Resensi Novel “Kutemukan Engkau di setiap Tahajudku”

Buku, Resensi

Resensi Novel Kutemukan Engkau di setiap Tahajudku

Resensi novel “Kutemukan Engkau di setiap Tahajudku”

Judul Buku:                 Kutemukan Engkau di setiap Tahajudku

Penulis:                        Desi Puspitasari

Penerbit:                      Hikmah (PT Mizan Publika)

Tahun Terbit:               Oktober 2006/Ramadhan 1427 H.

Cetakan:                      Pertama

Tebal Buku:                 186

ISBN:                          979-144-022-7

Penyunting:                 Imam R.

Pewajah Sampul:         Windu Tampan

Penyelaras Aksara:      Yayan R.H.

Penata Letak:              Bowo

Sinopsis

Buku dengan judul Kutemukan Engkau di setiap Tahajudku ini menceritakan tentang seseorang yang kebingungan dalam mencari pasangan hidupnya. Berawal dari tokoh Agus yang ugal-ugalan yang setiap harinya di habiskan untuk trek-trekkan. Hingga pada akhirnya agus dipertemukan dengan seorang gadis bernama Airin. Sosok Airin yang di hadapan Agus berbeda sekali dengan gadis kecil yang dikenalnya dulu. Gadis itu sekarang sudah mengenakan jilbab rapi. Manis sekali. Rasa-rasanya Agus telah jatuh cinta pada Airin.

Namun mendapatkan Airin tidak semudah membolak balikkan telapak tangan. Agus di hadapkan pada sosok seorang Dewa yaitu teman kelas Airin yang juga menaruh hati pada Airin. Akhirnya terjadi cinta segitiga diantara mereka. Akan tetapi, dalam hari yang bersamaan Airin menolak cinta Agus dan Dewa, karena Airin tidak ingin pacaran, ia hanya ingin mencari pasangan hidup. Agus dan Dewa sangat kecewa karena penolakan tersebut untuk mereka berdua.

Tidak lama setelah penolakan cinta dari Airin, ibu Agus meninggal dunia. Sehingga perasaan Agus bercampur aduk. Dalam kegamangan dan putus asa, Agus menemukan cahaya-Nya menerangi jalannya. Agus dan Airin melangsungkan ikatan suci pernikahan.

Unsur intrinsik novel

  1. Tema: Kebimbangan seseorang dalam mencari pasangan hidup.
  2. Latar Belakang: Jogja-Solo, di atas trotoar, di jalanan, di kampus, di jalan raya, di kantin, dan bengkel.
  3. Waktu: Pagi hingga malam.
  4. Suasana: Penuh keperhatinan, menegangkan, menyenangkan, dan mengharukan.
  5. Alur: Penulis menggunakan alur maju mundur atau biasa disebut dengan flashback artinya cerita ini terjadi ke masa lalu dan kejadiannya di masa yang akan datang.
  6. Gaya bahasa: Novel ini menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh para pembaca.
  7. Amanat: 1) Dalam mencapai sebuah tujuan, jangan setengah-setengah, tetap berusaha, tidak mudah putus asa dan ber-doa, 2) Berpegang teguhlah pada prinsip yang anda miliki.
  8. Penokohan

Agus:               Ramah, penyayang, pemalas, suka bercanda, humoris, baik hati, dan penolong,

Airin:               Cengeng, baik hati, ramah, penyabar dan tidak sombong.

Dewa:              Baik, pemarah, dan penyayang.

Angga:            Baik dan setia kawan.

Lis:                  Suka bercanda

Warni:             Baik dan humoris

Gadis:              Baik dan humoris

Budi:               Teman Agus

Joko:                Teman Agus

Pak Jiman:       Ramah (sopir ayah agus)

Ibu agus:         Penyabar

Udin:               Teman SMA agus dan Airin

Bapak Agus:   Pemarah

Pak Dwiyono: Sabar, arif, dan bijaksana.

Pak Dayat:      Sopir Dewa

Pak Dal:          Sopir Airin

Yanto:                         Teman SD Agus

Pak Min:          Penjaga sekolah

Kelebihan Novel

Dalam novel ini, dari segi karakteristik tokoh-tokoh didalamnya yang membuat pembaca cepat memahami karakter tokoh tersebut. Novel ini juga membuat si pembaca tertawa, terharu, sekaligus merenung. Membaca novel ini, membawa si pembaca seakan larut dalam kehidupan tokoh-tokohnya. Gaya bahasa yang digunakan juga mudah dimengerti oleh para pembaca.

Kekurangan Novel

Paragraf untuk ke alur masa lalu dan masa kininya tidak diberi pembatas sehingga pembaca kebingungan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *