RESENSI NOVEL MUSAFIR CINTA (KEKUATAN ISLAM DALAM CINTA DAN KEHIDUPAN)

Buku, Resensi

RESENSI NOVEL MUSAFIR CINTA (KEKUATAN ISLAM DALAM CINTA DAN KEHIDUPAN)

Judul novel : Musafir Cinta
Pengarang : Taufiqurrahman Al-azizy
Penerbit : Dive press tahun 2007
Tebal halaman : 331 halaman

Novel yang berjudul MUSAFIR CINTA ini yaitu novel islami, mengisahkan seorang tokoh yang bernama iqbal Maulana. Dimana seorang Iqbal Maulana ini harus pergi meninggalkan pesantren Tegal Jadin yang menjadi tempatnya menimba ilmu karena ia telah dituding oleh para sahabatnya bahwa ia telah berkhalawat dengan Aisyah, tudingan tersebutlah yang menjadi bagian dari fitnah yang mengadilinya sehingga itu ia harus meninggalkan tegal Jadin dan pergi berkelana mencari kesejatian cinta ilahi. Kemudian dengan berkata Basmalah, ia pun melangkah pergi menjadi seorang musafir.
Dengan kepercayaan dirinya yang begitu kuat, ia pun memutuskan untuk segera naik bus jurusan Solo-Purwokerto. Namun, tetap saja ia tidak tahu kemana tujuannya itu. Pada saat berada di dalam bus ia berkenalan dengan seorang pria yang bernama Anton. Mereka mendiskusikan tentang bagaimana agama islam itu sendiri dan bagaimana ajaran islam. Tidak lama kemudian tiba-tiba bus yang dinaiki oleh Iqbal mogok. Iqbal dan para penumpang lainnya pun turun dan menunggu bus lagi. Pada saat itulah Iqbal melihat segerombolan pengamen yang menyayikan lagu-lagu religi, namun mereka minum-minuman keras. Dan kemudian Iqbal pun mengampiri gerombolan pengamen tersebut dan berkenalan. Setelah berkenalan, salah seorang gerombolan pengamen tersebut (Firman) meminta uang kepada Iqbal untuk membeli minuman namun salah seorang sahabat Firman yaitu Parno melarangnnya. Akhirnya Iqbal memutusakan akan memberikan mereka uang dengan syarat bahwa uang tersebut harus digunakan untuk hal yang bermanfaat dan Iqbal menawarkan kepada mereka bahwa ia akan membelikan dua buah gitar yang bisa digunakan untuk mengamen. Firman dan sahabat-sahabat lainnya pun takjub akan keikhlasan Iqbal yang ingin memberikan mereka dua buah gitar.
Beberapa jam kemudian, Firman mengajak Iqbal untuk beristirahat dirumahnya. Setiba di rumah Firman, Iqbal pun tekejut karena Firman adalah keluarga yang bercukupan. Firman berubah menjadi seorang yang nakal dan liar setelah adik perempuannya diperkosa dan dibunuh. Sehingga itu rumah Firman menjadi rumah kemaksiatan. Setelah itu Iqbal pun langsung menjalankan ibadahnya yaitu sholat subuh sebagaimana kewajibannya sebagai seorang muslim dan pada saat itulah ayah dan ibu firman melihat Iqbal sholat. Mereka merasa senang karena baru pertama kali ini mereka melihat sahabat Firman yang sholat di rumah meraka. Tanpa ada rasa canggung ayah dan ibu firman meminta kepada Iqbal untuk tinggal di rumah tersebut Iqbal pun menyetujuinya karena ayah dan ibu Firman beranggapan bahwa Iqbal adalah seseorang yang akan membawa perubahan kehidupan bagi keluarga mereka. Selama Iqbal tinggal disana ia memutuskan untuk menghafal Al-quran.
Suatu hari Iqbal berseteru adu mulut dengan Firman yaitu mengenai Islam sehingga itu Firman kabur dari rumahnya. Dan Iqbal merasa bahwa perkataan Firman ada benarnya Iqbal pun mulai ragu akan Agama Islam. Pada sore harinya dengan cuaca hujan yang begitu deras Iqbal pergi untuk mencari gereja. Ia pun masuk dan berdoa sebagaimana seorang umat Kristen melakukan pengakuan kepada Tuhannya. Tanpa ia sadari seorang pendeta datang dan menghampirinya. Iqbal pun langsung meminta maaf kepada pendeta tersebut karena telah mengunjungi Rumah Tuhan umat Kristen yang memang bukan Rumah Tuhannya. Iqbal pun mengatakan kepada pendeta bahwa dirinya seorang muslim dan menceritakan masalah yang terjadi pada dirinya. Sang pendeta mulai menasehati Iqbal ia mengatakan bahwa Iqbal telah putus asa dan pendeta pun mencoba untuk menyakini Iqbal terhadap Tuhannya (Allah) dan meminta ampunan kepada Allah.
Pada keesokan harinya, Indri pacar Firman datang ke rumah Firman. Iqbal pun menemuinya dan menasehati Indri agar kembali kepada ajaran Allah dan menjaga kesuciaanya sebagai wanita. Indri pun langsung pulang sambil menangis dan Iqbal pun merasa bersalah kepada Indri atas apa yang telah ia katakan kepada wanita tersebut. setelah beberapa hari kemudian, Indri kembali datang ke rumah Firman dengan wajah yang ceria dan bertemu dengan Iqbal. Indri pun mengajak Iqbal untuk mencari Firman yang sudah beberapa hari tidak pulang. Setelah mencari Firman dimana-mana, akhirnya Iqbal memutuskan untuk beristirahat sejenak karena ia merasa capek. Pada saat itulah Indri mencoba merayu Iqbal sehingga itu Iqbal merasa risih dan memutuskan untuk pulang.
Setelah itu, sahabat-sahabat Firman pun datang ke rumah Firman untuk menemui Iqbal bahwa mereka telah menemukan Firman. Mereka menemukan Firman sedang tertidur di tempat imam sebuah mushala. Mereka pun menanyakan kepada Iqbal apa yang sebenarnya telah terjadi pada Firman. Sehingga itu Iqbal pun mengambil sebuah kesimpulan dan mengatakan kepada mereka bahwa Firman sedang mendekati Allah. Dan pada saat itu pula Iqbal mencoba mengingatkan kepada mereka tentang Allah dan kembali kejalan yang benar. Tanpa Iqbal sadari ternyata mereka berniat untuk kembali ke jalan Allah dan meninggalkan kemaksiatan yang selama ini mereka lakukan.
Masalah baru pun terjadi kembali, pada saat Iqbal yang sedang berada di kamar Firman yang tiba-tiba Indri datang dan masuk ke kamar tersebut. Indri kembali merayu dan ingin memeluknya tentu saja Iqbal langsung menolaknya. Tanpa ia sadari ternyata pada saat itu Firman melihat kejadian tersebut. Firman pun merasa marah dan menyuruh Iqbal untuk pergi dari rumahnya serta Firman menantang Iqbal untuk datang ke alun-alun. Iqbal pun langsung mengemasi barang-barangnya dan segera mendatangi alun-alun. Sesampai di alun-alun ternyata disana sudah ada Firman dan sahabat-sahabat Firman. Tanpa waktu yang panjang Firman pun langsung berkelahi dengan Iqbal. Dan pada saat Iqbal terjatuh, Firman langsung menyiramkan semangkuk sambal kemata Iqbal. Sehingga itu Iqbal tidak sadarkan diri. Setelah dibawa kerumah sakit akhirnya Iqbal pun tersadar, namun kedua matanya tidak bisa dibuka.
Suatu hari, Parno sahabat Firman datang untuk memberi tahu kepada Iqbal bahwa Firman menyesali semua kesalahannya di liang kubur dan mencoba untuk bunuh diri. Iqbal pun segera kabur dari rumah sakit yang dituntun oleh Parno. Di kuburan tersebut sudah banyak orang yang berkumpul termasuk juga para wartawan. Iqbal pun mencoba menyadarkan Firman agar kembali ke jalan Allah dan ia juga masih mempunyai waktu untuk bertobat. Setelah sekian lama berdialog dengan Iqbal akhirnya Firman pun sadar dan tidak jadi untuk bunuh diri.
Setelah kejadian tersebut, beberapa minggu kemudian akhirnya kedua mata Iqbal pun sembuh dan pada saat itu pula Iqbal memebentuk sebuah kelompok bersama dengan sahabat dan pengamen lainnya yang bernama Ashabul Kahfi. Seiring dengan berjalannya waktu Iqbal pun kini telah menghafal Al-qur’an dan ia pun memutuskan untuk kembali ke pesantren Tegal Jadin.
Keunikan atau kelebihan dari novel Musafir Cinta ini yaitu terdapat pada karakter tokoh Iqbal yaitu penulis menggambarkan bahwa tokoh Iqbal ini bisa dijadikan sebagai acuan atau contoh untuk para pemuda yang ingin mencari pengalaman hidupnya untuk mencari kesejatian cinta dan kita juga sebagai pembaca bisa mengambil beberapa pelajaran dari novel ini dalam menjalani hidup.
Selain itu kelebihan dari novel ini terdapat pada penulisan bahasa. Dimana penulisan bahasa yang digunakan pada novel ini yaitu menggunakan bahasa-bahasa yang indah. Di dalam novel ini juga terdapat beberapa dalil Al-qur’an yang dapat menguatkan sebuah ajaran ataupun pernyataan-pernyataan tentang agama Islam itu sendiri. Sehingga itu novel ini sangat dianjurkan untuk dibaca khususnya untuk para pemuda pecinta Islam dan mereka juga akan mengetahui dan memahami lebih dalam lagi tentang agama Islam itu sendiri.
Di dalam sebuah novel pasti terdapat juga kekurangan dari novel itu sendiri. Kekurangan dari novel yang berjudul Musafir Cinta ini yaitu terdapat pada tidak adanya penulisan nama ketika para tokoh sedang berdiaolog sehingga itu, mengakibatkan kita sebagai pembaca tidak bisa mengetahui siapa yang sedang berbicara dan bahasa yang digunakan pada novel ini yaitu bahasa yang terlalu puitis, sehingga terkadang akan sulit untuk difahami oleh pembaca.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *