SEJARAH LAHIRNYA DESAKU SEMBAHULUN/SEMBALUN

Artikel, Budaya & Folklor, Non Fiksi

SEJARAH LAHIRNYA DESAKU SEMBAHULUN atau SEMBALUN

Desa Sembalun Bumbung berasal dari Desa asli Sembalun atau Sembahulun.Sembalun berarti penduduk yang pertama-tama mengenal dan mengakui dirinya bahwa dirinya ada yang menciptakannya dan sebagai konsekuensinya bahwa orang yang diciptakan ini harus menyembah kepada penciptanya yaitu kepada Tuhan Yang Maha Esa. Jadi kata Sembahulun berarti menyembah kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Desa Sembahulun pada masa pradesa didiami oleh 7(tujuh) pasang suami-istri yang tinggal dan hidup secara premitif atau hidup dalam kelompok suami-istri tanpa mengenal pradaban dalam menggatur kehidupan kelompoknya.Tujuh pasangan suami istri ini tak pernah mengalami pertambahan jumpah penduduknya atau tidak pernah terjadi regenerasi penduduk ini berlangsung berpuluh puluh tahun tanpa ada perubahan baik dari jumlah penduduk maupun tingkat kehidupan dan penghidupannya.

Dalam keadaan kesetatisan penduduk ini datanglah dua orang pendatang yang membawa perubahan-perubahan besar bagi tujuh pasang suami istri.Kedua orang pendatang ini bernama Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangujaya.

Asal dari dua pendatang ini dan tahun berapa kedatangan mereka, belum ada catatan sejarah dan angka tahun sejarah yang mengungkapkannya tetapi yang jelas bahwa kedua pendatang tersebut datang pertama kali di sekitar lokasi Ledang Guar desa Sembalun Lawang.

Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangujaya mendatangi 7 pasang suami istri ketika mereka membuat gundukan tanah di atas tanah rawa-rawa dengan tangannya sendiri tanpa menggunakan peralatannya sebagaimana mestinya.Ketika Raden Harya Pati melihat dari dekat maka raden Harya Mangujaya memanggil mereka berkumpul guna untuk diberikan pelajaran sebagai bekal hidupnya di alam yang kurang menguntungkan. Pelajaran-pelajran yang di berikan oleh raden Harya Pati dan Raden Harya Mangujaya diawali dengan beberapa pertanyaan sebagai berikut:

“Hai manusia“ maukan kalian menjadi manusia beradab dengan menggunakan pakaian atau busana. Maukah kalian hidup di atas tanah bumi ini sebagai manusia selayaknya.Dan maukah kalian menjadi manusia yang mau menyembah tuhan sebagau penciptanya.

Dengan serentak ke 7 pasangan suami istri menjawab sebagai tanda kesediaannya menerima pelajaran yang berguna bagi diri meereka, kemudian Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangujaya melanjutkan ajarannya dengan memberikan empat macam pegangan hidup dan Raden Harya Pati menyatakan:

  1. Kuberikan kamu adat dan agama (islam) sebagai pegangan hidupmu.
  2. Kuberikan kamu kitab (al-Quran) sebagai pedoman adat agama mu.
  3. Kuberikan kamu padi (padi merah satu ikat) sebagai makanan.
  4. Kuberikan kamu senjata untuk bertani dan membela diri.

Selesai memberikan pelajaran tersebut, selanjutnya Raden Harya Mangujaya menyiapakan tanah persawaahan sebagai tempat menanam padi bagi tujuh pasang suami istri itu. Dikisahkan bahwa Raden Mangujaya dengan tongkatnya diputar-putar ketanah(di atas tanah) dan dengan ijin Yang Maha Esa ,maka tanah ini terhampar dan membentang dari Sembalun Lawang ke Sembalun Bumbung sekarang.

Pada kesempatan itu jaga ke 7 pasang suami istri tersebut di berikan nama pangilan masing-masing antara lain yang dapat di sebutkan adalah Nek Islamin, Nek Karta Negara, Nek Bagia, dan Nek Ratani. Dengan selsainya ke empat pelajaran yang di lengkapi dengan tanah sawah, Raden Harya Pati dan Raden Mangujaya memberikan wejagan dan peringatan kepada ke 7 suami istri yang mana wejagan atau peringatan ini di sampaikan oleh Raden Harya Pati sbb:

  1. Mulai saat ini bumi atau tanah tempat kalian hidup ini kuberi nama Sembalun atau Sembahulun.
  2. Kalian harus ingat dan waspada bahwa untuk waktu-waktu yang akan datang kalian pasti akan menghadapi peperangan-peperangan, tetapi dalam menghadapi perang nama kalian pasti mendapat pertolongan.

  1. SEMBALUN DALAM PEPERANGAN

Sebagaimana yang telah di ingatkan oleh Raden harya Pati dan Raden Harya Mangujaya kepada 7 suami istri tanah sembalun tentang datangnya peperangan, maka 7 pasangan suami istri yang pada saat berikutnya sudah mengalami perkembangan jumlah penduduknya, menghadapi tiga kali peperangan berturut-turut sebagai berikut:

  1. Ketupat yaitu Perang Melawan Iblis

Dalam melawan peperangan melawan iblis ini, penduduk tanah sembalun berperang mati-matian dalam mempertahankan dirinya dengan sekuat tenaga,tetapi lawan perang yang di hadapi ini adalah iblis yang kuat dan sukar dapat dihancurkan.

Tentara iblis ini tidak bisa di hancurkan dengan senjata tajam seperti pedang karena setiap kali iblis ini di tertebas sama pedang menjadi belah dua, potongan tubuhnya itu akan kembali menjadi iblis yang baru dan sangat mengenaskan. Dalam keadaan seperti ini sebagaimana pesan atau janji Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangujaya tentang adanya bantuan dan pertolongan, maka penduduk tanah sembalun di bantu oleh tiga orang pendatang yaitu Raden Ketip Muda, Raden Hamzah, dan Raden Patih Jorong.

Ketiga orang penolong ini dengan mudah mengalahkan tentara iblis yang berperang dengan cara melemparkan ketupat kearah iblis sebanyak tiga kali lemparan sebagai berikut.

  1. Lemparan pertama pada tangal 5, dengan mengucapkan tanggal lima
  2. Lemparan ke dua pada tanggal 15, dengan mengucapkan tanggal lima belas
  3. Lemparan ke tiga pada tanggal 25, dengan mengucapkan tanggal duapuluh lima.

Ketiga pesan tersebut diatas dilaksanakan dalam upacara peringatan perang ketupat yang di peringati tiga tahun sekali oleh masyarakat sembahulun sampai saat ini yang di kenal denga nama upacara adat Ngayu-Ayu.

  1. Perang Panah Racun

Perang panah racun yang bisa diatasi penduduk tanah sembalun atas bantuan Raden Katip Muda, Raden Syaid Hamzah, dan Raden Patih Jorong menyebabkan hancurnya tentara iblis dan kekalahan iblis ini menyebabkan balas dendam pada peperangan berikutnyayaitu perang panah beracun.

Perangpanah beracun mrupakan perang pembalasan atas kekalahannya pada perang ketupat, yang mana dalam racunini melancarkan serangan dari jarak jauh karena secara langsung(perang tanding).

Perang tanah racun ini menyerang tanaman pertanian penduduk tanah sembahulun. Dalam serangan ini, penduduk tidak tau apa yang dikerjakannya karena dalam peperangan ini pihak musuh tidak menampakkan dirinya tetapi yang tampak adalah serangan berupa racun atau hama dapat memusnahkan seruluh tanaman disawah. Dalam kesulitan mengahadapi hama tanaman ini, penduduk hampir berputus asa karena tidak mendapatkan hasil sama sekali. Pada suasana seperti ini datanglah pertolongan Raden Patra Guru memberikan petunjuk kepada peduduk tanah sembalun tentang bagaimana caranya menghadapi serang perang panah beracun yang merusak tanaman warga sembahulun. Petunjuk yang diberikan yaitu dengan menggunakan obat penawar racun yang berupa air diproleh dari air Timba Bau (makam kampu ).

Perang panah beracun dapat diatasi oleh penduduk tanah sembahulun dan secara berangsur-angsur tanaman disawah penduduk kembali baik sediakala, dan untuk memperingati kemenangan ini diadakan upacara Bija Tawar.

  1. Perang Bala

Dalam peperangan bala ini, peduduk tanah sembalun diserang wabahpenyakit yang diderita oleh seluruh penduduk, dan ini berarti bahwa seluruh penduduk tidak bisa melakukan segala kegiatan terutama dalam mengolah sawah perang ini merupakan perang paling terberat yang dihadapi oleh penduduk karena tidak bisa saling tolong-menolong satu sama lain. Apabila perang melawan bala ini berkepanjangan dapat di pastikan bahwa kehidupan akan kembali seperti keadaan semula yaitu hilangnya tatakehidupan penduduk dan akan hancurnya sumber kehidupan.

Sudah menjadi urutan sejarah penduduk tanah sembahulun harus menggalang waktu atau masa yang pahit dalam perjuangan hidupnya, dan begitu pulakeberhasilannya saat menghadapi perang bala ini karena dalam perang ini penduduk di jenguk oleh Raden Harya Pati, Raden Harya Mangun Jaya, Raden Ketip Muda, Raden Said Hamzah, Raden Patih Jorong, dan Raden Patra Guru.

Bantuan dari keenam tersebut dapat menormalkan keadaan penduduk tanah sembalun dari ancaman wabah penyakit. Keenam Raden ini memberikan petunjuk, bagaimana caranya menghadapi perang wabah penyakit kepada setiap penduduk dengan senjata ampuh yang disebut dengan senjata tolak bala yaitu berupa kalimat ASMA ALLAH LAAILAHA’ILLALLAH. Akhirnya berahirlah ketiga perang tersebut dengan petunjuk yang diberikan oleh keenam Raden tersebut sesuai dengan bidangnya masing-masing.

Sebagai hasil keputusan dan atas restu Raden Harya Pati dan Raden Harya Mangujaya maka ditunjuklah 4(empat) orang dari ketujuh pasang suami istri yaitu:

  1. Nek Karta Negara sebagai prabekel pimpinan atau ketua adat yang bertujuan memperhatikan dan mendengarkan kepentingan penduduk.
  2. Nek Islamin sebagi kiyai yaitu melakukan pembinaan mental spiritual atau bidang keagamaan penduduk
  3. Nek Bagai sebagai pemangku adat atau kerama desa
  4. Nek Ratani sebagai pandai yaitu orang yang mampu memberikan pelajaran atau pengetahuaan kepada penduduk, menyiapkan atau membuat peralatan rumah tangga, pertanian, dan senjata untuk perang.

Dengan selesainya pembentukan pimpinan atau ketua adat, maka Raden Harya Pati atas nama keenam Raden tersebut menetapkan tanah Sembahulun sebagai Desa Sembahulun yang akhirnya sebagai Desa Sembalun.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *