RIMPU INA MINA meninggalkan kampung halaman 1

RIMPU INA MINA

Cerpen, Fiksi

“RIMPU INA MINA”

Oleh : Dian Al-Thafunnisa

 

Siwe-siwe Mbojo ma taho ruku rawi na,

na gaga kani rimpu na,

na taho asa na,

Na bade “Maja labo Dahu”.

 

Petang tajam meruang dalam pancar pekat matahari. Elok rupa hamparan hambar dalam pandangan-pandangan kosong. Hanya terpintas sebalut luka dalam, yang terlanjur tertuang dalam aroma hidup Hafsah, gadis cantik berkulit putih dengan balutan rimpu kain tenun. Berdiri murung sendiri, berkaca diri pada kotak kaca jendela rumah batu sederhana. Ia seperti terbius kenangan masa lalu, yang tertayang ulang dalam memori ingatan. Terpintas jelas dalam bayang Hafsah, kulit putih pucat yang telah tergores keriput itu, saat ia datang dalam pekat malam kelam. Saat air matanya menyentuh kedua belah pipi. Hafsah ingat betul, air mata itu bukan sekedar tangis cengeng perempuan tua, namun goresan luka yang tersembunyi dalam lembut kecup kasihnya.

Hafsah risau, kalau-kalau dosanya tak terampun. Maksiat dalam balut kesenangannya selama ini akan menjadi parasit penghambat ampunan untuknya. Semua rasa tercampur aduk, rasa itu kian menjadi dilema panjang dalam setiap hela nafas. Hafsah hanya mampu menitikkan air mata. Pikirnya tajam.

 

 

Tiga tahun silam, hamparan gunung-gunung hijau kampung Tolo uwi masih elok terasa. Rindang pepohonan tak mampu rasanya menghambat matahari mengintip dari celah-celahnya. Panas terasa kental, mengundang dahaga. Ingat betul Hafsah, saat ia menyambut ibunya yang baru pulang dari sawah milik pak Mantri, yang diberi izin pada ibunya untuk digarap dan menanaminya dengan tanian apapun sekehendaknya, asal hasilnya dapat juga dinikmati keluarga pak mantri. Pak mantri sangat dekat dengan keluarga Hafsah. Walau tak terikat tali kerabat antara keduanya. Namun kebaikan dan kearifan mendiang ayah Hafsah membuat pak mantri pun bersikap baik terhadap keluarganya.

Siang itu Hafsah baru pulang dari sekolahnya, membawa senyum hangat, dan terlihat selembar kertas tebal dan selembar lagi kertas tipis dalam genggamannya.

Ina….” Hafsah berlari sejadinya tak terkontrol. Jingkrak-jingkrak ringan tak elak dilakoninya tanpa sadar. Ia begitu riang membawa kabar baik dari sekolahnya, bahwa ia lulus dan diterima pada perguruan tinggi yang diinginnya.

Na bune anaee,” peluk hangat disambutnya.

Mada lulus inae, lao aka Mataram mada ke ni”

Bincang ringan mewarnai lesu Ina Mina hari itu. Pasalnya sepulang bertani ia letih, tersengat sinar mentari sedari fajar hingga pagi usai diganti pekat matahari. Setidaknya ia terhibur, ia senang dengan gurauan-gurauan Hafsah yang khas. Kerap kali ia terbahak lepas, hatinya bermuara jauh dari risau. Ia hanyut dalam cintanya kepada Hafsah, anak semata wayang.

De ma lao aka Mataram ana ro? De do’o lao kaimu ake ni,.”

Tenang ibunda, Dekat pa re, Mataram kan seberang pulau ndai.”

Bincang ringan itu tak begitu menyentuh, Hafsah tak peka betul akan rasa yang dialami Ina Mina.Ternyata Ina Mina risau, gundah gulana, kalau kelak anak gadisnya harus tinggal di kampung orang, tempat yang sama sekali tak pernah ia kunjungi, yang ia tak tahu bagaimana kondisi dan situasinya. Namun ikhlas harus dijalaninya, walau rona kegundahan tak henti menghantui benak Ina Mina.

 

Hari ini tepat pukul 8 malam, bis surya kencana yang akan membawa Hafsah dalam rantauan telah bersiap di pinggiran jalan stasiun Tente. Hafsah sebetulnya tak siap, dengan uang yang tak seberapa, pengalaman yang tak ada, membuat Hafsah merasa bimbang. Ia akan berangkat menuju kota seberang, kota Mataram. Tempat yang tak sama sekali ada sanak kerabatnya, jika esok dan seterusnya ia disana. Hafsah hanya akan bertemu dengan kakak-kakak tingkat semasa SMA. Tetapi semangatnya tak mati dalam pikir singkat, karena harus tersadar bahwa ia harus segera naik dan segera memempuh perjalanan pertamanya.

Anae, ingat kata-kata mama, jaga diri baik-baik, dou mbojo kalau na sekolah do’o harus na, Maja la’bo dahu di kampo duo.”

Ioe mama..” do’akan anakmu ma..”

Sekilas perbincangan diakhir bertemuan.

Entah mengapa. Fikir Hafsah tak lagi normal. Ia merasa cemas. Bagaimana nanti ia bersikap bila bertemu orang-orang yang berbeda suku, bahasa, dan latar belakang dengannya. Dalam perjalanan Hafsah hanya berfikir bagaimana nanti? Namun terlupa juga dalam lelapnya. Ia tampak letih seharian menyiapkan perlengkapan bawaannya.

 

 

Tak terasa kedua kaki Hafsah telah berpijak di Mataram. ‘Oh… ini Mataram’, gumang Hafsah dalam hati. Ia berusaha tak takjub atau tidak terlihat lebay. Hafsah berusaha bersikap ala kadarnya. Ia tak ingin dianggap kuno, orang pedalaman, apalagi orang gunung . Ia tak ingin dianggap orang kampungan. Entahlah, rasa itu bergelanyut lagi dalam benak Hafsah. Ia ternyata khawatir akan gunjingan orang kota terhadapnya, yang dalam fikirnya ia lusuh, logak bahasanyapun kental. Ia khawatir menjadi bahan ejekan teman-temannya. Sepertinya setiap langkah ada orang yang melihat-lihatnya. Memplototinya dengan keangkuhan. Berusaha ia tepis, namun terkadang tak kuasa membuatnya menjadi geram. Pakaiannya kumuh, jilbabnya terlalu tebal dan panjang. Huh.. tiada yang menarik dari dirinya. Rasanya kecantikannya terpudarkan dengan pakaian sederhana. Ingin rasanya ia berteman dengan semua orang. Namun siapakah yang mau berteman dengan orang yang tak gaul sepertinya. Hatta orang kampung sekalipun begitu memukau bila ia telah hijrah ke kota, sedang ia tetap saja dengan kekumalannya. Pikiran-pikiran itu membuat Hafsah semakin menjadi, ia berusaha mencari-cari jalan lain agar ia tampil lebih baik.

 

 

Waktu kian lama bergulir. Resmi sudah Hafsah sebagai mahasiswa baru di Fakultas pertanian jurusan Agribisnis, Universitas Mataram. Sore ini Hafsah harus menghadiri seminar yang diadakan kampusnya. Namun ternyata ia harus menerima pahit, karena takdir dan waktu tak mengizinkannya, karena telat hadir. Ia malu. Ya sekali lagi ia malu bila lusuhnya menjadi perhatian semua orang yang hadir pada seminar itu. Ia pun harus duduk termenung pada trotoar kampus.

“Hemmm… assalamu’laikum.. sendirian aja,” terdengar sosok lelaki menyapa Hafsah.

“Wa’alaikumussalam, ia kak gak ada orang.” Jawab Hafsah dengan logat Bima yang khas.

“Dari Bima ya, kok nggak ikut seminar, maba kan?”

“Ia kak…” Hafsah menjawab dengan wajah tertunduk malu dan lengkung bibir yang disembunyikannya.

“Boleh kenalan gak? Nama saya Budi.”

“Nama saya Hafsah.” Hafsah menatapnya sejenak dan menyambut sodoran tangan Budi.

“Oke Hafsah, salam kenal ya, saya naik dulu keatas.” Budi meninggalkan Hafsah dengan lengkung bibir yang merona.

Hafsah tambah memerah, namun tetap tersenyum malu. Ia sedikit bahagia dan tak menyangka ada orang yang mau berkenalan dengannya. Wajahnya merona, yang semula putih bersih menjadi merah merekah.

 

Ternyata perkenalan itu tak terhenti. Hafsah dan Budi sering tak sengaja bertemu hingga akhirnya menjadi akrab. Lambat laun Hafsah telah lupa dengan pikirnya. Ia mulai berteman dengan semua orang. Lama bersama menumbuhkan rasa yang berbeda. Budi ternyata menaruh hati pada Hafsah. Pun Hafsah merasakan hal yang sama. Hafsah cantik, kulitnya putih bersih. Budi bahkan pernah berkata, bahwa Hafsah gadis Bima pertama yang memikat hatinya. Hingga akhirnya kata berbeda terjalin diantara mereka.

 

 

Setahun mengenal Budi membuatnya merasa menjadi orang yang berbeda. Menurutnya lebih baik dari sedia kala. Namun ada yang terlupa. Hafsah bahkan benar-benar lupa diri. Penampilannya berubah. Bahkan kini ia jarang mengirim surat, atau menelpon ke nomor handphone pak mantri agar dapat berkomunikasi dengan ibunya. Tetapi setiap rasa rindu itu datang, sepertinya angin menerbangkannya seketika. Hingga ia benar-benar lupa. Terkecuali ingin meminta kiriman uang dan beras saja. Hafsah selalu sibuk, bukan karena tugas kuliah yang mendesak, melainkan ajakan kencan yang sulit ditolaknya. Budi adalah kekasih hatinya. Lelaki yang dikenalnya saat waktu yang tak disengaja dulu. Kakak tingkat yang begitu perhatian dengannya. Dulu Hafsah pernah berfikir, mungkinkah ada orang yang menyukainya. Hingga sosok Budi mengisi relung jiwanya, membuat ia merasa lebih dihargai dan berkelas. Pasalnya Budi bukan orang sembarang. Ia salah satu gitaris band yang ada di kampusnya.

Semua kesenangan telah dirasanya. Pakaian bagus, rambut lurus, semakin menambah kecantikannya. Kini Hafsah telah hadir dengan sosok yang berbeda. Dengan watak yang berbeda. Ketaatan tak lagi menjadi identitasnya. Ia mulai malas, dan terkadang sering sekali mengeluarkan kata-kata yang tak pantas diucapkan. Hafsah bukanlah Hafsah yang dulu. Ia sudah menjadi keren, gaul dan modis. Perubahan itu tak membutuhkan waktu yang lama. Hafsah kini mulai meninggalkan kebiasaan baca qur’annya. Hingga shalatpun hanya menutupi aibnya saja. Jika sempat dilaksanakan, jika darurat, itu hanya rutinitas yang tak wajib lagi baginya. Hafsah benar-benar telah berubah. Kawannya pun orang tak benar. Liar dan tiada akhlak. Hafsah benar-benar telah kehilangan jati dirinya.

 

Pagi itu Hafsah terlihat buru-buru. Hari ini dosen tergalaknya mengisi mata kuliah pertama. Namun ia begitu geram ketika handphonenya berdering saat waktu yang tak tepat. Ternyata telpon itu dari pak mantri, tetangganya. Mungkin penting, pikirnya.

assalamu’alaiikum,, ana bune habamu?”

“wa’alaikumussalam taho pa ke aji, wara au ta aji?”

“inamu ma supu ke, ti lowa na ruku, bune ai dulamu ana, eda inamu.”

“salam pa ya aji, mada ne’e kuliah ke, assalamu’alaikum.”

“aina hade wa’u ana, ina mu ma ne’e tala semporo poda.”

“hmmmm… io ra..”

“Siti Hafsah Abu Wahab,bune habamu anae, mama lingi poda ke,”

“Taho pa mama,”

“Bune ai dula mu, aina bengke ana, ketaho ruku rawimu di kampo dou”

“Ioe, mada ma sekola wa’u ya ma”

“Io ra ana, lembo ade sekola re ro.Wara piti mu ro ana.”

“Wa’ura mpoi ke ma, kirim wea ja ni.”

“Io ra ana, sekola wa’ura.”

“Io ra.”

Hafsah terus menlanjutkan langkah. Tak sedikitpun khawatir menghantuinya saat mendengar kabar bahwa ibunya sedang sakit parah. Tak sedikitpun kata ina Mina di pedulikannya. Ia masa bodoh. Hatinya telah terkunci rapat dari kebaikan. Hafsah terlampau jauh terlena.

 

 

Keadaan ina Mina sangat memprihatinkan. Pak mantri sangat khawatir dengan keadaannya.

“Ina Mina, au iyumu ake?”

“De au si diiyu aji, roka pa ke ma ipi pili”

“Ma na’e maki mu ita ina Mina”

“Ana ma sekola ke ni, ta be ku raka piti aji, wati si karawi, kalau si sepe di dou wali susa, cou ma cola na aji.”

Pak mantri sudah tak tega lagi mendengar kata bijak ina Mina. Wanita yang begitu tegar sendiri membiayai anaknya. Ia rela pontang panting banting tulang, demi setiap bulannya ada uang dan beras yang harus dikirimnya pada Hafsah. Ina Mina ternyata telah terlapau letih. Ia memang sudah tua. Sepeninggalan suaminya 20 tahun silam membuatnya harus bekerja sendiri membesarkan Hafsah. Karena Hafsah satu-satunya harta berharga yang dimilikinya. Anak pertama, kedua dan ketiganya meninggal dalam usia yang sangat muda.

Ina Mina tak pernah tahu dengan apa yang dilakukan Hafsah. Namun batinnya sebagai seorang ibu tak bisa dipungkiri. Ia khawatir luar biasa. Entah, rasa percayanya kadang pudar, kalau-kalau anaknya jadi lupa diri di kampung orang. Apa lagi Hafsah jarang sekali memberi kabar padanya. Sempat ia berfikir mungkin Hafsah sibuk belajar. Namun pikiran-pikiran buruk itu terus bergelanyut dalam lamunnya.

Ina Mina dikenal sebagai wanita yang baik dan taat di kampungnya. Pasalnya, siapa yang tak takjub dengan ketegaarannya, siapa yang tak kagum dengan kataatannya dalam memperthankan budaya islam yang begitu ia pegang teguh. Ina Mina sosok waanita bersahaja, yang dikenal dengan hasil kain tenunnya. Namun sejak beberapa tahun silam, ina Mina sudah fakum menenun karena penglihatannya mulai pudar. Ina Mina pun masih sangat menjaga budaya rimpu muslimah Bima. Warga sekitar rumahnya sering menyebut kain tenun hasil ciptanya rimpu ina Mina.

 

 

Langit sore semakin menjingga. Pertanda malam segara datang. Hafsah terlihat begitu rapi, ia hendak pergi dengan Budi. Seperti biasa mereka akan kencan. Cinta mereka terlalu dalam. Entah sedalam lautan dangkal. Sebab kisah mereka hanya bermuara nafsu belaka. Yang ada hanya kencang kosong tak bermakna. Budi hanya meminta bukti cinta, sedang Hafsah hanya mampu pasrah dari perlakuannya. Kerap kali Budi berlalu tak baik pada Hafsah, meraba ranah yang seharus dikecupnya. Ada rasa tak suka dalam benak Hafsah, tetapi dipikirnya demi cinta. Ah… Hafsah orang baru dalam area percintaan. Ia tak begitu paham.

Malam itu budi mengajaknya makan. Mereka berbincang, bergombal ria hingga lupa waktu. Malam semakin larut, Hafsah tak mungkin pulang ke rumah kosnya, sebab ibu kos telah menutup gerbang. Budi pun mengajak Hafsah bermalam dirumah temanya, kebetulan teman budi memiliki rumah yang cukup luas yang dihuninya sendiri. Setibanya disana Hafsah terlihat benar-benar letih. Tak diperdulikannya teman-teman Budi yang sedang pesta miras malam itu. Ketika Budi menunjukannya sebuah kamar tepat dipojok rumah itu, Hafsah langsung merebahkan tubuhnya. Tiada firasat apapun yang ia rasakan.

Malam kian larut. Hafsah telah menjamah ruang mimpi. Tiba-tiba ia merasa berada diruang gelap. Gelap kelam, sempit menyesakkan. Terlihat mendekat 5 orang lelaki telanjang dada menghampirinya. Didengarnya mereka berdiskusi ringan. Sepertinya sedang menyetujui sebuah kesepakatan. Tetapi entah apa yang menimpa, Hafsah tak lagi mersakan hal itu. Bahkan ia tak lagi merasa apapun. Ia berada pada sudut gelap dan jauh. Ia merasa hilang dan tenggelam dalam pekat malam. Ia benar-benar menikmati tidurnya malam itu.

Matahari menyengat dari sela jendela pagi itu. Hafsah telah terbangun dari mimpi kelamnya. Ia tak merasakan apa-apa. Hanya letih yang tak terkira. Betapa terkejutnya Hafsah. Darah segar telah mengalir membasahi area betisnya. Bagian intimnya terasa sakit, perih membuatnya tak dapat bergerak. Pakainya, pakaiannya telah terpisah dari tubuhnya. Ia hanya berbalut kain selimut. Apa yang terjadi dengannya semalam? Bukannya ia tertidur pulas, pagi ini pun bagian dari mimpinya. Ternyata dugaannya salah. Lima lelaki yang mendekatinya semalam telah merenggut harta paling berharga dari dirinya. Termasuk Budi kekasihnya. Hafsah benar tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Karena 5 lelaki itu tepat tidur tergeletak dibawah ranjangnya. Hafsah hanya mampu berteriak histeris menelan kenyataan pahit yang menimpanya. Ia tak percaya budi yang dua tahun ini memacarinya dengan tega melakukan hal yang benar-benar menjatuhkan, merendahkan, bahkan memusnahkan harga dirinya.

 

Sedang di kampung Tolo uwi warga sedang berduka. Ina Mina wanita parubaya yang sangat bersahaja itu telah meninggal dunia. Tepat dimalam kejadian yang menimpa Hafsah anaknya. Ia tak sempat tahu tentang apa yang menimpa Hafsah. Ia telah tenang. Walau ia harus pergi dengan gelisah, karena tiada lagi yanng akan menjaga Hafsah anak semata wayangnya.

 

Hafsah tak tahu menahu tentang kematian ibunya. Bahkan hingga satu tahun lamanya. Ia terlampau berduka. Bahkan ia harus cuti kuliah karena tak mampu melihat wajah Budi yanga amat durjana dimatanya. Malam hanya menjadi labuhan kelam. Ia hanya mampu menangis. Menangis sejadinya.

Hafsah akhirnya memilih untuk pulang, kembali menemui ibunya. Setahun ini dipersiapkannya waktu untuk meminta maaf yang besar pada ibunya. Sejak kejadian malam itu, Hafsah kehilangan kontak dengan ina Mina. Hafsah sengaja mematahkan kartunya.

 

“assalamu’alaikum.. inao, Hafsah dula ke ina..” Hafsah berusaha menyembunyikan lukanya. Namun heran, mengapa tiada jawaban, rumah itu bahkan terlihat tak terurus. Kacanya kumal tertumpuk debu. Ibunya kemana? Bukannya ibunya sangat apik dan bersih.

Terlihat dari kejauhan pak mantri datang menghampiri.

de wa’ura mai na pala dou sampela ke.”

“io aji, ta be inaku, kok rumah ini kotor sekali.”

“aina nangi ana ro, inamu wa’ura made ntoin ra, ngomi ti lowa dihubungi si. Makanya kami tidak memberitahukannya.”

Hafsah terdiam. Kenyataan apa yang diterimnya. Apa yang telah terjadi. ujian apa lagi ini. Sungguh, Hafsah benar-benar tak dapat lagi menahan air matanya. Kini ibunya telah menghuni liang gulita. Tiada sempat lagi baginya untuk memohon ampun padanya. Bayangkan, hidupnya telah kelam, kehormatannya telah terenggut paksa. Ibunya, satu-satunya kerabat yang tersisa untuk menyayanginya telah pergi untuk selamanya.

Malam kian larut. Hafsah letih menangis seharian. Ia terlelap tenang. Dalam lelapnya, tiba-tiba terbangun, dari kejauhan ia melihat sosok yang ia kenal. Wanita tua dengan rimpu kain tenun. Mendekat menyapanya yang menangis dalam malam kelam. Malam benar-benar gelap. Dari raut wajah wanita itu hanya terlihat air mata bening. Namun ia tetap tersenyum. Ia ina Mina. Ya ia ina Mina.

ina…” Hafsah menatapnya dengan gerakan ingin memeluknya

Hafsah hanya melihat ina Mina tersenyum dan menitikkan air mata duka, rindu, dan bahagia. Namun saat mulai mendekat, Hafsah terbangun dari mimpinya. Hafsah tak dapat lagi berbuat, atau sekedar berkata.

 

 

Semua telah terjadi. Api nafsu telah telanjur membakar semua keindahan hidup Hafsah dahulu. Kini ia harus bersandar pada penyesalan. Entah, rasa-rasanya pikir telah menjadi abu. Bingung membawa diri kemana. Sedang harga diri telah terlanjur tersigkap. Ia telah terlanjur melupa akhlah wanita Bima yang sangat peka terhadap harga dirinya. Ia lupa pesan Ina Mina, “maja labo dahu”. Kata-kata itu. Moto masyarakat Bima yang berarti amat dalam. Ia lupa akan rimpu Bima yang dulu sangat sering dikenakannya. Simbolisasi harga diri yang begitu kental dan melekat. Ya, Hafsah telah melupakan semuanya. Kealpaan itu telah menghantarnya menuju ruang baru kehampaan. Ia hanya mampu mengenang rasa bersalah, terlebih kepada ibunya, ina Mina.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Glosarium :

 

Rimpu : pakaian tradisional sejenis jilbab dan cadar bagi muslimah Bima

Ina : Ibu

Siwe : Perempuan

Mbojo : Bima

Taho : Baik

Ruku : Bergerak

Rawi : Pekerjaan

Bade : Tahu

Maja : Malu

Dahu : Takut

Labo : Juga

Lao : Pergi

Ana : Anak

Habamu: Kabarmu

Ake : sekarang/ini

Mada : Mata/saya

Do’o : Jauh

Aka : di

Ndai : Kami

Sepe : pijam

Wara : ada

Piti : uang

Wa’ura : sudah

Mpoi : Habis

Raka : dapat

Wati : tidak

Lingi : rindu

Bune : bagaimana

Dula : pulang

Aina : jangan

Bengke : nakal

Diiyu : dirasa

Na’e : Besar

Maki : capek

Wati : tidak

Kerawi : kerja

Wali : lagi

Susa : susah

Cou : siapa

Dou : orang

Dula : pulang

Made : mati

Ntoin : lama

Ngomi : kamu

 

 

Pala : ternyata

Sampela : gadis

Lowa : bisa

Io : ia

Bune ai : Kapan

Nangi : nangis

Cola : bayar

Kampo : kampung

Lowa : bisa

 

 


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *