RESENSI NOVEL NEGERI LIMA MENARA KARYA A FUADI (man jadda wajada siapa yang bersenguh-sunguh pasti sukses)

Buku, Resensi

RESENSI NOVEL NEGERI LIMA MENARA KARYA  A FUADI  (man jadda wajada siapa yang bersenguh-sunguh pasti sukses)

RESENSI NOVEL NEGERI LIMA MENARA KARYA A FUADI

(man jadda wajada siapa yang bersenguh-sunguh pasti sukses)

Apa itu orang besar?, Apakah mereka yang menjadi pengusaha besar atau menjadi ketua partai, ketua ormas islam yang besar, bukan itu yang saya maksud orang besar, orang besar itu adalah mereka yang lulus dan keluar dari pesantren maupun sekolah-nya kemudia dengan ikhlas mengajrkan ilmunya di plosok-plosok desa, di kaki-kaki gunung, di bukit-bukit bahkan di kolom jembatan sekaligus, ‘ itu yang dimaksud orang besar.

                     Apakah kalian termasuk orang besar itu?”

( A FUADI).

Ada dua hal yang paling penting untuk mempersiapakn diri menjadi orang yang sukses, yaitu going the ekstra milles. Tidak menyerah dengan rata-rata. Kalau orang belajar 1 jam, dia akan belajar 5 jam, kalau orang berlari 2 kilo, dia kan berlari 3 kilo. Kalu orang menyerah di detik ke 10, dia tidak akan menyerah sampai detik ke 20. Selalu berusaha meningkatkan diri lebih dari orang biasa.

Resep lainnya adalah tidak pernah mengizinkan diri kalian dipengaruhi oleh unsur luar diri kalian. Oleh siapapun, apa pun, dan suasana bagaimana pun. Artinya jangan mau sedih, marah, kecewa dan takut karena ada faktor luar. Kalianlah yang berkuasa terhadap diri kalian sendiri, jangan serahkan kekuasaan kepada orang lain. Orang boleh mendorong senapan, tapi kalian punya pilihan, untuk takut atau tetap tegar. Kalian punya pilihan di lapisan diri kalian paling dalam, dan itu tidak ada hubugannya dengan pengaruh luar.

  1. identitas buku

   Judul Novel             : Negeri 5 Menara

   Pengarang                : Ahmad Fuadi

   Penerbit                   : Gramedia Pustaka Utama

   Tahun Terbit            : Agustus 2009

   Jumlah Halaman       : 424 hal

       Novel best seller karya Ahmad Fuadi yang berjudul “Negeri 5 Menara” adalah novel motivasi yang berhasil membuat para pembacanya terkesima akan kisah menarik didalam pesantren modern. Novel ini merupakan novel pertama dari trilogi yang juga bercerita mengenai para pejuang mimpi dalam mewujudkan impiannya. Dalam novel ini bercerita mengenai kehidupan dari seorang “Aku” yang bernama Alif Fikri. Seorang anak Minangkabau yang memiliki keinginan besar untuk melanjutkan sekolahnya di SMA Bukittinggi. Namun keinginan itu tak dapat Alif wujudkan karena amaknya tak menyetujui dengan alasan kehidupan di SMA tidak bisa menunjang pengetahuan Alif akan dunia Islam. Pada awalnya Alif tidak menerima keputusan amak yang tak sejalan dengannya. Namun pada suatu hari Alif menerima surat dari pamannya yang bekerja di Mesir bernama Etek Gindo. Beliau menyarankan Alif untuk melanjutkan sekolahnya di sebuah pondok pesantren di Jawa yang bernama Pondok Madani. Melalui pemikiran yang cukup lama, Alif-pun menyetujui saran dari Paman Etek Gindo, dan itu berarti Ia juga menyanggupi kemaun dari Amaknya untuk melanjutkan sekolah di sebuah Pondok Pesantren. Alif mengambil keputusan ini dikarenakan Ia tertarik akan kisah dari rekan pamannya di Mesir yang juga lulusan Pondok Madani, dimana mereka begitu fasih akan bahasa arab, bahasa inggris dan memiliki masa depan yang baik.

        Akhirnya Alif-pun berangkat untuk mendaftar di Pondok Pesantren Madani bersama Ayahnya. Saat itu Alif sadar jikalau Ia masih dalam pikiran dan keputusan yang setengah-setengah. Dalam perjalanan menuju Pondok Madani, Alif berpikir Apakah Dia akan kuat dengan kehidupan pesantren yang katanya cukup berat? Seberapa lamakah Ia bisa bertahan?. Kegalauan masih setia mengunjungi otak dan hatinya ketika itu. Sesampainya Di Pondok Madani. Alif mendaftarkan diri dan mengikuti serangkaian tes, hingga akhirnya Dia lolos seleksi dan diterima sebagai murid baru Pondok Madani. Selama perjalanan dan proses pengenalan awal Pondok Madani, Alif bertemu dengan 5 orang murid baru lainnya, yakni Said, Raja, Atang, Dulmajid, dan Baso. Melalui pertemuan yang tak diduga dari proses perjalan menuju Pondok Madani, seleksi , hingga akhirnya menjadi murid resmi Pondok Madani membuat mereka menjadi sahabat yang erat, dimana mereka saling memberikan semangat dan saling mengisi akan kekurangan dan kelebihan masing-masing.

       Ke-unikan yang ada didalam Pondok Madani membuat Alif melupakan rasa setengah hatinya akan Pondok Pesantren. Ia mulai percaya jikalau pilahannya untuk melanjutkan di Pondok Madani adalah pilihan yang benar. Hari demi hari yang dilaluinya di Pondok Madani benar-benar mengubahnya menjadi karakter yang lebih baik dari sebelumnya. Walaupun banyak peraturan yang wajib dilaksanakan, namun Pondok Madani memberikan banyak pelajaran padanya akan arti dari sebuah perjuangan, manfaat waktu, dan keajaiban akan impian. Bersama ke-5 sahabatnya yang lain, Alif selalu menyempatkan waktu untuk menatap awan dibawah menara masjid. Mereka membayangkan seolah-olah awan tersebut berbentuk sama dengan sebuah Negara impian mereka masing-masing. Berawal dari kebiasaan mereka membicarakan masadepan dibawah menara masjid Pondok Madani, mereka akhirnya memberikan julukan untuk persahabatan mereka dengan julukan Sahibul Menara. Sahabat Sahibul Menara adalah bagian kecil dari kelompok manusia yang berada dalam kepercayaan kuat akan keajaiban sebuah kalimat yang diucapkan oleh Kiyai Pondok Madani yang berbunyi “Man jaddah wa jaddah” (siapa yang bersungguh-sungguh pasti akan berhasil).

  1. Kelebihan dan Kekurangan Novel

Kelebihan novel ini adalah dapat mengispirasi anak muda zaman sekarang untuk lebih bersemangat meraih cita – cita dan rasa patuh terhadap orangtua. Novel ini juga mengubah pola pikir kita tentang kehidupan pondok pesantren yang hanya belajar ilmu – ilmu agama islam saja. Karena dalam novel ini selain belajar ilmu agama, ternyata juga belajar ilmu pengetahuan umum seperti bahasa inggris, bahasa arab, kesenian, dan lain sebagainya. Kita juga mendapatkan pelajaran yang berharga yaitu, jangan pernah meremehkan sebuah impian setinggi apapun itu, karena Allah Maha mendengar doa dari umatNya.Kekurangan novel ini adalah adanya ketidakjelasangambaran beberapatokoh yang padaakhir cerita perjalanan hidupnya seprti apa, bagaimana keadaan orang tersebut,masih ada atau tidaknya.

  1. Kesimpulan

            Novel Negeri 5 Menara sangat bagus untuk dijadikan bahan bacaan para remaja. Cerita yang berisi tentang perjuangan menggapai cita-cita tinggi dan hubungan persahabatan ini dapat dijadikan contoh yang baik bagi para pembacanya. Penempatan tokoh remaja sangat cocok untuk menggambarkan perjuangan talabul ilmi dikalangan remaja sekarang. Di dalamn novel “Negeri 5 Menara” ini, anda akan diajak untuk menjelajahi kehidupan di sebuah pondok pesantren dengan segala tradisi yang sudah ditentukan sebelumnya. Novel ini juga sangat bermanfaat dan penuh akan pesan-pesan dan makna religius.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *