RESENSI NOVEL SANG ALKEMIS KARANGAN PAULO COELHO

Buku, Resensi

RESENSI NOVEL SANG ALKEMIS KARANGAN PAULO COELHO

RESENSI NOVEL SANG ALKEMIS KARANGAN PAULO COELHO

Kesempatan kali ini akan membahas Novel berjudul The Alchemist (Sang Alkemis) yang merupakan karangan Paulo Coelho. Novel ini pernah di sebut oleh salah satu dosen saya yaitu pak Murohim dan novel ini di klaim mampu mengubah hidup para pembacanya.Hal inilah yang membuat saya tertarik untuk meminta seseorang (my boy friend) untuk membelikan buku tersebut walaupun novel terjemahan.tapi, setelah saya membacanya memang benar bahwa novel ini berisi tentang pertanyaan-pertanyaan dalam hidup.

Hal yang menarik adalah kata-kata yang terdapat dalam novel tersebut.Tidak hanya mengekspos petualangan seperti novel ber-genre serupa.Kemampuan Paulo Coelho untuk memberikan alur cerita dan mengungkapkan kisah-kisah pun sangat baik. Tentu saja teman-teman tidak akan menyesal membeli novel tersebut. Berikut di bawah ini biografi Paulo Coelho

Biografi Paulo Coelho

Coelho dilahirkan di Rio de Janeiro, Brasilberasal dari sebuah keluarga kelas menengah di lingkungan perkotaan.Ayahnya, Pedro adalah seorang arsitek, dan ibunya Lygia adalah seorang ibu rumah tangga.Pada umur tujuh tahun, Coelho dimasukkan ke sekolah Jesuit San Ignacio di Rio de Janeiro oleh kedua orang tuanya.Pada saat itu, dia sebenarnya tidak betah dengan kehidupan sekolah Jesuit yang mewajibkan semua siswanya untuk menjalani ibadah secara ketat.Meskipun Coelho kecil tidak terlalu betah belajar di sekolah Jesuit, namun ternyata di sekolah ini pula untuk pertama kalinya bakat menulisnya mulai terlihat.Dia memenangkan sebuah kompetisi menulis puisi di sekolahnya, dan bahkan adiknya, Sonia, berhasil memenangkan lomba esai hanya dengan bermodalkan karya kakaknya yang telah dibuang ke keranjang sampah.

Meskipun Coelho sangat berbakat menjadi penulis, ternyata orang tuanya tak pernah berharap agar anaknya kelak menjadi sastrawan.Mereka lebih suka jika kelak anaknya menjadi arsitek atau ahli hukum.Kedua orang tuanya berusaha sekuat tenaga agar anaknya tak semakin dekat dengan dunia tulis menulis.Namun tampaknya Coelho bukanlah tipe anak yang penurut.Larangan orang tuanya dan perjumpaannya dengan buku Henry Miller berjudul Tropic of Cancer semakin mengobarkan semangat pemberontakannya.Ayahnya melihat hal ini sebagai sebuah gejala gangguan kejiwaan dan akhirnya memasukkan anaknya ke sebuah rumah sakit jiwa.Di rumah sakit jiwa itu, Coelho harus menjalani terapi electroconvulsive.Terapi electroconvulsive adalah terapi dengan menyetrumkan aliran listrik ke tubuh penderita gangguan jiwa.Terapi ini tentunya bisa berdampak buruk pada jaringan saraf manusia.Terapi ini akhirnya dilarang di Brasil setelah Coelho mengungkap praktik keji ini di dalam novelnya Veronika Memutuskan Mati.Coelho sempat dua kali keluar masuk rumah sakit jiwa sebelum akhirnya dinyatakan sembuh.

Tak lama setelah keluar dari rumah sakit jiwa, Coelho kemudian bergabung dengan sebuah kelompok teater dan bekerja sebagai seorang jurnalis.Di mata orang tuanya dan juga umumnya masyarakat Brasil pada masa itu, dunia jurnalistik identik sebagai sebuah dunia yang tak bermoral. Karena takut anaknya akan mendapat pengaruh buruk, orang tua Coelho melanggar janjinya untuk tidak akan memasukkan anaknya ke rumah sakit jiwa lagi. Dan Coelho pun menjadi pasien rumah sakit jiwa untuk ketiga kalinya.Setelah keluar dari rumah sakit, Coelho menjadi semakin asing dengan lingkungan sekitarnya dan asyik dengan dunianya sendiri.Dalam keputusasaan, orang tuanya memanggil seorang dokter untuk memeriksa keadaan anaknya.Dokter ini menyatakan Coelho sebenarnya tidaklah gila dan tidak seharusnya dimasukkan ke dalam rumah sakit jiwa.Setelah “sembuh” dari gangguan kejiwaannya, Coelho kembali melanjutkan studinya di sekolah hukum, dan tampaknya dia akan mengikuti rencana orang tuanya. Namun, tak lama kemudian Coelho malah drop out dan kembali menekuni dunia teater.Saat itu sekitar tahun enam puluhan, gerakan hippie sedang merebak di seluruh dunia, termasuk di Brasil.Gerakan ini tetap tersebar, meskipun pada saat itu Brasil dikuasai oleh rejim militer yang represif. Coelho termasuk salah satu anak muda Brasil yang tertarik dengan gerakan hippie yang terkenal dengan slogan “Make love, not war” (Bercintalah, bukan berperang). Coelho sepertinya benar-benar total menjalani kehidupan hippienya, dan menjalani beberapa gaya hidup kaum hippie, seperti: memanjangkan rambut, tidak pernah membawa kartu identitas bila berpergian, dan menggunakan obat-obatan terlarang. Pada saat itu, Coelho juga berkolaborasi dengan seorang musisi Brasil, Raul Seixas, dan berhasil menciptakan lagu-lagu hits yang populer di Brasil.Pada tahun 1973, Coelho dan Seixas mendirikan sebuah kelompok alternatif yang bertujuan untuk menentang kapitalisme.Mereka membuat serial komik Kring-ha sebagai protes atas terbelenggunya kebebasan warga negara Brasil.Rejim diktator yang berkuasa saat itu melihat tindakan ini sebagai sebuah tindakan subversif, dan menjebloskan Coelho dan Seixas ke dalam penjara.Meskipun akhirnya bebas, Coelho telah mengalami berbagai penyiksaan selama mendekam di dalam penjara.

Siksaan penjara ternyata membekas sangat dalam di dalam diri Coelho. Pada usia 26 tahun, Coelho menghentikan segala kegiatan “subversif”nya dan memutuskan untuk menjalani kehidupan yang lebih “normal”. Dia bekerja di Polygram, sebuah perusahaan rekaman, dan bertemu perempuan yang nantinya menjadi istrinya di sana. Pada tahun 1977, Coelho dan istrinya pindah ke London.Setelah lama terpendam, hasrat menulis Coelho bangkit kembali.Dia lalu membeli sebuah mesin tik dan mencoba menulis lagi.Usahanya tidak terlalu berhasil.Setahun kemudian, Coelho kembali ke Brasil dan bekerja sebagai salah seorang eksekutif di CBS, perusahaan rekaman terkemuka di Brasil.Pekerjaan ini hanya ditekuninya selama tiga bulan karena dia mengundurkan diri selepas bercerai dengan istrinya.

Pada tahun 1979, Coelho bertemu dengan Christina Oiticica, teman lamanya.Tak lama kemudian mereka akhirnya memutuskan untuk menikah.Pernikahannya kali ini termasuk langgeng karena mereka berdua masih tetap bersama hingga hari ini.Setelah peristiwa buruk di masa lalunya, Coelho seakan enggan mewujudkan impiannya untuk menjadi penulis.Istrinya adalah orang yang senantiasa mengingatkan Coelho tentang impiannya untuk menjadi penulis.Tanpa kenal lelah, dia terus mendesak Coelho agar mau menulis lagi. Akhirnya, setelah melalui pergulatan batin yang panjang, Coelho menulis buku pertamanya yang berjudul Arquivos do Inferno (Hell Archives) pada 1982 dan dilanjutkan dengan buku O Manual Prático do Vampirismo (Practical Manual of Vampirism).

Pada tanggal 25 Juli 2002, Coelho diterima sebagai anggota ke-21 Brazilian Academy of Letters (ABL). Peristiwa ini merupakan suatu momen yang penting bagi Paulo Coelho, karena selama ini, meskipun karyanya banyak dibaca orang, banyak kritikus yang mengkritik karya Coelho sebagai novel populer yang kurang memiliki muatan sastra. Diterimanya Coelho sebagai salah satu anggota ABL tentunya meneguhkan posisi Coelho sebagai seorang sastrawan.Meskipun banyak dikritik, karya-karya Paulo Coelho nyatanya telah memberikan inspirasi bagi banyak bangsa di dunia.

Ia juga membiayai Paulo Coelho Institute, sebuah institusi yang menolong anak-anak yang tidak begitu beruntung dari royalti atas tulisan-tulisannya.

 

The Alchemist

 

 

Novel ini menceritakan tentang seorang pengembala domba bernama Santiago. Pengembala yang tinggal di kota Andalusia ini selalu dibayangi mimpi tentang harta karun dan pengembaraan. Selain itu, Santiago pun terkenang dengan perempuan yang pernah berteamu setahun yang lalu.Akhirnya dalam kegelisahaan, dia pun pergi ke tukang sihir penafsir mimpi.Namun, perempuan itu tidak mampu menafsirkan dan membuat gelisah Santiago.

Perubahan dalam hidup Santiago pun terjadi setelah bertemu dengan Kakek tua yang mengaku Raja.Kakek tua itu menyuruh Santiago untuk mengikuti takdirnya untuk berkelana.Dengan bekal yang diberikan Kakek tua tersebut (batu dan uang) Santiago pun pergi.Tapi, petualangannya berantakan setelah ada yang merampok perbekalannya.

Dalam keputusasaan, akhirnya dia pun bertemu dengan pedagang yang memberikan pekerjaan.Setelah satu tahun bekerja, Santiago pun kembali berpetualang.Setelah itu, dia pun bertemu orang inggris yang sedang mencari Sang Alkemis. Kemudian, dia berbicara

dengan pasir, angin, dan matahari mengenai hakikat cinta. Pertemuan dengan Sang Alkemis yang dinantikan.Tentu saja, pertemuan dengan perempuan pujaannya.

Hal yang menjadi pertanyaan, apakah Santiago mampu menemukan hakikat cinta?pengertian tentang takdir? dan harta karun yang dicarinya? Semuanya menjadi pertanyaan dan selalu tetap menjadi pertanyaan?.

 

Kata-Kata Bijak dalam Novel The Alchemist

 

  1. Dusta terbesar itu: Bahwa pada satu titik hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib” – Sang Raja
  2. Takdir adalah apa yang selalu ingin kaucapai. semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka, pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka mewujudkan takdir tersebut” – Sang Raja
  3. Dan saat engkau menginginkan sesuatu, seluruh jagat raya bersatu padu untuk membatumu meraihnya” – Sang Raja
  4. “Di masa-masa awal kehidupan mereka, manusia sudah tahu alasan keberadaan mereka, barangkali ini juga sebabnya mereka menyerah terlalu cepat, tapi memang begitulah adanya” – Sang Raja
  5. Kalau kau memulai dengan menjanjikan sesuatu yang belum kau miliki, kau akan kehilangan hasratmu untuk berusaha memperolehnya – Sang Raja
  6. Sebab aku tidak hidup di masa lalu ataupun di masa depan. Aku hanya tertarik pada saat ini. berbahagialah orang yang bisa berkonsentrasi hanya untuk saat ini” – Santiago
  7. Kau harus mengerti, cinta tak pernah menghalangi orang mengejar takdirnya. Kalau dia melepaskan impiannya, itu karena cintanya bukan cinta sejati. Bukan cinta yang berbicara bahasa dunia – Sang Alkemis
  8. Orang dicintai karena dia memang dicintai. Tak perlu ada alasan untuk mencintai – Fatimah
  9. Penghianatan adalah pukulan tak terduga-duga. Kalau kau mengenal hatimu dengan baik, dia tak akan pernah mengkhianatimu. Sebab kau tahu pasti mimpi-mimpi dan keinginan-keinginannya, dan kau tahu juga cara menyikapinya – Sang Alkemis
  10. Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri, dan tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya, sebab setiap detik pencarian itu bisa diibaratkan pertemuan dengan Tuhan dan keabadian – Sang Alkemis
  11. Bukan cinta namanya kalau hanya berdiam diri saja seperti padang pasir, atau menjelajahi dunia seperti angin. Bukan pula cinta namanya, kalau hanya memandang segala sesuatu dari kejauhan seperti matahari. Sebab saat kita mencintai, kita selalu berusaha menjadi lebih baik – Santiago
  12. “Setiap orang di dunia ini, apa pun pekerjaannya, memainkan peran penting dalam sejarah dunia. Dan biasanya orang itu sendiri tidak menyadarinya – Sang Alkemis

 

Hal ini yang membuat novel ini terhitung wajib dibeli para pembaca. Karena teman-teman akan mengetahui sisi lain dari dunia ini. tentu saja dibalut dengan faction gaya novel petualangan.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *