Punahnya Penembang Sasak Siapa yang Peduli 1

Punahnya Penembang Sasak, Siapa yang Peduli?

Non Fiksi, Opini

Punahnya Penembang Sasak,  Siapa yang Peduli

Oleh Samsul Hadi (E1C112109)

Kelas VC

 

Seiring dengan berkembangnya zaman, kebiasaan dan gaya hidup manusia pun berkembang kian pesat. Perkembangan ini melingkupi semua bidang kehidupan, baik bidang gaya hidup (life skill), gaya berpakaian (style), bahasa, arsitekur, bahkan sampai bidang tradisi budaya.

Dalam bidang gaya hidup (life skill), kebanyakan pemuda sekarang sudah dipengaruhi oleh gaya-gaya orang barat dan negara-negara maju lainnya. Pada masa sekarang ini, pemuda Indonesia banyak sekali yang meniru gaya-gaya artis Korea. Hal ini dapat kita lihat dari gaya berpakaian (style), model rambut, bahkan cara berbicaranya dan bahasanya pun seperti para artis Korea.

Dalam bidang tradisi budaya, lagi-lagi akibat pengaruh dari modernitas, para pemuda Indonesia khususnya para pemuda asli pulau Lombok (Bajang Sasak), banyak yang sudah enggan menjaga tradisi luhur yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu. Hal ini dapat kita lihat pada tradisi nyongkolan yang awalnya menggunakan musik pengiring khas Sasak seperti Gendang Beleq, Tawaq-tawaq dan Rudat, namun seiring dengan berkembangnya zaman, maka musik pengiring tersebut banyak diganti dengan kecimol, ale-ale maupun Reggae yang merupakan jenis musik modern. Perkembangan inilah yang menyebabkan banyak kebiasaan dan tradisi yang diwariskan turun temurun oleh nenek moyang sejak zaman dahulu menjadi dilupakan bahkan generasi muda sekarang merasa malu dan tidak bangga akan warisan tersebut. Sifat negatif itulah yang lambat laun akan menyebabkan punahnya atau hilangnya sebuah tradisi atau warisan budaya yang luhur. Salah satu contoh tradisi budaya yang hampir punah yakni tradisi Nembang di Suku Sasak. Sebagai seorang mahasiswa program studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah sekaligus generasi Suku Sasak, saya merasa peduli akan hal tersebut. Karena itu, tulisan ini bertujuan untuk memberi gambaran kepada semua masyarakat, generasi muda, terutama mahasiswa Bahasa Sastra Indonesia dan Daerah pada khususnya, akan pentingnya upaya untuk menjaga warisan tradisi nenek moyang.

 

Tradisi Nembang ini merupakan sebuah proses pembacaan Tembang atau syair-syair yang ditulis oleh orang-orang terdahulu menggunakan tulisan berbahasa kawi pada daun lontar yang diapit oleh dua buah pengapit yang terbuat dari kayu ataupun bambu. Dalam ilmu filologi, tulisan ini disebut naskah lontar atau dikenal juga dengan nama Takepan. Takepan ini berisi berbagai macam ilmu, seperti ilmu agama, sejarah, pengobatan, penanggalan, mantra, cerita-cerita dan lain sebagainya. Tulisan-tulisan tersebut dibaca oleh seorang Penembang dengan menggunakan lagu-lagu atau nada tertentu.

Oleh karena ilmu-ilmu yang ada pada naskah lontar tersebut sangat bermanfaat, maka selaku generasi muda yang akan memimpin nusa bangsa dan agama, maka sebuah keharusan bagi kita terutama para mahasiswa Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah untuk senantiasa menjaga semua itu dengan menanamkan niat terlebih dahulu lalu mewujudkan niat tersebut dengan berusaha untuk mempelajari dan mengkaji ilmu-ilmu yang ada di dalamnya serta bagaimana tata cara membaca naskah tersebut sesuai dengan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Bila perlu, dari pihak jurusan atau HMPS Bastrindo maupun HMPS Himbastrindo mengadakan perlombaan nembang, baik tingkat SMP, SMA maupun tingkat Universitas untuk memupuk rasa bangga akan warisan budaya yang luhur, serta memperkenalkan salah satu tradisi yang ada di pulau Lombok ini bagi semua kalangan yang tidak mengetahuinya. Selain itu juga, perlu diadakan pelatihan membaca takepan di bawah naungan HMPS atau jurusan, sebagai wujud dari rasa kepedulian untuk menjaga tradisi yang mulai luntur ini untuk menciptakan penembang-penembang muda di pulau ini, karena kita tahu bahwa pada zaman modern ini, generasi muda lebih senang mendengar dan menyanyikan lagu-lau barat, lagu korea, lagu-lagu reggae dan jenis-jenis lagu lainnya daripada lagu atau tembang-tembang lokal warisan nenek moyang yang berisi filsafat, tasawuf, dan petuah-peuah bijak lainnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *