RESENSI FILM: ISLAM DI BUMI EROPA TERUNGKAP dalam 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA

Film, Resensi

RESENSI FILM ISLAM DI BUMI EROPA TERUNGKAP dalam 99 CAHAYA DI LANGIT EROPA

Film 99 Cahaya di Langit Eropa adalah sebuah film yang diperankan oleh sejumlah aktor dan aktris indonesia yang dapat dikatakan sudah melanglang buana di kancah perfilman indonesia. Sebut saja Acha Septriasa yang memerankan tokoh Hannum Salsabiela yang memiliki karakter wanita penyayang, pekerja keras dan tipe wanita yang setia kepada suaminya; Abimana Aryasatya yang berperan sebagai Rangga Almahendra yakni suami dari Hannum seorang lelaki baik hati, sayang kepada istri, memiliki solidaritas yang tinggi, patuh beragama dan ia merupakan seorang mahasiswa yang sangat rajin dan pintar; Nino Fernandez yang berperan sebagai Stephan seorang lelaki yang tidak menganut kepercayaan kepada tuhan (Atheis), seseorang yang diyakini belum menemukan jati dirinya terhadap tuhan. Selain itu, tokoh Stephan juga merupakan seorang yang sangat kritis terhadap suatu hal khususnya terhadap islam; Marissa Nasution yang memerankan tokoh Maaria seorang wanita cantik beragama kristiani, ia adalah seorang wanita yang memendam rasa kepada Rangga suami dari Hannum yang juga berperan sebagai temannya; Alex Abbad yang berperan sebagai Khan yang berasal dari Pakistan. Seorang lelaki yang memiliki dedikasi yang tinggi terhadap agamanya (islam), ia juga seorang teman yang baik; serta beberapa tokoh-tokoh pembantu lainnya di antaranya Marti Ploderer, Roswhita Metz Klotzberg, Christian Ruthner, dan Elias Burchkardt.
Selain para aktor dan aktris yang ikut berperan dalam film ini, juga terdapat pihak yang juga memiliki peran yang sangat penting yaitu para pemeran dibalik kamera. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam proses penyelesaian film ini adalah diawali oleh perusahaan yang membiayai proses produksi yaitu Maxima Pictures yang bekerja sama dengan produk Wardah, Bank Mandiri, European Union, dan Adi TV. Seseorang yang telah menyutradai film fenomenal ini adalah seorang yang bernama Guntur Soeharjanto, seorang sutradara yang sangat pandai dalam membimbing proses pembuatan film sehingga menghasilkan film yang tidak biasa di mata masyarakat secara umum. Selain sutradara ada juga yang dinamakan dengan Promotion Manager yang dipegang oleh seseorang yang benama Hasanudin. Creating oleh Bhutet Erlina. Sedangkan yang membuat para aktor dan aktris terlihat tampan dan cantik adalah tanggung jawab pihak Costum dan make up yang dipegang oleh Retno Ratih Damayanti. Hannum Salsabiela dan Rangga Almahendra selain menjadi seorang yang menciptakan kisah ini, ia juga memegang tanggung jawab sebagai associate producer. Serta beberapa nama yang tidak bisa disebutkan. Berkat kerja keras orang-orang itulah film yang luar biasa ini tercipta dan dapat dinikmati oleh masyarakat.
Film 99 cahaya di langit Eropa merupakan sebuah film yang mengisahkan tentang perjalanan hidup pasangan suami istri muda yang memulai perjalanannya di kota Vienna karena sang suami harus melanjutkan studi S3 di salah satu universitas yang ada di kota tersebut. Awal kisah itu selanjutnya menakdirkan pasangan antara Hannum dan Rangga bertemu dengan beberapa teman yang sangat akrab dan baik. Sedangkan Hannum yang berada di kota tersebut hanya karena mengikuti sang suami maka ia pun harus pandai mengisi banyak waktu kosongnya dengan melakukan perjalanan ke setiap pelosok kota. Setiap perjalanan yang Hannum lakukan selalu menyisakan kisah-kisah sejarah tentang perjuangan Islam pada masa lampau. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan seorang wanita yang bernama Fatma Pasha. Fatma Pasha adalah seorang wanita yang membantu Hannum menemukan rahasia-rahasia dibalik sejarah dan peninggalan islam di Eropa. Fatma Pasha memiliki seorang anak gadis yang bernama Aisya. Aisya seorang gadis kecil yang baik, cantik, periang dan sangat akrab dengan Hannum dan Rangga setelah mereka dipertemukan oleh Fatma Pasha. Namun, di balik keceriaan dan kebahagiaan yang dimiliki oleh aisya, ada setitik kepedihan dalam hatinya bahwa ia memiliki penyakit yang awalnya memaksa aisya untuk menggunakan hijab dan harus menerima ejekan dari teman-temannya hingga pada akhirnya aisya merasa erhijab adalah kebutuhannya. Tapi karena kasih sayang yang besar telah diberikan oleh Fatma kepada anaknya itu, membuat aisya tetap merasa bahagia. Kedatangan Fatma dan Aisya dalam hidup Hannum membuat Hannum dapat bertahan hidup jauh dari keluarga yang berada di Indonesia yang awalnya ia kira ia takkan mampu untuk melaluinya. Hingga setiap perjalan yang dilakukan Hannum tidak akan terasa hambar karena selalu ditemani oleh Aisya dan Fatma.
Perjalanan Hannum tidak berkhir sampai di situ saja, semakin Hannum mengetahui banyak tentang peradaban Islam ia semakin tertarik untuk melakukan perjalanan untuk menemukan sebanyak-banyaknya informasi tentang sejarah islam. Hingga pada suatu ketika ia memiliki kesempatan untuk pergi ke kota Paris karena suaminya akan melakukan konferens di sana. Di kota Paris itulah ia bertemu dengan seorang wanita muallaf yang bernama Marion Latimer. Marion adalah teman dari Fatma Pasha yang kemudian dikenalkan kapada Hannum oleh Fatma. Fatma memberi kartu nama Marion dengan alasan saat berada di Paris Hannum memiliki teman untuk berkeliling menjelajah kota Paris sembari menunggu sang suami menyelesaikan tugas dan kegiatannya di kota tersebut. Selain itu, alasan Fatma mennjuk Marion adalah karena Marion merupakan seorang ilmuan yang mengetahui banyak tentang sejarah islam dikota Paris.
Hannum dan Marion memulai perjalanan mereka dari ke musium Louvre dimana musium ini terkenal dengan lukisan Monalisanya dan lukisan-lukisan lain yang lebih fenomenal di sampaing itu musium ini memiliki bentuk yang sangat unik. Selanjutnya Hannum dan Marion melanjutkan perjalanan ke gerbang kemenangan Paris yang dibuat oleh Napoleon dan dari gerbang tersebut terdapat patung yang sengaja dibuat menghadap ka’bah. Perjalanan kedua wanita tersebut berakhir ketika Rangga sudah menyelesaikan konferensnya dan Marion. Namun, semenjak Hannum dan Rangga pergi ke Paris Fatma seakan-akan menghilang dari kehidupan mereka berdua, bahkan saat dikirimi email berkali-kali oleh Hannum tapi ia tak pernah sekalipun membalasnya, padahal Hannum sudah memendam rindu yang sangat besar terhadap ia dan aisya. Sekembalinya dari Paris, Hannum berharap dapat bertemu dengan Fatma. Hannum sangat ingin menceritakan semua tentang perjalanannya dengan Marion di Paris. Selain itu Hannum juga ingin memberikan bingkisan yang dititipkan oleh Marion untuk Fatma dan Aisya. Namun, ia tak kunjung bertemu dengan Fatma.
Kisah lain juga dituai oleh teman teman Rangga yaitu Stephan, Khan, dan Maaria. Mereka adalah 3 orang dengan keyakinan yang berbeda-beda. Karena perbedaan itulah yang sering kali membuat mereka salah faham rehadap keyakinan masing-masing. Pernah suatu ketika terjadi percek-cokan antara Stephan dan Khan hanya karena khan tidak menerima perkataan Stephan ynag menyebutkan bahwa Islam memperjuankan keksistensiannya dengan kekerasaan dan itu tidak ubahnya seperti seorang teroris. Hal ini tidak bisa diterima oleh Khan sehingga membuatnya marah. Untung pada saat itu ada Rangga yang melerai mereka berdua sebelum terjadinya baku hantam antar keduanya. Hingga hubungan antara mereka berdua menjadi kurang baik. Hingga pada akhirnya hubungan mereka membaik ketika Stephan kecelakaan dan Khanlah yang membantunya. Dengan bantuan Rangga yang menceritakan semua tentang yang sebenarnya, akhirnya Stephan sadar bahwa selama ini ia sudah salah sangka kepada Khan.
Disamping segala masalah Hannum dengan perjalanannya, Rangga juga memiliki masalah dengan Maaria yang terus-menerus menggodanya. Maria selalu saja mencari cara untuk merayu Rangga tapi karena Ranngga adalah orang yang setia dan sayang kepada Hannum ia selalu berusaha untuk menampik segala perlakuan Maaria dengan tetap menjaga dan tidak mwnyinggung perasaannya. Hingga pada suatu ketika Maaria memiliki alasan yang kuat untuk mendekati Rangga yaitu undangan pesta dansa yang diberikan oleh Prof. Reihaant yang mengharuskan Rangga dan Maaria untuk menghadiri undangan tersebut. Tapi Rangga berniat mengajak Istrinya namun Hannum tidak mau menuruti keinginan Rangga tersebut. Masalah yang cukup beratpun datang kepada pasangan Rannga dan Hannum. Hal tersebut terjadi ketika Hannum ingin merayakan ulang tahunnya bersama Rannga dan ketika ia akan menemui Rangga, ia mendapati Rangga dan Maaria sedang berpelukan sehingga kecemburuanpun membuatnya sangan kecewa dan sedih terhadap Rangga. Namun masalah itu dapat diatasi Rannga dengan baik.
Pada suatu ketika, Hannum meminta kepada Rangga suaminya agar mau pergi bersama-sama ke Cordoba. Ia ingin sekali berkunjung ke kota tersebut, mengingat semua hal yang dikatakan oleh Fatma bahwa Cordoba merupakan kota yang menyimpan banyak rahasia tentang peradaban dan perjuangan islam. Hari-hari terus ia lalui di Cordoba bersama suaminya, menikmati keindahan kota tersebut dan tidak luput untuk mengirim email kepada Fatma sekedar untuk bercerita dan menanyakan kabar Aisya. Di Cordoba, Hannum dan Rangga mengunjungi Mosquita. Mosquita ialah bangunan yang awalnya sebuah masjid yang akhirnya kemudian diubah sebuah katedral. Selain Mo squita, Hannum dan Rangga juga mengunjungi banyak tempat lainnya di Paris. Setelah beberapa waktu kembali ke Vienna, Austria, Rangga di hadapkan pada masalah antara Khan dan Stephan yang kembali terjadi kesalahpahaman di antara keduanya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Waktu berlalu begitu cepat bagi Hannum saat Fatma dan Aisya tidak ada di sampingya. Hingga suatu ketika datanglah balasan email dari Fatma yang memberitahukan kepada Hannum keberadaannya dengan Aisyah yakni di Istanbul, Turki. Selain itu, Fatma juga meminta Hannum dan Rangga untuk menemuinya di Istambul, sebelum kembali ke Indonesia karena Rangga sudah menyelesaikan Studinya. Sejak saat hanum pergi ke Paris, ternyata Fatma pindah ke Istambul. Setelah mendapat informasi tersebut, Hannum dan Rangga pergi menemui Fatma di Istanbul dan si sana mereka di ajak mengunjungi Hagia Sofia. Hagia Sofia adalah banguna yang di bangun 8 Abad yang lalu sebagai suatu Katedrra yang dibangun oleh Sultan Hamed II, namun ketika Sultan Hamed II berkuasa di Turki, Hagia Sofia dijadikan Masjid dengan dilengkapi dengan menara-menara hingga kini Hagia Sofia dijadikan Museum oleh pemerintah Turki. Museum ini menjadi saksi bahwa simbol-simbol agama yang berbeda dapat berdampingan dalam satu rumah ibadah. Selanjutnya Hannum dan Rangga diajak berkunjung ke Masjid Biru dimana Masjid Biru ini adalah bangunan yang selain berperan sebagai masjid juga dijadikan sekolah dan tempat perawatan bagi yang membutuhkan.
Di waktu itulah Hannum mengetahui bahwa Aisyah sudah meninggal dunia karena penyakit yang ia derita. Mendengar hal tersebut Hannum sangat sedih mengingat semua kisah-kisah yang ia lalui bersama Aisyah. Bersamaan dengan itu, Hannum mengingat janjinya kepada Aisyah untuk menggunakan Hijab dan memutuskan untuk emenuhi janjinya tersebut. Dari situlah hati Hannum tersentuh untuk yang pertama kalinya untuk mendalami dan menjadi agen muslim yang lebih baik. Akhirnya 3 tahun menjalani hidup di Eropa, Hannum merasa menemukan alasan mengapa ia harus percaya akan kebesaran islam.
Film 99 Cahaya di Langit Eropa adalah film yang diadaptasi dari sebuah novel karya Hannum Salsabiela dan Rangga Almahendra yang bertemakan tentang perjalanan hidup seseorang untuk menemukan jati dirinya. Mereka mengangkat kisah nyata yang mereka alami ke dalam sebuah karya sastra. Tema yang dipilih penulis di dukung oleh kisah-kisah perjalanan Hannum saat menjelajahi hampir seluruh bagian Eropa untuk menemukan rahasia-rahasia islam yang tersimpan di setiap peninggalan bersejarah di tanah Eropa. Dengan ditemukannya berbagai rahasia-rahasia tersebut Hannum seakan-akan tersentuh hatinya untuk lebih mengetahui semua hal tentang Islam. Film 99 Cahaya di Langit Eropa ini seolah-olah membuka mata para muslim tentang peradaban islam yang memiliki peran yang besar terhadap perkembangan Eropa. Setiap rentetan kisah diberikan unsur sejarah. Oleh karena itu, ketika menyaksikan film ini, penonton seolah-olah sedang menikmati hasil karya anak bangsa sambil belajar sejarah. Itulah kelebihan yang dimiliki oleh Film ini yang disajikan secara apiks oleh seorang sutradara. Sedangkan dalam pengembangan cerita, dalam film ini menggunakan alur maju yakni dikisahkan dari awal sejak Hannum datang ke Austria, Vienna hingga ia akan kembali ke Indonesia yang sebelumnya ketika ia berada di Vienna sudah dilalui dengan rentetan kisah yang terjadi secara berurutan yakni perjalanan-perjalanan Hannum ke setiap tempat di sudut kota. Selain itu, film ini juga memberikan gambaran tentang bagaimana umat-umat beragama yang berbeda seharusnya memiliki toleransi dan rasa saling menghargai antar sesamanya. Hal ini dapat dijadikan panutan oleh para penonton sehingga dapat meningkatkan rasa solidaritas umat-umat bergama di Indonesia yang tekenal dengan keberagamaan budaya serta agamanya.
Namun dibalik kesuksesan film ini dalam menyajikan sebuah tontonan yang memberi pembelajaran bagi penonton juga memiliki suatu unsur yang dianggap sebagai sebuah kekurangan, yaitu dalam penulisan subtitle dengan ukuran yang sangat kecil dan tidak jelas membuat penonton terkadang tidak mengerti dengan percakapan yang terjadi saat para tokoh menggunakan bahasa Jerman. Hal ini akan memicu penonton tidak mengetahui jalannya cerita, walaupun penggunakan bahasa Jerman tidak terlalu sering digunakan, tetapi tetap saja seharusnya penulisan subtitle juga harus diperhatikan karena termasuk bagian yang penting dalam sebuah film yang menggunakan bahasa asing. akhirnya harapan saya bagi para penikmat film ini adalah semoga kita semua dapat memilih dan memilah unsur-unsur yang ditampilkan dan disajikan sehingga kita sebagai penikmat tidak memiliki interpretasi yang salah terhadap film ini.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *