaan. Maksim ini diutarakan menggunakan tuturan impositif yaitu dimaksudkan untuk menimbulkan efek pada tindakan lawan tutur, misalnya memerintahkan, menyarankan, menyuruh, dsb. Desta dalam tuturannya di atas menyuruh lawan tuturnya yang menimbulkan efek yaitu Cak Lontong berhenti menerjemahkan bahasa yang ia gunakan dalam bertutur ke dalam bahasa Inggris.

Pemakaian Maksim Penerimaan

Konteks tuturan ini adalah tuturan Cak Lontong yang dituturkan sebagai reaksi permohonan Akbar yang meminta para peserta ILK untuk tepuk tangan sebelum iya menyebutkan singkatannya karena ia khawatir bila ia telah menyampaikan singkatannya, tidak akan ada yang tepuk tangan.
Akbar : Tepuk tangan dulu, takutnya Pak udah kadung disebutin singkatannya, ndak ada yang tepuk tangan.
Cak lontong : Tenang, tenang nanti saya bantu, saya bantu.

Dalam tuturan tersebut, Cak Lontong telah memaksimalkan kerugian yang akan diderita oleh dirinya sendiri. Ketika ia mengatakan Tenang, tenang nanti saya bantu, saya bantu, ia telah bersedia untuk bertepuk tangan setelah Akbar mengutarakan singkatannya. Dengan bertepuk tangan, Cak Lontong akan melakukan hal yang dapat tergolong merugikan dirinya demi menguntungkan lawan tuturnya yaitu Akbar. Hal tersebut semakin jelas termasuk maksim penerimaan karena tuturan tersebut termasuk tuturan komisif kerena maksim penerimaan diutarakan menggunakan kalimat atau tuturan komisif. Tuturan komisif melibatkan pembicaranya pada tindakan yang akan datang seperti menjanjian. Dalam tuturan Cak Lontong di atas, terlihat jelas bahwa Cak Lontong menjanjikan akan bertepuk tangan apabila Akbar telah menyebutkan singkatannya. Tuturan Cak Lontong tersebut juga masuk dalam kategori kesantunan positif brown dan lavinson. Cak Lontong telah memperhatikan kebutuhan dari lawan tuturnya (Akbar), yang membutuhkan lawan tuturnya untuk bertepuk tangan dan hal tersebut akan dipenuhi oleh Cak Lontong.

Pemakaian Maksim Kemurahan

Konteks dalam tuturan berikut adalah ketika Asti Ananta yang membantu akbar menunjukkan posisi akbar pada saat berbicara sebelum jeda iklan, karena Akbar lupa sudah sampai mana ia memberikan pendapatnya. Akbar kemudian heran karena Asti Ananta hafal posisi Akbar sebelum jeda iklan.
Asti Ananta : Saya kan ngefans sama Bapak

Asti Ananta dalam tuturannya tersebut telah mematuhi prinsip kesantunan dalam berbahasa maksim kemurahan. Asti Ananta dalam tuturannya telah memaksimalkan rasa hormatnya dan memaksimalkan rasa tidak hormatnya kepada lawan tutur yaitu Akbar dengan mengatakan ngefans yang menunjukkan rasa hormatnya kepada Akbar. Kata tersebut menunjukan pujuan yang diberikan oleh Asti Ananta kepada Akbar. Seperti diketahui maksim kemurahan disampaikan menggunakan tuturan ekspersif yang berfungsi menunjukkan atau memberitahukan, mengungkapkan sikap psikologis dari penututr terhadap suatu pernyataan, seperti memuji. Ketika Asti Anant mengatakan ngefans, ia telah menunjukkan pujian dirinya kepada akbar. Hal tersebut menunjukkan bahwa Asti Ananta telah mematuhi kesopan berbahasa.

Konteks tuturan Mc Danny tersebut terjadi karena tuturan Denny yang mempersilahkan Mc Danny untuk memperkenalkan diri
Mc Danny : Sik-asyik asyik huuhaa… ok terimakasih semuanya, selamat malam dari samarinda kumaha damang? kebetulan saya mewakili pentolan pujangga hati penjaga rahasia wanita disingkat penjahat perawan… maksudnya saya akan menentang-menentang penjahat-penjahat yang memang masih mencari perawan-perawan

Pemakaian Maksim Kerendahan Hati

Dalam tuturan Mc Danny di atas juga telah mematuhi maksim kerendahan hati dari Leech. Seperti halnya Data 9, dalam tuturan ini Mc Danny telah memaksimalkan rasa tidak hormat pada diri sendiri atau meminimalkan rasa hormat pada dirinya sendiri. Hal tersebut terlihat dari tuturannya yang menggunakan kata Terima Kasih yang ia ucapkan kepada Denny yang telah mempersilahkan ia untuk meperkenalkan diri. Tuturan tersebut mengekspresikan, mengungkapkan atau memberitahuan sikap psikologisnya.

Pemakaian Maksim Kecocokan

Konteks tuturan berikut adalah ketika Denny dibuat kesal oleh peribahasa yang dibuat Cak Lontong sebelum girilan Mc Danny untuk menyampaikan pendapatnya
Denny : Saya mohon tidak ada peribahasa di sini ya
Mc Danny : Ohh ngak ngak saya tidak akan everybody

Dalam tuturan di atas Mc Danny telah mematuhi maksim kecocokan ini. Mc Danny telah memaksimalkan kecocokan dengan meminimalkan ketidakcocokannya dengan lawan tuturnya yaitu Denny. Ketika ia mengatakan Ohh ngak, ngak, saya tidak akan everybody, Mc Danny telah menunjukkan bahwa ia setuju dan memberikan pendapat yang sama dan sejalan dengan yang diinginkan oleh Denny yang telah bosan dan kesal dikarenakan peribahasa-peribahasa yang digunakan oleh Cak Lontong yang salah.

Pemakaian Maksim Kesimpatian

Konteks tuturan berikut adalah ketika Ricko diolok mengenai jumlah pacarnya oleh para peserta ILK
Cak Lontong : Bapak udah udah jangan seperti itu lah, tolong hargai kasihan pacarnya dia kan

Pada tuturan di atas, Cak Lontong telah menunjukkan atau memaksimalkan rasa simpatinya dan meminimalkan rasa antipatinya kepada lawan tuturnya yaitu Ricko. Ricko yang dalam acara tersebut diolok tentang jumlah pacar yang ia miliki dikatakan sekampung, menanggapi beberapa peserta yang menghina Ricko dalam acara tersebut Cak Lontong menunjukkan rasa simpatinya kepada Ricko, dengan mengatakan Bapak udah udah jangan seperti itu lah, tolong hargai kasihan pacarnya dia kan. Tuturan Cak Lontong tersebut menunjukkan kebenaran proposisi yaitu menuntut. Cak Lontong menuntut peserta lain yang mengolok Ricko untuk berhenti dan menghargai Ricko. Hal ini menunjukkan bahwa Cak Lontong telah mematuhi prinsip kesantunan berbahasa dalam tuturannya tersebut.

  1. Penyimpangan Prinsip Kesantunan berbahasa

Penyimpangan Maksim Kebijaksanaan

Konteks tuturan ini adalah Denny yang mempersilahkan Akbar untuk memperkenalkan dirinya
Akbar : Sebelumnya tepuk tangan dulu dong buat singkatan saya ini Pak. Tepuk tangan dulu Pak

Akbar dalam tuturannya yang mengatakan sebelumnya tepuk tangan dulu dong, Akbar meminta penonton atau peserta acara ILK untuk bertepuk tangan kepadanya, hal tersebut telah menunjukkan ia memaksimalkan kerugian yang akan diderita oleh peserta acara ILK dari tindakan yang akan mereka lakukan yaitu harus bertepuk tangan sebelum ia menyampaikan singkatannya. Tuturan tersebut termasuk tuturan impositif meminta, memerintahkan karena dimaksudkan untuk menimbulkan efek yaitu agar peserta tutur atau lawan tuturnya melakukan sesuatu yaitu bertepuk tangan.

Pada data 19 ini timbul efek humor dari tuturan yang dilakukan oleh Akbar tersebut. Akbar meminta para peserta ILK untuk memberikan tepuk tangan kepada dirinya, sebelum ia menyampaikan singkatannya. Hal tersebut membuat para peserta ILK tertawa karena ia belum memulai menyampaikan singkatan, tetapi ia malah lebih dulu meminta tepuk tangan atas singkatan yang akan disampaikannya.

Penyimpangan Maksim Penerimaan

Konteks tuturan berikut adalah tuturan Ricko yang mau melakukan banyak hal asalkan Sili mau menjadi pacarnya
Sili : Ya udah deh iya, sekarang kita jadian, tapi aku ada beberapa permintaan. Setiap mau berangkat kerja, pertama kamu jemput aku di rumah, kedua makan siang harus makan bareng, plus teraktir aku makan ketiga kamu antrin aku pulang lagi ke rumah dan keempat mulai sekarang bangku kamu pindah sini ya, ini kan deket gitu. Ya aku lupa terakhir satu lagi,  aku tahu tanggal kamu gajian, bis itu setiap kamu gajian harus teraktir aku, shopping, ke salon, beliin aku parfum, makeup, lipstik semuanya ya, oke

Pada tuturan tersebut Sili telah melanggar prinsip kesantunan berbahasa maksim penerimaan. Maksim Penerimaan menghendaki penututnya untuk memaksimalkan kerugian pada diri sendiri dan meminimalkan keuntungan pada diri sendiri. Pada tuturan di atas Sili terlihat jelas telah memanfaatkan situasi saat itu untuk memaksimalkan keuntungan yang akan ia peroleh apabila ia mau menjadi pacar dari Ricko. Ia memanfaatkan untuk memperoleh banyak keuntungan dengan memaksimalkan kerugian lawan tuturnya yaitu Ricko. Tuturan Sili tersebut termasuk penyimpangan maksim penerimaan karena tuturan tersebut dituturkan menggunakan tuturan komisif yang berupa meminta Ricko untuk menjanjikan dirinya. Hal tersebut melibatkan pembicaranya pada tindakan yang akan datang dari Ricko bila ia menjadi pacarnya, yang semakin memperlihatkan pelanggaran kesantunan berbahasa yang dilakukan oleh Sili dalam tuturannya.

            Pada data 25 ini, tuturan yang diutaran oleh Sili memiliki suatu efek humor. Sili dalam tuturannya yang menerima Ricko sebagai pacarnya dengan sangat banyak syarat yang ia sampaikan membuat peserta ILK tertawa dan bertepuk tangan. Hal tersebut menunjukkan dalam tuturannya, selain melanggar maksim penerimaan, tuturan Sili tersebut juga memiliki efek humor yang ditunjukkan dengan tawa dan tepuk tangan dari para pesrta ILK.

Penyimpangan Maksim Kemurahan

Konteks tuturan berikut adalah tuturan Ricko yang membahas tentang putus
Desta : Yang waktu itu cerai tu?

Desta dalam tuturannya tersebut juga telah melakukan pelanggaran terhadap maksim kemurahan dalam prinsip kesantunan berbahasa. Maksim ini menuntut atau menghendaki penuturnya untuk mengurangi rasa tidak hormat atau cacian pada orang lain dan memaksimalkan rasa hormat atau pujian pada orang lain, sedangkan Desta telah memaksimalkan rasa tidak hormat atau cacian terhadap lawan tuturnya yaitu Ricko. Dengan mengatakan Yang waktu itu cerai Desta menghina atau mengolok atau mengejek kondisi ricko yang telah bercerai.

            Pada data 28 ini, tuturan dari Desta yang mengolok Ricko dengan menyamakan kisah yang ia ceritakan tentang putus cinta dengan perceraian yang dialami oleh Ricko, membuat peserta lainnya tertawa. Tuturan Desta yang mengolok Ricko tersebut dianggap sebagai hal yang lucu oleh peserta lainnya, yang terlihat dari tawa yang timbul dalam acara tersebut.

Penyimpangan Maksim Kerendahan Hati

Konteks dari tuturan ini adalah karena singkatan dari Desta yaitu pernah terkenal
Denny : Sekarang sudah tidak terkenal berarti yaa?
Desta : Sekarang ngetop Pak

Maksim kerendahan hati menghendaki penuturnya untuk mengurangi pujian atau rasa hormat pada dirinya dan menambah cacian atau  rasa tidak hormat pada diri sendiri. Desta dalam tuturannya tersebut telah melanggar maksim ini. Desta dengan mengatakan Sekarang ngetop Pak telah memaksimalkan rasa hormat dengan memberikan pujian kepada dirinya sendiri yang berlawan dengan kehendak dari maksim ini yang seharusnya menghendaki Desta memaksimalkan rasa tidak hormat atau cacian pada dirinya sendiri. Hal tersebut menunjukkan Desta telah melanggar prinsip kesantunan berbahasa dalam tuturannya.

            Seperti halnya beberapa pelanggaran maksim sebelumnya, pelanggaran maksim kerendahan hati juga dapat digunakan untuk menciptakan efek humor dalam suatu tuturan, seperti data yang telah disajikan di atas.

            Pada data 37 ini, tuturan dari Desta yang memuji dirinya tersebut memiliki suatu efek humor. Ketika ia menanggapi tuturan Denny yang mengatakan sekarang berarti tidak terkenal?, dengan mengatakan sekarang ngetop, mengundang tawa peserta ILK lainnya. Efek humor tersebut timbul karena cara Desta dalam menyampaikan sanggahan atas pendapat Denny tersebut yang membuat peserta lainnya tertawa.

Penyimpangan Maksim Kecocokan

Konteks dalam tuturan berikut adalah tuturan Asti yang menceritakan temannya yang jadian dengan kepala kebersihan
Asti Ananta : Ngak Bapak sekarang gini deh, Bapak Ibu, kebersihan sebagian dari iman, nah kalo pacaran sama bersih-bersih toilet apa ndak bersih terus, berarti temen-temen saya yang perempuan itu adalah wanita-wanita beriman karena mereka menjaga kebersihan, kebersihan toilet salah satunya, bener ndak Pak?
Denny : Ngak tahu

Pada tuturan tersebut, Denny menunjukkan atau memaksimalkan ketidakcocokan antara pendapatnya dengan Asti Ananta. Ia telah melanggar maksim kecocokan tersebut karena tidak memaksimalkan kecocokan diantara mereka. Dengan mengatakn ngak tahu, Denny telah menunjukkan bahwa dirinya tidak memiliki kesamaan atau kecocokan atas pendapat yang diutarakan oleh Asti Ananta. Hal itu meunjukkan bahwa tuturan Denny tersebut telah melanggar prinsip kesantunan berbahasa tepatnya maksim kecocokan.

            Pada data 39 ini, Denny dalam tuturannya menunjukkan ketidak cocokan dirinya dengan mengatakan ngak tahu, menimbulkan suatu efek homor. Cara dan intonasi Denny ketika ia memberikan pendapatnya atas pertanyaan Asti Ananta tersebut membuat peserta ILK lainnya tertawa.

Penyimpangan Maksim Kesimpatian

Konteks tuturan tersebut dikarenakan tuturan Akbar yang menceritakan penolakan keluarganya tentang hubungan dia dengan orang yang dia suka
Denny : Karena sering meeting itu yaa

Dalam tuturan Denny di atas, dia telah menunjukkan bahwa dirinya tidak memaksimalkan simpati dan tidak meminimalkan rasa antipati terhadap Akbar, ia malah memaksimalkan rasa antipatinya kepada Akbar. Ketika ia mengatakan karena sering meeting itu yaa ia malah mengolok Akbar yang hubungan dengan pacarnya ditentang oleh pihak keluarganya. Denny harusnya menunjukkan rasa simpati terhadap kondisi Akbar pada saat itu bukan memaksimalkan rasa anti pati dengan menghina dan mengolok Akbar. Hal tersebut membuktikan ia telah melanggar prinsip kesantunan dalam berbahasa yakni maksim kesimpatian.

            Pada data 41 ini, tuturan Denny yang mengolok Akbar yang hubungannya ditentang keluarganya dengan memakai kata-kata yang telah digunakan oleh Akbar dalam tuturannya dalam menyampaiakan cerita cintanya dengan teman sekerjanya yaitu meeting. Kata tersebut digunakan untuk menunjukkan intensitas pertemuannya dengan pacarnya yang tidak lain adalah teman sekerjanya. Kata tersebut kemudian digunakan Denny untuk mengolok Akbar atas pertentangan dari pihak keluarga atas hubungannya. Hal tersebutlah yang menimbulkan efek humor dan membuat peserta ILK lainnya tertawa.

  1. Efek Humor dari Pemakaian Prinsip Kesantunan Berbahasa

Pada pemakaian prinsip kesantunan berbahasa, seperti yang tersaji dalam data-data di atas, yang diambil dari acara Indonesia Lawak Klub, pemakaian dari prinsip kesantunan berbahasa ini malah mengurangi atau bahkan tidak menimbulkan suatu efek humor dari tuturan mereka. Tuturan-tuturan yang diutarakan dengan mematuhi prinsip kesantunan berbahasa, membuat efek humor tersebut berkurang bahkan tidak ada. Walaupun memang ada beberapa data yang menunjukkan bahwa efek humor tersebut lahir melalui pemakaian prinsip kesantunan berbahasa ini namun jumlahnya sangat sedikit.

Konteks tuturan tersebut adalah tuturan Denny yang meragukan Akbar pernah memiliki pacar dalam hidupnya karena kondisi fisik Akbar yang ia anggap jelek
Ricko : Intrupsi Pak sebentar, kenapa Bapak kayak meragukan banget dia ada yang cinta?

Pada data 16 ini juga merupakan pemakaian dari prinsip kesantunan berbahasa tepatnya pada maksim kesimpatian. Ricko dalam tuturan di atas menunjukkan rasa simpati kepada Akbar atas hinaan yang diterima Akbar yang dilakukan oleh Denny. Tuturan Ricko yang merupakan rasa simpati dia kepada Akbar memiliki suatu efek humor yang membuat peserta ILK lainnya tertawa. Hal ini kerena situasi ketika Ricko memberikan simpatinya dan kalimat yang ia gunakan sedikit seperti mengolok karena dengan tuturannya itu ia mengulang pernyataan Denny yang meragukan kalau Akbar memiliki pacar, padalah sebenarnya ia memberikan simpatinya kepada Akbar. Inilah yang menimbulkan efek humor  dalam tuturan tersebut.

Efek humor yang terkadung dalam suatu tuturan yang mematuhi prinsip kesantunan berbahasa berdasarkan data yang tersaji di atas sangatlah sedikit. Sebagian besar pemakaian atau kepatuhan terhadap maksim-maksim prinsip kesantunan dalam suatu tuturan, tidak menimbulkan suatu efek humor.

Hal ini berbeda dengan pelanggaran dari prinsip kesantunan berbahasa. Berdasarkan data-data yang diperoleh dari acara ILK yang telah disajikan di atas, pelanggaran-pelanggaran maksim-maksim prinsip kesantunana berbahasa inilah yang menimbulkan efek humor yang membuat peserta ILK lainnya tertawa ataupun memberika tepuk tangan atas keberhasilan tuturan mereka tersebut.

  1. PENUTUP

Simpulan

            Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan; (1) pemakaian prinsip kesantunan Leech cukup banyak terjadi, meliputi semua maksim; (2) Penyimpangan prinsip kesantunan Leech juga cukup banyak terjadi, meliputi semua maksim; (3) Pemakaian prinsip kesantunan menghilangkan efek humor dari suatu tuturan, walaupun ada beberapa yang tidak, dan penyimpangan prinsip kesantunan dapat menimbulkan suatu efek humor.

Saran

Adapun saran dalam penelitian ini yaitu (1) Hasil penelitian prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia Lawak Klub ini diharapkan dapat memacu penelitian sejenis dalam objek yang berbeda; (2) Hasil Penelitian prinsip kesantunan berbahasa dalam acara Indonesia Lawak Klub ini diharapkan dapat gunakan untuk mempertajam teori kesantunan berbahasa khususnya teori Leech, pada penelitian lain yang lebih komprehensif; (3) Hasil penelitian ini diharapkan dapat dilanjutkan untuk memenuhi kekurangan-kekurangan dan kelemahan-kelemahan dari penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

 

Chaer, Abdul. 2010. Kesantunan Berbahasa. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Chaer, Abdul dan Leoni Agustin. 1995. Sosiolinguistik Pengenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Djadjasudarma, Fatimah. 1993. Metode Linguistik; Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: PT. Eresco.

Ellen, Gino. 2006. Kritik Teori Kesantunan. Surabaya: Airlangga University Press.

Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Edisi Ketiga. Jakarta: Gramedia.

Leech, Geoffrey. 1993. Prinsip-prinsip Pragmatik (terjemahan M.D.D. Oka). Jakarta: UI Press.

Mahsun.  2007.  Metode Penelitian Bahasa: Tahapan strategi, metode dan tekniknya. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Nadar, F.X. 2009. Pragmatik dan Penelitian Pragmatik. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Purwo, Bambang Kaswanti. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa. Yogyakarta: Kanisius.

Tarigan, Henry Guntur. 1984. Pengajaran Pragmatik. Bandung: Angkasa.

Wijana, I Dewa Putu dan Muhammad Rohmadi. 2011. Analisis Wacana Pragmatik. Surakarta : Yuma Pustaka.

Wijana, I Dewa Putu. 1996. Dasar-dasar Pragmatik. Yogyakarta: Andi.

Yule, George. 1996. Pragmatik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *