RESENSI FILM DIVERGENT (Sebuah Keistimewaan yang Membahayakan)

Film, Non Fiksi, Resensi

RESENSI FILM DIVERGENT (Sebuah Keistimewaan yang Membahayakan)

RESENSI FILM
Judul : Divergent
Genre : Action/fantasy/adventure/
Produksi : Summit Entertainment
Tahun produksi : 2014
Sutradara : Neil Burger
Durasi : 139 menit 40 detik

Sebuah Keistimewaan yang Membahayakan

Film yang dibintangi oleh Shailene Woodley dan Theo James yang menjebol posisi puncak box office ini menggambarkan tentang sebuah kehidupan baru pada tahun 2164 di Chicago, setelah peperangan yang selalu terjadi dan menjadi identitas makhluk hidup yang bernama manusia. Sebuah kehidupan baru yang membuat manusia yang hidup di dalamnya terbagi menjadi lima kelompok (faksi) sesuai dengan kepribadian yang mereka miliki. Kelompok pertama, berisi orang-orang pintar, yang menghargai pengetahuan dan logika (Erudite). Kedua, kelompok yang bertugas untuk mengolah lahan, mereka adalah kaum yang sangat harmonis, baik hati, dan selalu bahagia (Emity). Ketiga, menghargai kejujuran dan ketertiban (Candor). Keempat, faksi Dauntless, mereka adalah para pemberani yang bertugas sebagai pasukan polisi. Terakhir adalah Abnegation yang bertugas untuk menjalankan pemerintahan.
Kisah yang menceritakan tentang seorang gadis benama Beatris (Shailene) memiliki tiga kepribadian yang ada pada dirinya. Hal ini merupakan sebuah keistimewaan, namun juga sekaligus sebagai ancaman bagi kerusakan faksi tersebut. Keadaan langka ini mereka sebut dengan ‘divergent’.
Pemberontakan yang dilakukan Beatris terhadap seorang wanita yang bernama Jeanne (kate winslet/tokoh ‘rose’ dalam film titanic) yang merupakan pemimpin dari kehidupan itu dibantu oleh seorang lelaki yang dicintainya, Four (Theo James). Wanita tersebut memilki idealisme bahwa sifat dasar manusia hanyalah musuh tersendiri dan hanyalah sebuah kelemahan. Sejatinya inilah yang menghancurkan manusia untuk dimanusiakan. Pemberontakan ini pun diakhiri dengan runtuhnya kekuasan Jeanne dan kehidupan yang dibangun oleh para pendiri beberapa ratus tahun yang lalu.
Film yang diangkat dari sebuah novel best seller karya Veronica Roth dari judul buku Young Adult ini memilki bebererapa kelemahan, yaitu pemberontakan yang digambarkan di dalamnya tidak terlalu memilki kesan yang menegangkan dan dramatis. Keistimewaan yang ada pada diri tokoh utama tidak terlalu kuat dan tidak memberikan pengaruh yang besar pada tokoh Jeanne (pemimpin wanita) sebagai titik sentralnya menyebabkan siapa tokoh yang menjadi titik fokus disini menjadi tidak jelas. Selain itu hal yang sangat penting di sini adalah kisah cinta antara Beatris dengan Four yang tidak terlalu memberikan kesan romantis. Padahal cinta yang terjadi diantara merekalah seharusnya memberikan efek yang kuat. Penggambaran isi cerita terkesan sangat hati-hati dan tidak memilki kekuatan pada setiap titik fokusnya, yaitu antara keistimewaan, pemberontakan, dan kisah cinta yang ada.
Meskipun film ini berada pada titik puncak dari sentuhan tangan sutradra Neil Burger dan kesuksesan yang sempat disamakan dan merupakan gabungan dari ide cerita film Twilight dan Harry Potter yang sudah melambung sebelumnya. Film ini menjadi memberi kesan yang sedikit minus karena penceritaan muatan dari cerita yang ingin disampaikan terkesan setengah-setengah, keistimewaan yang tidak terlalu menonjol, pemberontakan yang tidak terlalu menegangkan, dan kisah cinta yang terlihat kurang memberi kesan romantis.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *