Resensi Novel Memang Jodoh Karya Marah Rusli

Buku, Editor Picks, Resensi

18168806

“Bagaimana kau dapat bekerja dengn baik untuk bangsa dan negara, kalau akau selalu dibisingkan dengan perkara kawin saja? Sedangkan hatiku rasanya penuh cita-cita untuk memperbaiki yang belum sempurna dan menambah yang masih kurang.” (Marah Hamli)

Novel ini mengisahkan tentang seorang pemuda yang bernama Marah Hamli. Hamli adalah seorang bangsawan di Padang. Ayahnya merupakan bangsawan Padang yang terpandang beserta keluarga besarnya dan ibunya adalah bangsawan Jawa yang telah memilih untuk patuh pada adat istiadat dan menjadi bangsawan melayu.

Setamat Sekolah Raja di Bukit tinggi, Hamli berencana malanjutkan sekolahnya ke Belanda dengan mendapatkan beasiswa dari pemerintah Hindia Belanda. Namun sayang niat itu ditentang oleh Ibunya Siti Anjani, bahkan Ibunya mengancam akan bunuh diri kalau Hamli jadi pergi. Sang ibu ketakutan kalau Hamli akan melupakan tanah minang dan menikah dengan orang asing. Akhirnya Hamli melanjutkan kuliahnya di tanah Jawa. Ia belajar ilmu pertanian di Bogor ditemani sang nenek Khatijah.
Baru tingkat dua Hamli bersekolah, ia mengalami sakit yang sangat hebat. Sakit pilu yang dirasanya tak dapat disembuhkan begitu saja. Akan tetapi ketika ia bertemu dengan seorang wanita bangsawan Sunda bernama Nyai Radin Asmawati penyakit itu pun sirna.

Setelah melihat perubahan yang terjadi pada hamli, Khatijah dan bibi Hamli bermaksud untuk menikahkan Hamli dengan din Wati. Akan tetapi, banyak sekali perseteruan di keluarga Din Wati yang tidak percaya dengan hamli karena berasal dari jauh, tetapi sungguh di luar perkiraan bahwa orang tua Din Wati menyetujui pernikahan anaknya dengan lelaki seberang itu. Begitupun dengan Hamli, ia pun mendapatkan izin dari ayahandanya yang ada di Medan.

Beberapa waktu kemuadian, kabar pernikahan Hamli tersebar juga ke Padang hingga terjadi sebuah perseteruan di antara keluarganya. Ibunda Hamli pun jadi bulan-bulanan, beliau disalahkan karena tidak mampu menjaga Hamli karena sebenarnya Hamli sudah dijodohkan dengan putri Baginda Raja saudaranya. Bahkan ibunda Hamli dikucilkan oleh keluarganya karena dianggap tidak becus mengurus anak.

Setelah beberapa lama menikah Hamli dan Istrinya diundang ke Medan oleh Ayah dan ibu tirinya. Hamli dan Din Wati pun berangkat, setibanya di sana mereka disambut dengan sangat meriah layaknya seorang anak raja. Di sisnilah ujian datang silih berganti, tipu daya orang yang hendak menjemput dan memaksa Hamli menikah dengan putri Minang asli, namun hamli tetap tegar dengan pendiriannya. Lebih dari itu, Din Wati pun mendapatkan ujian yang sama, hampir-hampir ia terkena jebakan dari orang yang iri dan hendak memisahkannya dengan Hamli.

Setelah Hamli menamatkan sekolahnya di Bogor, ia memutuskan untuk pulang ke padang untuk menemui ibunya. Din Wati tidak ingin ikut, karena ia takut kalau kejadian di Medan terulang lagi. Hamli bertemu ibunya dan sahabat-sahabat karibnya dan tentunya menceritakan perihal pernikahannya di Bogor. Meskipun mengejutkan, Anjani bersuka cita dan ingin bertemu dengan menantu dan cucunya. Tetapi urusan Anjani dengan keluarga Baginda Raja belum selesai dan berbuntut panjang.

Karena kepulangan Hamli pula sanak saudaranya mengadakan pertemuan dengan Hamli perihal pernikahannya. Laki-laki Padang tidak diizinkan kawin dengan perempuan selain Padang dan akan dipandang sangat hina jika menikahi wanita bangsa lain. Hamli dipaksa menceraikan istrinya atau berpoligami dengan menikahi perempuan Minang. Namun Hamli tetap berpegang teguh dan tak pernah ingin sedikitpun berpoligami karena akan menyakiti hati istrinya. Hamli pun dibuang dari kaumnya dan diharamkan untuk pulang kembali ke Padang. Hamli kembali ke Jawa dengan rasa menyesal tak dapat membawa ibunya bersamanya. Hamli pun bekerja sebagai ahli pertanian yang ditempatkan di berbagai tempat seperti Sumbawa, Semarang, dan Kalimantan. Namun, rintangan tak pernah henti karena sanak saudara Hamli pun tersebar hampir di seluruh nusantara dan mereka sangat menyayangkan sekali mengetahui bangsawan Padang menikahi perempuan Sunda. Pinangan silih berganti untuk menjemput Hamli oleh ibu-ibu Padang melalui nenek, ayah, bibi, dan paman Hamli. Namun semuanya tidak berani menerima jemputan itu karena menghargai keputusan Hamli.

Tak kalah dari Hamli, Din Wati yang merupakan bangsawan Sunda pun mendapat pinangan dan hasutan dari para bangsawan Sunda perihal pernikahan dengan orang seberang. Din Wati diceritakan beberapa peristiwa yang memang telah terjadi di kalangan Sunda yang menikah dengan orang pulau Sumatra yang dibawa pergi suaminya dan tak bisa pulang lagi. Bahkan di sana suami mereka menikah lagi dengan jodohnya, dan perempuan sunda tak dianggap ada dirumah keluarga suaminya. Meski was-was dalam diri, Din Wati tetap percaya bahwa Hamli tidak pernah ingin mempoligaminya.

Saat bertugas di Semarang, ada surat untuk Hamli dari rekan ayahnya untuk menjemput isteri kedua Hamli di Padang yang hendak ke Semarang. Rupanya Hamli dijemput dan di wali-nikahkan oleh pamannya di Padang dengan perempuan minang. Din Wati hendak pergi meninggalkan Hamli namun keesokan harinya ada kabar kalau isteri Hamli yang dari Padang itu meninggal. Tak sempat bertemu sama sekali, Din Wati tak jadi pergi.

Hamli pun mengambil pensiun karena kondisi kesehatannya yang memburuk walaupun pemerintah masih membutuhkan tenaganya. Genap pernikahan yang ke-50 Hamli menceritakan kisah perjodohan sejatinya dari Allah SWT dengan Din Wati yang penuh liku. Semua terharu sedih karena perbedaan adat-istiadat yang membuat Hamli tidak dapat pulang lagi ke Padang dan Din Wati dipandang buruk oleh keluarga Hamli di Padang. Namun begitu Hamli dan Din Wati hidup bahagia dan bersyukur kepada Yang Maha Kuasa.

Kelebihan

Saya akan memaparkan beberapa kelebihan dari novel Memang Jodoh ini dari beberapa aspek, seperti aspek judul, tema, setting, gaya bahasa, nilai dan pesan moral yang terkandung di dalamnya. Dari segi judul, judul novel ini mampu menggambarkan isi cerita secara utuh dan menyeluruh. Judul yang singkat “Memang Jodoh” memaparkan gambaran cerita yang terkandung di dalamnya yakni perjuangan sang tokoh utama (Hamli) mendapatkan cinta sejatinya. Dari segi tema, tema yang terkandung dalam novel ini berupa tema perjuangan. Hal ini tercermin pada kisah yang diceritakan penyair yang mencerminkan perjuangan yang sangat luar biasa dalam memperjuangkan cinta dan menggapai kebahagiaan dengan sang istrinya.

Adapun dari segi setting, setting atau latar yang diciptakan oleh penyair sangat apik dan menarik. Baik itu setting tempat, waktu, maupun suasana. Hal ini dikarenakan bahwa novel ini merupakan semiautobiografi dari penyair sendiri (Marah Rusli) sehingga setting yang dilukiskan sangat apik dan menakjubkan, menjadikan pembaca seolah-olah melihat, mengalami, dan merasakan apa yang dirasakan oleh para tokohnya. Dari segi gaya bahasa; walaupun novel ini karangan pujangga Balai Pustaka, akan tetapi gaya bahasa yang digunakan sangat menarik dan familiar. Bahasa yang digunakan mampu memaparakan pemikiran penyair secara utuh mengenai sesuatu. Sehingga pembaca seolah-olah ikut hanyut dalam permainan kata atau bahasa yang digunakan dalam menceritakan latar, tokoh dan dialognya. Sungguh gaya bahasa yang apik dan estetis. Selain itu, pada bagian-bagian tertentu penyair membubuhkan beberapa pantun yang berasal dari tanah minang yang sejatinya menambah nilai estetika novel ini. Dari segi nilai dan pesan moral; novel ini mengandung nilai sosial yang sangat tinggi. Nilai sosial di sini berupa nilai tanggug jawab, yakni bagaimana seorang lelaki sejati bertanggung jawab kepada orang yang dicintainya. Ia senantiasa mempertahankan kebahagiaan rumah tangganya walaupun badai menghadang dari segala penjuru. Selain nilai sosial, nilai feminisme juga sangat dikedepankan oleh penyair. Yang mana penyair menolak habis-habisan budaya Minang yang memperbolehkan seorang laki-laki untuk berpoligami. Hal inilah yang ditentang oleh tokoh utama (Hamli), bahkan ia rela dibuang dan diusir oleh keluarganya hanya untuk mempertahankan prinsip dan cintanya kepada wanita pilihannya.

Kekurangan

Tak ada gading yang tak retak, begitulah pepatah lamanya. Kekurangan novel ini terletak pada nilai-niali yang bersifat religius yang terkesan mengada-ada dan bertentangan dengan syariat islam. Pertentangan itu berupa adanya reingkarnasi kepada orang yang telah mati. Pada beberapa bagian di novel ini banyak diceritakan hal-hal gaib seperti itu. Misalnya saja guru spiritual ayah dari Din Wati, Radin Jaya Kesuma yang bernama kiai Naidan yang mengatakan bahwa ia akan meninggal dan sepuluh tahun yang akan datang ia akan bangkit kembali menjadi anak dari Din Wati dan Hamli. Begitupun dengan Radin Jaya Kesuma ketika ia telah meninggal ia juga kembali ke dunia menjadi seorang anak dari adik Din Wati sendiri yakni Radin Munigar. Ia menjelma menjadi anak laki-laki yang sangat tampan. Tidak hanya itu, ibu dari Din Wati, Ratu Maemunah setelah ia meninggal ia akan kembali ke dunia melalui perantara rahim Radin Munigar, anak kandungnya sendiri. Sehingga ia dan suaminya di kehidupannya yang kedua di dunia akan menjadi adik kakak, bukan sebagai suami istri lagi. Anehnya lagi, anak perempuan yang dilahirkan oleh Radin Munigar secara fisik dan biologis memang anak kandungnya, akan tetapi secara batiniah ia adalah anak dari Din Wati.Hal inilah yang menurut saya bertentangan dengan nilai-nilai agama, terutama agama Islam yang tidak mengenal konsep reingkarnasi.

Judul Buku     : Memang Jodoh
Pengarang      : Marah Rusli
Penerbit          : Qanita
Kota Terbit      : Bandung
Tahun Terbit   : 2013
Cetakan           : Pertama, Mei 2013
Tebal Buku     : 535 Halaman


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *