jgfhyf 1

Rossie McLean

Cerpen, Editor Picks, Fiksi, HIburan

 

 

 

 

 

 

 

 

jgfhyf

 

Nama gadis itu Rossie McLean. Usianya baru dua belas tahun. Ia adalah putri tunggal Laird Duncan McLean, seorang bangsawan Skotlandia. Sang Ayah mendidiknya dengan kedisiplinan tinggi. Rossie harus belajar bahasa, sastra, berhitung, sosial, politik, sejarah, tata krama, seni, serta strategi dan ilmu perang. Rossie sangat rajin belajar, kecuali pelajaran ilmu perang yang diajarkan oleh ayahnya sendiri. Pelajaran itu meliputi permainan pedang, memanah, berkuda, dan berenang. Tidak semua anak belajar tentang ilmu perang itu, bahkan untuk kalangan putri bangsawan sekalipun.
“Rossie, kau harus mempelajarinya dengan baik. Suatu saat kau akan membutuhkannya.” demikianlah nasehat sang ayah saat Rossie mengeluhkan tentang jadwal belajarnya yang padat dan ilmu perang yang tidak disukainya.
Hingga pada suatu malam, seorang pelayan kerajaan datang ke puri Laird Duncan McLean. Ia membawa seorang bocah kecil yang sangat lucu berusia dua tahun. Ia adalah Pangeran Edward, putra mahkota kerajaan itu. Rupanya, telah terjadi pemberontakan. Ratu dan suaminya telah tewas dan mereka harus menyelamatkan putra mahkota yang malang itu.
Laird Duncan segera memimpin barisan untuk menyelamatkan kerajaan. Ia memanggil Rossie dan menyerahkan Pangeran Edward padanya.
“Rossie, anakku. Kau harus membawa Pangeran ke Inggris sekarang juga. Temuilah Ratu Elizabeth dan serahkan kalung kerajaan ini, beliau akan memberi kalian perlindungan dan mengirimkan bala bantuan.” perintahnya
Rossie segera berangkat ke dermaga bersama pangeran kecil itu dengan menaiki kuda. Mereka pergi ke Inggris tanpa pengawal. Saat tiba di tengah hutan, mereka dihadang oleh sekawanan perampok. Rossie mengumpulkan keberaniannya untuk menghadapi mereka dengan pedangnya. Lawan-lawannya banyak yang tumbang dan lari tunggang langgang.
Saat mereka lapar, ia melepaskan anak panahnya untuk berburu unggas dan kelinci. Ia juga menghibur pangeran saat sedih dengan cerita-cerita lucu. Sang pangeranpun kembali bersemangat untuk meneruskan perjalanan mereka.
Sesampainya di dermaga, mereka menyamar sebagai anak yatim piatu, hingga Kapten kapal mengijinkan mereka menumpang kapal dagangnya. Rossie berjanji ia akan membantu koki kapal memasak sambil mengasuh adiknya. Namun sayang, kapal itu diterjang badai saat hampir menyentuh bibir pantai. Sekali lagi, Rossie harus menyelamatkan pangeran dengan berenang hingga ke pantai. Sayang, mereka kehilangan kalung kerajaan yang sangat berharga itu.
Sesampainya di daratan, Rossie berjalan kaki menuju istana sambil menggendong pangeran Edward. Namun sesampainya di istana, Ratu tidak percaya dengan penjelasan Rossie yang masih kecil itu. Ratu hampir mengusirnya ketika tiba-tiba Rossie memohon dengan sikap ksatria. Rossie tidak ingin misinya untuk menyelamatkan pangeran dan kerajaan Skotlandia gagal di tengah jalan.
“Hamba mohon maaf, Yang Mulia. Saya telah mengatakan yang sejujurnya bahwa anak kecil ini adalah putra mahkota Skotlandia. Kerajaan kami dalam bahaya sementara tak ada yang dapat dipercaya untuk menjadi utusan kecuali hamba. Saya memang tak dapat membuktikannya karena kalung itu telah hilang. Namun, biarkan saya menjalani serangkaian ujian sejarah kerajaan antara negara kita.”
Seluruh hadirin terperangah dengan permohonan gadis kecil itu dan Ratupun menyetujuinya. Maka, Rossiepun dihujani pertanyaan yang sangat sulit dari para menteri di istana itu. Namun di luar dugaan, Rossie dapat menjawabnya dengan tepat dan sangat lancar. Semua hadirin terkagum-kagum dengan kemampuan Rossie.
Keesokan harinya, dikirimlah bala bantuan ke Skotlandia oleh kerajaan Inggris. Rossie telah berhasil dengan misinya menyelamatkan pangeran Edward. Untuk sementara, mereka tinggal di Inggris hingga situasi aman.
Satu tahun kemudian, Rossie bertemu dengan ayahnya di Skotlandia. Pemberontakan telah dipadamkan dan mereka mulai menata kembali kerajaan itu. Pangeran Edward kembali ke Skotlandia untuk dididik sebagai calon Raja. Laird McLean sangat bangga dengan keberanian putrinya itu. Rossiepun berterimakasih pada ayahnya karena telah memberinya kesempatan belajar dan berbakti kepada negaranya.
***janabijana***


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *