SEBUAH TRADISI

Budaya & Folklor, Opini

SEBUAH TRADISI

SELAMET REBAN, BERBEDA DENGAN PERISEAN

“ADAT KEBIASAAN MASYARAKAT DESA PESANGGRAHAN TIAP TAHUN”

Suatu kegiatan yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat sasak di daerah perkampungan yakni masyrakat desa Pesanggrahan Kecamatan Montong Gading Lombok Timur. Pada musim kemarau panjang upacara ini dilaksanakan untuk mengharapkan turunnya hujan, upacara Selamet Reban ini sangat berbeda dengan acara Perisean yang dikenal di masayrakat sasak dan di pulau Lombok pada umumnya. Walaupun tujuannya sama-sama mengharapkan turunnya hujan.

 Selamet Reban, selamet dalam bahasa sasak  berarti selamat, sedangkan Reban berarti pusat atau tempat jatuhnya air dalam jumlah banyak di suatu sungai atau saluran air. Selamet Reban berarti usaha untuk menyelamatkan perariran atau saluran air untuk sumber kehidupan dan kelancaran pertanian.

Sebagian besar upacara Selamet Reban ini dilakukan oleh para petani di daerah tersebut. Masyrakat desa Pesanggrahan yang sebagian besar berprofesi sebagai petani ini biasanya melakukan upacara kegiatan Selamet Reban di tempat dan waktu yang sudah ditentukan oleh Pekasih, Pekasih adalah pemimpin sekaligus orang yang mengatur perairan kepada para petani. Masyrakat akan berbondong-bondong ke lokasi kegiatan, biasanya upacara ini dilaksanakan di tempat sumber mata air atau reban yang besar yang merupakan sumber perairan sawah dan ladang para petani.

Dalam kegitan pelaksanaan upacara ini, masyarakat diwajibkan untuk membawa bahan, alat maupun  perlengkapan lainnya seperti satu ekor ayam atau lebih, untuk di sembelih di tempat atau reban yang sudah di tentukan, hal ini dikarenakan  darah ayam yang disembelih harus dicecerkan di sungai, saluran reban tersebut. Kegiatan ini bukanlah pemberian tumbal atau sesajen, karena ayam yang sudah disembelih tersebut akan di bakar secara serempak di tempat atau sekitar sungai dan reban tersebut. Bahan untuk pembakaran ayam-ayam tersebut biasanya menggunakan sabut kelapa yang sudah kering yang dibawa sendiri oleh tiap-tiap orang. Selain ayam, masyarakat juga diharuskan membawa bekal seperti nasi, lauk pauk dan sebagainya, karena setelah acara bakar-bakar ayam ada acara zikiran dan do’a bersama yang dipimpin tokoh agama dan kemudian dilanjutkan dengan makan bersama. Pada upacara ini biasannya Pekasih dan para petani mengundang Kepala Desa dan Pejabat Desa lainnya untuk ikut serta dalampelaksanaan upacara Selamet Reban ini.

Setelah acara do’a dan makan bersama, ada semacam penyuluhan yang disampaikan Pekasih yang biasannya berisi tentang bagaimana memanfaatkan air sebagai sumber kehidupan dan sumber perairan untuk sawah dan ladang dengan sebaik-baiknya.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *