Resensi Novel “Warisan”

Buku, Non Fiksi, Resensi

Resensi Novel Warisan

NOVEL WARISAN
Karya Chairul Harun
Identitas Novel
Judul Novel          : Warisan
Pengarang          : Chairul Harun
Tahun Terbit        :1976
Penerbit              :PT Dunia Pustaka Jaya
Tempat Terbit      :Jalan Kramat No 5 K,Jakarta 10450
Tebal Novel         :134 Halaman

Sinopsis:
Novel ini bercerita di awali dengan kedatangan Rafilus ke kampung halamannya Minang Kabau. Tempat itu adalah rumah ayahnya Bagindo Tahar. Rafilus bermaksud ingin menjemput Bagindo Tahar untuk dibawa ke Jakarta dengan alasan Bagindoo Tahar sudah tua. Namun, niatnya membawa Bagindo Tahar ke Jakarta mengurungkan niatnya cepat-cepat kembali ke Jakarta dengan beberapa kejadaian yang di alami di kampung halamannya, Kematian Sidi Badaruddin, Siti Baniar dan terakhir ayahnya adalah  kejadiaan yang di temui di kampung halaman, diawali oleh kematian Sidi Badaruddin kemenakan dari Bagindo Tahar, kematian  Sidi Badaruddin mengawali konflik yang terjadi. Istrinya asnah berniat memfinah Murni membunuh suaminya namun niatannya itu di mentahkan kepadanya hingg ia di usir dari rumah Bagindo Tahar.tak lama kematian Sidi Badaruddin kemudian di susul oleh Siti Baniar.Kesehtan Bagindo Tahar yang semakin parah lagi-lagi  mengurungkan niat rafilus memebawa Bagindo Tahar ke Jakarta hingga akhirnya Bagindo Tahar meninggal dunia. Semua warisan yang ditinggalkan Bagindo Tahar di amanahkan oleh Rafilus untuk membaginya.Warisan yang ditinggalkan ternyata warisan yang banyak di gadai. Barang siapa yang ingin warisan tersebut harus membayar gadai tersebut dengan uang seharga dengan  harga tanah yang di minta. Pada akhirnya tidak ada satupun yang mendapat warisan tersebut semuanya harta warisan Bagindo Tahar tetap menjadi tanah gadaiaan  dan sebagian lainnya dibahkan menjadi musolla ,wakaf dan tempat ibadah lainnya.dan orang-orang yang mengaku keluarga dekat bagindo tahar satu persatu meninggalkan rumah Bagindo Tahar.
Novel Warisan  yang memiliki tema keserakahan ini merupakan  karya dari Chairul Harun. Novel ini tercipta pada tahun 1976 merupakan novel yang masih tetap dapat di nikmati sepanjang masa. Meskipun cerita novel ini mengisahkan  masyarakat minag tahun 1976 namun begitu ceritanya  menggambarkan masyarakat pada zaman sekarang juga, bahkan  lebih tragis dan kejam dengan saling bunuh memeperebutkan harta  warisan. Novel ini sangat menjanjikan, penulis mengambarkan kepada pembaca  masyarakat minangkabau pada tahun 1976 yang serakah memperebutkan harta warisan. Chairul Harun memeperlihatkan masyarakat minangkabau yang sebenarnya. Masyarakat  minangkabau yang terkenal dengan ajaran islam yang tinggi diceritakan berbeda oleh Chairul Harun dengan menunjukkan fakta meperlihatkan kejelekan masyarakat yang tekenal islmai itu, yaitu laki-laki yang ada di tanah minang sangat bebas berhubungan dengan perempuan tanpa ada ikatan suami istri dan laki-laki minang yang memiliki istri banyak. Melalui novel ini Chairul Harun mengambarkan adat dan budaya orang minag bahwa laki-lakilah yang di pinang  bukan perempuan.Novel ini mengantar cerita di minagkabau yang di kemas dengan begitu apik dan menarik oleh Chairul Harun sehingga novel ini sangat cocok di baca oleh kalangan anak muda  dan orang dewasa karena bahasa yang digunakan sederhana, mudah di mengerti. Tidak hanya itu membaca novel ini dapat memberikan pelajaran yang dapat dipetik tentang laki-laki, perempuan , harta, perangai baik dan buruk yang ditunjukkan dari setiap tokoh yang ada dalam novel ini.
Kelemahan dari novel warisan ini yaitu pengarang terlalu bebas mengekspresikan adegan – adegan vulgar  dari  tokoh Rafilus dengan beberapa  tokoh perempuan dalam novel ini yang dapat membuat presepsi negatif dari pembaca khususnya di kalangan orang muslim. Novel ini juga sebaiknya tidak di perkenanakan di baca oleh anak di bawah umur karena akan berdampak negatif bagi fisikologis mereka. Selain itu novel warisan ini juga membuat pembaca harus lebih lamban dalam  membaca kronologis ceritanya. Penulis  membuat pembaca harus membaca novel ini berulang kali karena terlalu banyak tokoh yang dimunculkan secara tiba-tiba , membuat pembaca kebingungan mengenali nama-nama tokoh satu persatu dan watak yang berbeda dari setiap tokohnya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *