selasih seleguri penulis novel kalau tak untung

Selasih Seleguri ( Sariamin Ismail ) – Novelis Perempuan Pertama Indonesia

Artikel, Profil Tokoh Penulis
sariamin ismail atau selasih seleguri
Sariamin Ismail / Selasih Seleguri

Selasih Seleguri atau yang lebih populer dengan panggilan Sariamin Ismail lahir dari lembah gunung Talamau yang dikelilingi perbukitan.

Banyak orang indonesia tidak tahu siapa itu sariamin, atau selasih atau seleguri. Padahal ia adalah salah satu tokoh pejuang literasi nasional.

Buku sejarah kita hanya tertarik dengan pertumpahan darah dan hal-hal yang berbau maskulinitas. Hasilnya pahlawan literasi bangsa kita tidak pernah disebut lagi dalam buku pelajaran.

Silahkan tanya siswa-siswi SMP atau SMA. Apakah dia tahu siapa penulis novel pertama di Indonesia? dan Apakah judul Novel Pertama di Indonesia? Saya yakin tidak lebih dari 2 persen yang tahu.

Untungnya pada tanggal 31 Juli tahun 2021 google menampilkan Ilustrasi wajahnya, mengingatkan bangsa indonesia bahwa mereka pernah punya pejuang perempuan tanpa senjata. Yang habis-habisan melawan penjajahan melalui tulisan, dan memperjuangkan hak perempuan untuk mengenal aksara.

Terimakasih Google telah mengingatkan bangsa kami yang pelupa ini.

google doodle 31 juli 2021 sariamin ismail selasih siliguri

Profil Sariamin Ismail / Selasih Seleguri

Menurut Wikipedia, Novelis perdana indonesia Sariamin Ismail kelahiran 9 Juli 1909 itu dilahirkan di Talu atau yang saat ini telah menjadi Kecamatan Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat. Dengan nama bawaan Basariah.

Namun sayangnya di dalam ensiklopedia yang kami jadikan rujukan, tidak pernah menceritakan bagaimana nama Basariah itu berubah menjadi Sariamin. Terlebih teman-teman seumuran beliau yang diharapkan bisa menjadi nara sumber sudah tidak ada lagi.

Seorang wartawan senior sekaligus budayawan Korrie Layun Rampan memiliki perbedaan pendapat tentang tanggal lahir sariamin ismail. Dalam sebuah tulisan “Selasih: Wanita Novelis Indonesia Pertama” menerangkan bahwa Sariamin Ismail sebenarnya lahir pada tanggal 31 juli pada tahun 1909 di tempat yang sama.

Entahlah.. pihak mana yang benar, karena tidak selayaknya tanggal lahir menjadi perdebatan. Ada banyak hal yang lebih banyak faedahnya untuk kita sepakati.

Kiprah Selasih Seleguri / Sariamin Ismail di Dunia Pendidikan

Setelah berhasil menamatkan Sekolah Dasar kelas V (Gouvernement School), Sariamin melanjutkan ke sekolah guru (Meisjes Normaal School), yang dulu mungkin sama dengan SGA (Sekolah Guru Atas) yang kemudian berubah menjadi SPG (Sekolah Pendidikan Guru).

Lulus dari sekolah guru pada tahun 1925, Sariamin benar-benar mengkhidmatkan hidupnya pada dunia pendidikan. Bahkan tawaran untuk mengabdi sebagai guru di Bengkulu pun tak segan-segan ia ambil.

Tak hanya sebagai guru biasa, Selasih Seleguri pun kemudian dipercaya untuk menjadi kepala sekolah.

Selang lima tahun, Sariamin kemudian dipindahtugaskan ke Matur, Padang Panjang, Lalu dipindahkan lagi ke Lubuk Sikaping ( Ibu Kota Kabupaten Pasaman Sekarang ), lanjut lagi ke Bukit Tinggi hingga tahun 1939.

Sariamin Ismail pun sempat ditugaskan ke Aceh selama 2 tahun. Semenjak tahun 1941 beliau lebih banyak mengabdikan dirinya sebagai tenaga pengajar di beberapa daerah di Riau seperti Kuantan, Pekanbaru, dan Tanjung Pinang Sampai tahun 1968.

Pengabdian yang begitu tulus membuatnya berhasil dipercaya masyarakat sekitar sebagai wakil Rakyat ( DPRD ) Riau untuk periode tahun 1947-1948.


foto sariamin ismail terbaru hd

Perjalanan Sariamin Ismail di Dunia Seni

Selain jiwa mendidik, ternyata di dalam darah sariamin Ismail juga mengalir darah seni. Dia terus bermetamorfosa selama tinggal di Riau. Seni Peran dipilihnya sebagai media aktualisasi diri. Sariamin sering mengikuti sandiwara keliling di seputaran kuantan, pekanbaru, dan tanjung pinang.

Tema yang ia usung di dalam pementasan sandiwaranya sebagian besar bertemakan pendidikan.

Tak hanya seni peran, menjadi penyair atau pujangga tampaknya juga sudah lama menjadi mimpi sariamin. Bagi Sariamin, mimpi itu bukanlah tanpa alasan. Sebab, ia merasa memiliki bakat menulis yang kuat. Dan Terbukti, Kepiawaiannya merangkai kata telah melambungkan namanya ke kancah nasional.

Berbagai capaian Sariamin Ismail di bidang kesusastraan tidaklah didapatkan dari keberuntungan semata. Beliau mulai belajar menulis sejak umur 16 tahun.

Tapi menurut Korrie Layun Rampan, budayawan Darman Moenir pernah menulis di majalah sastra Horison no 11, Thn XXI, Edisi November 1986, bahwa Sariamin dalam suatu ceramah sastra yang diadakan di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada 17 September 1986, menjelaskan ia mulai menulis bulan Mei 1926 ketika menjadi guru di Matur.

Ketika itu, Siti Noor Mariah Naro ( guru Sariamin ) memaksa dirinya supaya menulis di majalah Asyara yang terbit di Padang. Majalah milik Persatuan Guru Perempuan yang juga dipimpin oleh Rustam Effendi dan Rasjid Manggis ini banyak mendorong bakat-bakat baru untuk tampil memberikan gagasan-gagasan yang inovatif.

Maka lahir tulisan pertama Sariamin dalam majalah ini dengan judul “Perlukah Anak Perempuan Bersekolah?

Bakat menulis Sariamin menjadi semakin berkembang setelah pindah ke Lubuk Sikaping pada tahun 1927. Inspirasi-inspirasi tulisannya berjatuhan dari bebukitan yang dingin. Apalagi di tempat itu ia mendapatkan lebih banyak bacaan yang semakin mondorongnya untuk terus menulis.

Gayung bersambut, beliau bertemu dengan Abdul Latif, yang kemudian memperkenalkannya dengan majalah Sari Pustaka, Panji Pustaka dan Bintang Hindia.

Di zaman penguasaan Belanda, menjadi penulis adalah profesi dengan resiko tinggi. Setiap karya tulis yang lahir harus mampu dipertanggungjawabkan di hadapan kolonial. Selain itu, bentuk karya tulis yang diizinkan beredar pun dibatasi, Tak semerdeka saat ini.

Wajib Baca: Novel Best Seller Tere Liye

Kisah Perlawanan Sariamin Ismail terhadap penjajah

Selain menulis, Sariamin tergabung sebagai anggota aktif beberapa organisasi politik seperti: Organisasi Indonesia Muda, Gerakan ingin merdeka, bahkan sempat terpilih menjadi ketua Jong Islamieten Bond Dames Afdeling cabang Bukittinggi tahun 1928 – 1930.

Semenjak itu, hidupnya berada dibawah ancaman. Hidup dan mati bergantung pada diksi yang dipilih dalam tulisannya. Kalau saja ditemukan bukti bahwa tulisannya melawan penjajah, maka sudah barang tentu ia akan menemui nasib seperti teman-teman seperjuangannya Aziz Chan, Alwi Luwis, dan Djafar Djambek.

Teman seperjuangan Sariamin ismail tersebut banyak yang berakhir di ujung bedil belanda atau mendekam di balik jeruji besi yang dingin.

Beberapa Nama Pena Sariamin Ismail

Ancaman-ancaman dari pihak belanda tidak menyurutkan niat Sariamin untuk menjadi penulis sekaligus pejuang kemerdekaan tanah airnya. Namun, ia pun tidak ingin mati konyol di tangan kolonial, Dia harus berjuang dengan cara yang cerdas.

Beberapa nama samaran seperti Sekejut Gelingging, Dahlia, Seri Tanjung, Seri Gunung, Bunda Kandung, Sen Gunting, Ibu Sejati, Mande Rubiah, Selasih, Saleguri ( biasa digabung menjadi Selasih Seleguri ) kerap ia pakai untuk mengelabuhi penjajah.

Wajib Baca: Sinopsis katak hendak jadi lembu

Novel Pertama Sariamin Ismail

kalau tak untung novel pertama indonesia yang ditulis oleh perempuan sariamin ismail

Nama Selasih diberikan oleh ibu Sariamin pada tahun 1932 ketika ia berhasil merampungkan novel pertamanya ” Kalau Tak Untung”. Awalnya Sariamin sempat kebingungan mencari nama samaran yang tepat untuk novel yang akan segera ia terbitkan tersebut. Karena beberapa nama samarannya sudah seringkali iya gunakan untuk tulisan-tulisan yang secara terang mengajak perlawanan atas penjajah.

Hanya ada satu nama yang belum masuk dalam daftar hitam belanda, Selasih. Selasih adalah salah satu jenis tanaman kecil yang banyak tumbuh di kampung halamannya.

Pada tahun 1933 Balai Pustaka secara resmi menerbitkan novel pertama Sariamin Ismail dengan nama pena Selasih. Kalau di zaman sekarang, Novelnya sudah layak dikatakan best seller.

Aman Datuk madjoindo, seorang pengarang terkenal di masa itu mengumumkan di dalam siaran radionya bahwa telah lahir pujangga putri pertama di Hindia Belanda.

Beberapa pengarang seperti Armeijn Pane dan Kasoema Datuk Pamuntjak pun sepakat untuk menobatkan Sariamin Ismail atau Selasih Seleguri sebagai pengarang novel Perempuan pertama di indonesia.



Ricko Rullyarto

No Past or Future Only Present

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *