Resensi Film Cinta Tapi Beda

Film, Resensi

 Resensi Film Cinta Tapi Beda

Sutradara : Hanung Bramantyo, Hestu Saputra

Produser : Raam Punjabi

Pemain : Agni Pratistha sebagai Diana, Reza Nangin sebagai Cahyo, Choky Sitohang sebagai Oka, Ratu Felisha sebagai Mitha, Agus Kuncoro sebagai Cowok baru Mitha, Jajang C Noer sebagai Bunda Diana, Nungki Kusumastuti sebagai Mbak Diyah, August Melasz sebagai Pak Subiakto, Hudson Prananjaya sebagai David, Leroy Osmani sebagai Om Thalib, Ayu Diah Pasha sebagai Istri Thalib, Hanung Bramantyo sebagai Pelanggan Café, Suharyoso sebagai Pak Fadholi, Sitoresmi Prabuningrat sebagai Munawaroh Lestari Fadholi, Rara Nawangsih sebagai Retno Fadholi.

Sipnosis

            Seorang pemuda dari kota gudek jogja yang benama cahyo beragama islam tulen bekerja di sebuah restoran Jakarta sebagai chef anak pertama dari Fadholi dan Munawaroh keluaraga muslim yang taat beribadah dan jadi panutan bagi warga Kota Gudek Jogja. Saat itu cahyo sedang menelfon pacarnya yang benama mihta tak lama kemudia ia melihat kekasihnya bersama orang lain di dalam mobil. Hal tersebut membuat cahyo sangat sedih dan depresi. Keluarga Diana penganut Katolik taat. Cahyo dan diana bertemu mahasiswi cantik gadis asal Padang jurusan seni tari saat menyaksikan pertunjukkan tari kontemporer di Jakarta. Keluarga Diana penganut Katolik taat. Diana sendiri tinggal bersama om dan tantenya di Jakarta, dan keluarga Diana merupakan penganut Katolik yang taat beribadah juga. Disini diceritakan bahwa Diana sangat menyukai masakan berupa babi rica-rica yang memang diharamkan dalam keluarga muslim.

Tak lama mereka berkenalan akhirnya memutuskan untuk berpacaran walaupun berbeda keyakinan dianatra mereka tapi tidak menuntut kemungkinan untuk menjalani suatu hubungan bahkan ingin serius melanjutkan hubungan hingga jenjang pernikahan. Ketika cahyo mengajak Diana untuk menemui orang tuanya di kota kelahiran cahyo. Ibunda cahyo Munawaroh memahami perasaan kedua pasangan kekasih itu tetapi tidak dengan ayahnya cahyo Fadholi sangat menentang pernikahan mereka dan sampai kapan pun tidak akan merestui hubungan meraka. Jika cahyo tetap nekat ia harus akat kaki dari rumahnya sendri dan lebih memlih kekasihnya. Begitu pula dengan ibunda Diana yang tidak setuju dengan pilihan anaknya yang ingin menjalani hubungan berbeda keyakinan. Mau tidak mau diana harus mengikuti keinginan orang tuanya kembali ke padang dan dijodohkan dengan dokter Oka yang sejalan dengan mereka.

Tidak mudah bagi cahyo dan diana menjalani hubungan berbeda keyakinan banyak sekali permasalahan yang mereka hadapi. Cahyo mengalami masa sulit setelah di tinggalkan oleh diana yang dijodohkan dengan orang lain pilihan orang tuanya. Seiring berjalannya waktu, Cahyo dan Diana masih sulit untuk melupakan satu sama lain. Karena mereka disatukan bukan oleh keyakinan tapi oleh cinta.

Kelebihan

Film ini memberikan pemahaman tentang perbedaan keyakinan dalam sutu hubungan yang memang dalam islam tidak diperbolehkan. Mereka memang saling mempertahankan agama masing-masing akan tetapi cinta mereka tetap utuh walaupun tidak disetujui oleh kedua orang tua mereka. Menjalani hubungan berbeda keyakinan begitu sulit untuk dijalani berbagai masalah yang dihadapi oleh kedua pasangan kekasih ini. Di film ini kekuatan cinta membuktikan bahwa tidak ada satupun orang yang bisa memisahkan ketika sepasang kekasih saling mencintai satu sama lainnya.

Kekurangan

Akhir dari cerita cinta tapi beda ini tidak ditayangkan bahwa mereka direstui akan tetapi direstui karna pindah keyakinan atau menikah berbeda keyakinan. Dalam islam menjalani hubungan berbeda keyakinan tidak diperbolehkan apa lagi sampai menikah itu sama saja disebut mereka berzina. Tetapi kebanyakan orang indonesia menikah dengan berbeda agama hal itu adalah sesuatu hal yang wajar dilakukan oleh orang indonesia. Namun fakta tentang cinta dan menikah berbeda keyakinan tetap saja ada tidak bisa dihilangkan di dunia ini. Hanung Bramantyo mengakhiri ceritanya ini agar penonton bisa bepikir keras tentang makna saling menghargai perbedaan agama masing-masing agar bisa bertoleransi sesame umat manusia.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *