resensi film Kehormatan di Balik Kerudung

Film, Resensi

resensi film Kehormatan di Balik Kerudung

Judul : Kehormatan di Balik Kerudung
Release : 27 Oktober 2011
Sutradara : Tya Subiyakto Satrio
Penulis Naskah : Amalia Putri
Penulis Novel : Ma’mun Affany
Produser : Chand Parwez Servia
Produksi : PT. Kharisma Starvision Plus

Sinopsis :
Film ini diangkat dari novel karya Ma’mun Affany berjudul sama. Sutradaranya, Tya Subiakto Satrio. Meski ini film perdana yang disutradarainya, Tya bukan orang baru di dunia film. Ia adalah ilustrator musik sejumlah film religi, seperti Ayat-Ayat Cinta, Sang Pencerah, Doa yang Mengancam, Perempuan Berkalung Sorban.
KISAH cinta berbumbu religi dan poligami, kembali diangkat oleh film Indonesia.
Syahdu adalah wanita yang berhati mulia namun keras hati. Ia tinggal bersama ibunya serta adiknya, Ratih. Meskipun mereka hidup dalam kesederhanaan, Syahdu sangat mencintai keluarganya. Bermula dari niatan Syahdu (Donita) untuk mengunjungi kakeknya di Pekalongan. Saat menunggu kereta, muncul Ifand Abdussalam (Andhika Pratama), yang mengaku sebagai wartawan, duduk di samping Syahdu. Keduanya berkenalan. Setiba di rumah sang kakek (HS Abdullah Ali), Syahdu mendapati bahwa Ifand ternyata tinggal di desa yang sama. Benih-benih cinta muncul di antara mereka. Syahdu yang tidak terlalu mengerti Islam, dibimbing Ifand untuk belajar agama. Keakraban keduanya mengundang resah warga. Di samping mencegah hal-hal yang tak diinginkan, beberapa warga perempuan menentang hubungan mereka karena ada Sofia (Ussy Sulistyawati), gadis yang telah lama memendam cinta pada Ifand.
Demi meredakan gunjingan warga, kakek meminta Syahdu pulang ke rumahnya. Musibah terjadi. Ibu Syahdu (Erlin Salintan) sakit parah dan harus dirawat di rumah sakit. Syahdu tak punya uang Rp 30 juta untuk biaya pengobatan. Nazmi (Iwa Rasya), mantan pacar Syahdu yang masih mengharapkan Syahdu mau memberikan uang itu dengan syarat Syahdu harus mau jadi istrinya. Terdesak, Syahdu menerima pinangan Nazmi. Setelah resmi menjadi suami-istri, dengan polosnya Syahdu mengatakan pada Nazmi bahwa ada pria lain mengisi hatinya. Nazmi langsung mengusir Syahdu. Patah hati setelah Syahdu menikah, Ifand memutuskan menikahi Sofia. Secara perlahan, Ifand belajar mencintai Sofia. Keduanya hidup bahagia. Sementara Syahdu yang telah menjanda, makin terpukul mengetahui Ifand sudah menikah dengan Sofia. Akibatnya, Syahdu sering melamun dan sakit-sakitan. Kondisinya terus memburuk.
Ratih (Nadya Almira), adik Syahdu, diam-diam mengirim surat kepada Ifand untuk menceritakan keadaan kakaknya. Atas saran Sofia, Ifand menjenguk Syahdu. Tak sekadar menjenguk, Sofia pun meminta Ifand untuk menikahi Syahdu. Namun apakah benar pernikahan adalah solusi yang terbaik?

KELEBIHAN
Kelebihan dari novel kehormatan di balik kerudung adalah alur ceritanya mudah di pahami, sehingga mengajak pembaca untuk masuk dalam cerita yang disugguhkan oleh pengarang. Disamping itu temanya juga bagus, yaitu cinta dan poligami dalam konteks religi, yang mengajarkan kita untuk bisa ikhlas dalam menghadapi sesuatu, ada pengorbanan yang harus dilakukan masing-masing karakter, dan pengorbanan tersebut getir layaknya buah simalakama. Sehingga mau tidak mau pembaca ingin menuntaskan novel yang dibacanya, sedangkan kelebihan dalam filmya adalah indahnya penggambaran konflik batin masing-masing karakter dengan perjalanan hidup masing-masing karakter tersebut serta memiliki tampilan gambar yang cukup indah atau indahnya panorama alam yang dihadirkan lewat tatanan sinematografinya.
KELEMAHAN
Kelemahan dari film ini adalah pemakaian bahasa puitis yang berlebihan, bahasa puitis bisa digunakan dalam film untuk membuat film itu lebih menarik, tetapi jika berlebihan akan menjadi sesuatu yang biasa. Cerita yang diadaptasi dari novel Ma’mun Affany tersebut mempunyai banyak perbedaan dari novelnya. Beberapa bagian adegan atau alur dalam novel pun banyak yang dihilangkan, sehingga kemungkinan penonton yang sudah membaca novelnya kehilangan alur cerita yang sangat besar. Tidak terjelaskan pula kenapa film tersebut harus terjebak dalam rentetan adegan tangis-menangis. Seakan-akan cerita film tidak mungkin bisa berlanjut, kecuali ada salah satu karakter yang meneteskan air mata. Sehingga keimanan masing-masing karakter pun terlihat lenyap begitu saja.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *