RESENSI NOVEL HATI KEDUA KARYA ACHI TM

RESENSI NOVEL HATI KEDUA KARYA ACHI TM

Buku, Resensi

RESENSI NOVEL HATI KEDUA

Judul Buku : Hati kedua

Penulis : Achi TM

Penerbit : Sheila

Halaman : 338

Tahun : 2013

Rara adalah anak tunggal dan berasal dari keluarga yang mampu. Walaupun begitu, dia ga mau terlihat mencolok di depan teman-temannya dan tetap berpenampilan sederhana dan tidak membeda-bedakan dengan siapa dia berteman. Rara seorang gadis remaja yang memiliki hobi yang sangat aneh dari kebanyakan gadis remaja lainnya. Iya, hobi Rara ini memang sedikit aneh, disaat remaja seusianya menggemari Fashion, hobi Hangout bareng teman-temannya. Akan tetapi, Rara memang sangat berbeda, dia lebih mengutak atik benda elektronik dan sangat suka bermain game. Walaupun kedua orang tua nya super sibuk, ternyata tidak berpengaruh pada Rara. Ia selalu tampil menjadi anak yang baik hati dan selalu berusaha menolong orang lain.

Papa dan Mamanya berkerja diluar negeri. Mereka sangat sibuk. Akan tetapi, disela-sela kesibukan mereka. Papa dan mamanya tidak pernah lupa memberikan kasih sayang, dan perhatian kepada putri tunggalnya itu. Walau orang tuanya jauh diluar negeri. Rara tidak pernah merasa kesepeian. Karena ia memiliki teman yang selalu menghibur dan menjaganya. Sebut saja, Mas Joko, dia adalah supir keluarga Rara. Yang selalu mengantar jemput Rara pergi, dan pulang sekolah. Bahkan, mengantar Rara ketempat-tempat yang ingin dikunjunginya. Bik Surti, dia adalah pembantu rumah tangga. Yang mengurus Rara selama orang tuanya bekerja diluar negeri. Kemudian ada Tukul, dia adalah seorang pengantar koran langganan keluarga Rara. Setiap pagi Tukul mengantarkan koran. Tukul juga teman satu-satunya Rara yang ada di sekitar kompleks ruhamnya. Iya, karena Rara sangat jarang bergaul. Rara tidak pernah keluar rumah dan pergi bermain dengan teman sebayanya. Waktunya banyak di habiskan dirumah dengan bermain game kesukaannya.

Rara memang tidak suka bergaul, tidak hanya dilingkungan rumah. Disekolah pun Rara lebih memilih tidak bergaul dengan teman-temannya. Akan tetapi, dengan seiring berjalannya waktu. Rara yang tadinya sulit menerima orang baru. Akhirnya dapat membuka diri, kepada salah satu teman kelasnya yang bernama Niki. Niki adalah seorang gadis remaja yang sangat periang, ramah, dan mudah bergaul dengan siapa saja. Hal ini sangat berbanding terbalik dengan sifaf Rara yang lebih tertutup. Mereka bisa menjalani pertemanan. Karena beberapa waktu lalu, Rara sering membantu Niki. Sifat periang, dan selalu tersenyum saat mengahadapi kesulitan atau masalah. Membuat Rara sedikit iri hati. Mengapa dia tidak bisa seperti Niki. Niki menjadi teman satu-satunya Rara disekolah. Karena Rara sering sakit-sakitan, hal itu membuat Rara sedikit malu bergaul dengan teman-temannya. Karena Rara tidak ingin merepotkan teman-temannya. Penyakit sakit kepala yang sangat dahsyat. Yang mampu membuat Rara tak sadarkan diri. Tidak hanya sekali, akan tetapi berkali-kali.

Rara berpikir itu hanya sakit kepala biasa. Tak jarang, Rara bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Jika memang itu hanya sakit kepala biasa. Tak mungkin rasa sakitnya begitu sangat menyiksa dirinya. Dan sampai sering tak menadarkan diri. Rara memang tak mengerti penyakit apa yang dideritanya. Karena setiap kali ia bertanya kepada Papa dan Mamanya. Meraka hanya menjawab “Rara hanya sakit kepala biasa, Nak”. Rara masih tak mempercayainya. Hingga suatu ketika, di saat jam sekolah. Sakit kepalanya kambuh. Menimbulkan gemingan dahsyat, yang mengakibatkan Rara tak sadarkan diri. Dan harus di lairkan ke Rumah Sakit. Dalam perjalan menuju Rumah Sakit. Ada kekuatan yang begitu besar, dan tampak sosok seorang perempuan berambut gelombang, berkulit putih. Dia mengatakan bahwa Rara harus kuat dan mampu melawan semua itu. Setelah itu, tiba-tiba Rara menanyakan sosok seorang perempuan yang hadir saat dia tak sadarkan diri tadi. Mama terkejut, karena tidak ada siapa-siapa. Selain mama diruangan itu. Rara pun ikut bingung. Lantas, siapa perempuan tadi. Beberapa hari di Rumah sakit, akhirnya Rara diperbolehkan pulang. Dan menjalani perawatan lanjutan dirumah. Setelah sampai dirumah, dan beristirahat sejenak. Rara kembali menanyakan penyakit apa yang sebenarnya sedang di deritanya itu.

Papa dan Mama hanya saling bertatapan dan diam. Tidak satupun kata yang keluar dari bibir mereka. Rara semakin penasaran, penyakit apa sih yang sebenarnya sedang di deritanya itu. Kemudian Rara kembali menanyakan hal yang sama. Lagi-lagi kedua orang tuanya hanya diam terpaku. Lalu, beberapa saat kemudian, Mama memberitahukan bahwa Rara sebenarnya sedang mengidap Tumor Otak. Mama menangis, lalu memeluk Rara dengan erat. Rara tak menyangka mereka merahasiakan penyakit mematikan itu darinya. Sontak, Rara melepaskan pelukan dari Mamanya. Kemudian keluar rumah, dan berlari ketaman kota dekat kompleks rumahnya.

Di tanam kota itulah, Rara bertemu dengan perempuan yang ada dalam mimpinya. Saat dia tak sadarkan diri dan dirawat di Rumah Sakit beberapa hari yang lalu. Rara bingung, mengapa semua serba kebetulan. Rara menanyakan kebenaran tentang apa yang dia lihat dalam mimpinya. Perempuan itu lalu tertawa,

Rara kemudian menceritakan apa yang sedang terjadi padanya. Tak terasa Rara menceritakan semua apa yang selama ini kedua orang tuanya rahasiakan kepadanya. Akan tetapi, Rara berusaha tidak menceritakan tentang penyakitnya itu. Perempuan itu kemudian memberi nasihat kepada Rara. Setelah cukup lama mereka bercerita. Rara sendiri belum mengetahui nama perempuan itu. Rara memberanikan diri untuk menanyakan siapa nama perempuan itu. Nama perempuan itu aadalah Syifa. Dari pertemuan mereka di hari itu. kian hari mereka kian dekat. Sudah seperti saudara. Mereka saling bertukar pikiran, menanyakan hobi masing-masing. Dan tak diduga, ternyata mereka memiliki hobi yang sama, yakni membuat robot, dan gemar bermain game. Hati Rara sangat senang, takhirnya ada orang memiliki hobi yang sama dengannya.

Rara sudah menganggap Syifa sebagai saudara perempuannya. Rara sudah tak malu lagi menceritakan tentang penyakit yang sedang dideritanya. Menceritakan bahwa keuda orang tuanya ingin mengoperasinya. Semua serba kebetulan, ternyata Syifa juga mengidap penyakit yang sama seperti dirinya. Akan tetapi, Syifa tak ingin dioperasi. Karena dia ingin menikmati sisa hidupnya dengan bahagia. Tanpa harus merasakan yang namanya operasi. Rara banyak belajar arti hidup dengan Syifa. Rara juga belajar, jika hati ini dapat dibagi menjadi empat bagian, “Hati Kesatu, Hati Satu Setengah, Hati Kedua, dan Hati Ketiga.” Hati Kesatu untuk Allah, Tuhan semesta alam. Hati Satu setengah untuk kedua orang tua, dan keluarga. Hati Kedua Rara adalah Rama. Dan Hati Ketiga Rara adalah Kak Syifa.

Rara bertemu dengan Hati Keduanya saat masih bersekolah. Di SMA 67 inilah Rara bertemu dan sosok Rama. Yang memiliki jiwa besar, selalu tersenyum saat ada masalah sekecil dan sebesar apapun, tak pernah mengeluh sedikitpun, selalu tegar walau banyak orang yang menghinanya. Iya, karena Rama adalah seorang Tunanetra. Meski demikian, Rama mampu memberi aliran positif kepada Rara. Rara sudah tak pernah mengeluhkan tentang penyakitnya itu lagi. Rara lebih memilih menikmati sisa hidupnya dengan membantu Rama. Dan membuang rasa takutnya. Meski terkadang, penyakitnya sering kambuh. Rara selalu tetap berusaha tidak terjadi apa-apa. Karena Rara tidak ingin membuat Rama menjadi khawatir kepadanya.

Rara dan Rama, memang tampak semakin akrab. Hingga tak jarang teman-teman sekelas mengejek mereka berdua. Akan tetapi, Rara berusaha menanggapinya dengan biasa-biasa saja. Padahal yang terjadi sebenarnya, Rara sangat malu, takut ketauan teman-temannya. Jika apa yang mereka katakan adalah hal yang sebenarnya. Rara selalu bersikap sama seperti biasanya. Yang tidak dapat di pungkiri adalah gejolak jiwanya yang semakin hari semakin merasakan sesuatu yang beda. Rara tidak dapat jauh-jauh dari Rama. Sampai libur seolah seharipun. Rara merasa ada sesuatu yang hilang. Jika Rara tak bertemu, atau berada di dekat Rama.

Entah mengapa, perasaan itu semakin hari semakin kuat. Rara bingung, harus menceritkan dan mengungkapkan kebingungannya kedapa siapa. Sudah pasti, jika Rara bercerita kepada teman-temannya. Mereka akan semakin mengejeknya. Rara lebih memilih untuk merahasiakannya. Rara ingin menanyakan langsung kepada Rama. Apakah Rama merasakan sesuatu yang sama dengan apa yang Rara rasakan. Lagi-lagi Rara tidak dapat mengeluarkan pertanyaan itu. Hingga pada saat Rama mengikuti sebuah lomba pidato, dan Rama berhasil menjadi juara pertama. Rama mengucapkan terimkasih kepada teman-teman yang selalu ada, dan memberi dukungan kepadanya. Kemudian persembahan piala itu ditujukan kepada Rara. Rama mengatakan bahwan Rara adalah Mata Keduanya. Rara tak menyangka kalau Rama akan mempersembahkan pialanya kepada Rara. Sebuah pernyataan yang sangat melegakan bagi Rara. Jika Rama menganggapnya sebagai pahlawan dalam kehidupannya. Semenjak hari itu, Rara meyakinkan hatinya. Bahwa Hati Keduanya adalah Rama. Seorang yang mampu memberinya semangat untuk menjalani hidup. Walau mereka tidak memutuskan untuk berpacaran. Akan tetapi, baik Rama ataupun Rama. Tetap saling menjaga perasaan mereka masing-masing.

Rara akan menjaga Hati Keduanya untuk Rama. Rara tidak akan mungkin bisa menjaga Rama selamanya. Karena penyakit yang di derita Rara dapat menemui ajal dan kematian kapan saja. Rara berharap ada satu Rara dihati Rama. Tidak ada Rara kedua. Akan tetapi, dalam hati kecil Rara berharap. Suatu saat nanti ada seorang perempuan yang dapat mencintai Rama dengan tulus.

Kekurangan : Dalam novel ini, akhir ceritanya kurang jelas. Ceritanya terlalu singkat. Tidak dijelaskan secara rinci sehingga membuat pembaca merasa penasaran. Dan sedikit kecewa karena ketidak jelasan di akhir cerita novel ini.

Kelebihan : Novel ini dapat menjadi sumber inspirasi, dan dapat memotivasi pembaca. Apapun yang kita lakukan. Dan seberat apapun cobaan yang kita terima. Berusahalah untuk tetap berpikir positif. Karena setiap masalah pasti ada jalan keluarnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *