RESENSI NOVEL ” MATAHARI DI ATAS GILLI ” KARYA LINTANG SUGIARTO

Resensi

matahari di atas gilli

 

“Perempuan yang tangguh adalah ketika ia mampu mengusap air matanya dan mengubur semua kegagalan pada masa lalunya, kau pernah melihat bayi yang baru saja dilahirkan Bayi itu tidak mempunyai kekuatan apapun, ia lemah, tetapi di dalam ketidak berdayaan itu, ia memiliki energy yang kuat untuk dicintai oleh sispapun yang memandangnya. Aku ingin kau dan aku tetap menjaga kebeningan dan kelemahan itu “ (Lintang Sugiarto).

1. Identitas Buku

Judul   Buku      :   Matahari Di Atas Gilli

Penulis               :   Lintang Sugiarto

Penerbit             :   Republika

Tanggal terbit    :   Juli – 2007

Jumlah Halaman :   547

Jumlah bab         : 10

Jenis buku          : novel

Cetakan               : Kedua

Cover                   : Covernya berwarna senja dengan wajah perempuan dan mataharinya menyinari siluet perahu dan laut.

 

Gili adalah sebuah pulau di Probolinggo dengan luas 68 Ha yang dihuni 8000 jiwa dan mayoritas suku madura yang dapat ditempuh selama 30 menit dari Kota Probolinggo nama lengkap pulau ini adalah Gili Ketapang yang 90% penduduknya adalah nelayan, tak banyak orang yang mengetahui pulau ini, walaupun pulau gili mempunyai pesona taman air bawah laut seperti yang dimiliki oleh objek wisata Pasir Putih atau Papin biasa disebut oleh masyarakat Situbondo tetapi belum dikembangkan secara maksimal seperti di Bunaken. Bahasa Penulisan dan Sejarah

Novel Matahari di Atas Gili mencerminkan imajinasi sang penulis begitu “liar” seperti bagaimana penulis menjelaskan bagaimana terjadinya Reproduksi Manusia, bahasa prosa yang sangat indah penuh dengan petuah dan filosofis bahkan membaca Novel ini seolah olah kita diajak memahami bait-bait puisi sehinggan benar seperti komentar W.S Rendra pembaca dengan bebas menerjemahkannya tanpa mesti menggurui dan mengikuti apa kata penulis, begitu juga kemampuan mendeskripsikan kejadian yang sedang berlangsung membuat pembaca dapat membayangkan kejadian yang sesungguhnya dalam cerita, sangat detail dan terperinci.

Isi Cerita Rentetan cerita mengalir begitu runtun, bagaimana seorang Syuhada atau Hada yang menjadi tokoh sentral harus menyikapi hidup setelah ia mengetahui mamak bukanlah orang tua kandungnya namun ia terus berjuang untuk terus menjalani hidup dengan optimis walaupun dalam menempuh pendidikan ia harus berpindah dari satu majikan ke majikan lain yang memberinya toleransi untuk sekolah dan bekerja menjadi pembantu rumah tangga, sampai akhirnya ia dapat menyelesaikan SMA, tapi hidupnya terasa hampa setelah ditinggal mamak untuk selama lamanya walaupun majikan Hada begitu menyayanginya layaknya anak sendiri. Kehampaan hidup.

Hada kembali bersinar tatkala ia berada di pulau Gili setelah dipersunting seorang lelaki pembuat kapal yang berasal dari pulau Gili, kini ia mempunyai tempat bersandar dari keresahan dan kehampaan hidup pada suamar suminya dan Bu No ibu angkatnya, sosok Hada menjelma menjadi sosok yang penuh semangat tatkala ia ingin memberikan arti hidup pada anak anak pulau gili dengan memberikan pendidikan yang layak walaupun ia tidak pernah punya pengalaman menjadi seorang guru tetapi metode pembelajaran yang ia berikan patut menjadi metode pendidikan dasar yang menekankan pada pola pendidikan bermain sambil belajar tapi memang untuk mewujudkan cita-citanya tidaklah gampang, ia harus mengurai adat dan budaya, pola fikir masyarakat tentang arti pentingnya pendidikan umum di samping pendidikan agama dan pembauran secara totalitas agar ia mampu menjadi bagian dari masyarakat dan bukan dianggap sebagai pendatang, sebuah proses yang cukup panjang.

Penggambaran kehidupan manusia yang saling menyayangi sesama terpampang jelas bagaimana seorang suamar menerapkan pada Hada kapan ia menjadi seorang suami yang harus mengambil keputusan yang tidak boleh dibantah oleh istri atau bagaimana menempatkan diri sebagai sahabat pada istrinya Syuhada atau bagaimana suamar menjadi orang lain dengan membiarkan istrinya Syuhada melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak disukai oleh suamar tetapi karena yang dilakukan adalah sebuah kegiatan yang mulia dan tidak menyimpang dari norma berumah tangga, suamar tidak melarang tetapi tetap bertanggung jawab atas apa yang dilakukan Syuhada, sebuah contoh gambaran kehidupan berkeluarga yang ideal. Ternyata kasih sayang suamar terlalu dalam sehingga ia tak sanggup menguburnya dengan material apapun di samping rasa bersalah yang memenuhi ronggga kepalanya sehingga ia tidak mampu lagi berpfikir logis setelah ditinggal Syuhada untuk selama-lamanya, sebuah akhir yang tragis tetapi menyentuh.

2. Keunggulan

Novel ini terbit disaat kita memerlukan novel islami di Indonesia, novel ini juga mengangkat ketidakadilan dalam pendidikan yang banyak dialami daerah terpencil di sekitar pulau jawa disbanding dengan di kota besar. Karya ini mengingatkan sekaligus membangkitkan rasa rasionallismeyang tanpa disadari telah hilang secara perlahan.

3. Kelemaahan

Kekurangan novel ini terletak pada suatu kesalalan yang menempatkan rangkaian cerita mengenai Gilli, diceritakan setelah cerita mengenai Suhada. Dengan judul matahari di atas Gilli seharusnya keadaan Gilli diceritakan terlebih dahulu agar orang mengenal letak Gilli di Indonesia, dan sepertinya pembaca mesti mencari referensi lain tentang Pulau Gili sebab penulis tidak mnejabarkan secara detail geografis pulau Gili, Keberadaan Gua Kucing saat ini memang menjadi salah satu tujuan objek wisata dan dikeramatkan oleh Masyarakat setempat tetapi kucingnya sendiri sudah tidak ada karma populasi kucing menyusut dan hilang setelah ditinggalkan oleh syech Ishap atau Ishak yang merupakan penyebar agama Islam karena pulau Gili merupakan salah satu tempat yang disinggahi oleh Syech ishap atau Ishak dalam perjalanan dari Gresik Menuju Blambangan Banyuwangi, anehnya setiap malam jumat legi akan terdengar suara “meong” di sela-sela gua tetapi setelah didekati suara itu menghilang.

4. Kesimpulan

Tanpa mengesampingkan kekurangan yang dimiliki novel ini patut dujadikan bahan pemikiran demi kebaikan bangsa Indonesia yang sedang menata diri, karena novel ini bukanlah gambaran tentang kota tropis seperti yang sering digambarkan para filosof, namun potret kehidupan nyata yang dikemas dalam cerita novel yang dapat membuat semangat dan enak dibaca.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *