Resensi novel Wo Ai Ni;Jangan Ekspor Cintaku

Buku, Resensi

Resensi novel Wo Ai Ni;Jangan Ekspor Cintaku

Resensi novel
WO AI NI; JANGAN EKSPOR CINTAKU

Pernah kebayang gak sih ikut pelatihan bahasa Mandarin selama 3 bulan di asrama?? Udah gitu, selama 3 bulan itu kita gak boleh pulang ke rumah. Dan ternyata, pelatihan dari bahasa Mandarin itu bertujuan untuk mendidik yang ikut menjadi TKI yang siap dikirim ke Taiwan!! Nah kebayang gak tuh??
Achi mungkin gak sadar kalo keikutsertaannya dalam pelatihan bahasa Mandarin membawanya pada pengalaman yang sulit terlupakan. Tawaran ikut pelatihan bahasa Mandarin itu datang saat ia pusing tujuh keliling mencari kerja, sedangkan teman-teman seangkatannya sudah banyak yang bekerja.
Ketika tawaran itu datang, Achi tak perlu berpikir dua kali untuk menerimanya. Bayangin aja tawaran belajar bahasa Mandarin selama 3 bulan gratis, serta tinggal di asrama, plus dikasih uang saku, siapa yang bisa nolak?? Tapi alangkah terkejutnya ia saat tahu kalau program itu bertujuan untuk mengirim TKI ke Taiwan.
Namun akhirnya ia pun ikut dalam program itu untuk menambah pengalaman. Banyak cerita, banyak suka duka, banyak kekonyolan yang terjadi selama 3 bulan tinggal di asrama. Apalagi yang tinggal di asrama itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Gak kebayang kan gimana rumitnya bergaul sama orang yang berasal dari kebudayaan dan latar belakang yang beda??
Berbagai peristiwa lucu, konyol, dan sedih pun mewarnai hari-hari Achi di asrama, mulai dari ngerjain tukang roti, kabur dari apel malem, sampe ngerjain petugas lalu lintas. Dan yang paling aneh bin ajaib, berobat ke dokter sampe ngeluarin ongkos ratusan ribu, cuma buat bersihin congek aja!
Di asrama itulah Achi belajar gimana hidup mandiri, menahan kangen sama orang tua dan rumah, serta yang terpenting gimana belajar mencintai cinta. Hal itu yang dialaminya saat ia merasakan cintanya pada Gopo, lelaki asal Jogja yang punya gadis idaman lain. Achi yang mati-matian pedekate dengan Gopo, sementara Gopo cuek bebek terhadap Achi. Tak sampai disitu, Achi juga harus menerima kenyataan bahwa lelaki yang dicintainya bakal pergi ke Taiwan. Namun seolah tak mau menyerah pada keadaan, ia pun harus berjuang agar cintanya yang mulai tumbuh itu tidak diekspor ke Taiwan. Sementara ia mengejar cintanya, ada sosok Ujang yang menaruh hati pada dirinya.
Rintangan ternyata belum mau berhenti, saat semangatnya belajar bahasa Mandarin berkobar dan mimpi ke Taiwan mulai ia rajut, ia dihadapkan pada dilemma. Ayahnya tidak memberi ijin menjadi TKI di Taiwan karena berat melepas Achi, atau jika ia tetap memaksa, ayahnya tidak akan menganggapnya sebagai anak lagi.
Nah bagaimana, kelanjutan kisahnya?? Apakah Achi akan melawan keinginan ayahnya? Lantas bagaimana cinta Achi terhadap Gopo yang cuek? Sementara itu, akankah Achi menerima Ujang yang mencintainya mati-matian?
Buku bikinan Achi TM ini alurnya mengalir lancar. Dengan gaya bahasa gaul dan pembawaan yang gokil, kejadian-kejadian yang sarat hikmah bisa tersampaikan dengan baik tanpa menggurui. Konflik yang ada di buku ini benar-benar bikin susah untuk berhenti membaca.
Tapi bagai gading yang tak retak, terkadang humor yang diselipkan terasa berlebihan porsinya sehingga membuat apa yang ingin diceritakan sedikit keluar dari alur.
Namun terlepas dari semuanya, buku ini wajib banget buat dibaca. Dan yang terpenting gak tanggung deh kalau selama baca buku ini bakal ketawa ngakak atau berkaca-kaca karena terharu.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *