Sculpture

Cerpen, Editor Picks, Fiksi

as

Di sini aku, berdiri di depan cangkir kosong dengan sejumput daun teh di tanganku.

“minum teh ? lumayanlah.” Gumamku sendiri.

Masih hujan di luar, dengan angkuhnya langit tetap tak mau tersenyum dan bersinar, dengan angkuhnya ia tetap menangis sepanjang hari ini hanya karena alasan sepele, “Penguapan.”  sempat aku ingin menjadi bagian dari orang-orang gila yang memiliki kadar logika rendah itu dan mengatakan pada langit,

 “Ayolah langit, sobatku. Kemarin kau bisa tampak lebih ceria dan lebih baik dari ini. Di mana semangatmu?”

Mungkin aku memang harus gila sesekali. Menjadi gila untuk memahami kenikmatan lebih dari hanya ditemani secangkir teh dan sebaskom kedinginan sepi yang menusuk jauh ke dalam mimpi. Oh tuhan, bahkan aku tak merasakanmu menemaniku, akh, rasa yang dalam, di mana kenikmatanmu? Bahkan aku masih mencari-carimu dalam seserup teh ini.

Jika kau pikir cerita ini sudah dimulai –jika kau seharusnya tercipta sebagai orang bodoh- mungkin kau harus mulai membenturkan otakmu terlebih dahulu sebelum mengerti kapan aku memulai ceritaku. Baiklah, akan ku mulai ceritaku sekarang. Tetap dengan secangkir teh di tanganku –yang dengan cara-cara aneh kini hanya mengisi setengah dari cangkirku sendiri- aku akan menemanimu menostalgia kisahku sendiri. Silahkan kau rancappi hidupku.

Aku ini orang bebas, tentu, aku memiliki seorang kekasih. Seorang kekasih yang aku kasihi karena memang seharusnya aku mengasihi orang yang ingin aku kasihi dan membuatku bisa mengasihinya. Itu dia, dia kasihku. Aku ini orang bebas, dan aku mengasihinya. Dan itu menjadi awal kisahku.

Terkadang aku bosan menjadi orang yang bebas –dan aku memang benar-benar bebas- dari segala sistem asih kasih yang aku nikmati, standar, monoton, lalu muak dan mati dalam kesepian yang terasa nikmat namun tetap melukai hingga berdarah dan tentu saja, mati.

Aku ini orang bebas, jika dia membutuhkanku, aku akan ada untuknya -selalu-. Karena kebebasanku yang membosankan, aku mengikat diriku padanya, menjadikannya aturan untuk hidupku. Namun sebaliknya, dia adalah orang yang benar-benar terikat. Terjerat semua konsep, retorika, sistem, dan bahkan dia terikat pada hidupnya sendiri yang mengikat itu. Dia bukan orang bebas, bahkan, ketika aku berkata dengan jujur bahwa aku ingin dia terikat padaku dia akan tetap mengikat diri pada hidupnya sendiri terlebih dahulu. Selanjutnya, dia akan melompat dengan ikatan itu memasuki ikatanku sendiri.

Aku tak pernah mempersalahkan kebebasannya, karena aku juga terikat pada kebebasan yang sama yang ada pada dirinya -membuatku menjadi orang bebas dua kali- dan hidupnya itu. Aku yang bebas, dia terikat. Aku yang mendekat, dia cukup diam menunggu, dan tetap jadi milikku. Itu saja, sederhana bukan?

Kisah yang kami jalani, status yang kami dapatkan. Apa itu? Itu hanya sebuah kisah, dan seonggok setatus yang memang hanya setatus. Tak memiliki kekuatan dalam bentuk apapun. Tak mengikat, tak menjerat, tak menjepit, tak menggigit, tak hidup, terluka, lalu mati untuk kesekian kalinya,

“TIDAK! AKU TAK MAU MATI LAGI! Jika hidup seribu tahun masih membuatku harus bertatap muka dengan kematian, maka aku ingin hidup dua ribu tahun lagi, dan lagi, tetap bersamanya…”

Akh, rasa yang dalam. Entah dengan apa aku menyebut dirinya, dia tanpa nama, dia kasihku, kasihku yang benar-benar aku kasihi karena dia memang kasihku. Mungkin terkadang aku memang ingin membunuhnya, menikam jantungnya dan mandi dengan darah segar dari situ, memakan hatinya. Tusuk, lalu cungkil sedalam-dalamnya, kemudian menjatuhkan diri lagi dan lagi pada lubang yang sama hingga aku mati juga. Namun, sebelum itu, akan kuberikan pose terindah untuk lekuk tubuhnya, menyiramnya dengan semen, dan menjadikan dirinya, hidupnya, dan semua kebebasannya menjadi kebebasanku. aku membayangkan -terlalu sering-, dia menjadi lekukan seni terindah dalam ego psikopatku. Aku ini sakit, terkadang.

“kau mati?”

“belum.”

“mau mati?”

“belum.”

“sudahlah, mati saja, toh hidup begitu-begitu saja.”

“tidak, belum.”

“aku yang mati.”

“O.”

Kasihku yang tak bernama, mungkin aku terkadang menginginkanmu mati dalam ikat jeratku. Tapi daripada melihatmu kaku dan kosong, aku lebih memilih melihatmu hidup, bernafas, hangat, bebas, dan sibuk dengan semua yang menyibukkanmu dari pada menjadikanmu kerajinan tangan yang dingin dan tablo di depanku seperti dalam imaji ku. Sayangku, kasihku yang tak bernama itu, tetaplah ia hidup seperti apa dia sekarang.

Dan itu kisahku. Sebuah pengertian yang tertuang dalam secangkir teh yang katanya menenangkan –dan kini sudah habis dengan caranya sendiri- jiwa kosong dari 4 sudut kematian itu. teh ku kosong? Akh, aku masih bisa mambuat seratus ribu cangkir teh lagi, jadi, apa masalahnya? Toh kekasihku itu tak akan pernah menanyakan tehku karena menurutnya secangkir saja sudah terlalu banyak untuk diminum oleh otak, ego, nafsu, dan hatinya itu.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *